Online Cash Waqf amongst Muslim Millenials: Determinant Factors

Oleh Ali Kifayatullah (Ilmu Ekonomi Islam 2020), Staf Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2021

Judul Artikel : The Role of Knowledge, Trust, and Religiosity in Explaining the Online Cash Waqf amongst Muslim Millenials

Penulis: Rahmatina Awaliah Kasri dan Syafira Rizma Chaerunnisa

Tahun: 2021

Jurnal: Journal of Islamic Marketing

Publisher: Emerald Publishing ltd.

DOI: https://doi.org/10.1108/JIMA-04-2020-0101

ISSN: 1759-0833

 

Latar Belakang

Pada dasarnya, wakaf memiliki beberapa fungsi, mulai dari pemenuhan aspek religiusitas, sosio-ekonomi, pendidikan bahkan hingga lingkungan (Ahmed, 2004; dan Shaikh et al., 2017). Dahulu, wakaf hanya terbatas pada konteks aset yang tidak bergerak (immovable assets), seperti tanah, bangunan, masjid, dan lainnya yang disediakan oleh orang yang memiliki kelebihan harta (Fuadi, 2013). Seiring berjalannya waktu, diskursus mengenai wakaf mulai berkembang hingga masuk ke dalam instrumen keuangan, jasa, dan lainnya yang memperluas aspek pemanfaatan wakaf itu sendiri (Ahmed, 2019).

Perkembangan konsep wakaf ini juga terjadi di Indonesia. Hal ini ditandai oleh munculnya fatwa MUI pada tahun 2002 dan UU No. 41 tahun 2004 mengenai wakaf yang memperbolehkan umat Muslim untuk melakukan wakaf dengan instrumen uang, sekuritas, dan objek bergerak lainnya (Nafis, 2012). Perkembangan ini diharapkan mampu menghadirkan konsep inklusif (Junaidi, 2018) dan mengoptimalkan potensi wakaf masyarakat di Indonesia (KNKS, 2020).

Di sisi lain, institusi wakaf di Indonesia juga banyak memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memaksimalkan implementasi instrumen wakaf ini dengan membuat platform digital untuk melakukan fundraising. Hal ini dilakukan untuk menjangkau wakif secara lebih luas dan membuka kesempatan bagi seluruh Muslim untuk melaksanakan wakaf (Amin et al., 2014; dan Nawawi, 2012). Tren ini juga dilakukan untuk menjangkau generasi milenial yang sangat erat dengan perkembangan teknologi untuk mengambil bagian dalam sektor wakaf uang ini (KNKS, 2019).

 

Tujuan

Berdasarkan pemaparan perspektif di atas, penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor determinan dari wakaf uang berbasis daring (online) di kalangan generasi Muslim milenial. Secara lebih rinci, penelitian ini berusaha untuk menganalisis peran variabel pengetahuan, kepercayaan, dan religiusitas dalam memengaruhi sikap dan intensi untuk melakukan wakaf uang berbasis daring (online) di kalangan generasi Muslim milenial itu sendiri. 

 

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui kuesioner. Penelitian ini juga memakai beberapa variabel yakni pengetahuan, religiusitas, pengetahuan, sikap, subjective norms, perceived behavioral control, dan intensi untuk melakukan wakaf uang berbasis daring. Penelitian ini memanfaatkan framework yang didasarkan pada theory of planned behavior (TPB). Item pertanyaan yang diadopsi dalam penelitian ini dikembangkan oleh Gopi dan Ramayah (2007), Amin (2010), Jabar (2014), Amin et al. (2014), Shukor et al. (2014), Osman (2014), Shukor et al. (2017), Rizal dan Amin (2017), dan Santoso (2017).

Subjek dari penelitian ini adalah Muslim milenial (usia 18-38 tahun) yang berdomisili di kota besar (Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, dan Balikpapan) dan tidak pernah melakukan wakaf uang berbasis daring (online) sebelumnya. Dengan mengaplikasikan metode purposive sampling, peneliti berhasil mendapatkan sebanyak 418 responden yang dapat mengikuti penelitian ini.

 

Gambar 1. Framework Penelitian

 

Hasil Pembahasan 

Gambar 2. Kerangka SEM (Structured Equation Method)

Dari Gambar 2 ini, kita dapat melihat bahwa keseluruhan variabel laten (Knowledge, trust, dan religiosity) memiliki pengaruh positif terhadap sikap (attitude toward online cash waqf). Di sisi lain,  seluruh faktor TPB (attitude, subjective norms, dan perceived behavioral control) juga memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap intensi untuk melakukan wakaf uang berbasis daring (online).

Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis 1 dapat diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel (attitude toward online cash waqf) terhadap intensi untuk melakukan wakaf uang berbasis daring (online). Hal ini berarti bahwa intensi masyarakat khususnya generasi Muslim milenial terhadap wakaf uang didasari pada penilaian mereka terhadap produk tersebut. Seperti halnya narasi positif yang dibangun oleh institusi wakaf memang disengaja agar mampu mengajak para wakif (KNKS, 2019).

Pengetahuan (knowledge) juga memiliki peran penting yang signifikan dalam memengaruhi sikap masyarakat terhadap wakaf uang berbasis daring (online) tersebut (H2). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan masyarakat terkait produk wakaf uang memiliki pengaruh terhadap sikap mereka. Namun, variabel pengetahuan ini memiliki mean average yang paling rendah di antara variabel lainnya, Hal ini menandakan bahwa pengetahuan masyarakat terkait instrumen wakaf uang berbasis daring (online) masih relatif rendah.

Selanjutnya, kepercayaan (trust) juga memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap sikap responden (H3). Hal ini menandakan bahwa kepercayaan masyarakat khususnya generasi Muslim milenial terhadap institusi wakaf sangat berpengaruh terhadap sikap mereka untuk melaksanakan wakaf uang tersebut. Kesimpulan ini juga dapat diartikan bahwa setiap institusi wakaf perlu mengedepankan aspek transparansi dan akuntabilitas untuk menjamin kepercayaan wakif.

Penelitian juga menyatakan bahwa aspek religiusitas mengambil peranan penting dalam mempengaruhi sikap wakif terhadap instrumen wakaf uang berbasis daring (online) tersebut (H4). Bahkan, aspek religiusitas ini merupakan faktor terkuat yang mempengaruhi aspek sikap wakif. Hasil ini dapat disimpulkan bahwa aspek religiusitas mampu mempengaruhi sikap wakif karena mereka percaya bahwa wakaf merupakan hal yang dianjurkan oleh agama dan akan mendapatkan balasan dari Tuhan.

Di sisi lain, variabel subjective norms dan PBC ternyata juga memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap intensi untuk melakukan wakaf uang berbasis daring (online). Hasil ini memberikan gambaran bahwa persepsi positif masyarakat dan aspek “kemudahan” mendorong masyarakat untuk melakukan wakaf uang berbasis daring ini. Secara lebih lanjut, studi ini juga menemukan bahwa PBC ternyata merupakan aspek yang paling memengaruhi intensi responden untuk melakukan wakaf uang berbasis daring (online) tersebut. Hal ini disebabkan karena responden merasa bahwa instrumen online cash waqf memberikan kemudahan tersendiri dengan adanya aksesibilitas yang terbuka dan jaringan internet yang mendukung. Responden juga merasakan bahwa instrumen wakaf uang berbasis daring (online) ini juga memberikan fleksibilitas tersendiri bagi wakif.

 

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan penelitian ini, peneliti berhasil menemukan faktor determinan dari intensi masyarakat khususnya Muslim milenial dalam melakukan wakaf uang berbasis daring (online). Keseluruhan variabel (knowledge, trust, dan religiosity) ternyata memiliki hubungan positif yang signifikan dalam menjelaskan aspek sikap yang pada akhirnya juga berpengaruh terhadap intensi responden untuk melakukan wakaf uang berbasis daring (online). Selanjutnya, variabel subjective norms dan PBC juga ditemukan memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap intensi masyarakat untuk engage dalam wakaf uang berbasis daring (online) tersebut.

Berdasarkan temuan ini, peneliti memberikan beberapa masukan yakni bahwa institusi wakaf perlu memperkuat Islamic values dalam produk mereka, memasifkan penggunaan media sosial, menyempurnakan aspek transparansi dan akuntabilitas agar mampu mengimplementasikan strategi marketing yang efektif dalam menjaring para wakif potensial di Indonesia.