Industri Halal di Dunia serta Potensi dan Perkembangannya di Indonesia

Industri Halal di Dunia serta Potensi dan Perkembangannya di Indonesia

Tentang Industri Halal Dunia dan Peluangnya untuk Indonesia

Selain diterapkan pada negara-negara mayoritas penduduk muslim, ternyata perkembangan industri halal terbilang cukup pesat di negara mayoritas non-muslim. Hal ini dikarenakan bertumbuhnya permintaan akan produk halal diseluruh dunia. Bahkan terdapat beberapa sektor dari halal lifestyle yang memberikan kontribusi besar dalam perekonomian dunia, antara lain; makanan, finance, travel, kosmetik, pendidikan, fashion, media rekreasi, serta seni dan kebudayaan.

Nilai ekonomi industri halal pada tahun 2015 menurut Global Islamic Economic Report  mencapai 1,8 triliun dolar AS. Jaimil Bidin,  CEO Halal Development Corporation (HDC) Malaysia, menjelaskan bahwa seluruh umat muslim harus memenuhi kebutuhan dasarnya akan kebutuhan halal. Jika industri halal hanya dijalankan oleh beberapa negara, maka kebutuhan produk halal dunia tidak akan terpenuhi.

Di Indonesia, industri halal belum diterapkan secara maksimal. Padahal Indonesia adalah negara dengan konsumen terbesar produk makanan halal dunia dengan nilai ekonomi mencapai 197 miliar dolar AS, disusul Turki yang mencapai 100 miliar dolar AS. Ironisnya, Indonesia sendiri masih berada di peringkat 10 dalam pasar Industri halal dunia. peringkat pertama dipegang oleh Malaysia yang sekarang ini sedang mengembangkan industri halalnya secara masif. Lalu peringkat selanjutnya adalah Emirat Arab, Bahrain, Saudi Arabia, Pakistan, Oman, Kuwait, Qatar, dan Jordan. Padahal, jika digerakkan dengan baik Indonesia sangat berpotensi sebagai peringkat pertama dalam pasar industri halal dunia, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, dengan jumlah penduduk 85,2 persen atau sebanyak 200 juta jiwa dari total penduduk Indonesia yang mencapai 235 juta jiwa. Angka tersebut setara dengan jumlah muslim di enam negara Islam, yaitu Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Malaysia dan Turki.

Selain di negara-negara mayoritas islam, negara-negara minoritas islam seperti Thailand, Korea Selatan, Rusia, Meksiko, Jepang, dan Spanyol telah memiliki kegiatan industri halal di negaranya. Hal ini disebabkan karena banyaknya konferensi dan seminar tentang industri berbasis halal. Melihat pertumbuhan umat muslim dan permintaan produk halal yang terus naik dengan siginifikan, negara-negara ini menganggap bahwa industri halal merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Bahkan Indonesia menjadi rebutan sasaran pasar produk halal karena jumlat umat muslim nya yang banyak. Oleh karena itu sayang sekali jika Indonesia tidak segera mengembangkan industri halal dan meraih pasar tersebut.

Kementrian Perindustrian tentang Industri Halal

Pada Desember 2016 lalu, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Imam Haryono mengatakan akan mengembangkan kawasan industri halal Indonesia. Kamar dagang dan Industri Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) bersama-sama telah menyiapkan regulasinya. Semua prosedurnya akan diatur, bagaimana sertifikasinya supaya ketika diberi label halal di kawasan industri halal, benar-benar ditanggung halal. Sampai ke transportasinya. Imam Haryono juga mengatakan, bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan zona industri halal karena meningkatnya permintaan produk halal terutama untuk makanan, minuman dan juga kosmetik. Kemenperin akan melakukan uji coba Industri halal untuk makanan dan minuman terlebih dahulu sebagai langkah awal. Lalu baru dicoba kawasan-kawasan industri selanjutnya.

Untuk memulai industri halal, dibutuhkan investasi yang tidak sedikit. Mungkin lebih besar dari jenis industri yang lain. Karena banyak yang harus menjadi perhatian ketika menerapkan industri ini. produk halal bukan hanya identik bagi masyarakat muslim saja, karena produk halal diharapkan diartikan dengan proses pembuatan produk dengan treatment  yang lebih baik karena jaminan sebuah produk tersebut halal atau tidak ditentukan oleh banyak hal, dimulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, packaging, hingga ke logistiknya.

Imam mengatakan, Pulau Jawa adalah daerah yang potensial untuk dikembangkan sebagai zona industri halal dikarenakan sudah banyaknya kawasan industri yang tersedia. Kementrian Perindustrian pun mengharapkan investasi yang masuk berasal dari pengusaha dalam negeri sebagai langkah awalnya. Imam juga mengatakan bahwa sudah ada sinyal positif dari investor dan pelaku usaha lokal. Pengembangan zona kawasan industri halal ini bukan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun juga bertujuan memiliki produk yang berorientasi ekspor terutama ke negara-negara di kawasan Timur Tengah yang saat ini masih didominasi oleh produk halal buatan Tiongkok dan Thailand.

Penulis : Yuza Yasya Aliyya (Staff  Biro Bisnis dan Proyek)

Referensi :

http://kemenperin.go.id/artikel/13969/Indonesia-Kembangkan-Kawasan-Industri-Halal

http://mlife.id/2016/09/24/peluang-industri-halal-indonesia/

http://edition.cnn.com/2016/08/29/world/halal-industry/