Memajukan Ekonomi Islam dengan Pendidikan Sejak Dini

Memajukan Ekonomi Islam dengan Pendidikan Sejak Dini

Saat ini, para praktisi ekonomi islam khususnya bidang perbankan berusaha untuk menciptakan produk-produk investasi atau tabungan baru yang sesuai dengan syariah namun tetap memiliki daya tarik dan daya saing tinggi dibanding produk perbankan berbasis bunga. Hal ini disebabkan karena akad-akad orisinal investasi yang berbasis Profit Loss Sharing (bagi hasil) yang murni sesuai dengan syariah seperti mudharabah dan musyarakah dianggap tidak menarik dan kurang kompetitif. Padahal akad-akad tersebut akan efektif jika dijalankan guna kemajuan ekonomi rakyat, seperti yang telah dibuktikan  pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Namun kini akad-akad tersebut malah dianggap kurang menguntungkan dibandingkan dengan produk perbankan yang berbasis bunga, sehingga akad-akad diotak-atik sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik dan memiliki daya saing.

Sistem bagi hasil dianggap kurang menguntungkan karena timbal balik atau return yang didapatkan tidak selalu positif. Saat pengelola modal (mudharib) mengalami kerugian, maka pemilik modal akan menanggung kerugian tersebut. Sistem ini berbeda dengan sistem pinjam meminjam yang berbasis bunga dimana return yang didapatkan tetap. Tetapi sistem ini mengandung sesuatu yang dilarang menurut Al-Quran dan Hadits yaitu riba. Yang mana Allah telah mengharamkan riba dalam Al-Quran pada banyak ayatnya seperti pada Surah Al-Baqarah ayat 275:

“…Padahal Allah telah mengahalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

Oleh karena itu, institusi dan lembaga syariah berusaha membuat produk baru yang dapat menarik para pelanggan namun masih sesuai dengan agama dan syariah, dengan mengacu kepada hukum atau kaidah dasar muamalah yaitu semua tindakan mubah (diperbolehkan) sampai ada dalil yang mengharamkannya. Sehingga para bankir, dewan, ahli perbankan syariah berlomba-lomba untuk menyempurnakan produk perbankan islam tersebut. Sampai pada bidang pendidikan ekonomi dan perbankan islam pun para murid ditekankan untuk menemukan formula baru ataupun produk baru yang dianggap lebih bisa diterima calon konsumen. Hal ini mengesankan pengesampingan tujuan ekonomi syariah yaitu pembenahan agen ekonomi, dengan mengubah pemikiran manusia, subjek, juga para konsumen itu sendiri. Karena, ekonomi syariah tidak hanya berkutat pada bagaimana mencapai profit dan benefit tapi juga bagaimana mencapai kebermanfaatan dan kemaslahatan dari produk yang digunakan bagi kepentingan masyarakat. Hanya dengan pola pemikiran seperti inilah tingkat pertumbuhan ekonomi islam di Indonesia yang notabene merupakan negara dengan penduduk islam terbanyak di dunia akan berkembang signifikan.

Adalah tugas kita untuk memerhatikan dan ikut mengubah cara pandang masyarakat agar lebih melek tentang ekonomi syariah. Metode dakwah dan syiar tentang ekonomi dan perbankan islam adalah salah satu yang paling diandalkan saat ini. Selain itu, kolaborasi peran ulama dan pemerintah dapat menjadi hal krusial jika pemerintah melalui Dinas Pendidikan dapat memasukkan materi pelajaran ekonomi dan perbankan islam di sekolah sejak tingkat dasar. Terlebih mengenai penekanan larangan dan bahaya riba di dalam mata pelajaran Agama Islam yang dianggap masih sangat minim. Menurut pengalaman penulis, tidak seperti pemahaman tentang larangan memakan makanan haram seperti daging babi, darah, khamr, dll, Atau larangan berjudi, mencuri sampai kepada dosa-dosa besar yaitu musyrik dan berzina, yang sudah mandarah daging, dalam mata pelajaran Agama Islam jarang sekali bahkan hampir tidak pernah membahas tentang larangan riba. Padahal Rasulullah saw. bersabda:

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).

Dari hadits diatas dikatakan sungguh besar dosa orang yang melakukan riba sampai yang paling ringan yaitu sama seperti menzinai ibu kandungnya sendiri. Hal ini mengherankan karena dalam pelajaran agama Islam yang penulis sendiri dapatkan, sangat jarang materi tentang riba dan pelarangannya dibahas. Bahkan sampai saat ini tidak sedikit masyarakat Indonesia yang belum tahu apa itu riba, tidak mengetahui bahwa riba itu haram, bahkan tidak tahu contoh dari riba adalah bunga di bank. Kita harus sadar pentingnya pendidikan tentang ekonomi dan perbankan islam sejak dini, karena salah satu yang menjadi sebab utama dari kerusakan yang ditimbulkan riba adalah karena ketentuan mengenai keharaman riba tidak ditanamkan sejak dini. Jangankan yang belum mengetahui, masyarakat Indonesia yang  sudah mengetahui apa itu riba, pelarangan, dan dosa riba, banyak yang masih memaklumi riba karena dianggap sama-sama menguntungkan kedua pihak. Padahal telah disebutkan di Al-Quran bisa jadi sesuatu yang dianggap baik oleh manusia ternyata buruk baginya dan sebaliknya. Sehingga tugas kita sebagai hamba Allah untuk tetap melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Selain itu, peran ulama sebagai penyebar ilmu agama juga harus dimaksimalkan dengan pembekalan ilmu ekonomi dan perbankan islam yang cukup. Sehingga keragu-raguan yang muncul dalam hati masyarakat bisa diobati dengan pemahaman sang ulama yang dapat menjelaskan bahaya riba secara ekonomi dengan baik. Ulama juga diharapkan dapat menjawab solusi dari pelarangan riba, yaitu menggunakan akad-akad kerjasama investasi seperti mudharabah dan musyarakah, sehingga masyarakat tidak ragu untuk meninggalkan produk-produk yang berbasis bunga.

Atas uraian di atas, dapat saya simpulkan bahwasanya selain perbaikan produk dari ekonomi dan perbankan islam, perbaikan subjek atau konsumen dari ekonomi dan perbankan islam juga harus diperhatikan. Kedua tugas ini bisa dilakukan secara bersamaan jika tercipta kerjasama dari berbagai pihak terkait, yaitu pihak pemerintah khususnya melalui Dinas Pendidikan dengan alim ulama yang berperan dalam perbaikan sudut pandang serta moral bangsa.

“Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?”

Referensi : Tuasikal, Muhammad Abduh. 2009. Memakan Satu Dirham dari Hasil Riba. https://rumaysho.com/358-memakan-satu-dirham-dari-hasil-riba.html. 22 Juli 1998

Penulis :

Teuku Muhammad Chandra Rajasa

Kepala Biro Binsis dan Proyek IBEC FEB UI 2017

Editor :

Azzahra Sakinah