Konsep Dasar Ekonomi Islam dalam Pembiyaan Syariah

Farah Nida Khansa – 1606833280 – Staff Biro Bisnis & Proyek IBEC

Konsep Dasar Ekonomi Islam dalam Pembiyaan Syariah

Perkembangan yang menakjubkan datang dari perbankan syariah yang sudah menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat mayoritas penduduk Indonesia merupakan pemeluk agama Islam. Kini bank syariah bukan lagi menjadi alternatif bagi masyarakat muslim dalam memilih sistem pembayaran berbasis syariah namun sudah menjadi suatu kebutuhan. Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola keuangan sesuai syariah membuat mereka memilih untuk beralih dari bank konvensional ke bank syariah. Terlepas dari kondisi tersebut, kesesuaian praktik bank syariah saat ini dengan kondisi ideal itulah yang perlu diberikan perhatian.

Fungsi Bank dalam konsep syariah menurut Muhamad Syafi’i Antonio meliputi: fungsi bank syariah sebagai manajemen investasi, investasi itu sendiri, jasa-jasa keuangan, dan jasa sosial. Keempat fungsi bank tersebut apabila diuraikan secara operasional ; sebagai penerima amanah untuk melakukan investasi atas dana-dana yang dipercayakan oleh investor/deposan, sebagai pengelola investasi sesuai dengan arahan investasi yang dikehendaki oleh pemilik dana (dalam hal ini bank bertindak sebagai manajer investasi), sebagai penyedia jasa lalu lintas pembayaran dan jasa-jasa lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, sebagai pengelola fungsi sosial seperti pengelolaan dana zakat dan penerimaan serta penyaluran dana kebajikan (fungsi opsional).

Pada bank syariah juga memiliki aspek kelembagaan bank yang menganut prinsip syariah. Tranksaksi pada bank syariah menyaratkan adanya akad (kesepakatan) yang terikat antara bank syariah dengan nasabahnya. Akad keterikatan yang dimaksud adalah bank syariah dan nasabah bank syariah dalam relasi azas kemitraan, keadilan, dan transparan, bukan relasi antara peminjam dan pemberi pinjaman. Adapun unsur yang harus ada pada Bank syariah seperti; tidak mengandung unsur riba, tidak mengandung time value of money, tidak memiliki potensi mencelakai atau membahayakan orang lain maupun diri sendiri, tidak ada unsur penipuan atau ketidakjelasaan (gharar), tidak ada unsur judi (maysir).

Dalam perbankan syariah terdapat sistem penghimpunan dana dan juga penyaluran dana sama halnya dengan bank konvensional. Namun dalam bank syariah menerapkan prinsip wadiah dan mudharabah dalam kegiatan penghimpunan dana. Sementara sistem bagi hasil dan jual beli diterapkan dalam kegiatan penyaluran dana. Dalam penghimpunan dana terdapat dua prinsip yaitu ; Prinsip Wadī’ah dalam produk giro dan tabungan adalah akad titipan murni dari pihak pemilik barang/dana kepada pihak penerima kepercayaan untuk menjaga keselamatan, keamanan dan keutuhan. Prinsip Mudhārabah dalam produk tabungan dan deposito adalah akad penyimpanan dana dengan nisbah yang disepakati pada awal akad untuk bagi hasilnya. Sementara itu untuk penyaluran dana terdapat prinsip jual beli dan prinsip bagi hasil. Jenis Prinsip Jual beli ; Murabahah adalah akad jual beli barang tertentu antara penjual dan pembeli dimana dalam transaksi jual beli tersebut penjual menyebutkan jenis barang yang akan dijual termasuk harga pembelian ditambah keuntungan yang diambil penjual Murābahah dapat dilakukan secara tunai dan secara angsuran. Jenis produk perbankan syariah murabahah berupa pembiyaan investasi. Salam adalah pembelian barang dengan penyerahan dilakukan kemudian setelah ada pembayaran di awal. Secara operasional prinsip salam adalah : akad jual beli barang pesanan (muslam fīh) antara pembeli (muslam) dengan penjual (muslam ilaih), spesifikasi (jenis, macam ukuran, jumlah, mutu) dan harga barang disepakati diawal akad dan pembayaran dilakukan dimuka secara penuh, apabila bank bertindak sebagai pembeli, kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang (salam paralel). Produk layanan perbankan syariah dengan prinsip Salam adalah untuk produksi agribisnis atau industri sejenis lainnya. Istishna adalah akad pembelian barang melalui pesanan dan diperlukan proses untuk pembuatannya sesuai dengan pesanan pembeli dan pembayaran dilakukan di muka sekaligus atau secara bertahap. Jadi perbedaan dengan Salam hanya pada metode pembayarannya.

Jenis prinsip bagi hasil Menurut Ismail [6] (2011:167) Dalam pembiayaan bagi hasil, bank syariah tidak membebani bunga kepada nasabah, akan tetapi ikut serta dalam investasi. Hasil investasi akan diterima dalam bentuk bagi hasil atas usaha yang dijalankan oleh nasabah. Bagi hasil yang diterima atas hasil usaha, akan memberikan keuntungan bagi pemilik modal yang menempatkan dananya dalam kerja sama usaha. Menurut Ismail [6] (2011:168) pembiayaan mudharabah merupakan akad pembiayaan antara bank syariah sebagai shahibul maal dan nasabah sebagai mudharib untuk melaksanakan kegiatan usaha, di mana bank syariah memberikan modal sebanyak 100% dan nasabah menjalankan usahanya. Hasil usaha atas pembiayaan mudharabah akan dibagi antara bank syariah dan nasabah dengan nisbah bagi hasil yang telah disepakati pada saat akad. Sedangkan menurut Ismail [6] (2011:176) musyarakah merupakan akad kerja sama usaha antara dua pihak atau lebih dalam menjalankan usaha, di mana masing-masing pihak menyertakan modalnya sesuai dengan kesepakatan, dan bagi hasil atas usaha bersama diberikan sesuai dengan kontribusi dana atau sesuai kesepakatan bersama.

sumber :

Samira Kalkarina , Sri Rahayu S.E., M.Ak., Ak , Annisa NurbaitiS.E., M.S.  FACTORS THAT INFLUENCE FINANCING PROFIT SHARING BASED IN INDONESIA ISLAMIC BANKS. Diakses pada 30 agustus 2017.

<file:///C:/Users/Hp%201000/Downloads/16.04.2122_jurnal_eproc.pdf>

Fitri Maltuf (Mei, 2015). Prinsip Kesyariahan dalam Pembiayaan Syariah. Diakses pada 28 agustus 2017.

<http://download.portalgaruda.org/article.php?article=456351&val=5948&title=PRINSIP%20KESYARIAHAN%20%20DALAM%20PEMBIAYAAN%20SYARIAH>