Materialism in Islamic Religiosity

Oleh: Hanifah Nur Rohma Sa’idah (Bisnis Islam 2019), Staff Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2020

Sumber Jurnal: Impact of Islamic religiosity on Materialistic Values in Turkey 

Penulis: Burcu İlter, Gul Bayraktaroglu and Ilayda Ipek

Penerbit: Journal of Islamic Marketing

Tahun terbit: 2017

 

Latar Belakang

Agama adalah salah satu faktor terpenting dalam kehidupan manusia. Konsep sebuah agama  tidak akan lepas dari istilah religiusitas. Religiusitas diidentifikasikan sebagai keyakinan terhadap Allah SWT yang direpresentasikan melalui tindak-tanduk yang sesuai prinsip-Nya. Dalam ekonomi Islam sendiri, religiusitas menjadi penentu utama mengenai keyakinan dan nilai Islam pada umumnya serta pola konsumsi pada khususnya. Di mayoritas negara muslim seperti Turki, usaha penanaman nilai islami dalam penentuan perilaku konsumsi sangat diutamakan. Namun, sebagai manusia biasa pastinya ada saja hambatan dan tantangan, seperti halnya datangnya bisikan setan untuk bersifat materialistis. Sifat materialistis ini menekankan gaya hidup yang berlebihan (mengkonsumsi barang tidak berdasarkan kebutuhan namun berdasarkan keinginan). 

Keyakinan islami berfokus pada usaha penyempurnaan moralitas dan pemahaman nilai yang lebih baik lagi, hal ini sangat bertentangan dengan sifat materialistis seperti iri hati, serakah, egois, dan ceroboh. Dalam penelitian sebelumnya, belum diambil kesimpulan secara pasti mengenai hubungan antara religiusitas dan materialisme, sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian ini untuk menemukan kesimpulannya.  

 

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi sebagai literatur yang diperoleh melalui pengujian skala religiusitas Islam terhadap kecenderungan materialistik. Yang mana, dengan diketahuinya kesimpulan dari hubungan dari keduanya, kita bisa lebih paham untuk merealisasikan perilaku religiusitas dibandingkan sifat materialistis dalam kehidupan sehari-hari.

 

Metode Penelitian

Karena responden penelitian ini diperoleh dari Fakultas Teologi dan Fakultas Bisnis pada universitas yang sama di Izmir, Turki, maka peneliti menggunakan purposive convenience sampling untuk menjangkau siswa yang memiliki tingkat religiusitas yang berbeda. Survei yang dikelola menggunakan metode penelitian kuantitatif ini menganalisis faktor eksplorasi dan konfirmatorinya melalui aplikasi SPSS dan AMOS.

 

Temuan 

Dalam penelitian ini, 62% responden berasal dari Fakultas Teologi dan 38% dari Fakultas Bisnis. Yang mana, hasil kuesioner akan ditarik kesimpulan melalui:

Reliabilitas dan Validitas Skala Religiusitas

Terdapat empat faktor yang mempengaruhi varians. Pertama adalah spiritualitas, faktor ini mampu menunjukkan religiusitas seseorang kerana menjelaskan 28% dari varians. Kedua adalah perilaku religius, seperti sholat 5 waktu, puasa, dll, perilaku religius ini menjelaskan 26% dari varians. Ketiga berisi tentang kebutuhan beragama,  dalam hal ini bernilai 9% dari varians. Selain ketiga hal itu, ada satu faktor pendukung yang  mengarahkan orang lain misalnya dengan kalimat “ Saya mencoba mengarahkan orang pada kebaikan dan menjauhkan pada kejahatan”.

Total reliabilitas dari skala religiusitas ini adalah 0.966 (sangat tinggi). Sedangkan melalui analisis faktor konfirmatori berdasarkan indeks kesesuaian model didapatkan hasil berikut ( x2= 1875.332, p = 0.000, df = 576, CFI = 0.908, RMSEA = 0.065) yang artinya, terdapat kesesuaian yang baik antara struktur faktor dan data.

Reliabilitas dan Validitas Skala Materialisme

Faktor materialisme yang diamati disini terdiri dari tiga: Sentralitas, kebahagiaan, dan kesuksesan. Ketiga faktor tersebut diketahui mampu menjadi alasan keberhasilan dari tujuan materialisme. Skala materialisme mencakup tiga variabel laten dan sembilan variabel yang diamati. Sehubungan dengan hasil CFA, muatan faktor standar antara variabel yang diamati dan variabel laten bervariasi dalam kisaran dari 0,441 hingga 0,873. Selain itu, jika dilihat dari nilai t-score maka didapatkan signifikansi hubungan antara variabel observasi dan variabel laten. 

 

Setelah menimbang faktor-faktor diatas, akhirnya peneliti menemukan kerangka penelitian baru. Bagaimanakah itu? Jadi, Analisis faktor skala religiusitas dalam penelitian ini mengedepankan tiga dimensi: spiritualitas, perilaku religiusitas dan kebutuhan beragama. Yang mana hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mengedepankan dua dimensi: spiritualitas dan perilaku religiusitas saja. Ternyata, kebutuhan beragama ini juga ikut mempengaruhi sifat materialistis dari religiusitas itu sendiri. 

Dimensi spiritualitas adalah dimensi yang mengutamakan keyakinan mengenai keberadaan Allah SWT dan mampu melaksanakan perintah Allah SWT. Dalam hal ini, dimensi spiritualitas erat kaitannya dengan rukun iman. Sedangkan dalam dimensi perilaku religiusitas ini erat kaitannya dengan tingkah laku atau kewajiban ritual agama Islam seperti sholat lima waktu, puasa, dsb. Dengan menjalankan ritual agama maka akan membuat manusia menjadi lebih dekat dengan Allah SWT sehingga terhindar dari kemungkaranNya. Dimensi kebutuhan beragama itu sendiri merupakan faktor yang paling kecil variansnya, namun  selain penerimaan dan pengimplementasian nilai Islam, juga diperlukan rasa kebutuhan akan penerimaan dan pengimplementasiannya. Sedangkan, dalam materialisme dibagi menjadi tiga kategori juga antara lain: sentralitas (pengakuan kepemilikan yang sentral dalam kehidupan), kebahagiaan (terkait dengan kesejahteraan yang diperoleh akibat adanya barang material), kesuksesan (menggambarkan kepemilikan akan sesuatu yang dianggap tinggi di masyarakat)

Dalam hal inu, ditemukan sebuah kesimpulan baru dari rancangan hipotesis sebagai berikut:

  1. Dimensi spiritualitas berhubungan negatif dengan dimensi kesuksesan materialisme.
  2. Dimensi spiritualitas berhubungan negatif dengan dimensi sentralitas materialisme.
  3. Dimensi spiritualitas berhubungan negatif dengan dimensi kebahagiaan materialisme.
  4. Dimensi perilaku religius berhubungan negatif dengan dimensi kesuksesan materialisme.
  5. Dimensi perilaku religius berhubungan negatif dengan dimensi sentralitas materialisme.
  6. Dimensi perilaku religius berhubungan negatif dengan dimensi kebahagiaan materialisme.
  7. Dimensi kebutuhan beragama berhubungan negatif dengan dimensi kesuksesan materialisme.
  8. Dimensi kebutuhan beragama berhubungan negatif dengan dimensi sentralitas materialisme.
  9. Dimensi kebutuhan beragama berhubungan negatif dengan dimensi kebahagiaan materialisme.

Karena terdapat kesesuaian model yang tepat, koefisien regresi standar dan model struktural diperiksa untuk menguji status hipotesis. Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa (H4, H5, H6) perilaku religius memiliki pengaruh negatif yang paling signifikan terhadap semua dimensi yang ada dalam dimensi materialisme. (H1, H2, H3) atau spiritualitas kurang didukung secara signifikan karena hasilnya menunjukkan nilai positif. Begitu juga pada (H7, H8, H9) mengenai kebutuhan beragama juga tidak didukung karena hasilnya kurang signifikan. Namun jika dampak religiusitas terhadap materialisme dianggap secara keseluruhan, maka terlihat hubungan yang negatif secara signifikan.

 

Kesimpulan

Ketika dampak religiusitas Islam ini diuji untuk dimensi materialisme, ditemukan hasil yang bertentangan. Seiring menguatnya keyakinan, nilai, dan perilaku agama masyarakat, maka mereka diharapkan tidak terlalu mementingkan harta.  Penerimaan umum ini hanya didukung untuk dimensi “religiusitas perilaku”,  Dimensi “spiritualitas” ditemukan berkorelasi positif, Bagaimana bisa? Hal ini dimungkinkan karena dimensi spiritualitas masih belum erat diterapkan dalam diri responden. Sedangkan dimensi “keharusan beragama” ditemukan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap materialisme. Dimensi ketiga religiusitas “kebutuhan beragama” berdampak negatif pada semua dimensi materialisme, namun secara statistik dampak tersebut tidak signifikan. Hal ini dikarenakan terbatasnya jumlah item dalam dimensi ini. Satu-satunya faktor yang berpengaruh negatif secara signifikan adalah perilaku religius. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran untuk menjalankan perilaku religius agar sifat materialistis mampu diminimalisir.