The Important Things of Islamic Financial Literacy Measurement

Oleh: Nur Azmi Karimah (Bisnis Islam 2019), Wakil Kepala Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2021

 

Jurnal Acuan

Judul : Islamic Financial Literacy Scale : an Amandement in The Sphere of Contemporary Financial Literacy.

Penulis : Yusuf Dinc, Mehmet Cetin, Mehmet Bulut dan Rashid Jahangir

ISRA International Journal of Islamic Finance

DOI 10.1108/IJIF-07-2020-0156

 

Latar Belakang 

Literasi keuangan adalah kombinasi dari kesadaran, pengetahuan, kemampuan, sikap dan perilaku yang dibutuhkan untuk membuat keputusan keuangan yang sehat dan mensejahterakan individu (OECD INFE, 2011, p. 3). Meningkatkan literasi keuangan masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, tidak terkecuali literasi keuangan Islam dalam ekonomi Syariah. Inilah alasan mengapa organisasi multinasional banyak yang berinvestasi pada proyek improvisasi literasi keuangan masyarakat, dimana dapat menciptakan kinerja ekonomi yang lebih baik secara keseluruhan.

Namun, saat ini sebagian besar konsep literasi keuangan yang dikembangkan adalah konsep keuangan berbasis bunga. Padahal, faktanya konsep bunga sangat dilarang setiap agama, tidak hanya agama Islam. Konsep bunga (riba) juga banyak dikritik karena menghasilkan distribusi pendapatan dan kekayaan yang tidak merata serta mengakibatkan buruknya keadilan sosial, meskipun tidak pada kesejahteraan sosial.

Untuk itu, Islam harus memiliki standar literasi keuangan sendiri, dimana tidak cukup hanya memiliki pengetahuan keuangan, tetapi juga dengan penerapan perilaku yang bertujuan untuk kebaikan umat manusia. Konsep literasi keuangan ini memungkinkan umat Islam memahami praktik yang tidak sesuai Syariah dan cara pengelolaan risiko non-compliant Syariah, untuk mengatasi kemungkinan pelanggaran prinsip Syariah dalam transaksi keuangan di institusi keuangan Islam (Bhatti, 2020). Selain itu, literasi keuangan Islam juga mendukung konsep etika dan moral dalam bidang ekonomi dan keuangan kontemporer, yang mana sangat ditinggalkan sebelumnya. Hal ini jugalah menjadi titik pembeda antara literasi keuangan konvensional dan literasi keuangan Islam.

 

Tujuan Penelitian

Meskipun literasi keuangan Islam sudah menjadi perhatian dalam 10 tahun terakhir, tetapi belum ada literatur yang menjelaskan tentang aspek untuk mengukur literasi keuangan Islam secara komprehensif, yang mencakup seluruh segmen keuangan Islam. Hanya terbatas skala literasi Islam khusus perbankan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan faktor-faktor pengukuran Islamic Financial Literacy (IFL) yang mencakup seluruh sektor keuangan Islam dan berlaku di negara manapun, bahkan mereka yang tidak akrab dengan praktek keuangan Islam sekalipun.

 

Tinjauan Literatur

Sebelumnya pernah dianalisis dampak dari mata kuliah yang berkaitan dengan ekonomi dan keuangan Islam pada tingkat IFL di kalangan mahasiswa, ditemukan bahwa secara signifikan berpengaruh pada tingkat IFL mahasiswa (Alfarisi (2020)). Studi serupa oleh Md dan Ahmad (2020) juga menunjukkan pelajaran yang ditawarkan kepada mahasiswa sarjana Muslim di Malaysia secara signifikan memengaruhi nilai literasi keuangan umum mereka. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang mengambil mata kuliah ekonomi dan keuangan Islam lebih melek dalam hal keuangan Islam dibandingkan siswa yang lain, dimana usia siswa berperan penting dalam tingkat literasi ini.

Sangat disayangkan penelitian mengenai literasi produk dan keuangan Islam tidak banyak dilakukan. Bahkan belum ditemukan literatur mengenai literasi masyarakat dalam hal preferensi produk dan layanan perbankan. Namun Sardiana (2016) menemukan bahwa IFL memiliki pengaruh signifikan terhadap preferensi masyarakat dalam memilih layanan keuangan Islam. Diketahui bahwa pengetahuan menjadi faktor yang memiliki peran parsial dalam mempengaruhi preferensi masyarakat untuk mempertimbangkan layanan keuangan Syariah. Selain itu Ahmad et al. (2020) menyelidiki faktor-faktor penentu IFL dan mengekstrak dua faktor, yaitu pengetahuan tentang Sharia compliance serta pengetahuan tentang riba dan konsep bagi hasil.

Ditambah lagi, literatur mengenai pengindeksan Islamic Financial Literature cukup terbatas. Sebuah penelitian dilakukan dengan 388 responden di Trabzon, sebuah kota di Turki, yang mengembangakn indeks umum IFL bersama denga tiga sub-indeks, yaitu indeks infomasi IFL, indeks sikap IFL, dan indeks perilaku IFL. Penelitian ini menghasilkan angka 58% dalam indeks IFL secara umum (Er and Mutlu (2017)). Penelitian lain oleh Nawi et al. (2018) menyelidiki konsep IFL dan menyarankan item yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan konsep pengukuran yang diusulkan terkait perbankan Syariah, dasar-dasar uang, investasi Syariah dan takaful. Konsep ini belum mampu mengukur sikap individu terhadap keuangan Islam yang mereka tidak akrab dengannya.

 

Metodologi

Dalam melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu meninjau sejumlah besar literatur dan membuat survei terbuka untuk menyaring item-item yang tidak relevan dan memiliki makna yang sama. Hal ini bertujuan untuk pengembangan formulir survei berbasis prinsip Syariah. Lalu, 200 item dipilih dan dievaluasi satu persatu dalam focus group study yang terdiri dari para sarjana ekonomi Islam. Setelah evaluasi tersebut, 40 item pernyataan dipilih untuk dilakukan survei kepada sekelompok responden baru (selain focus group study) di Turki, dengan total 287 responden. Sebagian besar responden adalah laki-laki usia 25-34 tahun, memiliki gelar sarjana dan merupakan karyawan tetap di sektor swasta. 

Setelah uji validitas, dilakukan explanatory factor analysis untuk mengeksplorasi struktur faktor dari variabel dan Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk variabel pengukuran IFL yang lama serta bentuk terakhir yang dikembangkan. Peneliti juga menghitung nilai Cronbarch’s Alpha untuk tiap variabel dan itemnya, serta membandingkan model struktur satu faktor dengan empat faktor untuk pengukuran baru. Terakhir, hubungan antara variabel dan aspek pengukurnya juga dinilai.

 

Pembahasan dan Hasil Penelitian

Factor Analysis of IFL Scale

Pertama, peneliti menguji sampel dengan hasil 0,861 untuk skor Kaiser-Myer-Olkin (KMO) dan 0.000 untuk nilai Barlett, dimana menunjukkan bahwa data layak untuk dilakukan factor analysis. Lalu, dilakukan analisis menggunakan varimax rotation method dan faktor yang dihitung lebih besar dari 1 dalam eigenvalue. Item dengan factor loadings dibawah 0.5 akan dihapus. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 1 dibawah. 

Tabel 1.0 Result of Factor Analysis for IFL Scale

Sumber : Olahan Peneliti

Reliability Analysis

Hasil dari explanatory factor analysis menunjukkan terbentuknya struktur 4 faktor, yaitu perilaku, pengetahuan, sikap, dan kesadaran dalam keuangan Islam. Keempat faktor ini sama-sama menjelaskan 60% varians dalam variabel secara total. Dengan seluruh factor loadings memiliki skor lebih dari 0.50 dan reliability statistics (Cronbarch’s Alpha scores) dihitung untuk variabel dan itemnya, ditunjukkan pada tabel 2 dibawah. Seluruh item dan variabelnya menunjukkan angka reliability yang cukup hingga tinggi.

Tabel 2.0 Scales of Reliability Statistics

Sumber : Olahan Peneliti

Confirmatory Factor Analysis for The Scales Used in The Study

Struktur empat faktor yang dihasilkan dalam explanatory factor analysis diuji dengan CFA, dimana fit indexes dalam struktur tersebut dihitung. Fit indexes dalam CFA sendiri bertujuan untuk menunjukkan kelayakan variabel yang digunakan. Hasil dari analisis ini menunjukkan kesesuaian yang baik untuk sebuah alat ukur.

Untuk menguji apakah struktur empat faktor ini adalah bentuk yang tepat untuk aspek pengukuran IFL, peneliti membandingkannya dengan struktur dimana semua item dikelompokkan dalam satu faktor. Hasilnya, CFA untuk struktur skala menunjukan bahwa model empat faktor lebih cocok daripada satu faktor . Indeks kecocokan untuk ukuran yang digunakan dalam analisis disajikan pada tabel 3.0.

Tabel 3.0 Fit Index for The Scales

Sumber : Olahan Peneliti

Lebih lanjut, makalah ini juga menggunakan CFA untuk menguji kecocokan tingkat religiusitas yang ada dan tingkat IFL yang dikembangkan oleh Antara et al. (2016). Fit indexes juga menunjukkan kecocokan yang baik untuk pengukuran ini. Maka dari itu, penelitian ini mengikuti analisis dengan dimensi dan struktur sesuai pada pengukur aslinya.

Tidak berhenti disitu, peneliti juga memeriksa validitas convergent dan discriminant. Untuk memeriksa validitas tersebut, studi mendistribusikan variabel penelitian ini dengan variabel lain yang dikembangkan untuk menilai konstruk yang sama (Antara et al., 2016). Validitas convergent dan discriminant sendiri mengacu pada kondisi ketika ada korelasi yang kuat antara dua ukuran berbeda dari variabel yang sama, tetapi ketika diambil dengan konstruksi lain akan berkorelasi kurang kuat (Lehmann, 1988, p. 411).

Tabel 4.0 Correlation Analysis

Sumber : Olahan Peneliti

Pertama, peneliti menghitung Pearson correlation coefficients untuk mengetahui interelasi antara sub-item variabel. Skor menunjukkan bahwa bagian-bagian yang menghasilkan konstruk tersebut berkorelasi satu sama lain secara signifikan dan memadai. Tak satupun dari korelasi antara item melebihi angka  0.70, yang menunjukkan bahwa item adalah konstruksi independen.

Korelasi yang signifikan antara sub-item dari variabel yang baru dikembangkan dan variabel existing yang dikembangkan oleh Antara et al. (2016) menunjukkan validitas konvergen untuk alat ukur yang baru. Korelasi yang lebih lemah antara variabel yang baru dikembangkan dan tingkat religiusitas ekstrinsik, religiusitas yang berorientasi pada kesejahteraan spiritual dan sosial, merupakan indikasi validitas diskriminan.

Di sisi lain terdapat indikator validitas, dimana korelasi positif yang signifikan antara komponen variabel dan religiusitas intrinsik, namun korelasi yang signifikan lebih lemah atau negatif antara komponen variabel dan religiusitas sekuler. Temuan ini konsisten dengan temuan penelitian yang telah ada (Luthfiani dan Sari, 2019), ditampilkan pada Tabel 4 diatas.

 

Kesimpulan

Temuan dari penelitian ini berimplikasi penting untuk pengembangan aspek pengukur IFL yang efisien. Pendekatan penelitian dan faktor yang dikembangkan memungkinkan pengukuran level IFL di daerah yang bahkan belum memiliki investasi dalam keuangan Islam. Pada pengujian reliability dan pembandingan kesesuaian struktur dengan bentuk dimensi yang lebih kecil, menunjukkan kesesuaian yang baik dan reliability yang tinggi. Pengujian validitas convergent dan discriminant memperkenalkan satu faktor tambahan, yaitu awareness. Dimana bisa dikatakan awareness berasal dari aspek risk-sharing dalam ekonomi Islam. Temuan juga menunjukkan interkorelasi yang cukup antara dimensi skala dengan korelasi yang tepat serta signifikan dengan skala perbandingan.

Implikasi secara teori dari penelitian ini adalah dibutuhkannya faktor keempat, yaitu awareness, dalam skala Islamic Financial Literacy dibandingkan skala literasi keuangan konvensional. Faktor awareness dapat dikatakan relatif baru dan menjadi alasan bahwa IFL membutuhkan faktor ini untuk menciptakan kesadaran terkait manfaat ekonomi dan keuangan Islam. Hal ini sejalan konsep IFL yang berlawanan arah dengan literasi keuangan konvensional, seperti konsep bunga dalam konvensional yang mulai dikeluarkan dari ekonomi modern, dimana literasi keuangan Islam berperan penting di dalamnya.