PERKEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH DI INGGRIS

Aisyah. A-Staff Biro Bisnis dan Proyek

PERKEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH DI INGGRIS

Sistem ekonomi Islam di dunia perbankan terbilang masih baru dan kalah jauh dibandingkan dengan berdirinya bank-bank konvensional. Perbankan syariah pertama kali muncul dari Mesir di Kota Mith Ghamr pada 1963 tanpa menggunakan embel-embel Islam, karena adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa saat itu akan melihatnya sebagai gerakan fundamentalis.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini, pendirian bank Islam modern pertama di Kota Mith Ghamr ini dipelopori Dr. Ahmad el-Najjar dengan sistem operasinya berbasis koperasi. Sistem ini memungkinkan orang-orang diberi pinjaman bebas bunga dengan syarat terlebih dahulu mendepositokan uangnya di bank Islam berdasarkan prinsip bebas bunga dan memakai prinsip bagi hasil (Sutan Remy Sjahdeini: 2014). Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu sudah berdiri 9 bank dengan konsep serupa di Mesir. Bank-bank ini, yang tidak memungut maupun menerima bunga, sebagian besar berinvestasi pada usaha-usaha perdagangan dan industri secara langsung dalam bentuk partnership dan membagi keuntungan yang didapat dengan para penabung.
Saat ini dalam masa perkembangannya sejak 1963, perbankan syariah di berbagai negara telah banyak bermunculan dan terus berkembang. Negara-negara yang turut memakai sistem ekonomi Islam di dalam pengoperasian usaha perbankannya sudah banyak sekali, di antaranya Malaysia, Indonesia, Singapura, Arab Saudi, Mesir, Sudan, Pakistan, Inggris, Jerman dan masih banyak lagi di negara-negara Eropa maupun Asia. Sampai 2014 aset perbankan syariah di pasar global secara keseluruhan telah mencapai US$ 778 miliar, dengan pangsa pasar perbankan syariah secara global adalah Malaysia, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi (republika.co.id/26/12/2014).

Mulai tahun 2000-an silam, negara-negara Eropa mulai membuka diri terhadap perekonomian syariah. Banyak negara di Eropa yang mengadopsi konsep ekonomi syariah setelah mereka menyadari tujuan yang jelas dari sistem ini dalam menangani pelbagai masalah yang erat kaitannya dengan ekonomi, seperti masalah kesenjangan sosial yang semakin menggila.

Atmosfir perkembangan pesat bank syariah mulai terasa setelah pada tahun 2004, the Islamic Bank of Britain (IBB) resmi berdiri dan menjadi bank syariah pertama di Eropa yang diikuti dengan prestasi gemilang perbankan syariah di negeri tersebut. 50 ribu nasabah pada tahun itu adalah bukti nyata respon positif masyarakat terhadap ekonomi syariah. Meskipun baru terbentuk, nyatanya perbankan syariah bisa bersaing dengan bank konvensional lainnya dalam menawarkan produk-produk berkualitas kepada masyarakat. Bahkan perkembangan perbankan syariah ini jauh lebih maju dibandingkan dengan negara di Asia. Kemajuan tersebut terlihat dari tingginya aset bank syariah di Inggris yang sudah mencapai US$ 18 miliar dan juga perbankan syariah di Inggris dijadikan sebagai tempat berinvestasi oleh kalangan umat Islam dari negara teluk yang kaya raya dengan prinsip syariah. Sehingga perbankan syariah di Inggris lebih dikenal dengan istilah investor banking dan banyak produk perbankan syariah di Inggris juga menawarkan produk investasi yang penggunaan dananya sesuai hukum Islam.

Sebagai salah satu pusat bisnis dan keuangan terbesar di dunia, tak kurang dari 100 perusahaan besar dari 500 perusahaan besar Eropa berlokasi di Inggris. Melalui ibukotanya, London, Inggris merupakan tanah yang subur bagi perkembangan industri syariah.  Ditandai dengan penobatan Inggris sebagai negara yang memiliki bank terbanyak bagi umat muslim dibanding negara Barat lainnya. Aset perbankan syariah di Inggris mencapai 18 miliar dolar AS (12 miliar poundsterling) dari total aset perbankan syariah global sebesar 778 miliar dolar AS (2014), melebihi aset perbankan syariah di negara lain, seperti Pakistan, Bangladesh, Turki, dan Mesir.

Walaupun bukan berasal dari negara muslim, Inggris merupakan negara termaju dalam menerapkan ekonomi syariah. Sejak awal perekonomian Inggris memang didasari kesejahteraan sosial yang dipadukan dengan pasar bebas. Alasan itulah yang membuat Inggris merasa cocok dengan sistem ekonomi syariah. Tidak ada satu pun sektor yang bisa menghindari krisis global, akan tetapi keuangan syariah menunjukan ketahanan yang sangat luar biasa. Hal ini pun memicu ketertarikan negara Barat lainnya terhadap konsep ekonomi Islam, seperti Perancis, Jerman, dan Italia yang pada akhirnya juga mengadopsi sistem ini.

Di seluruh dunia, aset keuangan syariah diproyeksikan tumbuh menjadi US$ 3,5 triliun pada 2021 dari sebelumya US$ 2 triliun. Mengutip laman Arabnews dari laporan Thompson Reuter’s Islamic Finance Development ” Resilient Growth” yang dipublikasikan pada 2016, saat ini telah ada 622 institusi di seluruh dunia yang menyediakan pendidikan keuangan syariah. Negara Eropa menunjukkan minat yang besar pada pendidikan keuangan syariah. Saat ini 109 institusi menyediakan pendidikan keuangan syariah dengan 63 diantaranya berada di Inggris. Selain Inggris, keuangan syariah juga menarik perhatian Spanyol. Salah satu sekolah ternama di negeri ini, IE Business School, telah memiliki pusat pendidiKan yang menjadi pusat pendidikan dan penelitian keuangan syariah.

Negeri Ratu Elizabeth ini sendiri pertama kali menerbitkan surat utang syariah bernilai US$ 250 juta. “Keuangan syariah diminati investor yang menguatakan etika atau mereka yang ingin membuat bisnis yang sesuai prinsip syariah,” kata Farmida Bi, Head of Islamic Finance kawasan Eropa dari Norton Rose Fulbright. “Mereka tertarik dengan peluang pembiayaan yang ditawarkan keuangan syariah, baik sebagai investor maupun sebagai upaya merespon pemintaan dari masyarakat muslim.”

Keuangan syariah menunjukan perkembangan pesatnya dalam 10 tahun terakhir. Salah satu gedung tertinggi di Eropa disebutkan dibiayai oleh instrumen yang menerapkan prinsip syariah. Fakta tersebut menunjukkan bahwa meskipun negara Inggris bukan merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim, namun pengoptimalan ekonomi syariah terus berkembang dan bergerak dengan signifikan. Hal ini tentu harus bisa memacu Indonesia untuk bisa memanfaatkan dan memaksimalkan peran dari ekonomi syariah untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Satria Dwi Saputro. 2015. Sejarah dan Pertumbuhan Perbankan Syariah di Dunia. http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/09/15/186558/sejarah-dan-pertumbuhan-perbankan-syariah-di-dunia/ Diakses pada 2 September 2017
  1. Budi Darmawan. 2016. Sejarah Perbankan Syariah di Dunia dan Masuknya ke Indonesia. http://ekonomi-islam.com/sejarah-perbankan-syariah-di-dunia-dan-masuknya-ke-indonesia/ Diakses pada 30 Agustus 2017
  1. Syahid Latif. 2017. Alhamdulillah! Keungan Syariah di Eropa Makin Populer. https://www.dream.co.id/dinar/alhamdulillah-keuangan-syariah-di-eropa-makin-populer-170131h.html Diakses pada 2 September 2017
  1. http://www.gomuslim.co.id/read/news/2016/06/04/562/meski-sekular-inggris-justru-terdepan-dalam-penerapan-ekonomi-syariah.html Diakses pada 2 September 2017