Perkembangan Pasar Modal Syariah

Perkembangan Pasar Modal Syariah

Oleh Muhammad Habibullah Iskandar – Staff Biro Eksternal IBEC

Perusahaan dalam menjalankan usahanya membutuhkan modal yang didapatkan dengan berbagai cara, seperti tabungan sendiri, melakukan kredit dengan bank, ataupun dengan mencari investor. Mencari dana melalui investor dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan menerbitkan saham di pasar modal. Menurut UU nomor 8 tahun 1995 pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Menurut sebagian besar ulama perdagangan saham dalam Bursa Efek Indonesia terdapat hal-hal yang dilarang dalam syariat sehingga dibentuklah pasar modal syariah yang berdasar syariah Islam.

Pasar modal syariah ditandai dengan munculnya Jakarta Islamic Index pada tahun 2000. Seiring perkembangan, muncul kembali indeks syariah yaitu Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) yang berdasar dari fatwa Dewan Syariah Nasional No: 80/DSN-MUI/III/ 2011. Fatwa tersebut menjadi prinsip syariah dalam mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas di pasar reguler bursa efek. Pasar modal syariah memiliki kriteria dan produk berbeda dengan pasar modal konvensional. Selain itu, perkembangan dan potensi pasar modal syariah saat ini sedang berkembang dengan sangat pesat.

Pasar modal syariah dengan pasar modal konvensional atau yang umum memiliki perbedaan kriteria. Perbedaan yang pertama adalah kegiatan emiten yang mengeluarkan efek syariah tidak bertentangan dengan syariat Islam, artinya kegiatan usaha perusahaan tersebut tidak memperjualbelikan barang haram atau terdapat riba. Kriteria kedua, harus memenuhi rasio keuangan yang ditetapkan. Rasio antara total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45 persen dan rasio antara total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal dibandingkan dengan pendapatan total tidak lebih dari 10 persen. Jika suatu emiten memiliki kedua kriteria tersebut maka perusahaan tersebut bisa di masukkan ke dalam Daftar Efek Syariah (DES).

Pasar modal syariah tentu berbeda dengan pasar modal konvensional mulai dari konsep hingga produk yang ditawarkan. Dalam pasar modal syariah produk yang ditawarkan adalah efek syariah yang terdiri dari saham, sukuk, reksa dana syariah, efek beragunan aset syariah, dan efek syariah lainnya. Untuk layanan yang ditawarkan pasar modal syariah saat ini sudah mulai berkembang sistem online trading syariah (SOTS), dimana hal ini akan memudahkan para pengguna saham untuk bertransaksi dan akan meningkatkan perkembangan pasar modal syariah. Investasi dalam pasar modal syariah relatif lebih aman ketimbang pada pasar modal konvensional, dikarenakan lebih terjaminnya usaha yang bersih dan kemurniannya.

Perkembangan pasar modal syariah di Indonesia pada saat ini sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Terdapat dua pasar modal syariah di Indonesia yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI). JII muncul pada tahun 2000 , sedangkan ISSI pada tahun 2011 setelah diterbitkannya fatwa DSN No: 80/DSN-MUI/III/ 2011. Perkembangan dalam pasar modal syariah terlihat dari banyaknya jumlah saham syariah per 30 April 2017 yang telah meningkat sebesar 49 persen menjadi 354 saham sejak ISSI diluncurkan pada 2011 yang pada saat itu saham syariah sebanyak 237. Perkembangan lainnya dapat dilihat dari kapitalisasinya Rp3.175 triliun yang bertumbuh sekitar 9.7 persen menjadi Rp3.477,37 triliun per 31 Juli 2017. Return indeks saham syariah (YTD) per 26 Mei 2017 sebesar JII (6%) dan ISSI (7%).

Perkembangan pasar modal syariah di Indonesia dari data-data tersebut terbilang positif, namun Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan (OJK) pangsa pasar modal syariah masih dibawah 5 persen. Hal tersebut sangat disayangkan mengingat Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Hal pertama yang menjadi tantangan bagi pasar modal syariah adalah tingkatan permintaan dan jenis produk yang ditawarkan. Tantangan kedua adalah literasi mengenai pasar modal syariah. Berdasarkan survei, literasi terhadap pasar modal syariah hanya sebesar 0,02 persen, sedangkan terhadap inklusi pasar modal syariah sebesar 0,01 persen. Hal ini mungkin dapat diatasi dengan adanya sistem online trading syariah (SOTS) sekarang terdapat 12 sistem yang berjalan sesuai syariah dari fatwa DSN.

Potensi pasar modal syariah masih sangat besar dan masih akan mengalami pertumbuhan yang cepat, hal ini terlihat dengan gencarnya OJK mengembangkan program-program seperti sosialisasi, pembuatan kebijakan, dan lain-lain. Keinginan meningkatkan pasar modal syariah juga terlihat dari pemerintah yang membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Perkembangan tersebut akan bertumbuh lebih cepat jika masyarakat lebih memahami mengenai pasar modal syariah. Pasar modal syariah ini merupakan salah satu instrumen ekonomi yang dibutuhkan negara Indonesia dalam membantu pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah ataupun swasta.

Reference:

Murdaningsih, D. (2017). Mengenal Kriteria Saham Syariah. Retrieved August 20, 2017, from http://www.republika.co.id/berita/ojk/pasar-modal-syariah/17/05/29/oqpzp6368-mengenal-kriteria-saham-syariah

OJK. (n.d.). Pasar Modal Syariah. Retrieved August 21, 2017, from http://www.ojk.go.id/id/kanal/pasar-modal/Pages/Syariah.aspx

OJK. (2016). Mengenal Pasar Modal Syariah. Retrieved August 21, 2017, from https://www.slideshare.net/puguhnugroho1/mengenal-pasar-modal-syariah-2016

OJK. (2017). Statistik Saham Syariah.

Okezone. (2017). Begini Perkembangan Pasar Modal Syariah Selama 20 Tahun. Retrieved August 20, 2017, from http://economy.okezone.com/read/2017/05/31/278/1704045/begini-perkembangan-pasar-modal-syariah-selama-20-tahun

Respati, Y. (2017). Data Perkembangan Pasar Modal Syariah Per April 2017. Retrieved August 20, 2017, from http://akucintakeuangansyariah.com/data-perkembangan-pasar-modal-syariah-per-april-2017/

Yudi, S. (2016). Investasi Saham Syariah Relatif Lebih Aman Dibanding Saham Konvensional!