Sandwich Generation: Antara Musibah dan Berkah

Oleh: Muhammad Dzaky Archard (Ilmu Ekonomi Islam 2020), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2021

 

Anak-anak yang sudah dewasa di mana mereka terjepit (sandwiched) di antara tanggung jawab mengurusi orang tua mereka yang sudah lanjut dan anak-anak mereka sendiri yang akan tumbuh dewasa dapat mengakibatkan banyak tekanan (Miller, 1981). Inilah ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, yakni “sandwich generation” dimana seseorang mengalami himpitan finansial untuk menghidupi keluarganya dari generasi sebelum dan sesudahnya ataupun untuk memenuhi kebutuhan harian diri sendiri. Menurut Carrol Abaya, seorang ahli penuaan dan lansia, sandwich generation sendiri terbagi menjadi tiga, di antaranya:

1. Traditional Sandwich Generation

Orang dewasa yang berusia 40-50 tahun yang menghadapi dilema antara anak yang beranjak dewasa dan orang tua yang telah menua.

2. Club Sandwich Generation

Kondisi ini bisa terjadi pada dua keadaan, yang pertama ialah seseorang yang berusia 30-40 tahun yang memiliki tanggungan anak, orangtua, dan juga kakek – nenek. Selain itu, yang kedua ialah seseorang yang berusia 50 – 60 tahun yang memiliki tanggungan dari anak, cucu, dan juga orang tua mereka.

3. Open-Faced Sandwich Generation

Ialah orang-orang dewasa yang terlibat dalam perawatan lansia, seperti perawat di panti jompo.

Sandwich generation ini tentunya akan memberatkan bagi seseorang yang berada dalam level ekonomi menengah ke bawah. Selain itu, Dorothy A. Miller juga menambahkan bahwa inflasi yang naik terus menerus akan semakin menambah beban bagi masyarakat kelas bawah.

Gambar 1. Tipe-Tipe Sandwich Generation, Carrol Abaya

Sumber: Skill Academy by Ruangguru

Dalam situasi pandemi, jumlah penduduk yang kurang mampu di Indonesia menembus angka 27,54 juta pada Maret 2021. Jumlah itu membuat tingkat kemiskinan mencapai 10,14% dari total populasi nasional. Data ini meningkat 0,36% dari sebelumnya 26,42 juta pada Maret 2020. Namun, jika dibandingkan dengan bulan September 2020 lalu, data ini turun tipis sekitar 0,05% dari 27,55 juta. Hal ini bukan disebabkan oleh inflasi, tetapi karena terjadinya resesi akibat pandemi Covid-19. Berdasarkan data laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada kuartal I periode Januari hingga Maret 2021 masih terkontraksi di angka minus 0,74% meskipun di kuartal II mengalami kenaikan dari kuartal sebelumnya sekitar 3,31% dan 7,07% secara year on year (YoY). Hal ini tidak serta merta akan mengakibatkan peningkatan daya beli masyarakat menengah ke bawah karena kontributor terbesar dalam peningkatan kali ini terdapat dari sektor pengolahan yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi sehingga tidak terlalu berdampak bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Penurunan daya beli masyarakat juga akan berakibat pada meningkatnya angka pengangguran di Indonesia yang secara langsung maupun tidak, akan memperkeruh situasi bagi mereka yang terjebak di dalam sandwich generation.

Gambar 2. Philip Curve, N Gregory Mankiw

(Short Run Trade-Off Between Inflation and Unemployment Rate)

Sumber: Introduction to Economics, ninth edition

 

Dunia Sementara

Kita hidup di dunia ini dengan usia yang terbatas dan tidak ada yang mengetahui batasan akhir hayat kita, kecuali Allah Swt.. Akan tetapi, dalam suatu hadits, Nabi Muhammad saw bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ رواه الترمذي

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. Ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu” (HR At-Tirmidzi).

Umur yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad saw bisa dibilang tidak terlalu singkat dan tidak terlalu panjang, serta relatif lebih singkat dibandingkan umat-umat terdahulu. Kita sebagai umat Islam harus bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, seperti firman Allah Swt. Dalam surah Al – Qashash ayat 77 untuk kepentingan akhirat dan juga tidak melupakan bagian kita dari dunia yang ditandai dengan kalimat “wa laa tansa nashibaka minaddunya”.

Normalnya, manusia akan melewati fase anak-anak, remaja, dewasa, dan masa tua. Pada kisaran umur 0 – 20 tahun waktu kita biasanya dihabiskan untuk bermain, belajar, dan masih jarang untuk mendapatkan penghasilan. Umur 21-40 tahun seseorang biasanya mulai merintis karir dan membangun keluarga yang dilanjutkan pada periode umur 41-60 tahun mulai mengalami kenaikan karir dan telah mencapai kondisi finansial yang stabil. Lalu, periode terakhir manusia biasanya adalah ketika memasuki usia pensiun diantara 61-80 tahun yang mana di waktu ini seseorang banyak menghabiskan waktu bersama seseorang yang mereka cintai serta tidak memiliki pekerjaan lagi. Hal inilah yang tentunya hampir selalu menjadi life goals seseorang. Akan tetapi, terdapat beberapa faktor yang bisa menjadi penghambat seseorang untuk mencapai target tersebut.

Gambar 3. 28.000 Days Quadran, Dr. Sanjay Tolani

Sumber: Indraxie.com

 

What’s The Problem?

Dalam keinginan seseorang untuk mencapai financial freedom, Robert T. Kiyosaki, dalam bukunya yang berjudul “Rich Dad Poor Dad” memberikan penjelasan mengenai perbedaan pembelajaran yang diberikan oleh seorang ayah yang kaya dan seorang ayah yang kurang berkecukupan. Setidaknya, ada empat poin yang bisa kita highlights dalam buku ini, di antaranya:

1. Melek Finansial

Seseorang yang melek secara finansial berarti bisa membedakan yang mana aset dan liabilitas (beban) dari apa yang mereka kerjakan ataupun ambil.

2. Strategi Investasi

Bagaimana cara membangun kolom aset yang kokoh sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama atau dalam istilah “uang yang bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja untuk uang”.

3. Terus Belajar

Pekerjaan yang kita lakukan sebaiknya selalu dinikmati dan tidak hanya berorientasi kepada uang karena untuk menjadi penjual, pemasar, dan seorang manajer yang baik kita harus menjadi seorang guru sekaligus seorang murid yang baik juga.

4. Membaca Aturan/Hukum yang Berlaku

Pintar-pintarlah dalam membaca suatu peraturan yang berlaku agar tetap bisa mendapatkan keuntungan dengan cara yang legal.

Sementara itu, kebanyakan pola pikir seseorang yang berasal dari keluarga yang kurang mampu secara finansial adalah menjadikan anaknya sebagai sarana “panen” ketika mereka tua kelak. Mereka diberikan sarana pendidikan melampaui batas kemampuan orang tuanya. Sehingga dengan besarnya tanggung jawab yang diemban membuat mereka yang masuk dalam tahap generasi sandwich merasa harus terus bekerja. Padahal tanpa disadari, mereka sudah menggunakan prinsip lilin, di mana api yang menyala mampu menerangi satu ruangan. Tetapi di sisi lain, tubuhnya akan terbakar habis guna menjaga nyalanya terus benderang. Kurang piawainya kebanyakan orang tua dalam hal manajemen keuangan juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. Jika dirunut lagi, bisa jadi hal itu merupakan bentuk pola asah, asih, dan asuh yang ditanamkan generasi sebelumnya ke generasi orang tua kamu. Jadi, hal ini akan menjadi seperti mata rantai yang tiada akhir dan kemungkinan besar akan diwariskan dari orang-orang tua kalian hingga anak dan keturunan keturunan kalian apabila tidak ada yang memutusnya.

Sandwich generation sendiri akan menjadi masalah yang lebih kompleks ketika seseorang sudah berkeluarga. Jika kita melihat kembali dari kuadran 28.000 hari yang dicetuskan oleh Dr. Sanjay Tolani, fase ini terjadi ketika kita memasuki usia 20-an. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah maka sebaiknya mereka sudah memperhatikan peran dari masing-masing individu dengan tidak melupakan aspek keluarga dari pasangan tersebut. Seorang suami wajib menjadi pelindung, pengayom, dan pembimbing, serta memberikan nafkah lahir dan batin bagi keluarganya, sementara tugas seorang istri lebih bersifat ke arah mengurus rumah tangga, mengajari anak, dan melayani kebutuhan suami. Namun, ada juga wanita yang memiliki peran sebagai wanita karir untuk membantu perekonomian keluarga. Apabila disimpulkan pengertian wanita karir dari berbagai pendapat, wanita karir adalah mereka yang bekerja dan menghayati serta menerima pekerjaannya sebagai suatu jalan untuk mengaktualisasi dan mengembangkan diri (B2P3KS, 2016). Dalam Islam sendiri ada beberapa pendapat mengenai wanita karir, tetapi lebih condong ke arah memperbolehkannya dengan syarat. Menurut Dr Abd al-Qadr Manshur, terdapat tiga hal harus dipertimbangkan dalam memutuskan untuk menjadi wanita karir, yakni faktor kelemahan fisik wanita, tugas alamiahnya, serta etika yang harus ditaati. Hal ini dimaksudkan untuk mengatur keseimbangan antara laki-laki dan wanita di kehidupan sehari-hari.

Faktor keluarga, dalam hal ini orang tua, juga tidak dapat luput dari perhatian kita. Orang tua kita sudah berjuang dalam membesarkan kita, ayah kita memberikan nafkah untuk kita, sedangkan ibu berjuang untuk melahirkan, menyusui, dan membesarkan kita dengan jerih payah. Jangan sampai kita menjadi seperti salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw, yakni Al-Qamah yang sejatinya beribadah dan berjihad bersama Nabi Muhammad saw, tetapi Ia lalai dari berbakti kepada orang tuanya dalam hal ini seorang ibu dan lebih mementingkan sang istri. Berbakti kepada kedua orang tua merupakan perintah Allah Swt. Yang  jelas tertuang dalam Surah Al – Ahqaf ayat 15 yang berbunyi:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ – ١٥

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim” ( Al-Ahqaf/46:15).

 

How We Can Deal With?

Jika kita kembali kepada pengertian sandwich generation itu sendiri yang merupakan kondisi terhimpit secara finansial baik dari generasi atas maupun generasi yang berada di bawah kita. Menurut seorang finance consultant, Prita Ghozie, ketika seseorang berada dalam situasi seperti ini, setidaknya ada beberapa langkah yang bisa membantu dalam menyelesaikan permasalahan ini, diantaranya:

1. Terbuka Mengenai Kemampuan Pengeluaran

Ketika kita sudah mempunyai tanggungan di luar orangtua kita. Kita harus terbuka mengenai kemampuan finansial kita agar tidak terjadi ketimpangan antara satu generasi dan generasi lainnya.

2. Mendaftar Dalam Program Asuransi

Sandwich generation ini juga bisa terjadi akibat sesuatu yang bersifat tidak terduga, seperti: masalah kesehatan, bencana alam, dll. Hal ini dapat dicegah dengan mendaftar beberapa program asuransi untuk menutupi pembiayaan kita baik dari instansi pemerintah maupun swasta.

3. Mempunyai Dana Darurat dan Investasi

Memiliki dana darurat sebagai bentuk proteksi di kemudian hari sangat diperlukan untuk mencegah hal-hal yang tidak terduga di kemudian hari. Dalam berinvestasi menurut opini pribadi penulis di dalam kasus ini, disarankan untuk memilih jenis investasi untuk jangka panjang hingga sedang dan dengan risiko yang relatif rendah hingga sedang, karena tujuan kita berinvestasi agar terhindar dari sandwich generation adalah untuk mengelola aset dan bukan untuk kaya secara instan. Mengingat suatu kaidah dalam berinvestasi (high risk, high return).

Jenis-jenis investasi yang telah disebutkan di atas tidak lain dan tidak bukan merupakan jenis investasi syariah. Hal ini dimaksudkan agar seseorang dapat mencapai dari lima tujuan (maqashid) dalam syariat Islam itu sendiri, yakni menjaga agama, akal, jiwa, keturunan, dan juga harta. Dalam berinvestasi sesuai syariah, hal ini lebih dikhususkan bagi seseorang untuk menjaga harta benda mereka agar tetap tersimpan dan bertumbuh secara baik dan halal dengan menghindari riba, maysir, dan gharar. Selain itu, dengan melakukan proteksi untuk sesuatu yang tidak terduga, Islam juga memiliki instrumen dalam bentuk Takaful yang diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 21/DSN-MUI/X/2001 dengan berprinsipkan usaha untuk saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan Syariah Tabarru’.

 

Musibah atau Berkah?

Memiliki kecerdasan finansial sedari dini juga menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk terlepas dari sandwich generation itu sendiri. Kecerdasan untuk memperoleh dan mengelola harta juga merupakan sesuatu yang dicintai oleh Allah Swt. Apalagi dipergunakan dalam jalan kebaikan. Pada akhirnya, menjadi seseorang yang terjebak dalam sandwich generation bukanlah sesuatu yang menjadi pilihan kita. Akan tetapi, kita bisa memilih untuk terus bersyukur di setiap keadaan karena kita masih diberikan kesempatan oleh Allah Swt. Kepada orang-orang yang kita cintai dan memiliki kekuatan untuk melaksanakannya. Kita sebagai seorang makhluk hanya bisa berikhtiar untuk menjalani hari sebagai bagian dari beribadah kepada Allah Swt.

Wallahua’lam bisshowaab

 

Referensi

Bank BJB, 2019, 13 Mei. Himpitan Sandwich Generation with Prita Ghozie [Video].      Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=3Tut4fhcqIo

Bareksa.Com. (2013). Investasi berdasarkan risiko dan jangka waktu. Bareksa.Com. https://www.bareksa.com/berita/undefined/2013-12-06/investasi-berdasarkan-risiko-dan-jangka-waktu

CNN Indonesia. (2021). Jumlah Penduduk Miskin RI Tembus 27,54 Juta Orang Maret 2021. CNN Indonesia, 1. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210715131917-532-668072/jumlah-penduduk-miskin-ri-tembus-2754-juta-orang-maret-2021

Elena, M. (2021). Ingat! Meski Ekonomi Naik 7,07 Persen, Kondisi RI Masih Belum Normal. Bisnis.Com. https://ekonomi.bisnis.com/read/20210805/9/1426268/ingat-meski-ekonomi-naik-707-persen-kondisi-ri-masih-belum-normal.

Fatwa DSN-MUI No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, 1 (2001).

Finansialku, 2021, 5 Mei. Sandwich Generation Salah Konsep!! Ini Yang Buat Sandwich Generation Merana!

. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=hzkO4xR59oc&t=312s

Finpedia. (2020). Mengenal Generasi Sandwich dan Bagaimana Memutusnya. Finpedia. https://www.finpedia.id/info-keuangan/bisnis/apa-itu-generasi-sandwich

Hepsari, I. (2013). Wanita Karier dalam Pandangan Islam. Republika.Co.Id, 1. https://www.republika.co.id/berita/humaira/samara/13/09/30/mtxb47-wanita-karier-dalam-pandangan-islam

Ikawati. (2016). Sikap Keluarga terhadap Ibu atau Istri sebagai Wanita Karir. Jurnal PKS, 15(4), 337–348.

Kumparan.Com. (2021). Maqashid Syariah: Pengertian dan Bentuknya yang Perlu Dipahami. Kumparan.Com, 1. https://kumparan.com/berita-hari-ini/maqashid-syariah-pengertian-dan-bentuknya-yang-perlu-dipahami-1vHFIJetlBM/full

Kurniawan, A. (2020). Ini Jumlah Rata-rata Usia Umat Nabi Muhammad SAW. NUonline. https://islam.nu.or.id/post/read/119873/ini-jumlah-rata-rata-usia-umat-nabi-muhammad-saw

Mankiw, G. (2019). Principles of Economics (ninth edition).

Miller, D. A. (1981). The ‘sandwich’ generation: Adult children of the aging. Social Work (United States), 26(5), 419–423. https://doi.org/10.1093/sw/26.5.419

Namas Project. (n.d.). Rangkuman Buku Rich Dad Poor Dad. Namas Project. https://namasproject.id/rangkuman-buku-rich-dad-poor-dad/

Ternakuang, id. (2021). Sandwich Generation. Ternakuang.Id. https://www.ternakuang.id/blog-dan-artikel/5759/

Ulya, F. (2021). RI Masih Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Minus 0,74 Persen pada Kuartal I-2021. Kompas.Com, 1. https://money.kompas.com/read/2021/05/05/113857126/ri-masih-resesi-pertumbuhan-ekonomi-minus-074-persen-pada-kuartal-i-2021?page=all