Minimalism Lifestyle: One Step to Boost Sustainable Green Economics through Qanaah and Infaq Implementation

Oleh: Malina Vrahma Ananda P. (Ilmu Ekonomi Islam 2020), Juara 1 Open Submission I-Share

Pendahuluan

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia memaparkan bahwasanya pada tahun 2018, industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) menjadi salah satu kontributor besar pemasukan devisa negara dengan nilai ekspor mencapai USD 13,22 miliar atau naik 5,5 persen dari tahun sebelumnya. Salah satu luaran produksi tekstil ini adalah busana atau pakaian sebagai standar pemenuhan kebutuhan sandang manusia. Peningkatan produksi tekstil busana selain dikarenakan pakaian merupakan barang primer berupa basic clothing, nyatanya demand konsumen terhadap pakaian juga dipicu oleh adanya pakaian fungsional (functional clothing) seperti baju olahraga, baju kerja, baju musim dingin, dan sebagainya. Hal ini mendorong produsen untuk terus menumbuhkan produksi tekstil, bahkan dalam kapasitas besar, untuk memenuhi permintaan yang ada di lapangan (baca: kebutuhan konsumen produk tekstil). Contohnya adalah retailer Zara yang dalam setahun dapat melahirkan 30.000 unit pakaian untuk 1.600 toko di 56 negara. Zara merupakan brand pakaian yang paling cepat dalam melakukan proses produksinya (Pfeifer, 2007).

Hal tersebut tentunya menjadi permasalahan yang kontradiksi dengan isu limbah lingkungan yang salah satunya disumbang oleh industri tekstil. Menurut data statistik artikel abc.net (2017), pakaian rata-rata hanya digunakan sebanyak 7 kali. Dari hasil penelitian yang sama, 40 persennya menggunakan apa yang di lemari mereka sedangkan 60 persennya mereka buang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Fakta tersebut tidak dipungkiri dapat melahirkan limbah yang sangat masif, baik dalam lingkup nasional maupun global. Limbah tekstil yang dibiarkan menggunung tentu menjadi “PR” bagi kita yang hidup di zaman sekarang untuk menjamin keberlangsungan yang nyaman di masa depan, serta kontinuitasnya dari generasi ke generasi. Lalu, adakah gaya hidup dan instrumen ekonomi Islam yang dianjurkan dalam rangka mengantisipasi proyeksi kehidupan yang terbayang suram akibat tumpukan limbah tersebut?

Isi

Pola konsumsi masyarakat terhadap produk tekstil terus meningkat seiring dengan adanya arus tren fesyen yang bersifat persuasif terhadap selera masyarakat secara umum. Contohnya adalah tren hijab (inner hijab, pashmina plisket), cardigan outer, rok atau celana (kulot, loose jeans), dan gamis (pria maupun wanita).  Kenyataannya, kebutuhan sandang ini telah bergeser tidak lagi hanya menjadi kebutuhan pokok, melainkan telah menjadi gaya hidup yang telah masuk ke dalam kehidupan sebagian masyarakat. Fenomena ini dapat secara masif mempengaruhi pikiran masyarakat untuk terus mengikuti arus trennya agar tidak disangka kuno atau ketinggalan zaman. Semua orang tidak dapat menafikan keberadaan stigma tersebut karena manusia hidup bersosial, yang mana terdapat keserasian di dalam setiap interaksinya.

Padahal, agama Islam mengajarkan umatnya untuk merasa cukup atas apa yang dimilikinya dan mampu menahan hasrat untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya hanya bertujuan untuk memenuhi kehausannya pribadi.

يٰبَنِىۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِيۡنَتَكُمۡ عِنۡدَ كُلِّ مَسۡجِدٍ وَّكُلُوۡا وَاشۡرَبُوۡا وَلَا تُسۡرِفُوۡا‌ ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِيۡنَ

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’raf ayat 31)

Agama Islam tidak melegitimasi sifat konsumtif ini dalam kondisi apapun, bahkan saat hari raya atau hari besar lainnya. Di sini kita dapat menarik benang merah bahwasanya tren fesyen sebenarnya tidak memiliki urgensi apapun untuk pemenuhannya. Maka hal ini secara gamblang menjadi tamparan bagi kita untuk tidak menaruh perhatian lebih padanya. Berpakaian ala Rasulullah SAW pun jauh dari kemewahan. Kesederhanaan beliau tak luput hingga akhir hidupnya bahkan beliau hanya mengenakan kain sarung yang kasar dari Yaman dan muladdabah (baju yang kasar). Semasa hidupnya, beliau mengenakan pakaian dengan esensi menutup aurat, sebagaimana tertuang dalam Al-Quran Surah Al-A’raf ayat 26 yang berbunyi,

يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْاٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.” (Q.S. Al-A’raf ayat 26).

Setelah ditilik kembali, anjuran Allah SWT kepada kita untuk tidak boros membelanjakan harta juga nyatanya berimplikasi besar terhadap kemaslahatan banyak orang, salah satunya adalah perihal limbah lingkungan. Seperti yang diketahui bersama, adanya limbah lingkungan tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Manusia yang hakikatnya berperan sebagai produsen, konsumen, maupun distributor ini pasti melakukan pembuangan terhadap hal atau bahan yang tidak lagi dianggap perlu. Limbah lingkungan ini datang dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor industri tekstil. Produsen tekstil, seperti kaos dan batik pastilah menghasilkan buangan berupa pigmen zat pewarna, pelarut, dan bahan kimia lainnya. Di sisi lain, limbah yang dihasilkan oleh konsumen tekstil tidak kalah datang dengan volume besar, apalagi jika berkorelasi “mesra” dengan adanya tren fesyen.

Mengutip dari majalah National Geographic, Maret 2020: The End of The Trash, dari 57 persen sampah yang ada di Jakarta, sekitar 8,2 persennya merupakan limbah tekstil. Hal ini kian diperkuat dengan fakta adanya 470.000 ton tekstil yang terbuang percuma selama proses produksi, data menurut Indonesia Circular Forum. Hanya dibayangkan saja sudah mengerikan. Limbah yang dihasilkan oleh konsumerisme ini tidak hanya menstimulasi pertumbuhan angka limbah dunia, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan manusia kebanyakan. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang menghadapi berbagai masalah kerusakan ekologi mikrosistem dan sumber daya air. Padahal sejatinya, Allah SWT menganjurkan umat-Nya untuk senantiasa menjaga lingkungan karena bahwasanya kerusakan yang diperbuat oleh manusia akan kembali ke manusia pula.

Firman Allah  SWT dalam Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 yang berbunyi,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41)  قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ (42

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar Rum ayat 41-42)

Dalam upaya mengurangi kemudaratan akibat limbah lingkungan, sebenarnya dapat dimulai dengan langkah kecil, seperti disiplin menerapkan gaya hidup minimalis. Gaya hidup ini menekankan untuk hidup dengan sedikit barang tapi sarat akan makna. Gaya hidup minimalis seringkali diartikan dengan aktivitas decluttering, padahal nyatanya lebih dari itu. Sebelum mengendalikan barang dengan mengurangi jumlah barang yang dimiliki serta berlaku bijak saat membeli barang, gaya hidup ini menuntun seseorang untuk terlebih dahulu mengenali barang yang dimiliki. Seperti halnya memaknai, mengenali kegunaan, dan mempertimbangkan dampaknya terhadap hidup seseorang. Seperti yang disebutkan oleh Francine Jay dalam bukunya, “The Joy of Less (2016)”, agar suatu barang dapat berguna, barang itu harus digunakan. Ketiga prinsip tersebut kemudian memudahkan setiap orang untuk dapat melepaskan barangnya dan mencegah barang lain datang dengan gampangnya. Setelah mampu mengenali barang-barang tersebut, maka esensi kegunaan barang akan lebih terasa bermakna sehingga orang tersebut akan lebih merasa cukup dengan konsep hidup sederhana, tertata, dan tenteram.

Gaya hidup minimalis juga mengajarkan manusia untuk lebih beretika dalam menyikapi tren fesyen. Francine Jay menggunakan perumpamaan rumah adalah sebuah ember yang menampung air (barang, khususnya pakaian) di dalamnya. Kegiatan membereskan rumah adalah proses melubangi ember supaya sedikit demi sedikit air di dalamnya dapat dikeluarkan hingga membuat ember lebih banyak memiliki ruang. Namun, ada satu hal yang kerap kali dilupakan, yaitu manusia sering mengisi air yang mana membuat lubang di bawah ember tersebut tidak lagi bermanfaat banyak. Maka dari itu, salah satu metode yang dianjurkan adalah “if one comes in, one goes out” atau “satu barang masuk, satu barang keluar.” Peraturan dari metode ini sangat sederhana, yaitu setiap kali memberi barang baru , maka barang lama yang serupa harus dikeluarkan.

Gaya hidup yang juga menggaungkan konsep “less is more” ini, memiliki harapan untuk hidup lebih baik kedepannya, bukan hanya individu, tetapi juga kemaslahatan umat. Prinsip hidup sederhana dan berkecukupan tentunya sangat menekan adanya isu limbah sekarang ini, yaitu dengan tidak melakukan impulsive buying sehingga menekan penggunaan sumber daya yang lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Konsep hidup seperti inilah yang sebenarnya digarisbawahi oleh anjuran Islam, di mana manusia sebaiknya mengkonsumsi barang yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Allah SWT menganjurkan umat manusia untuk menghindari sikap boros atau tabadzir saat membelanjakan hartanya. Perasaan selalu merasa cukup atas harta yang dimiliki ini dalam Islam sering digadang-gadangkan dengan salah satu akhlak terpuji, yaitu Qanaah. Ibnu Sina, dalam kitabnya “Al-Qanaah”, memaparkan bahwasanya Qanaah mencerminkan perasaan cukup atas rezeki yang dititipkan oleh Allah SWT kepada umat-Nya, tetapi tidak bersikap apatis dan putus asa atas apa yang telah menjadi rezekinya. Perasaan cukup di dalam konsep hidup Qanaah ini mengindikasikan seberapa besar rasa syukur atas segala nikmat pemberian Allah SWT.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

”Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rezeki yang cukup, dan qanaah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini shahih).

Rasa syukur yang dimiliki oleh orang yang hidup sederhana ini laksana orang yang memiliki harta yang sangat banyak. Seperti hadist Rasulullah SAW, “Qanaah itu adalah harta yang tidak akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap.” (HR. Thabarani dari Jabir). Terdapat lima karakter orang yang memiliki sifat Qanaah dalam setiap langkah hidupnya, menurut Prof. Dr. Salmadanis (Pusat Dakwah dan Studi Islam Sumbar), yaitu:

  1. Menerima dengan rela apa yang dimilikinya;
  2. Memohon dan berdoa kepada Allah SWT atas rezeki yang pantas serta diiringi dengan ikhtiar;
  3. Menerima dengan sabar segala takdir dan ketentuan Allah SWT;
  4. Bertawakal kepada Allah SWT;
  5. Tidak terpengaruh oleh tipu daya duniawi.

Ajaran Islam yang memiliki signifikansi dengan gaya hidup minimalis rupanya bukan hanya dilihat dari gaya hidup Qanaah. Gaya hidup minimalis itu sendiri menganjurkan untuk mengurangi barang dan mendermakannya kepada orang lain, atau istilahnya dalam Islam, yaitu infaq. Teori konsumsi Islam menurut Adiwarman Karim, yang memuat pendapat Monzer Khaf berdasarkan hadist Rasulullah SAW, bermakna “Yang kamu miliki adalah apa yang telah kamu makan dan yang telah kamu infakkan” (Karim, 2006; 67)

Secara etimologi, infaq  atau infak dalam literasi Indonesia memiliki arti pemberian sebagian harta untuk kebaikan (Poerwadarminta, 1989). Istilah infaq ini telah tersosialisasi ke dalam kehidupan masyarakat sebagai pemberian (sumbangan) guna memenuhi kebutuhan orang lain. Infaq ini dapat berupa uang, pakaian, makanan, dan sebagainya. Infaq sebagai metode pembelanjaan harta yang sesuai dengan prinsip maqashid syariah tanpa kompensasi ini perlu disertai dengan keikhlasan dan niat semata-mata karena Allah SWT.

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah SWT melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 261)

Ayat tersebut memberikan perumpamaan orang-orang yang mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah SWT dengan niat semata-mata untuk meraih ridha-Nya, maka Allah SWT akan memberikan balasan yang baik dan berkali-kali lipat bak tanaman yang tumbuh subur.

Penutup

Selain perihal keimanan, rupanya infaq memiliki beberapa implikasi positif yang konstruktif lainnya. Dalam hal ini, dapat ditarik kesimpulan dalam skala besar bahwasanya infaq sebagai instrumen ekonomi Islam turut serta dalam kebermanfaatan kepentingan orang banyak, seperti menjalankan roda perekonomian, menopang kesejahteraan umat dari sektor mikro, serta  menjaga keberlanjutan dan kesejahteraan manusia yang mana kehidupannya bergantung pada alam.

Kesadaran akan kontribusi mengenai isu ekonomi hijau (pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan dan inklusif secara sosial) bukan lagi semata-mata keharusan bagi atasan korporat sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosialnya kepada lingkungan, tetapi juga perlu didukung oleh langkah-langkah kecil yang masif dari masing-masing individu. Nyatanya keharusan akan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan ini dianjurkan oleh ajaran Islam, yaitu dengan menerapkan kehidupan sederhana yang bergandengan dengan pengimplementasian infaq terhadap pakaian untuk dapat didermakan kepada sesama manusia yang membutuhkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya agama Islam telah lama menganjurkan gaya hidup minimalis dengan rumusan:

    Gaya Hidup Minimalis = Qanaah + Infaq

Merujuk data dari Sensus Ekonomi 2016, yang mana BPS mencatat bahwa jumlah e-commerce di Indonesia mencapai 26,2 juta dengan peningkatan yang pesat, yaitu 17 persen di 10 tahun terakhir. Sementara jumlah penduduk milenial di tahun 2020 berdasarkan data BPS adalah sebanyak 83 juta orang atau 24 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Hal ini seharusnya dapat menjadi sarana mempermudah manusia, terutama umat Muslim untuk melakukan infaq digital. Platform digital seperti instagram sudah marak digunakan secara kolektif untuk pengumpulan, penyaluran, dan penerimaan pakaian yang “second-hand” ini, seperti @give2indonesia yang bergerak aktif di kegiatan donasi pakaian. Sebagai seorang muslim seharusnya memberikan sedikit banyak concern terhadap isu limbah lingkungan terhadap produk tekstil, didukung oleh adanya anjuran Allah SWT mengenai hidup Qanaah dan mengindahkan infaq.

 

Referensi

Ari. 2020. “Hadapi Kehidupan Ini dengan Qanaah”. http://www.sitinjausumbar.com/berita/detail/hadapi-kehidupan-ini-dengan-qanaah-bagian-26 Diakses pada 30 Mei 2021

Ichsan, Syalaby. 2020. “Berpakaian Ala Nabi” https://www.republika.id/posts/11153/berpakaian-ala-nabi Diakses pada 31 Mei 2021

Jay, Francine. 2018. “Seni Hidup Minimalis: Petunjuk Minimalis Menuju Hidup yang Apik, Tertata, dan Sederhana.  Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2018. “Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024”. Kementerian Bappenas.

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. 2019. “Lampaui 18 Persen, Industri Tekstil dan Pakaian tumbuh Paling Tinggi.” https://kemenperin.go.id/artikel/20666/Lampaui-18-Persen,-Industri-Tekstil-dan-Pakaian-Tumbuh-Paling-Tinggi    Diakses pada 27 Mei 2021

Muazimah, Ajriah. 2020. “Pengaruh Fast Fashion terhadap Budaya Konsumerisme dan Kerusakan Lingkungan di Indonesia”. JOM FISIP Vol. 7 Edisi II Juli — Desember 2020.

Rahayu, Renita. 2017. “Metode Daur Ulang Limbah Fast Fashion berdasarkan Prinsip Sustainable Design”. https://renitarahayyu.wordpress.com/2017/12/25/metode-daur-ulang-limbah-fast-fashion-berdasarkan-prinsip-sustainable-design/ Diakses pada 27 Mei 2021