Mengenal Wakaf Uang

Mengenal Wakaf Uang

Oleh : Khabibu Toha – Staff Biro Bisnis dan Proyek IBEC 2017

 

Di Indonesia optimalisasi wakaf masih kurang karena pemahaman masyarakat terhadap konsep wakaf masih sempit. Wakaf masih berkutat untuk hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan seperti lahan untuk membangun masjid atau lahan untuk kuburan, padahal wakaf dapat dipergunakan untuk kepentingan yang lebih umum selain kegiatan keagamaan. Sebelum membahas mengenai wakaf uang, ada baiknya jika kita membahas konsep dasar wakaf terlebih dahulu.

Wakaf secara etimologi berasal dari bahasa arab waqf yang pada dasarnya berarti menahan, berhenti, atau diam. Apabila kata tersebut dihubungkan dengan tanah atau harta berarti pembekuan hak milik untuk faedah tertentu (Ibnu Manzhur: 9/359). Secara istilah wakaf berarti penahanan hak milik atas benda untuk tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya (al-jurjani: 328). Meskipun para ulama berbeda pendapat dalam hal definisi wakaf, dapat disimpulkan bahwa wakaf bertujuan untuk memberikan manfaat atau faedah harta yang diwakafkan kepada orang yang berhak dan sesuai dengan ajaran syariat islam.

Seiring dengan perkembangan islam di dunia, istilah wakaf uang mulai muncul. Istilah ini baru diperkenalkan pada abad kedua hijriyah yaitu oleh seorang Imam besar yang bernama Imam Az-Zuhri (wafat 124 Hijriyah). Beliau merupakan ulama terkemuka yang menfatwakan dan menganjurkan wakaf dinar untuk pembangunan sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam. Konsep ini selanjutnya berkembang di Turki tepatnya abad ke 15 H. Praktik wakaf uang telah menjadi istilah yang familiar di tengah masyarakat. Wakaf uang biasanya merujuk pada cash deposits di lembaga-lembaga keuangan seperti bank, dimana wakaf uang tersebut diinvestasikan pada profitable business activities. Barulah keuntungan dari hasil investasi tersebut digunakan untuk segala sesuatu yang bermanfaat secara sosial dan keagamaan.

Pada abad 20 barulah muncul berbagai ide untuk mengimplementasikan berbagai ide besar dalam bidang ekonomi seperti lahirnya berbagai lembaga keuangan yaitu bank syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, institusi zakat, institusi wakaf, lembaga tabungan haji, dll. Dalam tahapan inilah lahir ide-ide ulama dan praktisi untuk menjadikan wakaf uang salah satu basis dalam membangun perkonomian umat.

Melalui forum-forum diskusi dan seminar ekonomi Islam, konsep wakaf uang semakin populer. Negara-negara Islam di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara sendiri mulai merealisasikan wakaf uang dengan berabagai cara. Di Indonesia, sebelum lahirnya UU No. 41 tahun 2004, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa tentang wakaf uang, (11/5/2002). Wakaf uang adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai dan dalam pengertiangan surat-surat berharga termasuk didalamnya. Wakaf uang hukumnya diperbolehkan dalam syariat dengan syarat hanya boleh disalurkan dan dipergunakan untuk hal-hal yang diperbolehkan islam. Selain itu nilai pokok uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau diwariskan.

Dari penjelasan di  atas dapat disimpulkan wakaf dapat dikembangkan dan diperluas untuk menunjang kehidupan umat. Hal ini menjadi tugas bersama ekonom Rabbani untuk mengoptimalkan fungsi wakaf dan menyebarluaskan konsep wakaf yang tepat sehingga wakaf dapat menjadi roda penggerak kemajuan umat.

Sumber : http://bwi.or.id/