Kita Bicara Tentang Masjid Hari Ini

Oleh: Muhammad Dzaky Archard (Ilmu Ekonomi Islam 2020), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2021

Manusia pada hakikatnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam hal Suku, Ras, Agama, dan Antargolongan (SARA). Seseorang yang memiliki rasa persatuan dan kesatuan akan menimbulkan sense of belonging dalam suatu komunitas maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika kita melihat sejarah, Indonesia yang masyarakatnya heterogen dapat merdeka karena bersatu. Lantas, bagaimana Islam memandang perbedaan?

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْر

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat 49 : 13)

Pada dasarnya manusia merupakan keturunan dari Adam dan Hawwa, tetapi yang membedakan hanyalah masalah agama, yaitu tingkat ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Dalam riwayat Al-Bukhari, Abu Hurairah r.a. bertanya mengenai siapakah manusia yang paling mulia, Rasulullah saw bersabda “Yang paling mulia di sisi Allah Swt adalah mereka yang paling bertakwa”. Selain itu, disebutkan dalam hadis lain dari Abu Musa r.a. bahwa seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya diibaratkan sebagai suatu bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya. Artinya, perbedaan bukan menjadi sebuah penghalang untuk bersatu, melainkan menjadi sebuah rahmat yang diberikan oleh Allah Swt. (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu apa yang sebenarnya dituju dari sebuah persatuan? Persatuan akan menguatkan seorang mukmin yang memiliki tujuan akhir yang sama, yakni falah (kemenangan dunia dan akhirat). Untuk menggapai fallah, Islamic man yang memiliki sifat huquq (multi-interest) juga akan mementingkan lima aspek yang terdapat pada maqashid syariah yaitu penjagaan agama, penjagaan jiwa, penjagaan akal, penjagaan keturunan, dan penjagaan harta. Maqashid Syariah berfungsi untuk melestarikan kehidupan dan peradaban manusia sehingga peranannya sangat vital apalagi jika dikaitkan dengan ekonomi.

Maslahah dapat mudah dicapai apabila suatu negara berdaulat. Kedaulatan (sovereignty) menurut Ibn Khaldun, pada bagian Muqaddimah dalam kitabnya, Al-Ibrar, yakni sebuah kekuatan tidak akan ada kecuali dengan pengimplementasian hukum syariah. Hukum ini bisa digerakkan dengan rakyat yang berdaulat jika mempunyai kekuatan harta yang diperoleh dari pengembangan yang berprinsip keadilan.

Meskipun negara Indonesia bukanlah negara yang berlandaskan pada hukum Islam, tetapi dalam sila pertama pancasila “Ketuhanan yang Maha Esa” mengakui keberadaan agama sebagai pedoman hidup bagi para penganutnya. Tidak sedikit dari masyarakat Indonesia masa kini yang sudah memahami hukum syariah, terutama pada bidang ekonomi. Dijelaskan dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019, terjadi peningkatan literasi ekonomi dan keuangan syariah sebesar 0,83%. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan tingkat inklusivitas ekonomi (peningkatan kesempatan kemakmuran bagi masyarakat luas) syariah yang justru turun 2%.

Secara filosofis, seseorang akan tergerak untuk memahami dan menjalankan sesuatu apabila memiliki motivasi untuk melakukannya. Seorang pelajar belajar dengan giat ketika ingin memperoleh nilai yang baik, sama halnya ketika seseorang beramal banyak dan ikhlas untuk menggapai ridha Allah Swt. Umat Islam yang taat dalam menjalankan agamanya dan menerapkan prinsip syariah akan lebih mudah dalam membentuk kedaulatan terutama dalam segi ekonomi. Sebenarnya umat Islam sudah memiliki wadah dalam menyelesaikan permasalahan ini, yaitu masjid sebagai simbol persatuan umat memiliki potensi untuk meningkatkan inklusivitas ekonomi umat. Namun, apakah masjid di masa kini dapat menjalankan fungsinya dengan baik?

Dalam hukum Islam, masjid tidak terikat kepada kepemilikan suatu badan atau perorangan melainkan menjadi milik Allah Swt yang berarti tidak ada larangan bagi siapa saja untuk mendatangi masjid terlebih untuk beribadah kepada Allah Swt. Menurut Ketua Dewan Masjid Indonesia untuk D.I. Yogyakarta pada tahun 2015, Prof. Muhammad, masjid-masjid besar memiliki peranan yang besar untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Namun, tidak jarang dari setiap masjid yang ditemui di kota-kota besar masih terdapat tiga masalah utama, seperti kondisi toilet yang masih kotor, lingkungan di sekitar masjid kurang terurus, dan masih minimnya jemaah pada waktu shalat fardhu. Hal ini menyebabkan masih banyak masyarakat yang kurang dekat dengan masjid.

Lumrahnya, tidak ada orang yang mau tinggal di tempat yang kotor dan kurang nyaman. Hal ini mungkin sejalan dengan ungkapan yang dipopulerkan oleh salah satu pembaharu Islam, Muhammad Abduh, Beliau mengatakan, “al-Islam mahjubun bil-muslimin” yang memiliki makna agama Islam justru ditutupi oleh penganutnya sendiri. Namun, apabila suatu tempat itu disukai atau disenangi oleh banyak orang maka segala aktivitas yang berasal dari masjid dapat berdampak luas.

Masjid pada zaman Rasulullah saw menjadi salah satu aspek yang vital karena tidak hanya sebagai simbol umat Islam dan tempat sarana dan prasarana ibadah, tetapi juga memiliki beberapa fungsi di bidang sosial kemasyarakatan, yakni sebagai tempat edukasi, tempat kegiatan sosial, tempat kegiatan administrasi,  dan lainnya. Dengan banyaknya kegiatan yang berfokus di masjid maka akan menimbulkan rasa saling memiliki dan tolong-menolong di antara umat dalam permasalahan agama maupun sosial dan ekonomi. Namun, apabila masjid lebih memprioritaskan fungsi sekundernya atau bahkan memiliki tujuan yang bertolak belakang pada fungsi utamanya, yaitu untuk membangun sajid (orang yang bersujud) justru akan menyebabkan awal kehancuran Islam. Seperti kisah Rasulullah saw menghancurkan dan membakar Masjid ad-Dhirar yang dikenal sebagai masjid munafik atau masjid pembangkang yang dibangun untuk tujuan membahayakan dan memecah-belah orang-orang yang beriman pada saat itu.

Masjid tidak boleh terlepas dari fungsi utamanya sebagai tempat beribadah kepada Allah Swt. Sesuai dengan firman-Nya dalam Surat An-Nuur ayat 36-38:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ (٣٦)رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ (٣٧) لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (٣٨)

“Bertasbih kepada Allah Swt di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. (QS. 24:36) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah Swt, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncangan. (QS. 24:37) (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. 24:38)”

Terdapat suatu kisah yang diriwayatkan dari Salim dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. suatu hari ia berada di pasar. Kemudian pada saat iqamat shalat dikumandangkan, maka mereka (para Sahabat) mengunci toko-toko mereka dan ramai-ramai memasuki masjid. Salim membacakan dan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Surat An-Nuur ayat 37 yang memiliki arti  “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah Swt.” adalah orang-orang seperti mereka itu. Mereka yang mengedepankan ketaatan dan keinginan kepada Allah Swt lebih dari kehendak dan keinginan diri mereka sendiri. Lantas, apakah kita boleh memanfaatkan area masjid untuk kegiatan ekonomi? Komisi Fatwa DSN MUI pada tahun 2013, menyebutkan bahwa kita boleh menggunakan area masjid sebagai tempat kegiatan ekonomi asal tidak mengganggu kekhusyuan ibadah mahdhah (ibadah ritual yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya). Mengingat masjid merupakan tempat yang suci dan tempat untuk mencari kekhusyuan dalam beribadah kepada Allah Swt.

Dalam laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019, potensi ekonomi syariah di tahun 2024 bisa mencapai nilai 3,2 Triliun USD. Sebuah angka yang besar dan wajar karena menurut Pew Research Center yang dikutip dari detik.com, populasi umat beragama Islam merupakan yang terbesar kedua di dunia dimana pada tahun 2020 mencapai 1,9 Miliar penduduk dan pastinya akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Jumlah masyarakat yang sedemikian besar ini bukan menjadi satu-satunya faktor karena semakin banyak jumlah populasi maka sumber daya alam akan semakin langka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Menurut teori Thomas Malthus, “Pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan pertumbuhan pangan mengikuti deret hitung”.

Menurut OJK, faktor pertumbuhan ekonomi syariah yang begitu tinggi bisa dilihat dari meningkatnya Gross Domestic Product (GDP) per kapita negara OIC (Organization Islamic Cooperation) dengan asumsi 3,4% CAGR (Compound Growth Annual Rate) atau rata-rata pertumbuhan per tahun hingga 2024, bahwa ketertarikan penduduk dengan pentingnya agama memiliki tingkat konektivitas digital yang baik. Indonesia sebenarnya memiliki potensi filantropi yang sangat besar bahkan dinobatkan sebagai negara paling dermawan oleh Charity Aid Foundation di tahun 2018. Dalam perspektif Islam, kita pun mengenal ini dengan istilah Ziswaf (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf).

Tabel 1. Pengumpulan serta Distribusi Zakat dan Infaq Tahun 2015-2019

2015 2016 2017 2018 2019
Pengumpulan 3650,4 5017,3 6224,3 8117,5 9220,6
Pertumbuhan 10,6% 37,5% 24,1% 30,4% 26%
Penyaluran

(Asnaf)

2249,2 2931,2 4860,2 6288,5 6859,3
Penyaluran

(Bidang)

2085,5 2694,9 4459,6 5490,4 6218,5
Rasio

Penyaluran / pengumpulan

61,6% 58,4% 78,1% 83,8% 84,9%
Kategori Cukup Efektif Cukup Efektif Efektif Efektif Efektif

Sumber : Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)

Dari data yang diperoleh melalui BAZNAS memperlihatkan pengumpulan dan pendistribusian zakat semakin membaik dari tahun ke tahun. Akan tetapi, menurut Kompas dan IdnTimes, potensi ZISWAF kita bisa mencapai 200 triliun hingga 300 triliun rupiah. Namun, pada realitanya dalam statistik zakat tahun 2019 hanya bisa terkumpul 9,6 triliun rupiah. Menurut Direktur Utama BAZNAS pada tahun 2020, mereka menargetkan pertumbuhan pengumpulan zakat sebanyak 25% tiap tahunnya. Artinya, butuh waktu yang sangat lama untuk mencapai target tersebut mengingat beberapa tahun sebelumnya (2015-2019) rata-rata pertumbuhannya berada di angka 25,67% tentunya angka ini masih bisa naik ataupun turun seiring berjalannya waktu.

Grafik 1. Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2006-2020

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS)

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2006-2020 menunjukkan grafik yang menurun namun selisihnya sangat kecil. Oleh karena itu, menyikapi data di atas kita sebagai umat Islam tidak boleh hanya bergantung pada faktor filantropi (ZISWAF) saja karena akan memerlukan waktu yang sangat lama. Kita dituntut untuk berkarya menghasilkan sesuatu yang akan berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Menurut laporan OJK di tahun 2019, negara Islam memiliki beberapa sektor yang potensial apabila serius untuk dikembangkan, di antaranya adalah makanan halal,  fashion, media dan rekreasi, serta Islamic finance. Apabila kita cermati sebenarnya seluruh potensi ini bisa terhimpun di dalam masjid.

Manusia sebagai makhluk sosial sangat mudah untuk dipengaruhi oleh manusia lainnya. Manusia cenderung lebih lantang dalam mengungkapkan pendapatnya apabila bertemu dengan orang yang memiliki pendapat yang sama (Serge Moscovici dan Marisa Zavalloni). Ketika umat Islam sudah banyak melakukan aktivitasnya di masjid maka hal ini menunjukkan akan tingginya tingkat kesadaran umat mengenai agama, sehingga dari aspek budaya tadi sektor-sektor yang diprediksi menjadi unggul di tengah-tengah masyarakat bisa terealisasi.

Peningkatan produksi makanan halal akan meningkat karena banyaknya konsumen akan menyebabkan meningkatnya suatu permintaan akan suatu barang. Fashion yang merupakan budaya sehari-hari akan sedikit demi sedikit bergeser ke arah desain busana yang lebih sopan dan tertutup serta layak ketika digunakan pada waktu shalat seiring dengan banyaknya orang yang menjadi trendsetter dalam industri ini. Hiburan pun akan bergeser dengan maraknya sosial media yang digunakan untuk berdakwah sehingga masyarakat menjadi lebih nyaman dan terhindar dari kesan kaku yang selama ini ada di masyarakat. Semua itu juga bisa dilakukan dari masjid terutama masjid-masjid yang cukup besar dengan memanfaatkan permodalan yang bekerjasama dengan layanan fintech syariah sehingga mampu memberdayakan masjid dan masyarakat.

Investor yang melakukan investasi dengan masjid dalam pandangan penulis tidak akan berekspektasi mendapat keuntungan yang besar tetapi lebih ke arah sosial. Berinvestasi di masjid secara risiko juga lebih minim karena masjid merupakan suatu lembaga yang membawa nama agama dan berprinsip sesuai dengan syariat Islam. Keuntungan lainnya adalah mereka berinvestasi dengan tetangga mereka sendiri yang hidup di sekitar rumah mereka sehingga lebih mudah untuk melihat profil perkembangan usahanya.

Potensi-potensi di berbagai sektor di atas sebetulnya sangat mungkin untuk bisa dilakukan melihat betapa banyaknya masjid yang tersebar di Indonesia.

Tabel 2. Data banyaknya Masjid di Indonesia 2021

Kategori Masjid Jumlah
Masjid Negara 1
Masjid Agung 33
Masjid Raya 422
Masjid Besar 4.801
Masjid Jami 225.789
Masjid Bersejarah 967
Masjid di Tempat Publik 45.245
Jumlah 277.258

Sumber : Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama (Kemenag)

Melihat dan mengambil contoh pengelolaan ta’mir masjid (organisasi dakwah Islamiyah) salah satu masjid yang ada di Indonesia, yakni Masjid Jogokariyan yang terletak di D.I. Yogyakarta, menggunakan tiga konsep utama, yakni pemetaan, pelayanan, dan pemberdayaan. Mereka melakukan pemetaan agar mengetahui kondisi dan kebutuhan jemaah sehingga mempermudah aspek pelayanan dan pemberdayaan. Program-program yang sudah berhasil dijalankan di antaranya, ATM beras, jemaah mandiri, menshalatkan orang hidup (mengajak masyarakat sekitar untuk lebih giat shalat berjemaah di masjid), dan lain-lain. Mereka sadar bahwa yang terpenting adalah membangun jiwa dari sajid agar teguh terhadap tali Allah Swt dan memberikan pelayanan yang optimal pada masyarakat. Hasilnya, pendapatan dari infaq dan shadaqah naik 400% dari target. Selain itu, ada juga Kampoeng Ramadhan yakni menciptakan suasana Ramadhan yang lebih terasa di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan yang dilakukan beragam mulai dari takjil, pawai, dan lainnya, dana dari kegiatan ini sebagiannya dihimpun melalui jemaah dengan memperkirakan total anggaran dan jumlah jamaah masjid sehingga bisa saling tolong-menolong satu dengan yang lainnya. Masjid Jogokariyan juga memiliki data golongan darah jemaah yang dapat dimanfaatkan untuk keadaan darurat. Serta masih banyak manfaat lain yang dirasakan oleh jemaah.

Pengelolaan zakat dan dana-dana lainnya yang dikelola oleh para ta’mir masjid dan badan-badan pengelola lainnya harus bermental dermawan dan tidak boleh bermental kikir. Sebab harta-harta tersebut merupakan milik Allah Swt bukan hak milik badan atau perseorangan lagi. Kita bisa mengambil contoh dari salah satu khalifah yang terkenal,  yakni Umar bin Abdul Aziz, yang dalam kurun waktu singkat yakni 2 tahun 6 bulan dapat mengentaskan kemiskinan yang ditandai dengan tidak adanya lagi orang yang menerima zakat. Bahkan, harta zakat pada saat itu bisa dialokasikan untuk membayar hutang perorangan hingga menikahkan seseorang yang masih lajang. Semenjak kejatuhan Kekaisaran Ottoman, wakaf tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang relevan untuk kemajuan ekonomi umat. Akan tetapi Singapura, melalui Warees Investment Pte Ltd. yang dibentuk oleh MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura) untuk mengelola aset wakaf menjadi lebih produktif. Lembaga ini mampu mengelola 85 dari 156 aset wakaf yang bernilai 769 juta dolar singapura dengan pengalokasian dana untuk lembaga-lembaga sosial bukan hanya di Singapura, tetapi juga ke luar negeri.

Bersatu bukanlah menjadi satu melainkan saling menguatkan satu dan yang lain. Sebagaimana masjid yang dibangun dengan asas saling tolong-menolong dan menguatkan hingga menjadi suatu tradisi budaya dan kembali kepada tujuan masjid yang utama, yakni membangun Sajid  yang baik. Dari pemaparan yang sudah dijelaskan di awal, apabila umat Islam ingin berdiri di atas kaki mereka sendiri dalam artian terbebas dari segala sesuatu yang diharamkan Allah Swt, maka semua ini harus dimulai dari membangun akidah atau konsep keimanan dan ketakwaan yang benar. Dengan demikian, masjid dapat membangun sistem yang mencakup kebutuhan fundamental masyarakatnya, yakni ekonomi. Dengan tegaknya ekonomi maka kita kembali kepada teori Ibn Khaldun dalam muqaddimahnya, yaitu rakyat akan berdaulat jika menggunakan pengimplementasian hukum syariah dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah Swt.

Wallahua’lam bisshowaab

 

Referensi

Abdel, Z. (2010). The Masjid, Yesterday and Today (Vol. 2, Issue Masjid). https://www.files.ethz.ch/isn/122833/AbdelHadyBriefCompleteFile.pdf

Anam, K. (2013). Kisah Masjid Dhirar. Islam.Nu.or.Id. https://islam.nu.or.id/post/read/43242/kisah-masjid-dhirar

Ayu, L. (2020). Kenapa Manusia Suka Mengikuti Tren? Ini Penjelasan Secara Psikologi. Kompas.Com, 1. https://www.kompas.com/tren/read/2020/07/04/121300065/kenapa-manusia-suka-mengikuti-tren-ini-penjelasan-secara-psikologi?page=all

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). (2019). Statistik Zakat Nasional 2019 (National Zakat Statistics 2019). In Baznas.

BPS Indonesia. (2020). STATISTIK Profil Kemiskinan di Indonesia. In Profil Kemiskinan di Indonesia September 2020 (Vol. 07, Issue 56).

Chapra, M. U. (2008). The Islamic Vision of Development in the Light of. Islamic Research and Training Institute, 11.

Chapra, M. U. (2008). Ibn Khaldun’s theory of development: Does it help explain the low performance of the present-day Muslim world? Journal of Socio-Economics, 37(2), 836–863. https://doi.org/10.1016/j.socec.2006.12.051

Charities Aid Foundation. (2018). World Giving Index 2018 (Issue October). https://www.cafonline.org/about-us/publications/2018-publications/caf-world-giving-index-2018

Editor. (2020). Keberhasilan Singapura Dalam Mengelola Wakaf. Sinergi Foundation. https://www.sinergifoundation.org/keberhasilan-singapura-dalam-mengelola-wakaf/

Editor. (2021). Masjid Jogokariyan. Masjidjogokariyan.Com.  https://masjidjogokariyan.com/

Editor. (2021). Sistem Informasi Masjid. Kemenag. https://simas.kemenag.go.id/

Editor. (2015). Tafsir Surat An-Nur, ayat 36-38. Ibnukatsironline.com. http://www.ibnukatsironline.com/2015/07/tafsir-surat-nur-ayat-36-38.html

El Rahman, V. (2020). Potensi Zakat di Indonesia Mencapai 330 Triliun. Idntimes.Com. https://www.idntimes.com/business/economy/vanny-rahman/potensi-zakat-di-indonesia-mencapai-rp330-triliun/3

Hasan, R., Hassan, M. K., & Rashid, M. (2019). Cash Waqf Investment and Poverty Alleviation: Case of Tabung Masjids in Malaysia. Journal of Islamic Monetary Economics and Finance, 4(2), 334. https://doi.org/10.21098/jimf.v4i2.1006

Kementerian Agama. (n.d.). Quran Surat Al – Hujurat (49 : 13). Qur’an Kemenag. https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/49/13

OJK. (2019). Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia 2019 Sinergi Dalam Membangun Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Syariah. In Otoritas Jasa Keuangan (Vol. 53, Issue 9).

Republik Indonesia. 2013. Pemanfaatan Areal Masjid untuk Kegiatan Sosial dan yang Bernilai ekonomis. Jakarta : Majelis Ulama Indonesia

Shohibuddin, M. (2015). Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin.” NUonline.https://www.nu.or.id/post/read/57167/gus-mus-jangan-sampai-islam-ldquomahjubun-bil-musliminrdquo

Shonhaji, A. (2014). Sejarah Kegemilangan Zakat. LAZ Dompet Dhuafa. https://zakat.or.id/sejarah-kegemilangan-zakat/

Susanti, R. (2020). Melihat Potensi Ziswaf dalam Usaha Atasi Dampak Covid – 19. Kompas.Com, 2. https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/22/130056520/melihat-potensi-ziswaf-dalam-usaha-atasi-dampak-covid-19?page=all#page2

Wulandari, I. (2015, April 6). Masjid-Masjid Besar Punya 3 Problem Ini. Republika.Co.Id. https://www.republika.co.id/berita/nmcce4/masjidmasjid-besar-punya-tiga-problem-ini