Kepak Sayap BSI : Menuju Top 10 Global Islamic Bank

Oleh: Khairina Adilah (Ilmu Ekonomi Islam 2020), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2021

Beberapa tahun terakhir ini, ekonomi dan keuangan Islam mengalami kemajuan yang cukup pesat. Berdasarkan data Global Religius Future pada 2020, penduduk muslim di Indonesia mencapai 229,62 juta jiwa yang berarti terdapat kenaikan sebesar 20,5 juta jiwa dari tahun 2010. Melihat adanya potensi besar di Indonesia, pemerintah semakin gencar mendorong pertumbuhan perekonomian Islam termasuk pada sektor perbankan syariah.

Salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pertumbuhan bank syariah adalah dengan melakukan merger pada tiga bank syariah, yaitu BRI Syariah (BRIS), BNI Syariah (BNIS), dan Bank Syariah Mandiri (BSM) menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Proses merger ini dilakukan dengan harapan BSI dapat menjadi bank syariah yang mendunia dengan target masuk peringkat 10 besar bank syariah dunia pada tahun 2025 mendatang. Sebagai langkah awal, BSI tengah melakukan proses migrasi seluruh data nasabah yang telah dimulai sejak 1 Februari 2021 hingga 31 Oktober 2021 nanti. Jika ketiga bank sebelumnya fokus dengan bidangnya masing-masing (BRIS dengan fokusnya ke bidang UMKM, BSM mengarah ke retail banking, dan BNIS di bidang corporate banking), kini dengan hadirnya BSI menjadi one stop financial solution membuat seluruh kebutuhan layanan perbankan syariah menjadi terintegrasi dalam BSI.

Presiden Joko Widodo juga turut menyampaikan harapannya kepada BSI dalam pidato peresmian BSI di Istana Negara berharap agar lembaga keuangan syariah ini dapat turut berkontribusi lebih luas dalam pengembangan ekonomi syariah demi kesejahteraan seluruh rakyat. Beliau menilai bahwa perbankan syariah mampu bertahan pada masa pandemi Covid-19. Buktinya, pertumbuhan kinerjanya lebih unggul daripada perbankan konvensional pada tahun lalu. Meskipun pangsa pasar industri keuangan syariah masih kecil atau tertinggal dibandingkan dengan bank konvensional di tanah air, kondisi tersebut justru menjadi amunisi bank syariah pada masa mendatang (Berkas.dpr.go.id, 2021).

Tabel 1. Kinerja 3 Bank

Syariah BUMN dan Hasil Merger BSI

(dalam triliun rupiah)

BNI Syariah BRI Syariah Mandiri Syariah Bank Syariah Indonesia
2019 2020 2019 2020 2019 2020 Per Desember 2020
Total Aset 44,98 55,01 43,12 57,70 112,29 126,85 239,56
Pembiayaan 32,58 33,05 27,38 40,00 75,54 83,43 156,51
Dana Pihak Ketiga 43,77 47,97 34,12 49,34 99,81 112,58 209,98
Laba 0,6 0,5 0,074 0,25 1,28 1,43 2,19

Sumber: Achmad Sani Alhusain dalam berkas.dpr.go.id (2021)

Secara keseluruhan saat sebelum dan sesudah merger, ketiga bank tersebut  sama-sama berada dalam kelompok bank BUKU 3. Saat ini BSI memiliki total ekuitas sebesar Rp21,74 triliun dan masih perlu sekitar Rp10 triliun lagi agar bisa meningkat ke bank BUKU 4. Akan tetapi, setelah merger total aset BSI sebesar Rp240 triliun. Hal ini cukup berbeda jauh dengan kondisi sebelum merger dimana BSM memiliki total aset Rp126,85 triliun dengan DPK (Dana Pihak Ketiga) sebesar Rp112,58 triliun, BRIS memiliki total aset Rp57,70 triliun dengan DPK sebesar Rp49,34 triliun, dan BNIS dengan total asetnya Rp55,01 triliun dengan DPK sebesar Rp47,97 triliun.

 

Dana Pihak Ketiga

Dikutip dari Otoritas Jasa Keuangan, Dana Pihak Ketiga (DPK) itu sendiri adalah simpanan pihak ketiga bukan bank yang terdiri dari giro, tabungan, dan simpanan berjangka. BSI memiliki DPK sebesar Rp205,506 triliun per Maret 2021. Dalam pengumpulan dana pihak ketiga, BSI mengikuti Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 2/DSN-MUI/IV/2000 tentang tabungan. Sama seperti bank syariah lainnya, BSI juga menggunakan akad antara nasabah dan bank, yaitu dengan akad mudharabah muthlaqah dan wadi’ah yad-dhamanah.

Menurut DSN MUI konsep tabungan dengan akad mudharabah muthlaqah yang dimana nasabah bertindak sebagai pemilik dana (shahibul mal) dan bank sebagai pengelola dana nasabah (mudharib). Sementara wadi’ah yad-dhamanah, yakni dimana nasabah menitipkan dananya kepada bank yang sifatnya sebagai simpanan (deposito). Simpanan ini bisa diambil kapan saja atau berdasarkan kesepakatan antara nasabah dan bank. Pada konsep wadi’ah yad-dhamanah ini tidak terdapat bagi hasil dan bonus yang diperjanjikan.

Gambar 1. Dana Pihak Ketiga

Sumber: Bank Syariah Indonesia dalam Q1 2021 Results (2021)

Bisa dilihat pada tabel di atas, Total DPK BSI berada pada peringkat ke-6 yang dimana posisinya hampir menyusul Bank Tabungan Negara (BTN). Dalam pengumpulan DPK, Bank Syariah Indonesia (BSI) meluncurkan produk mulai dari Tabungan Easy, Tabunganku, Tabungan Pensiun, Tabungan Mabrur (Haji dan Umroh),  maupun BSI Giro. Selain itu, DPK memiliki pengaruh positif terhadap penyaluran kredit. Dengan demikian, semakin banyak DPK yang dihimpun, maka semakin mudah BSI dalam menyalurkan kredit kepada nasabah maupun pihak yang membutuhkan sesuai prinsip Know Your Customer (KYC).

 

Pembiayaan dan Bagi Hasil

Dalam pembiayaan dan bagi hasil, bank syariah harus memenuhi dua aspek dasar. Pertama, aspek syar’i, dalam melaksanakan pembiayaan kepada nasabah, bank syariah harus mengacu pada syariat islam, seperti tidak mengandung unsur maysir, gharar, dan riba di dalamnya. BSI sendiri memiliki berbagai produk pembiayaan yang fleksibel dengan menyesuaikan produk-produknya sesuai kebutuhan masyarakat. Sehingga hal tersebut dapat menambah minat dan antusias masyarakat terhadap Bank Syariah Indonesia (BSI).

Baru-baru ini, BSI telah meluncurkan produk pembiayaan di antaranya BSI Gadai Emas dan BSI Griya Hasanah. Berdasarkan prinsip syariah, BSI Gadai Emas merupakan pembiayaan yang menggunakan akad qardh (pinjam meminjam dana tanpa imbalan) dengan agunan berupa emas yang diikat dengan akad rahn (gadai) dimana emas yang diagunkan disimpan dan dipelihara oleh bank selama jangka waktu tertentu. BSI mendapatkan keuntungan dari akad ijarah (jasa penyimpanan emas sebagai agunan pembiayaan). Sedangkan BSI Griya Hasanah merupakan program pembiayaan yang mendorong masyarakat yang ingin memiliki rumah dengan sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Bedanya dengan sistem KPR yang ada di konvensional, Griya Hasanah menggunakan akad syariah (murabahah, ijarah muntahiya bit tamlik, dan musyarakah mutanaqishah), sehingga masyarakat dapat memilih metode angsuran tetap maupun berjenjang sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, Griya Hasanah menawarkan jangka waktu pembiayaan hingga 30 tahun dengan margin mulai dari setara 3,3% (effective per annum) pada satu tahun pertama dan selanjutnya 10% (effective per annum) sampai akhir.

Pada bulan Februari tahun 2021,  jumlah pembiayaan atau financing BSI  mencapai Rp156 triliun. Dengan nominal tersebut BSI menduduki peringkat keenam dengan jumlah pembiayaan terbesar dari seluruh bank di Indonesia. Keadaan ini menjadi sebuah keunggulan bagi BSI, ditambah lagi BSI menjadi one stop financial solution untuk segala kebutuhan konsumen atau nasabahnya. Sehingga BSI memiliki daya tarik tersendiri dan berpotensi memiliki pasar yang lebih luas lagi dan diharapkan dapat meningkatkan kebermanfaatan bagi masyarakat serta meningkatkan profitabilitas BSI.

Kedua, aspek ekonomi yang memperhitungkan keuntungan sesuai syariat Islam baik bagi bank itu sendiri maupun para nasabah. Biasanya terdapat sistem bagi hasil karena adanya suatu keterikatan kerja sama antara kedua belah pihak (bank dan nasabah) atau lebih. Sistem bagi hasil juga bergantung pada akad-akad yang digunakan seperti akad mudharabah, akad musyarakah, dan lain sebagainya. Ketentuan bagi hasil juga harus tercatat di awal perjanjian akad agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan, dan pastinya tidak menyalahi ketentuan-ketentuan yang dilarang syariat.

Dalam hukum Islam, riba (kelebihan) yang ada pada bunga pinjaman maupun bunga dari tabungan bank, dan kelebihan lainnya yang tidak sesuai ketentuan syariat inilah yang diharamkan. Pada konsepnya,  peminjam dana harus mengembalikan uang yang dipinjamnya kepada bank tersebut ditambah dengan bunga yang dinyatakan dalam persen. Penggunaan sistem riba yang masih marak digunakan pada perbankan konvensional sangat dilarang dalam ketentuan Al-Qur’an dan Hadits, seperti firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 130;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوا۟ ٱلرِّبَوٰٓا۟ أَضْعَٰفًا مُّضَٰعَفَةً ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir, Allah Swt melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin memberlakukan riba dan memakan riba yang berlipat ganda, seperti yang dahulu biasa mereka lakukan bila telah tiba masa pelunasan utang. Sebagai jalan keluar si pengutang yang tidak dapat membayar utangnya, dia harus menambah bayarannya sebagai ganti dari penangguhan masa pelunasannya. Adakalanya utang sedikit menjadi bertambah banyak dan berlipat-lipat dari utang yang sebenarnya. Demikianlah segala perbuatan riba  merupakan salah satu dosa besar yang membinasakan karena di dalamnya terdapat kezaliman.

 

Tantangan yang Harus Dilewati BSI

Dalam mencapai tujuannya, pastinya BSI menghadapi tantangan yang tidak mudah untuk dilewati. Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, mengatakan bahwa untuk meningkatkan pencapaian industri keuangan syariah, OJK melihat tantangan ke depan. Pertama, market share BSI juga terbilang masih rendah yang saat ini hanya berada di kisaran angka 9,9% saja. Beliau berharap agar kedepannya BSI bisa merangkak naik menuju 20%.

Kedua, sumber daya industri keuangan syariah juga masih terbatas. Produk dan layanan keuangan syariah belum setara dibandingkan keuangan konvensional, serta rendahnya research and development untuk mengembangkan produk dan layanan syariah yang lebih inovatif (Investor.id, 2021). Apalagi, belum meratanya teknologi dan perkembangan di beberapa daerah seperti masalah yang terjadi di Aceh beberapa waktu yang lalu. Banyak nasabah yang mengeluhkan sistem pelayanan BSI ini mulai dari sulitnya transaksi ke luar Aceh karena umumnya bank di luar Aceh itu bank konvensional, jaringan nya lambat, hingga ATM kosong.

Selain itu, sumber daya manusia, yang merupakan faktor penting, masih belum mumpuni. Masih sedikit jumlah lulusan yang relevan dengan bank syariah, membuat BSI harus lebih berusaha dalam men-training calon pegawainya yang belum paham akan fundamental dan sistem syariah. Pendirian BSI juga belum genap satu tahun sehingga BSI harus memperkuat dirinya dengan membenahi manajemen dan sistem di dalamnya.

Kondisi pandemi Covid-19 saat ini mengakibatkan kondisi pasar menjadi kurang stabil bahkan semakin parah, sehingga perusahaan harus melakukan pemutusan hubungan kerja. Hal ini dikarenakan berkurangnya pendapatan perusahaan. Hanya sektor usaha tertentulah yang justru meningkat pemasukannya seperti industri makanan, kesehatan, telekomunikasi, dan sebagainya. Bagi mereka yang tidak dapat mempertahankan usahanya maka dengan terpaksa harus gulung tikar. Oleh karena itu, munculah risiko pembiayaan karena aktivitas usahanya terganggu.

Pandemi ini juga berdampak pada fee based income BSI yang berasal dari treasury business seperti haji dan umrah. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pembatasan kegiatan umrah dan haji masih berlangsung seiring dengan meningkatnya kasus positif di berbagai negara. Sehingga pendapatan BSI dari treasury business tersebut mengalami penurunan, padahal sumber pembiayaan ini menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar BSI.

Sistem ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang sangat baik karena sistem ini berpijak pada asas keadilan dan kemanusiaan. Pangsa pasar ekonomi Islam di Indonesia sangat luas karena mayoritas penduduk Indonesia beragama muslim sehingga Indonesia menjadi negara yang strategis untuk pengembangan sistem ekonomi dan keuangan Islam.

Upaya meningkatkan pangsa pasar industri jasa keuangan syariah nasional akan dilakukan BSI melalui diversifikasi lini bisnis syariat yang lebih luas, mencakup segmen UMKM, ritel, dan konsumen, serta wholesale dengan produk yang inovatif, serta melakukan pengembangan bisnis internasional, seperti global sukuk (Indonesia.go.id, 2021). Direktur Utama BSI, Hery Gunardi, mengatakan bahwa Secara konkret, BSI akan membangun sentra UMKM baik di kota-kota besar maupun kota kabupaten, melakukan penyaluran berbasis komunitas dan lingkungan masjid, serta penyaluran ke UMKM binaan Kementerian UMKM dan lembaga lainnya. Tugas kita sebagai umat muslim generasi penerus bangsa turut andil dalam memajukan perekonomian berbasis syariah di Indonesia melalui perbanyak literasi mengenai keuangan syariah agar dapat memahami dengan sebaik-baiknya dan tidak ada kesalahpahaman.

Meskipun bank ini terbilang baru diresmikan, penting bagi BSI untuk meningkatkan inovasinya agar bisa cepat beradaptasi di era digital yang sedang melaju pesat dengan memanfaatkan fitur-fitur online seperti mobile banking, internet banking, dan SMS banking. Selain itu, sosial media yang memiliki banyak pengguna juga bisa digunakan BSI dalam mempromosikan programnya seperti instagram, facebook, twitter, dan lain sebagainya. BSI juga harus memperhatikan sistem pelayanan daring menjadi user friendly (ramah pengguna) sehingga berbagai kalangan dapat mengakses informasi dan layanan BSI dengan mudah.

Melihat kondisi tersebut, Ma’ruf Amin selaku Wakil Presiden Indonesia menyarankan pemberitaan di berbagai media massa untuk ikut berperan aktif dalam meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah dengan terus memberitakan informasi dari bidang tersebut. Sebab masih banyak orang awam yang masih asing atau bahkan tidak mau mencari tahu terkait sistem dalam keuangan syariah ini. Bahkan berdasarkan survei yang telah dilakukan oleh OJK (2019), indeks literasi keuangan syariah di Indonesia masih berada di angka 8,93%.

Dengan maraknya pemberitaan yang meningkatkan literasi keuangan syariah diharapkan masyarakat akan semakin sadar akan peran bank syariah di Indonesia. Bank syariah tidak hanya diperuntukkan bagi kaum muslim, tetapi bisa juga berasal dari agama manapun karena bank syariah bersifat universal tanpa melihat adanya perbedaan etnis, ras, geografis, bahkan agama. Dengan demikian, peningkatan literasi diharapkan dapat memperluas pangsa pasar bank syariah termasuk BSI.

Merger Bank Syariah Indonesia menjadi sebuah momentum penting untuk kebangkitan ekonomi Islam di indonesia. Perbankan Islam, terutama BSI memiliki potensi yang sangat mumpuni untuk mendunia dan mencapai tujuan yang lebih tinggi lagi. BSI sendiri berharap dapat menjadi top 10 global Islamic bank pada tahun 2025 nanti. Tentu harapan ini tidak bisa terwujud tanpa adanya kerja sama seluruh pihak. Salah satu langkah kecil masyarakat dalam mendukung perbankan Islam adalah dengan mulai beralih dan menggunakan produk bank syariah. Dengan begitu, kita telah menjadi bagian dari pergerakan ekonomi Islam. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

 

Wallahua’lam bisshowaab

 

Referensi

Alhusain, A. S. (2021). Bank Syariah Indonesia: Tantangan dan Strategi dalam Mendorong Perekonomian Nasional. Retrieved from https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XIII-3-I-P3DI-Februari-2021-197.pdf

Azzura, S. N. (2021). BSI Luncurkan Program Pembiayaan Perumahan dengan Prinsip Syariah. https://www.merdeka.com/uang/bsi-luncurkan-program-pembiayaan-perumahan-dengan-prinsip-syariah.html

Bank Syariah Indonesia. (2021). BSI Gadai Emas . Retrieved, from https://bsimobile.co.id/promo_/bsi-gadai-emas/

Bank Syariah Indonesia. (2021). Perhitungan Bagi Hasil. Retrieved from https://webform.bsm.co.id/greeting/perhitungan

BSI. (2021). Q1 2021 Results PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Retrieved from https://www.ir-bankbsi.com/misc/Slides/2021/BSI-1Q21-Result.pdf

Fiqri, A. A. A., dkk. (2021). Peluang dan Tantangan Merger Bank Syariah Milik Negara di Indonesia pada Masa Pandemi Covid-19. Retrieved from http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/eldinar/article/download/11315/pdf

Hidranto, F. (2021). BSI, Kekuatan Baru Keuangan Syariat. Retrieved from https://indonesia.go.id/kategori/indonesia-dalam-angka/2366/bsi-kekuatan-baru-keuangan-syariat

Idris, M. (2021). Memahami Cara Kerja Bank Syariah yang Diklaim Bebas Riba dan Halal. Retrieved from https://money.kompas.com/read/2021/02/01/153157026/memahami-cara-kerja-bank-syariah-yang-diklaim-bebas-riba-dan-halal?page=all

Marimin, A., Romdhoni, A. H., & Fitria, T. N. (2015). Perkembangan Bank Syariah di Indonesia. Retrieved from https://core.ac.uk/download/pdf/230490462.pdf

Miftahudin, H. (2021). 50% Jaringan ATM Bank Syariah Indonesia di Aceh bermasalah. Retrieved from https://www.medcom.id/ekonomi/keuangan/JKRA688k-50-jaringan-atm-bank-syariah-indonesia-di-aceh-bermasalah

Otoritas Jasa Keuangan. Penjelasan. Retrieved from https://www.ojk.go.id/Files/201401/OKT27122004_1390442867.pdf

Oriza, D. (2018). Pembiayaan Bank Syariah. Retrieved from https://www.kompasiana.com/dina07699/5af80487bde575068d1238a2/pembiayaan-bank-syariah?page=all

Putri, G. O. (2012). Analisis Bagi Hasil Deposito Mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia. Retrieved from http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20358016-S-Gianisha%20Oktaria.pdf

Ramadhan, A. S. (2021). Banyak Nasabah Ngeluh, Ombudsman Peringatkan Bank Syariah Indonesia. Retrieved from https://sumut.suara.com/read/2021/06/06/134554/banyak-nasabah-ngeluh-ombudsman-peringatkan-bank-syariah-indonesia?page=all

Rosana, F. C. (2021).Tak Capai 10 Persen,  OJK Sebut Indeks Literasi Keuangan Syariah Masih Rendah. Retrieved from https://bisnis.tempo.co/read/1424676/tak-capai-10-persen-ojk-sebut-indeks-literasi-keuangan-syariah-masih-rendah/full&view=ok

Siregar, B. P. (2021). Wapres Akui Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Masih rendah. Retrieved from https://www.wartaekonomi.co.id/read348907/wapres-akui-literasi-dan-inklusi-keuangan-syariah-masih-rendah

Syukra, R. (2021). Hery Gunardi: BSI Solusi Perkembangan Keuangan Syariah indonesia. Retrieved from https://investor.id/finance/hery-gunardi-bsi-solusi-perkembangan-keuangan-syariah-indonesia