Mengenal Institusi Microfinance Islam: Baitul Maal wat Tamwil

Mengenal Institusi Microfinance Islam : Baitul Maal wat Tamwil

Yuza Yasya Aliyya

Wakil Kepala Biro Bisnis dan Proyek

Microfinance dalam dunia ekonomi sudah diketahui sebagai sistem yang dapat digunakan untuk  mengurangi kemiskinan dalam suatu negara. Salah satu tujuan dari microfinance adalah menyediakan modal bagi mereka yang kekurangan agar dapat menghasilkan uang dengan melakukan berbagai macam kegiatan ekonomi yang bisa meningkatkan kesejahteraan mereka untuk merusak lingkaran kemiskinan. Pada tahun 2017, angka kemiskinan di Indonesia mencapai 10,12 persen atau 26,58 juta orang. untuk mengurangi angka kemiskinan ini, Indonesia dapat menggunakan sistem keuangan mikro sebagai strateginya. Salah satu institusi microfinance yang keberadaannya tengah meningkat di Indonesia adalah Baitul Maal wat Tamwil atau yang biasa disingkat menjadi BMT. BMT mempunyai dua fungsi didalamnya, fungsi pertama dari BMT terletak pada pengertian Baitul Maal, yaitu lembaga untuk mengumpulkan dan mengelola dana sosial seperti zakat, waqaf, shadaqah, dan dana-dana sosial lainnya. Fungsi kedua adalah BMT menjadi organisasi bisnis bermotif laba yang dijalankan sesuai dengan syariah islam. namun di awal keberadaannya, Baitul Maal wat Tamwil belumlah seperti sekarang karna mempunyai fungsi yang berbeda. Pada zaman Rasulullah hingga al-Khulafa al-Rasyidun, hanya ada Baitul Maal saja tanpa Baitul Tamwil. Namun dengan berubahnya zaman, Baitul Maal terus mengalami perubahan hingga sekarang menjadi Baitul Maal wat Tamwil.

Baitul Maal pada zaman Rasulullah

Dalam islam, kekuasaan merupakan sebuah amanah yang harus dilaksanakan sesuai dengan Al Quran. Oleh karna itu, Rasulullah bukan melihat dirinya sebagai seorang Raja yang harus dihormati karna mempunyai kekuasaan. Rasulullah menganggap dirinya mempunyai amanah dan tanggung jawab untuk mengurus negara dengan baik. Salah satu urusan negara adalah tentang keuangan, karna suatu negara tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada pengelolaan keuangan yang baik pula. Pada zaman Rasulullah memimpin, beliau mengenalkan sebuah konsep yang baru pada sistem pengelolaan keuangan negara, dimana semua harta negara dikumpulkan dahulu pada satu tempat dan kemudian dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan negara. Tempat pengumpulan harta ini disebut Baitul Maal. Pada zaman Rasulullah, Baitul Maal terletak di dekat Masjid Nabawi, harta negara yang ada akan disimpan di dalam masjid untuk kemudian dibagikan ke masyarakat hingga habis.

Baitul Maal pada Zaman al-Khulafa al-Rasyidun

Khalifah pertama setelah Rasulullah yaitu Abu Bakar as-Siddiq, dalam pembagian harta Baitul Maal mempunyai prinsip kesamarataan, yaitu memberikan jumlah yang sama kepada semua sahabat Rasulullah (Dalam batas tertentu, pemimpin negara dan para pejabat lainnya dapat menggunakan harta baitul maal untuk mencukupi kebutuhan pribadinya, seperti gaji). Abu Bakar saat itu sangat memperhatikan perhitungan zakat dan juga pembagian tanah hasil taklukan.

Khalifah selanjutnya adalah Umar bin Khatab yang pada zamannya harta Baitul Maal tidak langsung dibagikan dan dihabiskan, namun Umar mengeluarkan harta negara secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Bahkan disediakan juga dana cadangan untuk keperluan darurat, pembayaran gaji tentara dan kebutuhan umat lainnya seperti untuk anak yatim, membayar utang bagi mereka yang bangkrut, mengurus anak terlantar, memberikan pinjaman tanpa bunga, dll. Harta yang ada di Baitul Maal dianggap sebagai harta umat muslim, dan para pemerintah adalah mereka yang berperan sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya.

Khalifah ketiga adalah Utsman bin Affan yang juga menerapkan prinsip yang sama dengan Umar bin Khatab. Hal-hal yang Utsman lakukan antara lain adalah, berpendapat bahwa zakat dikenakan terhadap harta seseorang setelah hartanya dipotong seluruh utang, mendiskusikan tingkat harga pasar kepada masyarakatnya usai sholat berjamaah, dan Utsman juga membuat perubahan dalam administrasi dan mengganti beberapa gubernur.

Khalifah terakhir adalah Ali bin Abu Thalib, yang pada masanya berusaha untuk melaksanakan berbagai kebijakan yang dapat mendorong peningkatan kesejahteraan umat Islam. Ali juga memperkenalkan prinsip utama dari pemerataan distribusi uang rakyat. Pada masa ini setiap seminggu sekali pada hari kamis adalah hari penditribusian dan hari sabtu akan dimulainya penghitungan baru.

Baitul Maal wat Tamwil pada zaman sekarang

Pada zaman sekarang, BMT adalah institusi keuangan mikro islam yang mempunyai dua fungsi, yaitu di bidang sosial dan juga bisnis dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin. Pada sisi maal nya, BMT menerima titipan zakat, infaq, shadaqah dan juga mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan amanah. Pada sisi tamwil, BMT membantu mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan ekonomi. Produk pembiayaan BMT yang pertama adalah Mudharabah, yaitu akad kerja sama usaha antara dua pihak, yaitu shahibul maal yang menyediakan modal dan pihak kedua adalah mudharib sebagai pengelola modal. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan ( profit-sharing ). Produk pembiayaan kedua adalah wadi’ah, yaitu akad penitipan dari pihak yang mempunyai uang  kepada pihak yang menerima titipan. Dalam wadi’ah, kapan pun titipan ingin diambil pihak penerima titipan wajib menyerahkan kembali uang titipan tersebut, disini BMT bertindak sebagai yang dipinjami. Tujuan BMT di Indonesia sekarang adalah meningkatkan kualitas usaha ekonomi untuk kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya

Final Thought

Baitul Maal wat Tamwil sekarang dianggap sebagai institusi microfinance islam yang kehadirannya diharapkan dapat mengurangi kemiskinan di Indonesia. Jumlah BMT pada akhir tahun 2012 adalah hingga 3900 BMT yang aset nya mencapai Rp 3,6 triliun. Angka ini terus meningkat pesat hingga tahun 2015 tercatat terdapat 4500 BMT dengan aset Rp 16 triliun. Peningkatan angka tersebut memang bisa dibilang cukup signifikan, tetapi disebutkan bahwa jumlah orang yang dilayani BMT di Indonesia berjumlah 3,7 juta orang, dimana hanya 1,79% dari total penduduk muslim di Indonesia serta hanya 14.3% dari total penduduk miskin di Indonesia. BMT sebenarnya mempunyai potensi yang sangat besar karna microfinance yang berbasis agama harus dipertimbangkan sebagai alternatif tentang dilema diantara sustainability dan mengurangi kemiskinan. Di dalam Islamic microfinance, mereka yang kurang mampu dibuat agar menjadi mandiri dan juga produktif dengan cara dibiayai atau diberi  shadaqah/zakat. Hal ini dapat dilaksanakan melalui Maal dan juga Tamwil pada BMT. Jika  dijalankan dengan baik, sangatlah berpotensi untuk menjadi sebuah institusi yang sempurna bagi mereka yang ingin berinvestasi, bershadaqah, dan membutuhkan modal untuk usaha tanpa adanya riba. Diharapkan dengan seiring meningkatnya popularitas, aset dan orang yang bergabung dengan BMT, maka semakin menurun tingkat kemiskinan di  Indonesia.

Referensi :