Menjadikan Indonesia Sebagai Kiblat Fesyen Modest Dunia

Oleh: Mulky Rizfy Izmul Azhom (Bisnis Islam 2020), Juara 2 Open Submission I-Share

Pandemi Covid-19 memberikan efek kejut pada segala sektor, tak terkecuali pada sektor ekonomi Islam. Dikutip dari State of The Global Islamic Economy Report 2020/2021, pandemi Covid-19 diperkirakan menyebabkan 8% penurunan pengeluaran warga Muslim global di tahun 2020 untuk sektor-sektor ekonomi Islam. Global Islamic Economy Indicator membagi sektor industri halal menjadi enam sub-sektor, yaitu fesyen, makanan dan minuman, pariwisata, media dan rekreasi, keuangan islam, serta, kosmetik dan farmasi. Pada laporan tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat ke-5 secara umum dan menduduki peringkat ketiga untuk sub-sektor fesyen modest. Pemerintah pun menargetkan Indonesia menjadi kiblat pada fesyen modest 2020 (Kemenparekraf, 2019).

Gambar 1.1 Peringkat Industri Halal Indonesia Tahun 2019

Dalam perkembangan bisnis global, Fesyen Modest menjadi primadona baru di pasar dunia. Brand ternama seperti Disney telah melakukan kolaborasi dengan merek hijab Malaysia “duck” dalam koleksi Frozen-2 mereka. Selain itu, pakaian-olahraga modest, seperti pakaian renang, makin populer ketika banyaknya pelaku usaha yang muncul di segmen pasar tersebut. Selain itu, perintis hijab olahraga Belanda, Capsters BV, diambil alih oleh Innovatia dari Malaysia. (SGIE, 2021)

 

Meskipun begitu, Datangnya pandemi memberikan kemunduran besar bagi industri ini. Banyak usaha-usaha kecil yang terpaksa menutup tokonya dan bahkan hampir sebagiannya bersifat permanen. Industri fesyen diperkirakan akan pulih secara lambat, Pengeluaran Muslim untuk sektor modest fesyen bernilai 277 milyar dolar di 2019, dan diperkirakan akan turun 2.9% ke 268 milyar dolar di 2020, dan naik kembali pada CAGR 3.8% dari 2020 ke 2024 menjadi 311 milyar dolar di 2024 (SGIE, 2021).

Gambar 1.2 Proyeksi Dampak COVID-19 Pada Industri Halal dan Subsektor Fesyen Modest

Lalu, apa itu fesyen modest? Menurut Nestorovic (2016), fesyen modest merupakain pakaian yang menutupi kepala dan tubuh dengan mengikuti prinsip syariah. Dua syarat utama pakaian dianggap fesyen modest adalah pakaian bersifat longgar sehingga tidak membentuk lekuk tubuh dan bahan pakaian cukup tebal untuk menyembunyikan bentuk tubuh serta warna kulit.

Pada tahun 2019, Konsumsi fesyen modest di Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah UAE dan Turki. konsumsi sektor fesyen Indonesia mencapai 21 miliar USD pada tahun 2018 atau setara dengan 300 triliun rupiah. Sayangnya, Indonesia masih belum termasuk ke dalam lima negara pengekspor modest fashion terbesar ke negara-negara OKI (SGIE, 2020). Padahal, Indonesia berpotensi untuk bisa jadi pemimpin produsen industri modest fesyen dunia. Tetapi, hingga saat ini Indonesia masih belum bisa menempatkan diri sebagai pemimpin atau kiblat industri fesyen dunia seperti Paris, Milan, New York, Seoul ataupun Tokyo.

Gambar 1.3 Peringkat Konsumsi dan Ekspor untuk Modest Fesyen Tahun 2018

Menurut Irna Mutiara, salah satu desainer fesyen Muslim Indonesia, dikutip dalam okezone.com, Industri fesyen Tanah Air masih memiliki kekurangan dalam kualitas desain, dan kualitas keunggulan tekstil yang tidak memenuhi standarisasi internasional. Irna juga menambahkan, Indonesia butuh untuk memiliki standarisasi nasional yang bisa menjadi acuan bersama para pelaku industri mode Tanah Air.

Di sisi industri, jumlah SDM yang bergerak di bidang fesyen terbilang cukup banyak mengingat banyaknya Sekolah Kejuruan yang mengarah pada fesyen di Indonesia. Namun demikian, kurangnya riset menyebabkan kompetensi SDM di bidang ini tidak berkembang dengan baik (Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia, 2018). Badan Ekonomi Kreatif (2016) mencatat tiga masalah yang terdapat pada SDM di industri fesyen.

  1. Rendahnya daya saing SDM
  2. Rendahnya kesadaran pada aspek keselamatan kerja
  3. Tenaga SDM belum disiplin untuk mematuhi standar kompetensi kerja yang berlaku sehingga produktivitas menjadi rendah.

Di sisi lain, bahan baku tekstil jenis katun Indonesia masih dipasok dengan mengimpor dari negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat. Hal ini memberikan kekhawatiran apabila terjadi kenaikan harga dari kedua negara tersebut. Selain itu, masyarakat masih banyak yang menggunakan alat-alat tradisional sehingga mengalami kendala dalam proses produksi. Sedangkan untuk masalah pemasaran, pengusaha fesyen masih minim keahlian di bidang pemasaran. Ditambah kurangnya pemahaman pada teknologi semakin menghambat marketing fesyen modest ini. Masalah lainnya adalah permodalan, permodalan menjadi tantangan terbesar dari pengusaha fesyen, terutama industri kecil dan menengah (Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia, 2018).

Keterbalikan dari hal-hal di atas, Modest fashion memiliki banyak potensi jika dilihat dari pertumbuhan jumlah masyarakat kelas menengah Muslim di Indonesia dan dunia internasional. Pertumbuhan penduduk dan kemampuan daya beli produk fesyen modest memiliki hubungan yang berkorelasi positif. Hal inipun semakin dibuktikan dengan tingginya konsumsi fesyen modest di Indonesia. Selain itu, tingginya kesadaran wanita Muslim untuk menutup aurat dan berjamurnya para influencer yang mempromosikan produk-produk fesyen modest di sosial media memberikan dampak positif pada penjualan produk fesyen modest. Kemudian, perkembangan dunia teknologi membawa kemajuan pada sistem distribusi dan logistik antar daerah dan negara yang saling terintegrasi. Ditambah, dukungan pendanaan yang dilakukan oleh Pemerintah dan juga Swasta pada program-program inkubator.

Untuk dapat menjadi kiblat fesyen dunia, diperlukan keseriusan dan kolaborasi dari segala stackholder seperti pelaku usaha, pemerintah, serta investor. Pelaku usaha dituntut untuk proaktif dalam mengembangkan bisnisnya dan segera merekstruturisasi sektor produksi, pemasaran, dan distribusi sehingga mampu meningkatkan kualitas produk dan memberikan pelayanan yang memenuhi standar global. Pelaku usaha dapat meningkatkan pemasarannya dengan melakukan kolaborasi seperti Co-branding dengan produk kosmetika halal ataupun melakukan co-marketing dengan sektor pariwisata halal di Indonesia. Dengan begitu, masing-masing sektor industri halal akan saling menguatkan dan memberikan efek positif pada perkembangan industri halal di Indonesia.

 

Selain itu, isu sustainability dan fast fashion memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk mempromosikan modest fashion yang memperhatikan bahan yang digunakan, proses yang dilakukan termasuk kondisi pekerja, serta kemampuan untuk terlaksananya circular economy. Circular economy dalam sub-sektor modest fashion dapat dilakukan dengan mendaur ulang pakaian, mempromosikan kegiatan pre-loved, dan melakukan penyewaan produk-produk fashion dibandingkan dengan pembelian yang berulang kali (Indonesia Syariah Economy Outlook, 2020). Hal ini pun menjadi added value bagi pelaku usaha dan dapat memenuhi standar sustainable living masyarakat. Kemudian, para pelaku usaha juga dapat fokus memproduksi fesyen modest di kategori niche, seperti pakaian olahraga atau pakaian modern yang sedang digemari kalangan Gen-Z dan milenial saat ini.

 

Pemerintah sebagai regulator dapat menerapkan regulasi yang mempermudah para pelaku usaha untuk mendapatkan pinjaman modal ataupun kemudahan membayar pajak. Pemerintah juga memiliki tugas untuk memberikan pelatihan bisnis pada para pelaku usaha. Selain itu, pemerintah juga diharapkan bersama para pelaku usaha membuat standar baru yang dapat menjadi pedoman industri fesyen di Indonesia. Hal ini pun tak lepas dari diperlukannya pendirian pusat Riset and Development di sektor fesyen modest. Pusat Riset and Development berfungsi membantu mengembangkan produk fesyen modest Indonesia ke tingkatan-tingkatan selanjutnya.

Kemudian, perlunya dukungan dari para investor dalam keberlangsungan fesyen modest ini. Investor memiliki andil dalam memberikan kemudahan terkait permodalan  dan juga pemberi feedback positif kepada para pelaku usaha.

Gambar 1.4 Value Chain Fesyen Muslim

Dengan banyaknya kesempatan dan peluang industri fesyen modest Indonesia, sangat diperlukan adanya komitmen dan sinergi dari pelaku usaha, pemerintah, dan juga investor sehingga potensi emas dari fesyen modest pun dapat dicapai dan bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi kiblat fesyen modest dunia.

 

Referensi

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2018). Master Plan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024.

Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah. (2020). Indonesia Sharia Economic Outlook.

Indonesia Halal Lifestyle Center. (2020). Ekonomi Islam Global Laporan 2020-2021 (Ringkasan Eksekutif). DinarStandard.

Nestorovic, C. (2016), Islamic Marketing: Understanding the Socio-Economic, Cultural, and PoliticoLegal Environment, Springer International Publishing.

Ananda, Pradita. (2021). Jalur Terjal Indonesia untuk Tembus Modest Fesyen Dunia. Okezone.com Diakses melalui link https://lifestyle.okezone.com/read/2021/04/28/194/2402171/jalur-terjal-indonesia-untuk-tembus-modest-fesyen-dunia?page=2