Mengenal Kelemahan Produk  Murbahah Pada Bank Syariah

Mengenal Kelemahan Produk  Murbahah Pada Bank Syariah

Oleh : Siti Ainun Nisa F – Staf Biro Bisnis dan Proyek

Salah satu tolak ukur perkembangan ekonomi syariah di Indonesia ditunjukan oleh banyaknya Bank Syariah yang mulai mendominasi perbankan Indonesia. Namun di kebanyakan bank syariah yang beroperasi di Indonesia, akad yang dipakai dalam produk perbankan masih berdasarkan pada akad murabahah, terutama pada produk-produk pembiayaan. Padahal ekonomi islam juga memiliki akad yang lebih maslahah seperti musyarakan dan mudharabah. Dominasi ini dapat dilihat dari laporan OJK pada tahun 2015 yang mencatat pembiayaan BUS dan UUS untuk akad murabahah sebesar 117.8 triliun. Sedangkan mudharabah hanya sebesar 14,9 triliun dan musyarakan sebesar 54 triliun.

Murabahah itu sendiri diartikan sebagai salah satu akad dalam ekonomi islam yang berasaskan amanah. Pada prakteknya, murabahah merupakan jual beli yang mensyaratkan adanya keuntungan untuk pihak penjual. Lantas, apa yang menjadi masalah akad ini pada produk bank syariah?

Salah satu yang menjadi sorotan adalah penggunaan murabahah pada produk pembiayaan modal. Umumnya, akad yang dipakai untuk pembiayaan modal adalah murabahah, padahal lebih tepat menggunakan mudharabah atau musyarakah. Mengapa? Karena asas dari murabahah adalah jual beli dimana harus ada profit bagi pihak penjual. Dalam konteks pembiayaan modal, nasabah meminjam uang untuk membeli kebutuhan usaha yang kemudian dibayar secara berkala dengan tammbahan profit untuk bank yang disepakati di awal. Hal ini dinilai kurang tepat, karena andaikan usaha nasabah rugi, maka ia tetap harus membayar tambahan dari utangnya ke bank. Maka nasabah mengalami kerugian berlipat-lipat. Sebaliknya, andaikan usaha nasabah untung, maka bank akan rugi karena hanya mendapat sebagian kecil dari profit nasabah. Yang tepat dari produk ini adalah penggunaan asas profit and loss sharing yaang ada pada akad musyarakah atau mudharabah. Jadi baik nasabah atau bank akan sama-sama menerima keuntungan ketikan usaha berjalan lancar, dan menderita kerugian ketika usaha bermasalah.

Salah satu yang juga menjadi masalah dalam akad murabahah di bank syariah yaitu terkait risiko penolakan nasabah. Pada teorinya, nasabah berhak menolak barang yang akan dibeli jika terjadi ketidaksesuaian. Namun, bank syariah menghindari risiko ini dengan adanya uang muka atau jaminan. Sehingga nasabah mau tidak mau harus membeli barang tersebut. Dapat dilihat bahwa ada ketidaksesuaiaan antara teori yang ada dengan hal yang terjadi di kenyataan.

Pada produk murabahah yang ada di bank syariah, ada hal yang disebut dengan mark up. Mark up ini merupakan kelebihan harga dari harga kontan yang dianggap sebagai keuntungan untuk pihak bank. Di bank konvensional, konsep mark up ini terkenal dengan nama bunga. Yang membedakan keduanya adalah konsep di konvensional dimana nasabah tidak mengetahui pasti jumlah yang harus dibayar karena harus menyesuaikan dengan suku bunga. Namun pada bank syariah, penambahan tersebut sudah disepakati diawal. Beberapa pihak berpendapat bahwa konsep mark up pada murabahah sangat mirip dengan riba karena bepegang pada pendapat maliki yang tidak menyetujui jual beli yang harga kreditnya lebih besar daripada harga kontan.

Pada intinya, praktik akad murabahah seolah-olah hanya mengislamkan kata bunga yang ada pada bank konvensional. Seperti yang dikatakan oleh Saeed bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara I dan bunga, kecuali kontrak hutang pada bunga dan kontrak jual beli pada mark up. Saeed juga mengatakan bahwa teoritisi perbankan syariah pada tahun 1940-an sampai 1970-an tidak pernah membayangkan konsep bank syariah berasas mark up, tapi harus berasas profit and loss sharing. Karya-karya tentang bank syariah juga sedikit sekali membahas tentang murabahah pada perbankan. Seperti buku “Banking Without Interest” karya Shiddiqi dan “Interest-Free Banking” karya Uzair. Saeed melanjutkan bahwa instrumen murabahah sudah seharusnya dipertimbangkan untuk dihapus dari dunia perbankan syariah.

Referensi :

http://jurnal.uii.ac.id/index.php/JEI/article/viewFile/502/414

http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/iqtishadia/article/view/482/468