Masalah Besar Usaha Mikro: Design

Masalah Besar Usaha Mikro: Design
Muhammad Ahnaf Wicaksono
Staff Bisnis & Proyek IBEC

Mayoritas usaha mikro di Indonesia dimulai dengan tekad mulia untuk mencari nafkah. Sebagai mata pencaharian, ketiadaan pemasukan dapat menjadi masalah bagi keberlangsungan usaha mikro. Dengan demikian, perlu usaha yang besar untuk mempertahankan usaha mikro agar dapat berjalan setiap hari. Sayangnya, perkembangan usaha mikro seringkali terhenti ketika mencapai tingkat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan harian walaupun sebenarnya usaha mikro memiliki potensi yang besar untuk meraih kesuksesan. Hal ini terjadi karena ada faktor penting yang tidak dipertimbangkan pemilik usaha, salah satunya desain. Padahal, desain berpengaruh secara positif terhadap penjualan suatu produk (Saraswati, Pradhanawati and Hidayat, 2013). Pada kesempatan ini, penulis mencoba mengemukakan potensi yang dapat diraih usaha mikro dengan pengaplikasian desain dan hambatan usaha mikro dalam mengaplikasikan desain.

Potensi

Contoh bisnis yang mengambil manfaat dari desain yang baik adalah Hexcarf. Didirikan pada 2017 dan langsung masuk ke dunia fashion dengan produk berupa scarf, tentunya tidak mudah untuk bersaing dengan usaha yang telah sejak lama berdiri. Dengan pesaing sebesar 42% dari total industri ekonomi kreatif yang digawangi wanita (Rusiawan et al., 2017), Nuky dkk. berusaha menciptakan senjata untuk menembus pasar. Beruntungnya, personel Hexcarf menguasai kemampuan desain sehingga dapat menjadikan kemampuan tersebut sebagai nilai tambah. Hasilnya, Hexcarf  terus eksis hingga saat ini. Setidaknya, ada tiga lini pada Hexcarf yang estetika desainnya perlu dijaga, yaitu media sosial, produk, dan kemasan.

Media sosial adalah senjata utama bagi Hexcarf karena seluruh kegiatan promosi dijalankan lewat media tersebut. Selain itu, impresi pelanggan juga dibangun lewat media sosial sehingga keberadaan desain sangat vital. Oleh karena itu, ada dua standarisasi yang dibuat untuk memastikan desain tertata dengan baik. Standarisasi pertama adalah warna, yang mana warna dominan dari Hexcarf adalah putih dan merah muda. Di mana warna putih memberikan kesan ringan dan merah muda memberikan kesan yang cocok untuk wanita (Lebond, 2017). Standarisasi kedua adalah huruf. Huruf yang digunakan Hexcarf berjenis sans serif dan handwriting, yang mana menimbulkan kesan santai (Bear, 2018).

Selain media sosial, estetika produk yang dihasilkan juga tak kalah penting. Sebagai barang yang akan digunakan langsung oleh pelanggan, sangat krusial untuk memastikan produk nyaman dilihat dan sesuai dengan citra Hexcarf sebagai feminin. Oleh karena itu, desain scarf yang diproduksi terlebih dahulu diseleksi. Pemilihan warna dan pola dilakukan dengan ketat agar produk digemari pelanggan.

Komponen terakhir yang tak kalah vital adalah kemasan. Selain melindungi produk, kemasan juga berfungsi sebagai sarana informasi terhadap para pelanggan lewat label yang dipajang. Pada Hexcarf, fungsi tersebut dimanfaatkan lewat merk yang dipajang pada bagian depan kemasan sehingga ada branding yang timbul. Desain kemasan Hexcarf juga dibuat untuk dapat menarik perhatian dan kepercayaan konsumen sehingga dapat meningkatkan penjualan.

Dengan penerapan desain sebagai salah satu senjata utama, Hexcarf berhasil menembus pasar Jabodetabek dalam satu tahun operasi. Citra Hexcarf sebagai brand yang feminin pun terbangun sehingga memiliki penggemar tersendiri di segmen yang diincar. Dengan berlanjutnya proses ini, kemungkinan besar Hexcarf dapat menjadi yang terbaik dalam bidangnya.

Hambatan

Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Ada banyak manfaat yang dapat diambil dari desain, namun memproduksi desain yang bagus tidaklah mudah. Adapun kesulitan yang dialami usaha mikro untuk memproduksi di antaranya biaya, selera, dan kemampuan.

Biaya untuk menyewa desainer cukup tinggi. Untuk memproduksi sebuah desain, biaya yang diperlukan dapat mencapai jutaan rupiah. Apabila usaha mikro menginginkan bantuan desainer profesional, tampak kurang realistis secara finansial karena omzet maksimum usaha mikro adalah Rp300.000.000,00, yang berarti mayoritas pengusaha mikro memiliki omzet di bawah batas tersebut.

Hambatan kedua adalah selera yang berbeda antara desainer dan pasar. Desain yang bagus menurut individu belum tentu dianggap bagus oleh individu lainnya. Untuk mengatasi hal ini, perlu diadakan riset pasar sebelum desain diterbitkan. Dengan demikian, diharapkan desain yang diproduksi sesuai dengan selera pasar.

Hambatan terakhir berhubungan dengan biaya. Karena biaya untuk menyewa desainer profesional cukup tinggi, pemilik usaha mikro biasanya mendesain sendiri keperluan usahanya. Namun, hasil desainnya seringkali kurang sesuai dengan selera pasar karena kemampuan desain yang kurang mumpuni. Walaupun desain dapat dipelajari, namun memerlukan proses yang panjang.

Kesimpulan

Kemampuan desain dapat memberikan manfaat pada usaha mikro dengan Hexcarf sebagai contohnya. Berkat desain, Hexcarf dapat meraih pasar dan citra yang baik. Namun, perlu diperhatikan bahwa Hexcarf memiliki target pasar yang jelas dan memiliki personel yang mampu mendesain dengan baik sehingga desain yang diproduksi dapat menghasilkan dampak yang baik pula. Berdasarkan ulasan tersebut, ada dua keterampilan yang harus dimiliki: analisis pasar dan produksi desain. Hingga saat ini, Pemerintah Republik Indonesia menggencarkan pelatihan wirausaha yang mana menjadi langkah yang baik untuk meningkatkan keterampilan analisis pasar. Untuk meningkatkan keterampilan desain, pemerintah dapat berperan dengan cara memperbanyak lokasi estetik di suatu lingkungan seperti yang dilakukan Pemerintah Jepang (Aditya, 2013). Harapannya, masyarakat akan terpicu untuk memilih barang dengan kualitas desain yang baik. Dengan demikian, nilai barang dengan kualitas desain yang buruk akan berkurang sehingga pengusaha mikro terpaksa memberi perhatian terhadap desain produk, kualitas desain pun meningkat dengan sendirinya. Dalam situasi tersebut, desain diharapkan tidak lagi menjadi masalah bagi usaha mikro untuk berkembang.

Referensi:

Aditya, W. (2013) Sila Ke 6; Kreatif Sampai Mati. III. Sleman: Bentang Pustaka.

Bear, J. H. (2018) The Purpose and Best Uses for a Sans Serif Font. Available at: https://www.lifewire.com/sans-serif-font-information-1073828 (Accessed: 6 May 2018).

Lebond, B. (2017) Arti dan Pengaruh Warna bagi Psikologi Manusia. Warna dapat mempengaruhi mood. Available at: https://psyline.id/arti-dan-pengaruh-warna-bagi-psikologi-manusia/ (Accessed: 2 May 2018).

Rusiawan, W. et al. (2017) ‘Data Statistik dan Hasil Survei Ekonomi Kreatif Kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik’, p. 23.

Saraswati, M. L., Pradhanawati, A. and Hidayat, W. (2013) ‘PENGARUH DESAIN PRODUK, KUALITAS PRODUK, DAN HARGA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KAMPUNG BATIK WIRADESA, KABUPATEN PEKALONGAN’. Available at: https://media.neliti.com/media/publications/100954-ID-pengaruh-desain-produk-kualitas-produk-d.pdf.