PENGELOLAAN DANA WAKAF PRODUKTIF SEBAGAI MODAL PENDIRIAN STARTUP HALAL

PENGELOLAAN DANA WAKAF PRODUKTIF SEBAGAI MODAL PENDIRIAN STARTUP HALAL

Oleh : Monavia Ayu Rizaty, IEI 2014

Saat ini, banyak sekali wirausahawan muslim muda yang memiliki semangat untuk berbisnis. Tetapi permasalahan utama yang mereka hadapi adalah kesulitan mencari modal ketika ingin mendirikan usaha. Mereka tidak memiliki modal yang cukup dan di sisi lain mereka juga kesulitan mengakses permodalan ke perbankan karena tidak memiliki objek yang bisa dijaminkan. Salah satu solusi dari mengatasi hal tersebut adalah dengan mengaplikasikan wakaf produktif. Wakaf produktif adalah harta benda atau pokok tetap yang diwakafkan untuk dipergunakan dalam kegiatan produksi dan hasilnya disalurkan sesuai dengan tujuan wakaf seperti wakaf tanah yang tanahnya dipergunakan untuk lahan perkebunan atau mata air yang dijual airnya. Harta benda wakaf tersebut dikelola sehingga menghasilkan nilai ekonomis yang dapat digunakan sebagai modal usaha. Pemerintah sendiri telah mendorong pemanfaatan wakaf sebagai pembiayaan sektor usaha dalam negeri, khususnya usaha startup halal.

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, Indonesia memiliki total area tanah wakaf mencapai 4,3 miliar meter persegi dengan perkiraan nilai ekonominya sekitar Rp 370 triliun. Namun, lahan ini sebagian besar tidak produktif dan tidak dikelola dengan baik sehingga kurang menambah nilai ekonomi. Padahal di negara-negara lain wakaf telah dikelola sebagai dana usaha. Misalnya, di beberapa negara seperti Aljazair, Iran, Mesir, dan Palestina sebagian orang tidak hanya mewakafkan lahan yang akan digunakan untuk tempat ibadah atau makam tetapi juga mewakafkan lahan pertanian. Lahan pertanian merupakan lahan yang produktif karena bisa menghasilkan sesuatu yang dapat dijual dan menguntungkan. Pengelolaan aset wakaf secara produktif dapat menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi

Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia mengatakan bahwa jumlah pengusaha muda di Indonesia hanya berkisar 0,18 persen dari total penduduk di tanah air. Angka tersebut masih jauh jika dibandingkan dengan jumlah pengusaha muda di Malaysia yang mencapai 16 persen dari total penduduk di negerinya. Kurangnya pengusaha ini merupakan salah satu penyebab mengapa Indonesia masih masuk dalam kategori negara berkembang. Hal itu terjadi salah satunya adalah karena tidak memiliki modal yang cukup untuk membangun usaha.

Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) ingin mendorong keuangan syariah menjadi lebih besar yakni dengan mendorong pertumbuhan sektor riil salah satunya dengan mendirikan perusahaan startup. Apabila dana wakaf dikelola dengan halal-based dan dimanfaatkan sebagai modal bisnis startup para pengusaha muda muslim, maka diharapkan dapat mendorong industri keuangan syariah. Pengusaha muda yang mengembangkan usahanya dalam industri halal, kedepannya akan masuk kategori bankable. Jika sudah masuk dalam kategori bankable, pengusaha muda bisa mendapat pinjaman dari perbankan syariah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan mendorong pertumbuhan sektor rill, permintaan atas pendanaan dari perbankan syariah pun akan besar. Apabila bisnis startup semakin besar, maka pengusaha dapat menjadi klien utama di perbankan syariah. Hal tersebut tentunya akan membantu aset perbankan syariah semakin membesar.

Sebagai kesimpulan, Indonesia harus bisa membuka semua peluang untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah dengan pengelolaan aset-aset wakaf. Aset-aset wakaf yang selama ini menganggur dan tidak produktif, perlu ditata ulang agar lebih produktif sehingga menghasilkan nilai ekonomi. Aset wakaf yang diproduktifkan dapat menghasilkan sejumlah uang yang mana uang tersebut bisa digunakan untuk mendirikan serta mengembangkan usaha-usaha baru seperti bisnis startup. Sangat disayangkan apabila potensi besar yang ada tidak dimanfaatkan atau dilewatkan. Padahal, sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia khususnya wirausahawan muslim muda sangat banyak. Mereka juga memiliki kreativitas dan inovasi yang luar biasa. Hanya saja mereka kekurangan modal saat ingin mendirikan usaha. Jika pemerintah dapat memfasilitasi kebutuhan modal bisnis dari penggunaan wakaf produktif, maka jumlah wirausahawan muda di Indonesia akan semakin banyak dan tidak akan kalah dengan negara lain. Potensi-potensi inilah yang perlu digali oleh pemerintah agar wakaf bisa lebih berkontribusi bagi peningkatan ekonomi masyarakat.

Referensi :

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/17/08/24/ov6hl1382-wakaf-akan-didorong-untuk-modal-startup-industri-halal

http://www.antarabali.com/print/14197/jumlah-pengusaha-muda-018-persen-penduduk-indonesia

http://www.sinergifoundation.org/wakaf-produktif