,

Religious Belief, Image of Charitable Organization, and Attitude Towards Charities: Which Factor Affects FEB UI Student’s Motivation to Donate?

Mini Research #1 IBEC FEB UI 2021

 

A. Pendahuluan 

Pada akhir tahun 2019, wabah Virus Corona yang bermula di Wuhan, Tiongkok telah merambah ke Indonesia diperkirakan sejak awal Maret 2020 lalu (Yuliana, 2020). Di Indonesia, kasus Covid-19 terus meningkat dengan pesat. Studi mencatat hingga Juli 2021 terdapat kasus kumulatif sebanyak 2.877.476 kasus positif dan 73.582 kasus meninggal (KPCPEN, 2021). Pandemi Covid-19 ini membuahkan dampak buruk pada sektor politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, bahkan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Oleh sebab itu, dukungan internasional terus berdatangan dari berbagai negara seperti Singapura, Australia, dan Uni Emirat Arab yang turut membantu Indonesia dalam menangani pandemi. Dukungan yang diberikan mulai dari donasi, barang keperluan, serta dukungan teknis. Kementerian Luar Negeri mencatat dari seluruh dukungan yang diterima, dukungan yang telah terealisasi baru sebesar US$25,10 Juta. Selain itu, organisasi internasional seperti WHO, Global Fund, Unicef, IDB, dan Uni Eropa juga turut memberi dukungan sebagai upaya penanganan Covid-19 di Indonesia. Selain dukungan dari pihak internasional, Indonesia juga memiliki banyak organisasi amal dan fundraising platform yang turut memberikan bantuan kemanusiaan serta pemulihan ekonomi negara. Beberapa diantaranya adalah BAZNAS, LAZISMU, NU-CARE LAZISNU, Kitabisa,com , WeCare.id, SharingHappiness.org , dan sebagainya. 

Pembicaraan tentang berdonasi seringkali dikaitkan dengan agama atau keyakinan tertentu. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Ranganathan dan Henley (2008, p. 1) bahwa “amal dan agama berjalan beriringan”. Selain itu, ajaran dari agama-agama besar seperti Kristen, Hindu, Buddha, dan Islam telah menanamkan pentingnya untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dengan pemahaman bahwa sebagian besar agama menyoroti pentingnya beramal dan membantu orang lain, dapat kita asumsikan bahwa orang-orang yang beragama akan menyumbang dengan murah hati ke organisasi amal (Ranganathan dan Henley, 2008). Namun, masih terdapat perdebatan mengenai apakah agama benar-benar berdampak pada sikap seseorang untuk beramal (Ryckman et al., 2004) karena masih terdapat inkonsistensi mengenai penemuan dari beberapa penelitian dengan interpretasi yang berbeda-beda.

Menurut Riset GoPay Digital Donation Outlook 2020, ditemukan bahwa terdapat tiga unsur utama yang menjadi pendorong seorang donatur untuk tetap berdonasi, salah satunya adalah karena kewajiban agama. Kemudian dari organisasi amal dan fundraising platform yang ada di Indonesia terdapat preferensi para donatur untuk memberikan donasi pada organisasi yang memiliki kredibilitas situs organisasi yang baik, aman dan mudah untuk dilakukan, seperti Dompet Dhuafa, BAZNAS, dan Kitabisa. 

Maka dari itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai keagamaan seseorang dengan perilaku berdonasi dan persepsi terhadap kegiatan donasi yang sudah ada. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat membuka cakrawala kita terkait korelasi nilai agama seseorang  terhadap perilaku berdonasinya. Secara spesifik, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Image Charity Organizations (ICO) terhadap Attitudes Towards Charities (ATC), Attitudes Towards Charities (ATC) terhadap Motivation to Donate (MD) dan hubungan tidak langsung Image Charity Organizations (ICO) terhadap Motivation to Donate (MD) yang dimediasi oleh Attitudes Towards Charities (ATC) di lingkungan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui efek moderasi pada Religious Beliefs dalam hubungan antara Attitudes Towards Charities (ATC) terhadap Motivation to Donate (MD).

 

B. Literature Review 

Menyoal donasi amal, hal ini sering dikaitkan dengan agama dan keyakinan beragama. Ranganathan dan Henley (2008, p. 1) menyatakan bahwa “charity and religion go hand in hand.” Agama-agama besar, seperti Islam, Hindu, Budha, dan Kristen mengajarkan pentingnya membantu sesama yang membutuhkan. Berangkat dari adanya ajaran agama mengenai pentingnya berdonasi tersebut menimbulkan asumsi bahwa orang-orang dengan keyakinan dan afiliasi agama akan menyumbang lebih banyak kepada organisasi amal (Ranganathan dan Henley, 2008). Namun hal ini menjadi masih menjadi perkara yang diperdebatkan, apakah agama berdampak pada tindakan amal atau tidak (Ryckman, et all., 2004). 

Literatur yang ada mengungkapkan bahwa studi tentang perilaku untuk berdonasi telah menjadi minat para peneliti selama beberapa dekade (misalnya Guy dan Patton, 1989; O’Malley dan Andrews, 1983) dan kebanyakan meneliti mengenai motivasi untuk berdonasi (Van Slyke dan Brooks, 2005; Kottasz, 2004; Clary dan Snyder, 1995); proses pengambilan keputusan untuk berdonasi (Hibbert dan Horne, 1996; Smith dan McSweeney, 2007); pengaruh persepsi dan sikap terhadap perilaku berdonasi (Sargeant et al., 2006; Webb et al., 2000; Radley dan Kennedy, 1995); karakteristik donor (misalnya Schlegelmilch et al., 1997a, b); donor darah (misalnya Otto dan Bolle, 2011; Glynn et al., 2002) atau donasi organ (misalnya Ryckman et al., 2004; Lee et al., 1999; Randhawa, 1998). Lalu terdapat peningkatan minat penelitian terhadap topik mengenai dampak agama pada perilaku memberi sumbangan dan berdonasi (misalnya Reitsma et al., 2006; Jackson et al., 1995; Lam, 2002). 

a. Karakteristik Donor (Donor Characteristics)

Penelitian pernah dilakukan untuk mengungkap hubungan antara faktor utama geografis (umur, jenis kelamin, hubungan pernikahan, pendapatan, dan sikap dalam berdonasi) (Lee et al., 1999; Burgoyne et al., 2005; Dvorak and Toubman, 2013; Riecken and Yavas, 2005; Sargeant, 1999). Beberapa penelitian menemukan bahwa wanita lebih sering melakukan donasi (Roberts and Roberts, 2012; Simmons and Emanuele, 2007; Schlegelmilch et al., 1997a), tetapi beberapa penelitian lainnya mengemukakan yang sebaliknya (Croson and Gneezy, 2009; Dvorak and Toubman, 2013).  Selain itu, Radley dan Kennedy (1995) menyatakan bahwa usia dan pengalaman hidup mempengaruhi sikap dan motivasi seseorang untuk berdonasi karena individu yang dewasa dan telah berumah tangga lebih bersedia untuk menyumbang. Terakhir, ditemukan bahwa terdapat korelasi positif antara kegiatan donasi dengan level pendapatan (James and Sharpe, 2007) dan kesejahteraan (Andreoni and Scholz, 1998). Riset menemukan bahwa individu dengan pendapatan tinggi akan cenderung untuk lebih banyak berdonasi (Schlegelmilch et al., 1997a).

b. Citra Organisasi Amal (Image of Charities Organization)

Citra organisasi nirlaba didefinisikan sebagai badan dengan konsekuensi fungsional yang memiliki makna donasi secara simbolis serta diasosiasikan dengan organisasi amal. Ciri khas dari citra organisasi nirlaba adalah kasih sayang, dinamisme, idealisme, kebermanfaatan, dan image non-politis (Michel and Rieunier, 2012). Kegiatan branding adalah hal yang penting bagi organisasi amal mengingat iklim organisasi amal yang kian kompetitif (Michel and Rieunier, 2012; Bennett and Gabriel, 2003). Organisasi amal biasanya membangun branding melalui misi donasi (nilai-nilai organisasi) dan menyajikan fakta kualitas yang intangible (Michel and Rieunier, 2012). Maka dari itu, orang-orang biasa menggunakan nilai-nilai organisasi untuk membandingkannya dengan kompetitor organisasi amal lainnya.

c. Perilaku berdonasi (Attitude Toward Charities)

Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi alasan seseorang untuk berdonasi. Guy dan Patton (1988) mengemukakan bahwa dorongan seseorang untuk membantu sesama berasal dari faktor intrinsik dan ekstrinsik. Sementara itu, Lasby (2014) menyatakan bahwa alasan tersebut di antaranya: perasaan belas kasihan terhadap orang lain, membantu suatu hal akibat komitmen atau prinsip yang dipegang, merasa berhutang pada orang lain, memenuhi kewajiban agama atau keyakinannya, dan kecenderungan untuk mendapatkan insentif atau pemotongan pajak. Menariknya, Sargeant et al. (2006) menyatakan bahwa motivasi seseorang untuk berdonasi didasarkan pada persepsi manfaat yang nantinya akan diterima. 

d. Keyakinan Beragama (Religious Belief)

Riset yang pernah dilakukan mengakui bahwa agama memberikan pengaruh penting bagi perilaku manusia (Lau dan Tan ,2009). Menurut Mokhlis (2009), agama merupakan faktor budaya yang merupakan salah satu faktor utama sosial serta bersifat universal yang berdampak pada perilaku, sikap, dan nilai individu dan masyarakat secara keseluruhan. Schlegelmilch et al. (1997) menyatakan bahwa donasi merupakan hal mendasar yang diajarkan oleh ajaran agama. Maka dari itu, pemikiran tersebut menjadi pertimbangan utama untuk meneliti perilaku religiusitas terhadap perilaku berdonasi. Studi yang dilakukan oleh  Ranganathan and Henley (2008) menemukan pernyataan bahwa semakin tinggi tingkat religiusitas individu, maka semakin baik pula perilakunya dalam berdonasi. 

 

C. Metodologi Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan sumbernya adalah data primer dan berdasarkan waktu pengumpulannya adalah data cross section. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menyebarkan kuesioner pada mahasiswa FEB UI dengan 156 responden dari 5 jurusan berbeda, yaitu Akuntansi, Manajemen, Ilmu Ekonomi, Ilmu Ekonomi Islam, dan Bisnis Islam serta tersebar dari angkatan 2017 hingga 2020. Namun, ada 3 responden yang merupakan outlier karena memilih skala “6” dalam semua pertanyaan dari semua variabel. Sehingga, peneliti membersihkan data tersebut dari data keseluruhan. Kuesioner tersebut disusun menggunakan metode skala likert, yang merupakan bentuk penyusunan penelitian kuantitatif dengan responden memilih skala tertentu dalam pengisiannya. Peneliti menggunakan skala 1 : Sangat Tidak Setuju →   6 : Sangat Setuju. Sedangkan pengolahan data menggunakan Regression Analysis Method untuk menguji hubungan keempat variabel, dimana terlebih dahulu dilakukan uji reliabilitas dan validitas pada setiap variabel. Regression Analysis Method sendiri adalah metode analisis hipotesis penelitian untuk menguji ada tidaknya pengaruh dan mengetahui hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Peneliti menggunakan SPSS versi 23.0 untuk melakukan rangkaian olah data tersebut.

 

Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Variabel ICO memiliki hubungan yang signifikan terhadap ATC.
  2. Variabel ATC memiliki hubungan yang signifikan terhadap MD.
  3. Variabel ATC mampu memediasi hubungan antara ICO dan MD secara signifikan.
  4. Variabel RB mampu memoderasi hubungan antara ATC dan MD secara signifikan.

Gambar 1.0 Kerangka Penelitian

(Sumber: Ilustrasi Penulis)

D. Data dan Analisis

Persebaran Geografis

Karakteristik Responden Kategori Total
Jenis Kelamin Laki-laki 75
Perempuan 81
Domisili Jabodetabek 112
Non-Jabodetabek 44
Jurusan Akuntansi 31
Manajemen 31
Ilmu Ekonomi 32
Ilmu Ekonomi Islam 31
Bisnis Islam 31

Tabel 1.0 Persebaran Geografis Responden

(Sumber : Olahan Penulis)

 

Grafik 1. Persebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasar Grafik 1 diketahui bahwa terdapat 75 orang berjenis kelamin laki-laki dan 81 orang berjenis kelamin perempuan.

 

Grafik 2. Persebaran Responden Berdasarkan Domisili

Grafik 2 menunjukkan bahwa responden pada penelitian ini berasal dari Jabodetabek sebanyak 112 orang dan Non-Jabodetabek sebanyak 44 orang.

 

Grafik 3. Persebaran Responden Berdasarkan Jurusan

Berdasar grafik 3 dapat diketahui bahwa responden berasal dari lima jurusan di FEB UI, yaitu dengan persebaran 31 orang dari jurusan Akuntansi, 31 orang dari jurusan Manajemen, 32 orang dari jurusan Ilmu Ekonomi, 31 orang dari jurusan Ilmu Ekonomi Islam, dan 31 orang dari jurusan Bisnis Islam.

 

Uji Coba Instrumen (Reliabilitas dan Validitas)

Sebelum mengolah datanya menggunakan regresi, peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas terlebih dulu pada data. Uji validitas berfungsi untuk melihat apakah instrumen yang akan digunakan sudah mengukur apa yang seharusnya diukur, sedangkan uji reliabilitas berfungsi untuk melihat apakah instrumen yang dipakai memiliki konsistensi hasil ukur yang sama di setiap pengukuran pada variabel yang sama (Amelia, 2019). Peneliti menggunakan SPSS versi 23.0 untuk menguji validitas dan reliabilitas pada penelitian ini.

Standar untuk menentukan validitas dan reliabilitas suatu variabel dapat dilihat dari nilai KMO & Bartlett’s dan Cronbach’s Alpha secara berurutan. Berikut penjelasannya:

  1. Suatu variabel dapat dikatakan valid, ketika memiliki nilai KMO & Bartlett’s > 0,5 (Verdian, 2019).
  2. Suatu variabel dapat dikatakan reliabel, ketika memiliki nilai Cronbach’s Alpha > 0,6 (Verdian, 2019).

 

Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Skala Religious Belief, Attitude Toward Charities, Image of Charities Organization, dan Motivation to Donate yang digunakan dalam penelitian ini merupakan skala unidimensional. Skala unidimensional merupakan satu atribut yang perhitungan seluruh item dilakukan secara bersamaan. Jumlah responden pada uji coba ini berjumlah 156 responden (N = 156). Setelah melakukan uji coba ini, peneliti mendapatkan hasil skor uji validitas dan reliabilitas. Hasil uji validitas dan reliabilitas penelitian ini adalah sebagai berikut (Tabel 3.0 Uji validitas dan reliabilitas).

Variabel Indikator KMO Bartlett Test of Sphericity (sig.) Komponen Matriks Cronbach’s Alpha
Religious Belief (RB) RB1 0,898 0,000 0,796 0,910
RB2 0,704
RB3 0,824
RB4 0,894
RB5 0,853
RB6 0,717
RB7 0,718
RB9 0,768
Attitude Toward Charities (ATC) ATC1 0,691 0,000 0,565 0,663
ATC2 0,569
ATC3 0,657
ATC4 0,621
ATC5 0,649
ATC6 0,603
Image of Charities Organization (ICO) ICO1 0,900 0,000 0,823 0,900
ICO2 0,797
ICO3 0,840
ICO4 0,801
ICO5 0,833
ICO6 0,818
ICO7 0,715
Motivation to Donate (MD) MD1 0,738 0,000 0,761 0,747
MD2 0,903
MD3 0,865
MD4 0,634

Tabel 3.0 Uji Validitas dan Reliabilitas

(Sumber: Olahan penulis)

Sebagaimana tertera pada tabel 3.0 di atas, dapat dilihat bahwa skala Religious Belief memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,910 sehingga termasuk ke dalam kategori “Tinggi” yang berarti instrumen tersebut bersifat konsisten. Sedangkan, untuk skala Attitude Toward Charities memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,663 sehingga termasuk ke dalam kategori “Tinggi” yang berarti instrumen tersebut juga bersifat konsisten. Skala Image of Charities Organization memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,900 sehingga termasuk kategori “Tinggi” atau dapat dikatakan konsisten. Terakhir, skala Motivation to Donate memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,738 yang termasuk kategori “Tinggi” atau konsisten. Dengan demikian, seluruh instrumen dalam penelitian ini dapat digunakan untuk data lapangan.

 

Hasil Analisis Regresi

Deskripsi Statistik

Hasil pengolahan data statistik yang menunjukkan rata-rata (mean) dan standar deviasi (SD) masing-masing variabel penelitian ditunjukkan oleh (Tabel 4.1 Deskripsi statistik) berikut.

Variabel Mean SD
Religious Belief (RB) 5,25 0.77
Attitude Toward Charities (ATC) 3,98 0.76
Image of Charities Organization (ICO) 5,21 0,70
Motivation to Donate (MD) 5,30 0,89

Tabel 4.0 Deskripsi Statistik

(Sumber: Olahan penulis)

Variabel Religious Belief memiliki rata-rata (mean) sebesar 5,25 dari 6 skala poin dengan standar deviasi sebesar 0.77 yang artinya bahwa subjek mengalami fenomena religious belief yang tinggi. Variabel Attitude Toward Charities memiliki rata-rata (mean) 3,98 dengan standar deviasi sebesar 0.75. Sedangkan, variabel Image of Charities Organization memiliki rata-rata (mean) sebesar 5.21 dari 6 skala poin dengan standar deviasi sebesar 0,70. Terakhir, variabel Motivation to Donate (MD) memiliki mean sebesar 5,30 dan standar deviasi sebesar 0,89. Hal ini berarti bahwa responden memiliki motivasi untuk berdonasi yang tinggi.

 

Uji Model Regresi

Hasil uji regresi antara Image of Charities Organization (ICO) terhadap Attitude Toward Charities (ATC) bernilai 0,206 dengan p = 0,011 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antar kedua variabel. Semakin tinggi nilai ICO maka semakin tinggi pula ATC responden. Dengan demikian, hipotesis pertama (H1) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel ICO dan ATC mahasiswa FEB UI dapat diterima.

Selanjutnya, hasil uji regresi antara Attitude Toward Charities (ATC) terhadap Motivation to Donate (MD) bernilai -0,342 dengan p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antar kedua variabel. Semakin tinggi nilai ATC maka semakin tinggi pula MD responden. Dengan demikian, hipotesis kedua (H2) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel ATC dan MD mahasiswa FEB UI dapat diterima.

Hubungan antar variabel Beta p
ICO – ATC 0,206 0,011
ATC – MD -0,342 0,000

Tabel 5.0 Uji Hipotesis

(Sumber: Olahan penulis)

 

Uji Model Mediasi

Prosedur pengujian Attitude Toward Charities sebagai variabel mediator hubungan antara Image of Charities Organization dan Motivation to Donate adalah sebagai berikut (Baron dan Kenny, 1986; Hair dkk., 2010; Kock, 2011) :

  1. Melakukan estimasi direct effect ICO terhadap MD (jalur c)
  2. Melakukan estimasi indirect effect secara simultan dengan triangle PLS SEM Model yaitu ICO → MD (Jalur c″), ICO → ATC (jalur a), dan ATC → MD (Jalur b).

Persyaratan efek mediasi yang harus dipenuhi adalah: (i) koefisien jalur c signifikan pada model (1), dan (ii) koefisien jalur a dan b harus signifikan pada model (2). Pengambilan kesimpulan tentang mediasi adalah sebagai berikut:

  1. Jika koefisien jalur c″ dari hasil estimasi model (2) tetap signifikan dan tidak berubah (c″=c) maka hipotesis mediasi tidak didukung.
  2. Jika koefisien jalur c″ nilainya turun (c″<c) tetapi tetap signifikan maka bentuk mediasi adalah mediasi sebagian (partial mediation).
  3. Jika koefisien jalur c″ nilainya turun (c″<c) dan menjadi tidak signifikan maka bentuk mediasi adalah mediasi penuh (full mediation).

Hasil pengujian model mediasi disajikan pada Tabel 6.0. Hasil pada Tabel 6.0 menunjukkan bahwa persyaratan untuk pengujian mediasi terpenuhi disebabkan koefisien c’ < c dan tidak signifikan sehingga terbentuklah mediasi penuh. Dengan hasil ini, kita dapat menyimpulkan bahwa hipotesis mediasi atau (H3) dalam penelitian ini terpenuhi.

Jalur Direct Effect Indirect Effect
Koefisien p-value Koefisien p-value
ICO → ATC 0.206 0.011
ATC → MD -0,378 0.000
ICO → MD -0.016 0.872 -0.084 0.880

 Tabel 6.0 Pengujian Model Mediasi

(Sumber: Olahan penulis)

 

 Uji Model Moderasi

Pengujian hipotesis moderasi dilakukan dengan moderated regression analysis (MRA) yang diestimasi dengan SEM-PLS (Baron dan Kenny, 1986; Bisbe dan Otley, 2004; Kock, 2011). Untuk menguji Religious Belief (RB) sebagai variabel pemoderasi hubungan antara ATC dan MD, fokus perhatian adalah pada koefisien interaksi antara ATC dan RB. Hipotesis moderasi didukung jika koefisien interaksi tersebut bernilai positif dan signifikan.

Hasil pada Tabel (6.0) menunjukkan bahwa koefisien interaksi antara ATC dan RB adalah tidak signifikan dengan p-value sebesar 0,880. Selain itu, hasil estimasi juga menunjukkan tidak ada peningkatan signifikan explanatory power (R2) dengan dimasukkannya interaksi ke dalam model. Hasil moderasi ini menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan R2 secara setelah interaksi dimasukkan. Model dengan SPM dan inovasi sebagai main effect mempunyai R2 sebesar 11,7%. Model dengan main effect dan interaction effect R2 hanya 11,7%. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis RB sebagai pemoderasi hubungan antara ATC dan MD atau (H4) tidak didukung.

Konstruk Koefisien SE t-hitung p-value
ATC -0,289 0,596 -0,484 0,629
RB 0,060 0,423 0,142 0,888
ATC * RB -0,170 0,111 -0,151 0,880

Tabel 7.0 Hasil Pengujian Pengaruh Moderasi

(Sumber: Olahan penulis)

 

E. Kesimpulan dan Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini menemukan hasil bahwa dari empat variabel yang diuji, terdapat dua diantaranya yang terbukti signifikan, yaitu; (1) Image towards Charitable Organizations (ICO) yang memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Attitudes Towards Charities (ATC) seseorang. Ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh (Teah, 2014) yang menunjukkan bahwa masyarakat cenderung ingin pemerintah lebih turun tangan dalam kegiatan donasi karena memiliki persepsi yang positif terhadap kinerja lembaga amal/filantropi. Mereka berpikir bahwa donasi dari pemerintah juga diperlukan selain dari pihak lembaga amal agar dampak dari donasi semakin besar. Kemudian, (2) variabel Attitudes Towards Charities (ATC) berpengaruh negatif signifikan terhadap Motivations to Donate (MD) dari seorang donatur. Hal ini juga sesuai dari penelitian (Teah, 2014) yang menunjukkan bahwa masyarakat juga cenderung ingin berdonasi sebagai akibat dari persepsi negatif dari donasi pemerintah yang tak kunjung terlaksana. Hal ini dilakukan sebagai rasa iba terhadap masyarakat yang membutuhkan. Pada akhirnya, motivasi berdonasi mahasiswa aktif S1 FEB UI tidak dipengaruhi oleh ajaran agama mereka, yang dibuktikan dari variabel Religious Beliefs (RB) tidak memoderasi hubungan antara Attitudes Towards Charities (ATC) dan Motivations to Donate (MD).

Meski begitu, terdapat keterbatasan pada penelitian ini. Pertama, penelitian ini dilakukan hanya terhadap responden di dalam lingkup mahasiswa FEB UI yang dapat memungkinkan terjadinya bias preferences dalam hal kelompok donatur yang berusia muda. Oleh karena itu, mahasiswa dari fakultas ekonomi kemungkinan memiliki pandangan yang berbeda dengan mahasiswa dari fakultas lain yang ada di Universitas Indonesia, sehingga peneliti menyarankan untuk penelitian selanjutnya agar dapat mencoba untuk menggunakan responden dari fakultas yang berbeda atau cakupan yang lebih luas. Kedua, nilai r square (R^2) & adjusted r square (adj R^2) dari setiap model regresi di penelitian ini cenderung memiliki nilai yang rendah. Sehingga, model yang digunakan dalam penelitian ini masih belum sempurna dalam meneliti topik ini. Oleh karena itu, perlu ada perbaikan model dalam penelitian selanjutnya pada topik ini. Diharapkan dengan adanya perbaikan model, apa yang menjadi topik pada penelitian ini dapat diungkapkan secara lebih akurat pada penelitian selanjutnya.

 

Referensi

Barak, H. (2020). Ini 9 Negara yang Bantu Indonesia Lawan Virus Corona COVID-19. Liputan6. Available at:  <https://www.liputan6.com/global/read/4238142/ini-9-negara-yang-bantu-indonesia-lawan-virus-corona-covid-19> [Accessed July 18th 2021].

Baron, R. M., dan Kenny, D. A. 1986. The moderator –mediator variable distinction in social psychological research: Conceptual, strategic, and statistical considerations. Journal of Personality and Social Psychology, 51(6): 1173–1182.

Bisbe, J., and Otley, D. 2004. The effect of the interactive use of management control system on product innovation. Accounting, Organizations, and Society, 26: 709-737

GoPay dan KOPERNIK. (2020). GoPay Digital Donation Outlook 2020. <https://www.dropbox.com/s/0ha63po0p41n6nl/GoPay%20Digital%20Donation%20Outlook%202020%20v.11DEC%202020.pdf?dl=0> [Accessed July 22nd 2021].

Hair, J., W. Black, B. Babin, and R. Anderson. 2010. Multivariate Data Analysis: A Global Perspective (7th edition). New Jersey: Pearson

Kock, N. 2011. Using WarpPLS in e-Collaboration Studies: Mediating Effects, Control and Second Order Variables, and Algorithm Choices. International Journal of e-Collaboration, 7(3): 1- 13.

Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. (2021). <https://covid19.go.id/peta-sebaran> [Accessed July 19th 2021].

Putri, R. N. (2020). Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 20(2), 705-709.

Teah, M., Lwin, M. and Cheah, I. (2014), “Moderating role of religious beliefs on attitudes towards charities and motivation to donate”, Asia Pacific Journal of Marketing and Logistics, Vol. 26 No. 5, pp. 738-760. https://doi.org/10.1108/APJML-09-2014-0141

Verdian, E., 2019. ANALISIS FAKTOR YANG MERUPAKAN INTENSI PERPINDAHAN MEREK TRANSPORTASI ONLINE DI SURABAYA. AGORA, [online] 7(1). Available at: <https://media.neliti.com/media/publications/287280-analisis-faktor-yang-merupakan-intensi-p-c8e56a3d.pdf> [Accessed 26 July 2021].