Macam-macam Investasi dalam Lingkup Syariah

Macam – Macam Investasi dalam Lingkup Syariah

Muhammad Rizki Siddiq

Staff Biro Bisnis dan Proyek IBEC FEB UI 2018

Investasi merupakan sebuah istilah di dalam ranah ekonomi yang berkaitan pula dengan sektor finansial. Secara singkatnya, investasi dapat dikatakan pula sebagai bentuk penanaman modal. Perihal ini masih menjadi diskusi perdebatan yang masih hangat diperbincangkan di dalam isu-isu ekonomi islam kontemporer tentang fiqih perbuatan ini di dalam tinjauan syariah. Akan tetapi, keputusan Majma Fiqh Al-Islami menyebutkan bahwa “investasi apa pun yang menjadikan pihak pengusaha (mudharib) memberikan keuntungan dengan kadar tertentu kepada investor, maka hal itu adalah haram. Karena sifat investasi telah berubah menjadi elemen pinjaman dengan janji keuntungan riba.”

Para ulama sepakat bahwa penanaman modal itu diperbolehkan. Dasar hukumnya adalah keputusan dari ulama seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Menurut para ulama, investasi bisa dikatakan sah apabila memenuhi tiga syarat yakni investor, akad, dan objek transaksi. Setelah meninjau dasar hukumnya dan mengetahui syarat yang memenuhi sah nya investasi, berikut akan dijelaskan macam-macam investasi yang ada di dalam tinjauan syariah.

Jenis investasi syariah yang dapat dijalankan yang pertama ialah sukuk atau obligasi syariah.  Sukuk dalam bahasa Arab bermakna kepemilikian atau sertifikat. Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 32/DNS-MUI/IX/2002 pengertian obligasi syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil / margin / fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Manfaat sukuk dapat dirasakan oleh Mudharib (emiten) berupa tambahan modal kerja sebagai upaya dalam mencari dana. Sedangkan bagi investor ialah mendapatkan investasi tentunya dengan besaran porsi yang telah ditetapkan.

Tentunya sukuk ini memiliki perbedaan dengan obligasi konvensional yang dapat dilihar dari dua aspek.  Pertama, dari aspek hasil bagi, obligasi yang pada umumnya berarti surat utang yang dikeluarkan untuk  mencari pinjaman dan nantinya akan ada bunga yang dibayarkan terdapat unsur utang dan ribanya. Lantas berbeda dengan sukuk yang tidak mengenal unsur utang dan pembayaran bunga yang berarti riba di dalamnya. Sukuk dalam pengoperasiannya dan penerbitannya menggunakan  hukum Mudharabah dan hukum islam. Lalu sebagai imbalan perusahaan berkewajiban memberikan hasil bagi yang lebih dikenal dengan jargon akad Mudharabah atau Ijarah. Aspek berikutnya ialah dari sudut pandang risiko yang diciptakan dari masing-masing jenis investasi. Pada obligasi konvensional investor cenderung hampir tidak memiliki risiko. Hal ini dikarenakan adanya pendapatan keuntungan yang terus didapat sesuai jangka pembayaran yang dihitung berdasarkan suku bunga dari uang yang dipinjamkan. Sedangkan pada sukuk, pemegang obligasi memiliki risiko karena keuntungan yang diberikan tergantung dari besar kecilnya keuntungan perusahaan. Jika perusahaan mengalami kerugian maka hasil yang diterima juga harus ditanggung bersama.

Jenis investasi syariah yang kedua ialah reksadana syariah. Dikutip dari situs bank yang menawarkan jasa reksadana syariah, yakni BNI (Bank Negara Indonesia) Syariah, reksadana syariah adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal sebagai pemilik harta (shabib al-mal / Rabb al-mal). Dana ini selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi sebagai wakil shahib al-mal menurut ketentuan dan prinsip syariah Islam. Pada konsep reksadana syariah ini tidak berbeda jauh dengan reksadana konvensional. Tidak ada perbedaan yang mencolok seperti disparitas yang ada antara obligasi syariah dengan yang konvensional.

Hal yang membedakan reksadana syariah dengan yang konvensional hanyalah terletak dari sudut prinsip syariah Islam di dalam proses penanaman modalnya. Dana investasi dalam konsep reksadana syariah tidak boleh ditanam pada perusahaan-perusahaan yang terdapat unsur haram di dalamnya. Selain unsur haram yang dijadikan pertimbangan, unsur kemaslahatan perusahaan yang akan ditanami modal juga menjadi unsur pertimbangan lain. Kemaslahatan yang dimaksud ialah lebih banyak memberi manfaat daripada kemudharatan. Misalnya perusahaan yang menggunakan bahan-bahan produksi yang diharamkan oleh dalil Quran maupun Sunnah seperti daging babi, khamr, perusahaan yang berhubungan dengan pornografi maupun kemaksiatan lain, serta bisnis-bisnis yang mengandung perjudian (Al-Maisiru). Contoh aspek bisnis lain yang harus dihindari pula ialah perusahaan-perusahaan yang menggunakan asas ribawi, perdagangan barang palsu, serta barang-barang yang memiliki unsur-unsur ketidakpastian (Al-Gharar).

Wahai para pembaca yang dirahmati Allah, berikut ialah salah dua dari sekian macam investasi yang berada di dalam lingkup syariah. Paparan di atas hanyalah diperuntukkan untuk membimbing para pembaca agar dapat hidup di dunia tanpa harus melanggar ketentuan-ketentuan dari Allah SWT. Ingatlah wahai saudaraku, tujuan akhir kita sebagai seorang muslim ialah tentunya Surga-Nya Allah. Jadikanlah hidup di dunia ini hanya sebagai sarana yang dapat mendukung kita untuk mendapatkan ridho dan ampunan dari Allah SWT. Islam tidak pernah melarang untuk menjadi seorang yang kaya raya. Akan tetapi terdapat banya dalil yang memperingatkan kita agar tidak tertipu dan tunduk dengan dunia. Maka dari itu cabutlah dunia dari hatimu dan genggamlah erat dengan tanganmu.

Wallahua’lam bishawab.

DAFTAR PUSTAKA