PRINSIP-PRINSIP KEADILAN MENURUT EKONOMI ISLAM

PRINSIP-PRINSIP KEADILAN MENURUT EKONOMI ISLAM

Oleh Farid Gumelar – Kepala Biro Internal IBEC

Hubungan antar-manusia baik secara personal maupun sosial yang lebih luas sudah diatur dalam Islam. Termasuk keadilan yang merupakan hal penting dalam perekonomian sebuah negara, bahkan dunia. Ekonomi Islam memiliki perhatian yang besar terhadap keadilan sehingga seluruh sumber daya harus dimanfaatkan untuk mewujudkan maqasid syariah.

Islam menempatkan prinsip keadilan sebagai inti semua hukum yang mengatur kegiatan ekonomi. Sejumlah ayat Quran mengungkapkan tentang prinsip keadilan seperti; dalam QS 4:135 yang berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya…”, dan QS 2:188 yang berbunyi “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”.

Prinsip ekonomi Islam menyoroti dua hal penting. Yang pertama adalah mengenai kepemilikan atau kekayaan seseorang tidak dibatasi jumlahnya. Manusia memiliki sifat yang ingin memenuhi kebutuhan mereka sebaik mungkin. Dengan begitu, manusia dapat memiliki kekayaan yang sebanyak-banyaknya. Di saat yang sama, kita sebagai manusia, khususnya umat Islam, diwajibkan menunaikan Zakat. Zakat inilah yang menjaga keadilan secara ekonomi dan menyeluruh karena segala hal mengenai hubungan antar-manusia sudah diatur dalam agama Islam. Zakat juga dapat mengurangi kesenjangan antara orang-orang yang berkecukupan dan yang tidak berkecukupan. Tidak hanya satu ayat saja yang menyinggung tentang zakat, seperti dalam QS 2: 110,” Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat….”, QS 2:277 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Hal yang kedua adalah berkaitan dengan kerangka hukum dimana semua perdagangan dan bisnis bisa dilakukan secara bebas karena prinsip dasar muamalah adalah bebas, sampai ada dalil yang melarangnya. Islam mendefinisikan sistem ekonomi secara spesifik, namun dalam beraktivitas terdapat batasan dalam bentuk larangan. Dengan kata lain, Islam telah membentuk sesuatu yang dapat dikatakan sistem yang mengatur kualitas dan cara memperoleh kekayaan smengacu pada salah satu ajaran Islam yang sangat penting, yaitu larangan bagi umat Islam agar tidak menguasai hak dan kekayaan orang lain dengan cara yang salah. Dalam Islam, bunga adalah hal yang sangat dilarang karena hal tersebut adalah bukti nyata dari sebuah ketidakadilan. Dalam QS 3:130 disebutkan bahwa bunga adalah sesuatu yang dilarang, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda…”. Larangan bunga berarti bahwa uang hanya dapat dipinjamkan secara sah sebagai tindakan amal atau dalam transaksi bisnis yang sah berdasarkan keuntungan dan pembagian risiko. Investasi, pertambahan kekayaan yang didapat dari usaha adalah hal yang sah bahkan dianjurkan menurut aturan agama Islam.

Kegiatan usaha yang di dalamnya terdapat ketidakjelasan mengenai penambahan harta, risiko dan sebagainya merusak prinsip ekonomi Islam. Ketidakjelasan dalam kontrak bisnis dengan tujuan untuk menyembunyikan risiko dari pihak lain juga dilarang oleh agama Islam. Hal ini menyinggung soal transaksi perdagangan yang bersifat spekulatif seperti jual beli saham, short selling, jual beli valuta asing, dan sebagainya.

Sistem ekonomi yang diterapkan oleh sebagian besar negara di dunia dapat diyakini sebagai penyebab dari masalah-masalah ekonomi yang salah duanya adalah kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi. Oleh karena itu, Quran dan Sunnah adalah sumber yang cocok untuk mencapai keseimbangan, kemerataan, dan pertumbuhan ekonomi di masa yang akan datang. Semoga para ekonom Islam di masa mendatang dapat mewujudkan apa yang sudah diatur dalam agama Islam.

Referensi:

Suryani (2011). Keadilan Ekonomi dalam Perspektif Ekonomi Syariah: Tinjauan Teori

Randeree, Kasim (2016), An Islamic Perspective on Economic and Social Justice.