Pemikiran Ekonomi Bung Hatta : Ruh Islam dalam Konsep Koperasi di Indonesia

Pemikiran Ekonomi Bung Hatta : Ruh Islam dalam Konsep Koperasi di Indonesia

Bismillahirahmanirahiim

Jauh sebelum ekonomi islam berkembang secara formal di Indonesia, nilai-nilai islam ternyata telah merasuk ke dalam sendi-sendi perekonomian rakyat. Tak hanya itu, nilai-nilai tersebut juga menjadi intisari dari asas yang mencerminkan identitas Indonesia—kekeluargaan. yaitu koperasi, konsep yang merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian bangsa. Mohammad Hatta, sang proklamator, adalah tokoh yang berperan besar bagi pengembangan ide koperasi untuk mengenalkan sistem ekonomi yang ramah bagi siapa saja, suatu ekonomi kerakyatan. Beliau menjunjung tinggi asas-asas kebersamaan serta asas berbagi. Sumbangsihnya terhadap penciptaan ekonomi yang inklusif membuatnya digelari bapak koperasi. Namun, tak banyak yang tahu bahwa konsep beliau ternyata memiliki banyak kesamaan dengan prinsip-prinsip ekonomi islam. Ciri-ciri serta cita yang dibawa oleh koperasi juga tak jauh berbeda dari ekonomi islam. Lalu, bagaimana sebenarnya keterkaitan antara koperasi dan ekonomi islam?

Ide Koperasi

Koperasi merupakan bentuk kerjasama ekonomi yang menekankan pada usaha bersama dalam membangun ekonomi dengan asas kekeluargaan. Koperasi didirikan sebagai kerjasama kaum yang lemah untuk membela keperluan hidupnya dengan ongkos yang semurah-murahnya. Pada koperasi didahulukan keperluan bersama, bukan keuntungan (Hatta, 1954 dalam Mikhriani, 2011). Bung Hatta menjadikan koperasi sebagai lembaga sentral yang berperan dalam sistem ekonomi yang ingin dikembangkannya. Hal ini guna menyejahterakan masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan. Sejak awal, konsep dan kehadiran koperasi bukan hanya sebagai bentuk idealisme semata, tetapi juga karena tuntutan realitas. Di masa awal pembangunan Indonesia, Bung Hatta mengklasifikasikan golongan ekonomi menjadi tiga yaitu, golongan paling atas oleh kaum putih, golongan kedua adalah kaum perantara seperti orang Asia, dan golongan ketiga merupakan ekonomi kecil—pertukangan, perdagangan, pertanian—oleh bangsa Indonesia (Abbas, 2010). Struktur tersebut sangat tidak sehat dan tidak menguntungkan rakyat kecil yang mengalami kekurangan modal. Lebih lanjut, penghasilan bangsa Indonesia terpecah-pecah sebagaimana ekonomi yang berjalan merupakan ekonomi segala kecil. Suatu ekonomi di mana produsen tak mampu memasarkan produk karena kekurangan modal dan konsumen bergantung kepada kaum saudagar yang menetapkan harga produk dengan tinggi. Dalam mekanisme ini, rakyat mengalami dua kerugian—penjual menjual semurah-murahnya dan pembeli membeli semahal-mahalnya.

Oleh karena itu, solusi utama untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menata kegiatan produksi dan konsumsi melalui sebuah sistem manajemen dan atau keorganisasian yang disebut dengan koperasi. Hatta menyebutkan bahwa negara-negara skandinavia dan dunia barat mampu menjadi makmur lewat jalan koperasi. Meski bentuk koperasi sendiri terinspirasi dari barat, Hatta berpendapat bahwa koperasi di Indonesia memiliki muatan yang berbeda. Hal ini terjadi karena tujuan koperasi Indonesia tidak hanya berdimensi ekonomi untuk kepentingan anggota secara individu, melainkan berdimensi ekonomi sosial untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian, konsep koperasi Indonesia memiliki pilar utama berupa rasa semangat solidaritet,setia bersekutu, dan individualitet,kesadaran akan harga diri sendiri (Hatta, 1960 dalam Abbas,2010). Namun, apakah kedua hal ini cukup untuk menunjukkan sisi islami dari koperasi?

Nilai-nilai islam dalam koperasi

Koperasi tidak dapat berdiri dengan baik jika hanya memenuhi persayaratan teknisnya. Persyaratan teknis disini meliputi struktur keanggotaan, mekanisme pembagian SHU, dan pengelolaan keuangan. Lebih lanjut, koperasi yang baik dan dicita-citakan oleh Bung Hatta adalah koperasi yang seluruh anggotanya mengedepankan nilai-nilai etika dan moral. Nilai-nilai seperti tolong menolong, musyawarah, kebersamaan, kepercayaan, kerja keras, dan keinginan untuk maju dari setiap anggotanya. Nilai ini mencerminkan pula ajaran-ajaran islam seperti ta’awun (tolong menolong) dan syirkah (kerjasama). Koperasi juga memiliki asas keadilan dimana kepemilikannya tidak ditentukan oleh modal. Kemudian, penekanan manajemen usaha dilakukan secara musyawarah (Syura) sesama anggota yang dituangkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) dengan melibatkan seluruh potensi anggota yang dimilikinya (Buchori, 2010). Sebagaimana tertuang dalam firman Allah SWT:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya : “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Q.S Al Maidah {5}:2)

Jadi, peranan agama dalam kehidupan koperasi bagi Hatta adalah sangat penting, karena agama merupakan roh dari koperasi itu sendiri (Abbas, 2010). Namun, perlu juga diperhatikan bahwa Hatta tidak mencoba untuk menghubungkan konsep dan operasionalisasi koperasinya dengan konsep Islam yang penekanannya adalah penegakan sistem nonribawi. Hatta lebih mementingkan jiwa dan etika yang terdapat dalam ajaran Islam atau dapat juga dikatakan lebih menekankan substansi dari pada bentuk yang legal dan formal (Naim, 1995 dalam Abbas, 2010).

Meskipun demikian, Ketua Dewan Presidium ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), Ir. Muslimin Nasution, APU, dalam suatu wawancara mengatakan bahwa: “Nilai-nilai, kredo atau semangat koperasi itu memiliki base line ekonomi syariah. Pertama, pemilik sama dengan pelanggan. Saya anggota koperasi, saya pemilik koperasi itu. Kalau bank berbeda: saya nasabah, saya nggak bisa menentukan kebijakan. Kedua, menyejahterakan anggota. Ketiga, menolong diri sendiri. Keempat, mengambil keputusan sendiri. Kelima, menjalankan administrasi sendiri”. Hal ini diakui juga oleh Fatah Hidayat, Dosen Universitas Negeri Malang, bahwa Koperasi bukanlah sebuah produk ekonomi Islam. Namun di sisi lain, sistem koperasi yang lebih menciptakan pemerataan perekonomian lebih dekat pada prinsip keadilan daripada prinsip-prinsip ekonomi neoliberalisme. Hal tersebut menjadikan  koperasi sebagai salah satu alternatif untuk penerapan ekonomi yang lebih adil di masyarakat Indonesia. Berperannya koperasi dalam ekonomi rakyat dapat menunjang sistem ekonomi kerakyatan yang identik dengan ekonomi syariah.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa koperasi dapat menunjang perkembangan ekonomi Isam itu sendiri. Didalamnya telah ada nilai-nilai dasar yang merujuk pada ketaatan manusia kepada hukum Allah SWT. Manusia sejatinya harus berusaha aktif dalam upaya meraih kesejahteraan baik secara individu maupun kolektif. Koperasi menjadi salah satu bukti dari ikhtiar bung Hatta dalam usaha memajukan ekonomi rakyat Indonesia. Beliau menginginkan semua pihak—baik yang berdaya dukung kuat maupun lemah dalam ekonomi—untuk tidak hanya semata bersaing, melainkan juga mampu bersinergi dan saling mengisi dalam rangka mencapai kemakmuran. Kemakmuran yang menyeluruh bagi bumi dan seisinya. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis

Amelia Berliani

Staf Penelitian dan Kajian

IBEC 2017

Referensi :

Abbas, Anwar. (2010). Bung Hatta dan Ekonomi Islam. Jakarta: Buku Kompas.

Buchori, N. S. (2010). Koperasi dalam Perspektif Ekonomi Syari ’ ah. Maslahah, 1(1), 93–115.

Mikhriani. (2011). Koperasi dan BMT: Sebuah Fenomena Sumber Dana Untuk Kemaslahatan Umat. Jurnal Dakwah, XI(1), 33–52.

Ayat Al-Qur’an. http://tafsirq.com/5-Al-Ma%27idah/ayat-2. 27 April 2017.

Ageung. -. “Jadi ya, koperasi itu ekonomi syariah”. http://rumahamal.org/jadi-ya-koperasi-itu-ekonomi-syariah/. 24 April 2017

Prasetya. 2009. Ekonomi Syariah: Harus Sesuai Kearifan Lokal. https://prasetya.ub.ac.id/berita/Ekonomi-Syariah-Harus-Sesuai-Kearifan-Lokal-2998-id.html. 24 April 2017