Islamic Lifestyle: Circularity Opportunities and Tackling Food Waste

Oleh: Panji Muhammad Iqbal Raharjo (Bisnis Islam 2020), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2021

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia di mana salah satu faktor demografi, yakni jumlah penduduk memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Populasi yang besar mengindikasikan kebutuhan terhadap konsumsi pangan yang tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa konsumsi pangan yang tinggi akan berpengaruh terhadap kenaikan jumlah sampah yang dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Terlebih lagi, sampah konsumsi menghasilkan emisi gas ekuivalen rumah kaca, seperti gas metana (CH₄) dan gas karbondioksida (CO₂) yang akan meningkatkan dampak pemanasan global secara signifikan yang sebanding dengan jumlah sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.

Daya konsumsi masyarakat berkaitan langsung dengan peningkatan risiko food waste. Berdasarkan data Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), masyarakat dengan tingkat pendapatan tinggi dan menengah ke atas cenderung melakukan praktik food oversupply, seperti penyimpanan jumlah makanan yang berlebihan untuk disimpan di dalam lemari pendingin dan penyediaan prasmanan dengan muatan yang terlalu besar. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya kesadaran individu terhadap potensi makanan yang terbuang karena lemahnya perhatian mendasar terhadap use-by date (label baik digunakan sebelum) pada produk, kurangnya literasi terhadap pedoman agama, dan kurangnya kepedulian terhadap permasalahan lingkungan.

Bappenas juga memprediksi bahwa angka food waste di Indonesia diperkirakan akan naik secara drastis pada tahun 2030 sehingga mengakibatkan kenaikan jumlah sampah dari 57 ton pada tahun 2019 menjadi 89 ton pada tahun 2030. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama, yakni peningkatan consumer class dari masyarakat Indonesia dan tingkat urbanisasi yang tinggi pada tahun 2030. Peningkatan kelas konsumen dipicu oleh kenaikan gaji per kapita yang menimbulkan permintaan barang yang lebih besar, sedangkan urbanisasi memicu perubahan pola konsumsi masyarakat karena pola hidup masyarakat kota yang cenderung lebih konsumtif.

Menurut Dr. Arie Herlambang, Kepala Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menyebutkan bahwa sampah yang berasal dari aktivitas penduduk di perkotaan yang sangat besar jumlahnya akan meningkatkan dampak dari pemanasan global akibat peningkatan emisi gas metana dan gas karbondioksida. Hal ini dapat memperburuk kondisi perubahan iklim yang merupakan permasalahan global yang sedang dihadapi bersama. Dampak dari perubahan iklim ini sangatlah merugikan dan dapat mengacaukan sistem kestabilan Bumi sebagai tempat tinggal bagi manusia dan makhluk lainnya, seperti gagal panen akibat kekeringan, bencana nasional yang meningkat, dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat (Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, 2020).

Dalam sudut pandang Islam, permasalahan seputar food waste sudah dijelaskan melalui Al-Qur’an. Allah Swt melarang keras perbuatan boros, yakni praktik food oversupply yang merupakan perilaku membuang-buang makanan dan membenci perilakunya karena merupakan salah satu sifat setan. Hal ini disebutkan dalam Surat Al-A’raf ayat 31 yang memerintahkan kita untuk makan secukupnya saja dan jangan berlebihan,

وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Artinya : “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim mengetahui dampak negatif dari perilaku ini yang juga akan merugikan harta kita.

Dalil ini memberikan penekanan terhadap tujuan dalam hal maqasid syariah atau matlamat-matlamat yang ingin dicapai oleh syariat demi kepentingan umat manusia. Dalam hal ini, al-Dharuriyat berkaitan dengan segala kebutuhan dasar manusia berupa sandang, pangan, dan papan. Perintah ini bertujuan untuk menekankan salah satu aspek maqashid syariah, yakni hifdz al-Mal (penjagaan harta), yaitu mencegah perilaku boros dan membuang-buang harta agar kebutuhan primer manusia dapat terpenuhi dan disalurkan dalam jalan yang baik.

Metodologi penelitian Bappenas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang maksimal dalam meminimisasi dampak food waste dengan mengembangkan potensi ekonomi sirkular. Singkatnya, sistem ekonomi sirkular memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk meminimisasi populasi sampah yang berasal dari konsumsi masyarakat dengan mencegah sisa makanan berlebih untuk terbuang secara percuma. Jika pelaksanaanya efektif maka dapat diprediksi bahwa populasi sampah khususnya sampah makanan rumah tangga akan mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2030.

Ekonomi sirkular adalah sebuah sistem ekonomi dengan lingkar tertutup yang memperhatikan nilai atau daya guna dari produk, material, dan sumber daya di dalam aktivitas ekonomi dengan jangka waktu selama mungkin (Bappenas, 2021). Sistem ekonomi ini sangat memperhatikan efisiensi dan efektivitas dari penggunaan sumber daya yang ada sehingga masalah eksploitasi lingkungan dan potensi sampah dapat ditekan. Meningkatnya kepentingan untuk mengimplementasikan sistem ekonomi sirkular di Indonesia didukung oleh beberapa faktor utama, yakni degradasi sumber daya alam, meningkatnya perhatian masyarakat dunia terhadap lingkungan, tren pemberdayaan teknologi yang ramah lingkungan, pergeseran pasar kerja, dan regulasi pemerintah yang kian suportif.

Kebanyakan dari kita sudah sangat mengenal sistem ekonomi kapitalis atau linear yang secara singkat dikenal sebagai sistem ekonomi produksi, beli, pakai, dan buang (Waste4Change). Secara umum, sistem ekonomi dinilai memiliki dampak yang luar biasa negatif terhadap lingkungan karena perilaku bisnis profit oriented yang jarang mementingkan efisiensi dan masalah eksploitasi sumber daya alam demi mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Alhasil, kerusakan dan pencemaran lingkungan seringkali menjadi imbas untuk mencapai tujuan ekonomi.

Bila dikaitkan dengan nilai-nilai Islam, tujuan yang hendak dicapai oleh sistem ekonomi sirkular selaras dengan apa yang hendak disampaikan oleh syariat. Allah Swt melarang manusia untuk melakukan perbuatan yang merusak sistem keseimbangan lingkungan karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh entitas serupa, tetapi juga makhluk hidup lainnya di Bumi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini diberitakan melalui Surat Al-A’raf ayat 56 yang berbunyi,

وَلَا تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِهَا وَادۡعُوۡهُ خَوۡفًا وَّطَمَعًا‌ ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ

Artinya : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”.

Teguran dari Allah Swt berupa bencana yang merupakan tanggapan dari perilaku manusia yang menyimpang dari kebenaran menunjukkan bentuk kasih sayang dari-Nya agar umat manusia kembali kepada jalan yang benar. Hal ini disebutkan dalam Surat Ar-Rum ayat 41-42 bahwa segala kerusakan yang diperbuat oleh pelaku akan kembali kepada pelaku itu sendiri, seperti bencana banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Dengan demikian, kedua ayat ini menjadi bentuk penekanan yang sinergis dengan tujuan utama sistem ekonomi sirkular (Fauzia, 2016).

Kerangka kerja sirkularitas sejalan dengan nilai ekonomi Islam, yakni prinsip huquq. Huquq merupakan kerangka kerja ekonomi yang menggabungkan empat dimensi utama, yakni people, planet, profit, dan hubungan dengan Allah Swt. Hal ini bertujuan untuk menjalankan bisnis melalui prinsip environmentally friendly yang tidak hanya berorientasi terhadap keuntungan saja, tetapi juga memperhatikan dan menciptakan solusi atas permasalahan lingkungan, serta memperkuat hubungan terhadap masyarakat. Dimensi terhadap Allah terletak pada aktivitas manusia yang memiliki keterikatan dengan Tuhannya sehingga melahirkan rasa tunduk dan rasa takut bagi manusia sehingga tergerak untuk mempertimbangkan segala aktivitas yang diperbuat demi mewujudkan kemaslahatan bersama.

Menurut Bappenas, pendekatan sistem ekonomi sirkular terletak pada lima aspek utama, yakni reduce, reuse, recycle, refurbish, dan renew. Reduce berarti upaya mengurangi emisi sampah dan efisiensi energi dalam memproduksi barang, reuse berarti upaya untuk menggunakan kembali barang secondhanded, recycle berarti upaya untuk menjadikan bahan bekas menjadi bahan baru yang memiliki daya guna, refurbish berarti upaya untuk memanufaktur produk lama untuk kembali kepada keadaan semula, dan renew berarti upaya untuk memprioritaskan penggunaan material dan energi terbarukan. Kelima aspek ini berusaha untuk memanfaatkan nilai keseluruhan suatu barang sehingga sampah dapat ditekan populasinya.

Aspek reduce dan recycle menawarkan potensi sirkularitas yang paling tinggi di Indonesia karena barang konsumsi masyarakat sifatnya adalah sekali pakai. Kesempatan sirkularitas ini memegang peranan besar untuk menghadapi dua hal, yakni meminimisasi risiko food waste dari konsumen dan memproses food waste menjadi produk yang memiliki daya guna. United States Environmental Protection Agency menyebutkan potensi reduce dan recycle di Indonesia diprediksi dapat mengurangi risiko food waste hingga 50% dan memaksimalkan potensi Indonesia dalam mendaur ulang sampah sebesar 11%, serta menghasilkan produk samping berupa kompos dan energi sebesar 25% pada tahun 2030.

Proses mereduksi food loss dari sisi konsumen dilakukan dengan pencegahan secara langsung terhadap sumbernya (point of consumption). Solusi ini dapat berupa pendistribusian makanan berlebih untuk didonasikan kepada bank makanan agar dikonsumsi oleh masyarakat tidak mampu, memperbaiki penggunaan label “baik dikonsumsi sebelum” pada makanan untuk memperjelas daya tahan makanan, menginisiasi tray-less dining di rumah makan, mengurangi jumlah prasmanan yang berlebihan, dan menekankan nilai agama dalam kehidupan masing-masing individu.

Dalam kasus khusus, tidak semua sisa makanan berlebih dapat didonasikan kepada bank makanan karena daya simpan makanan yang sejatinya berbeda-beda. Secara umum, daya tahan makanan terbagi menjadi dua kategori, yakni makanan mudah dan tidak mudah busuk. Makanan yang tidak mudah busuk memiliki daya tahan yang lebih lama terhadap proses penguraian dan pembusukan, sedangkan makanan yang mudah busuk mudah diuraikan oleh bakteri dan dekomposer sehingga memiliki potensi yang baik untuk ditransformasikan menjadi produk sampingan yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat (processed food waste).

Pemerintah Indonesia dapat mempertimbangkan untuk memaksimalkan potensi pembangkit anaerobic digesters. Anaerobic digesters merupakan suatu teknologi yang memanfaatkan proses biologis di mana bahan organik, seperti kotoran hewan dan sampah makanan terutama sisa bahan organik diuraikan oleh mikroorganisme anaerobik untuk menghasilkan produk akhir, seperti biogas dan produk digestate, seperti bioslurry. Produk biogas dapat dimanfaatkan  untuk menghasilkan listrik, biometana, dan energi panas, sedangkan produk digestate dapat dimanfaatkan untuk menggemburkan tanah perkebunan dan meningkatkan produktivitas lahan.

Salah satu perusahaan manufaktur di Indonesia yang bergerak dalam sektor food and beverage (F&B), Great Giant Food (GGF), telah mengadopsi beberapa prinsip ekonomi sirkular dalam model bisnisnya. Misalnya, sampah organik yang dihasilkan oleh pabrik pembuatan canned pineapples dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain itu, kotoran ternak juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan perkebunan nanasnya dan limbah padat yang berasal dari batang nanas dimanfaatkan untuk memproduksi enzim bromelain, serta pemanfaatan air limbah sebagai input pabrik biogas milik GGF yang dikonversikan menjadi sumber panas bagi pembangkit cogeneration yang dapat menghasilkan energi listrik untuk penggunaan produktif lainnya.

Potensi rumah tangga untuk mendukung sirkularitas dapat dilakukan dengan ikut andil dalam menghasilkan produk potensial, yakni olahan produk fermentasi. Produk olahan susu, seperti yoghurt dapat dibuat dari sisa produk susu murni dengan mencampurkan starter bakteri ke dalam susu dalam wadah tertutup dan dibiarkan selama 24 jam untuk difermentasi sampai menjadi yoghurt. Sisa sayuran rumah tangga yang berlebih yang dimanfaatkan dengan baik, seperti kimchi untuk mengurangi potensi sampah dari sayuran organik. Proses pembuatannya pun relatif mudah, yaitu dengan mencampurkan sisa sayuran, seperti sawi putih dan wortel dengan saus gochujang (paste cabe Korea) dan gochugaru (cabe bubuk Korea) untuk difermentasi kurang lebih selama lima hari.

Berdasarkan metodologi penelitian Bappenas tahun 2021 terhadap prospek ekonomi sirkular di Indonesia menunjukkan bahwa upaya untuk mengurangi risiko food waste mengundang sejumlah manfaat besar yang sangat potensial dan menguntungkan bagi Indonesia pada tahun 2030. Manfaat tersebut tersebar dalam lingkup ekonomi, sosial, dan lingkungan. Potensi sirkularitas dalam dua lingkup utama, yakni reduce consumer food waste dan process food waste diprediksi dapat meningkatkan nilai PDB Indonesia yang masing-masing sejumlah 130 miliar rupiah dan 14 miliar rupiah. Selain itu, potensi sirkularitas ini dapat pula menciptakan 2,4 juta lapangan pekerjaan baru di mana 73%-nya bisa untuk wanita terutama dalam pekerjaan waste management.

Gambar 1.1 Potensi Sirkularitas dalam PDB dan Penciptaan Lapangan Pekerjaan

 Sumber : Kementerian PPN/Bappenas

Kemudian, sistem ekonomi sirkular juga diprediksi akan meningkatkan jumlah savings rumah tangga setiap tahunnya dalam upaya mereduksi jumlah sampah makanan konsumen dan memproses sampah makanan yang masing-masing sejumlah satu juta rupiah dan seratus ribu rupiah. Terakhir, kesempatan sirkularitas juga akan memperbaiki keseimbangan lingkungan dengan mencegah emisi gas karbon ekuivalen rumah kaca yang masing-masing sebesar 20 juta ton dan 3,9 juta ton pada tahun 2030. Di sisi lain, hal ini juga berpotensi dalam mengurangi jumlah penggunaan air untuk produksi makanan sebesar 400 juta meter kubik yang dapat dipergunakan untuk keperluan lain, seperti kebutuhan air minum penduduk Indonesia.

Gambar 1.2 Potensi Sirkularitas dalam Savings dan Reduksi Emisi Gas Karbon

Sumber : Kementerian PPN/Bappenas

Walaupun demikian, terdapat beberapa penghalang utama yang mencegah pemberdayaan ekonomi sirkular di Indonesia. Kebiasaan masyarakat yang sukar diubah berupa budaya dan adat yang telah mengakar dalam diri mereka, seperti kecenderungan untuk melakukan food oversupply dalam perayaan khusus. Selain itu, keengganan masyarakat untuk berpihak pada produk yang lebih ramah lingkungan juga sangat berpengaruh. Penetrasi produk yang masih rendah di pasar pada penggunaan pupuk alami, seperti bioslurry masih rendah dan subsidi bahan bakar dari pemerintah yang cenderung mengutamakan gas LPG dibandingkan dengan produk alternatifnya, yakni biogas.

Terlepas dari beberapa penghalang utama pemberdayaan sistem ekonomi sirkular di Indonesia, terdapat beberapa solusi potensial sehingga implementasinya dapat segera diwujudkan. Pertama, meningkatkan upaya kolaboratif antara pemerintah dengan sektor swasta, maupun masyarakat sipil dengan mengampanyekan pentingnya implementasi sistem ekonomi sirkular di Indonesia untuk mengurangi risiko food waste dengan menyoroti manfaat-manfaat dan kesempatan baru di masa depan apabila sistem ekonomi transisi ini dapat diintegrasikan dalam kehidupan perekonomian.

Kedua, pemerintah dapat mendorong sektor rumah tangga untuk mendorong food processing. Suplai makanan berlebih yang pada akhirnya berpotensi menjadi sampah dapat dimanfaatkan untuk menciptakan produk baru yang memiliki manfaat dan mengurangi risiko food waste. Upaya ini juga menjamin keamanan konsumsi dengan produk yang lebih higienis dan bergizi tinggi. Kemudian, hasil produk food processing ini juga melahirkan peluang baru bagi bisnis kecil untuk berkembang dan mendapatkan profit.

Terakhir, pemerintah dapat menggalakan investasi pembangkit anaerobic digesters di Indonesia. Anaerobic digesters dapat memajukan peran biogas dalam menggantikan peran gas LPG dan bio-slurry dapat menjadi solusi alternatif untuk pupuk kompos. Sebagai pertimbangan, pemerintah dapat mengurangi subsidi energi terhadap bahan bakar fosil sehingga meningkatkan peran biogas sebagai bahan bakar terbarukan menjadi lebih kompetitif di mata konsumen.

Bappenas mencanangkan perencanaan matang dalam mendukung low carbon development plan yang mengakselerasi transisi ekonomi linear-sirkular di Indonesia. Ekonomi sirkular telah diadopsi ke dalam visi Indonesia 2045 dan telah mengintegrasikannya ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Hal ini menjadi langkah yang revolusioner mengingat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil emisi gas rumah kaca tertinggi yang menempati posisi keempat di dunia pada tahun 2020 (Greenpeace International, 2020).

Komitmen bersama yang berkelanjutan antara pemerintah dengan masyarakat tidak akan terjadi sebelum kesadaran dari kedua belah pihak sudah mengakar kuat. Hal ini dapat berjalan dengan sukses apabila kedua pihak saling selaras dalam satu kepentingan sehingga mewujudkan objektif yang sama. Oleh karena itu, pemerintah dapat menjadi fasilitator yang siap dalam mewujudkan masyarakat yang berwawasan tinggi. Dukungan pihak ketiga dalam hal ini juga diperlukan, yakni melalui peran para aktivis lingkungan, seperti Jeda Iklim yang rutin menyuarakan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim kepada masyarakat dan pemerintah sekaligus untuk bertindak dengan penuh kepedulian terhadap Bumi.

Bersamaan dengan itu, potensi ekonomi sirkular ini membawa dampak positif yang besar terhadap seorang muslim. Seorang muslim dapat lebih mawas diri terhadap nilai ketaatan yang diperintahkan oleh Allah Swt sehingga dirinya merasa selalu terpanggil untuk lebih dekat dengan-Nya dalam melaksanakan kewajiban tersebut. Hal ini dapat melahirkan ketenangan batin berupa rasa khusyuk, aman, dan tentram sehingga dijauhkan dari keinginan untuk melakukan perbuatan dosa, kejahatan, dan segala perbuatan yang merusak.

Dengan mendukung sistem ekonomi sirkular, seorang muslim memiliki kesadaran dan perhatian yang tinggi akan pentingnya mereduksi risiko food waste. Dia paham betul terhadap permasalahan lingkungan yang sedang terjadi, berusaha untuk menanggulangi dampaknya, dan mencegah potensi kerusakan baru. Dengan demikian, transisi menuju ekonomi sirkular diperlukan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih tangguh, lebih baik, dan lebih sejahtera di masa depan.

Wallahu a’lam bishawab.

 

Referensi

Arifin, M., & Amhar. (2013). Islamic Eco-Ethics: Landasan Filosofis Ideal Implementasi Ekonomi Hijau di Indonesia. MPRA Paper. https://ideas.repec.org/p/pra/mprapa/61437.html

Ciocoiu, C. N. (2011). Integrating Digital Economy And Green Economy: Opportunities For Sustainable Development. Theoretical and Empirical Researches in Urban Management, 6(1), 33–43. https://ideas.repec.org/a/rom/terumm/v6y2011i1p33-43.html

Ei, Bunda. (2018). Homemade Yoghurt (2 Bahan Saja). https://cookpad.com/id/resep/4331219-homemade-yoghurt-2-bahan-saja

Greatgiantpinneaple.com. (2013). Great Giant Pineapple Zero WasteActions. https://www.greatgiantpineapple.com/index.html

Greatgiantfoods.com. (2021). Implementing Green Practices Through Sustainability Programs. https://www.greatgiantfoods.com/sustainability/environment/

Helmy, Mohammad. (2015). Promoting Anaerobic Digestion Of Municipal Solid Waste In Indonesia. https://www.unescap.org/sites/default/files/Indonesia%20Solid%20Waste%20Association%2C%20Indonesia.pdf

Kasztelan, A. (2017). Green growth, green economy and sustainable development: Terminological and relational discourse. Prague Economic Papers, 26(4), 487–499. https://doi.org/10.18267/j.pep.626

Kementerian PPN/Bappenas. (2021, February 8). The Economic, Social, And Environmental Benefits Of A Circular Economy In Indonesia. https://www.id.undp.org/content/indonesia/en/home/library/THE-ECONOMIC-SOCIAL-AND-ENVIRONMENTAL.html

Kompas.com. (2020, 19 September). Resep Kimchi Sawi Putih dari Chef Profesional. https://www.kompas.com/food/read/2020/09/19/090700275/resep-kimchi-sawi-putih-dari-chef-profesional?page=all

Kunos, I., Kariman, S., & Meirmanova, A. (2020). Green Economy Sustainability in the UAE and Agrarian Leadership. Theory Methodology Practice (TMP), 16, 51–60. https://ideas.repec.org/a/mic/tmpjrn/v16y2020i02p51-60.html

Priadi, Cindy., & Suwartha, Nyoman. (2015). Sustainability Of Anaerobic Digestion For Municipal Biowaste In Indonesia. https://www.researchgate.net/publication/287209897_Sustainability_of_anaerobic_digestion_for_municipal_biowaste_in_Indonesia

Ungur, C. (2019). Enhancing Capacity Of Green Economy By Education. Contemporary Economy Journal, 4(2), 120–128. https://ideas.repec.org/a/brc/brccej/v4y2019i2p120-128.html