Economic Value of Time: Hijrah dari Riba Menuju Produktivitas

Oleh : Nuruddin Asyifa (Bisnis Islam 2020) dan Panji Muhammad Iqbal Raharjo (Bisnis Islam 2020), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2021

 

A dollar today is worth more than a dollar in the future because a dollar today can be invested to get a return”

Demikianlah, argumentasi prinsip keuangan konvensional yang mendeskripsikan keuangan dengan konsep time value of money. Uang dapat dijadikan alat pemenuhan kebutuhan kita dalam aktivitas sehari-hari, seperti membeli makanan, tempat tinggal, kendaraan bermotor, pakaian, atau gadget yang bahkan sering kita pakai saat ini. Tidak heran, keuangan memang menjadi hal penting dalam kehidupan kita.

Masyarakat memang mengenal uang, tetapi sedikit masyarakat yang memahami nilai dari uang yang sebenarnya. Masyarakat sering memahami uang hanyalah sebagai alat pembayaran yang memiliki nilai tetap setiap waktu. Namun, sebenarnya nilai uang akan terus berubah dari tahun ke tahun yang dipengaruhi oleh beberapa faktor ekonomi yang berkaitan dengan penentuan harga produk dan daya beli, contohnya seperti inflasi. Perbedaan nilai uang dari waktu ke waktu inilah yang biasa disebut time value of money (nilai waktu dari uang).

Lebih jelasnya, time value of money atau istilah ekonomi sering disebut positive time preference adalah suatu konsep dimana nilai uang pada masa sekarang dapat dikatakan lebih berharga, jika dibandingkan dengan nilai uang dengan nominal yang sama di masa yang akan datang. Sebagai contoh, nominal uang Rp9.000 pada tahun 2000 pasti nilainya berbeda dengan nominal uang Rp9.000 di tahun 2021. Jika pada tahun 2000 uang senilai Rp9.000 dapat digunakan untuk membeli satu kilogram telur ayam, maka di tahun 2021 ini uang senilai Rp9.000 tidak bisa lagi digunakan untuk membeli satu kilogram telur ayam, karena harga telur ayam telah mengalami kenaikan hingga Rp26.000 per kilogramnya (PIHPS, 2021).

Konsekuensi tersebut, uang harus selalu bertambah karena berjalannya waktu untuk mengkorelasikan antara nilai uang dan waktu. Contoh lainnya seperti transaksi riba jahiliyah, sering kita temui adalah pinjaman online yang mana biaya atau hutang yang dibayar lebih dari pokoknya dengan bunga yg semakin membengkak akibat nasabah maupun peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan. Selain itu transaksi riba fadhl, yaitu ketika jual beli valuta asing secara forward seperti penukaran rupiah dengan dolar secara tertunda yaitu ketika mata uang rupiah diserahkan saat ini, sedangkan mata uang dolar kita beli diterima saat satu bulan mendatang lebih rendah dibandingkan apa yang kita serahkan. Implementasi tersebut menjelaskan bahwa time value of money bersifat spekulatif atau adanya ketidakpastian dan mendasarkan perhitungan pada bunga atau riba.

Dalam pandangan Islam mengenai waktu, banyak sekali sumber landasan hukum yang ada baik di Al-Qur’an maupun Sunnah yang menjelaskan tentang transaksi spekulatif dan penimbunan harta serta penambahan uang karena perbedaan waktu dengan adanya persentase bunga. Jumhur ulama’ sepakat bahwa bunga (riba) dan transaksi spekulatif adalah perbuatan haram yang membawa kemudharatan dan dosa besar. Ayat yang paling sering digunakan menjadi rujukan adalah Al-Qur’an Surah Al-Luqman ayat 34, Allah Swt berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Konsep time value of money menyatakan bahwa uang memiliki nilai waktu tidak dibenarkan dalam Islam. Disisi lain, dalam Islam sendiri mengenal economic value of time, yakni sebuah konsep yang menyatakan bahwa memaksimumkan nilai ekonomis suatu dana pada periodik waktu. Waktu memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam dimana setiap individu diberikan waktu yang sama dalam sehari dan bergantung pada bagaimana individu tersebut memanfaatkanya sehingga akan berbeda secara kualitas. Seorang yang dapat memanfaatkan waktunya dengan baik akan mendapat timbal balik yang serupa dengan usahanya sehingga mendapatkan keuntungan di dunia tanpa memandang suku, agama, dan ras. Jika dikaitkan dengan ekonomi, proses optimalisasi waktu akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang produktif dan juga return yang tinggi. Hal ini telah dijelaskan dalam Surah Al-Ashr ayat 1-3, yakni

 

وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”.

 

Konsep economic value of time berkembang pada abad ketujuh masehi dimana pada periode tersebut emas dan perak digunakan sebagai alat tukar untuk membiayai segala macam perbendaharaan kebutuhan masyarakat. Logam perak dan emas memiliki nilai intrinsik karena merupakan salah dua unsur mulia yang dapat dihargai sebagai alat tukar. Nilai intrinsik inilah yang mengindikasikan transaksi sebagai permintaan terhadap uang dibandingkan dengan mekanisme transaksi secara langsung dalam hubungan debitur dan kreditur yang bersangkutan.

Secara komprehensif, economic value of time dengan time value of money memiliki perbedaan dalam lima kriteria, yakni konsep uang, kontrak kerja sama, manajemen risiko, orientasi, serta tujuan. Pertama, konsep uang pada time value of money menggambarkan uang sebagai barang yang diperjual-belikan. Hal ini mengimplikasikan suatu beban yang dipikul oleh pihak peminjam uang berupa biaya wajib yang harus dibayarkan kepada pemberi pinjaman, yakni bunga. Pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal atas peminjaman uang termasuk ke dalam perbuatan riba. Di sisi lain, riba menjadi salah satu dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah Swt di mana salah satunya dapat meniadakan keberkahan harta seseorang. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 276 yang menekankan bahwa sumber harta yang baik berasal dari sesuatu yang baik pula, bukan dari hasil riba. Dalam Islam, uang hanya bertindak sebagai alat tukar yang tidak dapat ditetapkan harganya diawal.

Kemudian, kontrak kerja sama juga menjadi kriteria pembeda antara keduanya dimana dalam time value of money sudah jelas bahwa biaya “beban” yang diterima oleh peminjam uang akan menimbulkan tambahan berupa bunga yang merupakan salah satu dosa besar dengan konsekuensi mengerikan dalam Islam. Sedangkan, dalam Islam pembalasan budi terhadap shahibul maal (investor) ditetapkan dalam bentuk nisbah bagi hasil (pembagian hasil dengan cara Islam untuk membagi keuntungan dengan rata dan sesuai) yang dinilai lebih adil jika dibandingkan dengan riba. Selain itu, sistem manajemen risiko antara keduanya juga sangat berbeda. Islam sangat memperhatikan keadilan antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi dan memastikan bahwa kedua pihak mendapatkan hak mereka sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Time value of money melibatkan perilaku investor yang menginginkan keuntungan yang mutlak dalam kondisi untung maupun rugi. Padahal untung maupun rugi merupakan probabilitas yang tentu saja muncul dalam setiap kegiatan usaha. Sebaliknya, economic value of time memandang bahwa shahibul maal (investor) juga ikut menanggung segala bentuk risiko yang terjadi, baik untung maupun rugi sehingga hal ini lebih adil bagi peminjam maupun pemberi pinjaman.

Orientasi yang berfokus pada keuntungan mutlak mencerminkan perilaku seseorang yang tidak memiliki worldview Islam. Ketakutan terhadap kerugian membuat seseorang menutup mata terhadap realita yang terjadi dan berpotensi untuk merugikan dan menzalimi hak peminjam. Hal ini berbanding terbalik dengan bagaimana economic value of time mengenalkan konsep risk-sharing (sesama peserta saling menanggung di antara pada peserta lainnya apabila salah satu peserta mengalami musibah) sebagai ajang pendorong semangat, gotong royong, dan keadilan. Terakhir, dalam pandangan Islam, tujuan dari economic value of time ini untuk membuat seorang individu sadar bahwa terdapat urgensi untuk mementingkan kesejahteraan akhirat disamping memaksimalkan kesejahteraan di dunia. Tindakan adil memungkinkan kedua belah pihak agar mencapai win-win solution dapat mendatangkan keberkahan dan pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt. Hal yang demikian dapat tercapai apabila seseorang menjauhi larangannya dalam berbuat riba, seperti yang dikenalkan oleh time value of money. Prinsip time value of money identik dengan kesejahteraan dunia semata dimana individu sering menutup mata atas keharaman dosa riba.

Implementasi dalam aktivitas ekonomi dan keuangan dengan menerapkan konsep economic value of time tersebut adalah optimalisasi berbasis rasionalitas secara menyeluruh untuk ke arah falah (kemenangan baik dunia maupun akhirat). Oleh karena itu, economic value of time lebih mengenal uang sebagai flow concept, artinya uang harus selalu berputar dalam perekonomian dan tidak boleh dibiarkan menganggur dalam waktu yang lama. Konsep ini sesuai dengan ajaran Islami yang efisien, lebih menekankan pada konsep need (kebutuhan) daripada want (keinginan) dalam menuju maslahah, dan adil. Selain itu, konsep ini menjelaskan mengapa Islam membolehkah deferred payment (menunda pembayaran) pada barang dagangan, harga barang kredit lebih tinggi dari pada pada pembelian tunai. Bukanlah semata-mata karena uang, tetapi terdapat waktu yang telah dialokasikan dan membawa risiko tersendiri.

Pada masa seperti ini, kondisi ekonomi masyarakat mengalami kesulitan besar akibat kebijakan pemerintah yang berupaya memutus rantai pandemi virus Covid-19. Kebijakan yang diambil antara lain, seperti physical distancing, social distancing, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan yang terakhir penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) jilid 4. Kesulitan ekonomi ini membawa pengaruh pada penurunan aktivitas ekonomi dan konsumsi.

 

Gambar 1: Kurva Pergeseran Supply dan Demand Akibat Covid-19

Sumber:  Surico dan Galeotti (2020)

 

Menurut Surico dan Galeotti, di awal kemunculan Covid-19, dengan adanya physical distancing ataupun pengetatan dan pembatasan aktivitas masyarakat lainnya, pandemi ini memberikan shock terhadap sisi penawaran (supply) dalam perekonomian sehingga berakibat terjadi penurunan produksi. Kemudian dengan stay at home tersebut, konsumen hanya akan melakukan pembelian barang yang pokok dengan catatan bisa dilakukan segera sehingga berdampak pada sisi permintaan (demand) dan secara berurutan produksi barang pokok pun mengalami penurunan kembali. Perilaku konsumen dalam konsumsinya tersebut disebabkan adanya ketidakpastian dalam menghadapi keberlangsungan pandemi. Selain itu, ketergantungan semua perusahaan atau pelaku usaha terhadap arus kas (cash flow) akan mengalami keterbatasan likuiditas untuk memenuhi kewajiban kepada pihak ketiga.

 

Gambar 2: Kurva Kondisi Stagnan Ekonomi Akibat Covid-19

Sumber:  Surico dan Galeotti (2020)

 

Selanjutnya, proses penurunan perekonomian yang berantai tersebut menunjukkan bahwa bencana yang ditimbulkan virus Covid-19 ini bukan hanya menimbulkan guncangan penurunan pada fundamental ekonomi riil, tetapi juga merusak kelancaran mekanisme pasar dan membentuk semacam “tembok penghalang” antara permintaan dan penawaran. Adanya kontraksi dalam pasokan yang mengarah dalam permintaan, pada akhirnya melenyapkan surplus perekonomian. Mengingat bahwa aspek-aspek dasar ekonomi yaitu supply, demand dan supply-chain telah terganggu, maka dampak krisis akan dirasakan secara merata ke seluruh lapisan atau tingkatan masyarakat. Karena ketahanan setiap lapisan atau tingkatan tersebut berbeda-beda, masyarakat ekonomi golongan menengah ke bawah tentu menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampaknya. Dampak di sektor riil tersebut kemudian akan menjalar ke sektor keuangan yang tertekan (distress) karena sejumlah besar investee akan mengalami kesulitan pembayaran kepada investornya.

Dari sinilah, kita dapat mengimplementasikan pula prinsip economic value of time dan mengoptimalkan peran kebijakan ekonomi dan keuangan sosial Islam yang dapat ditawarkan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Bagi masyarakat yang menerapkan konsep economic value of times, tentu akan mengoptimalkan waktunya agar lebih produktif di tengah keterbatasan sekarang ini.  Seperti, memanfaatkan waktunya untuk mencari penghasilan lain atau tambahan, memperbanyak beribadah, dan mempererat kekeluargaan dengan keluarga dan sesama tetangga.

Melalui optimalisasi peran kebijakan ekonomi dan keuangan sosial Islam, masyarakat dapat mengimplementasikan prinsip economic value of time berbasis rasionalitas secara menyeluruh untuk ke arah falah. Umat Islam dapat memberikan peran terbaiknya juga melalui berbagai bentuk atau model filantropi Islam dalam ekonomi dan keuangan syariah. Diantaranya berupa perintah untuk berinfaq, bershadaqah, berzakat, dan berwakaf, yang dapat berimplikasi terhadap peningkatan iman kepada Allah, menumbuhkan rasa kemanusiaan yang tinggi, dan mengembangkan harta yang dimilikinya.

Selain masyarakat, pemerintah juga dapat mengimplementasikan economic value of time dalam penerapan kebijakannya. Kebijakan yang mengacu pada economic value of time, akan mempercepat perputaran uang kepada masyarakat dan memberikan kebermanfaatan keberlanjutan. Di tengah-tengah krisis, tidak sedikit sektor usaha atau Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berjuang agar tetap eksis. Usaha ini seringkali sulit bertahan karena keterbatasan permodalan. Selain itu, dengan adanya pembatasan kegiatan masyarakat menyebabkan kurangnya kegiatan produktif karena hilangnya sebagian pekerjaan dan kegiatannya. Oleh karena itu dalam memulihkan ekonomi akibat pandemi Covid-19 tersebut, pemerintah dapat melakukan upaya pengembangan masyarakat dan penguatan potensi perdagangan digital atau e-commerce yang berorientasi pemberdayaan dan memberikan bantuan modal usaha unggulan kepada UMKM yang diikuti dengan transaksi pinjaman qardhul hasan (tidak mengambil manfaat, namun ditekankan untuk dibayarkan kembali).

Pemberian modal juga dapat dilakukan dengan beberapa alternatif kebijakan, seperti pemberian stimulasi tambahan relaksasi perbankan syariah dan restrukturisasi atau penangguhan pembayaran kredit/pembiayaan syariah selama beberapa bulan ke depan. Sehingga, masyarakat dapat terus produktif dan mengembangkan pelaku ekonomi lokal yang mandiri dan kuat di tengah keterbatasan pada masa krisis seperti ini. Apabila program-program dan implementasi tersebut benar-benar dapat digalakkan, maka diharapkan akan membantu surplus ekonomi terbentuk kembali sehingga percepatan pemulihan ekonomi dapat terwujud.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa economic value of time menjadi sesuai dengan nilai Islam mengingat prinsipnya yang berlandaskan etika yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an maupun As-Sunnah demi mencapai falah, yakni mencapai kesuksesan dan kesejahteraan baik di dunia maupun akhirat. Selain itu, penekanan pada kebutuhan daripada keinginan mengarahkan individu untuk mengendalikan dan menyeimbangkan hawa nafsunya untuk mengalokasikannya dalam hal yang baik dan diridhai Allah Swt serta mencegah ke-mudharat-an. Tidak kalah penting, economic value of time mengarahkan individu untuk mencegah perbuatan dosa besar yang dimurkai oleh Allah Swt, yakni perbuatan riba. Hal ini menjadi hikmah tersendiri kepada setiap individu dimana dengan mencegah perbuatan riba maka sama saja dengan menyelamatkan diri dari panasnya api neraka, mencegah perbuatan tamak, dan membuat harta menjadi berkah.

 

Referensi

Akacem, M. and Gillian, L. (2002). “Principles of Islamic Banking: Debt Versus Equity Financing”, Middle East Policy, Vol. 9, No. 1, pp. 127–131.

Ascarya. (2020). The Role of Islamic Social Finance in Times of Covid-19 Outbreak.

PEBS-UI. h. 29-30.

Azwar. Solusi Ekonomi dan Keuangan Islam di Masa Pandemi Covid-19.

https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel-dan-opini/solusi-ekonomi-dan-ke uangan-islam-saat-pandemi-covid-19/. Diakses pada tanggal 4 Mei 2020.

Baldwin, R., Mauro, B.W.D. (2020). Economics in the Time of Covid-19. NEW E-BOOK. The Graduate Institute Geneva. p. 1-10.

Campante, F. and Drott, D.Y. (2015). “Does Religion Affect Economic Growth and Happiness? Evidence from Ramadan”. The Quarterly Journal of Economics, Vol. 130, No. 2, pp. 615–658.

Dalimunthe, D.M.J. and Muda, I. (2017). “The Empirical Effect of Education and Training to the Performance of Employees”. International Journal of Applied Business and Economic Research, Vol. 15, No. 24, pp. 5423–5437.

Institut Tazkia, “Tujuh Paket Ekonomi dan Keuangan Syariah Mengatasi Dampak Krisis Covid-19”, (April 2020): h. 1-7.

Iskandar, A., Aqbar, K. (2019). Kedudukan Ilmu Ekonomi Islam di Antara Ilmu Ekonomi dan Fikih Muamalah: Analisis Problematika Epistemologis. Nukhbatul ‘Ulum: Jurnal Bidang Kajian Islam, Vol. 5, No. 2 (2019), h. 88-105.

Kurniawan, Y. (2021, January 6). Apa Beda “Time Value of Money” dengan “Economic Value of Time” ? — Yusuf Kurniawan. https://yusufkurniawan.com/apa-beda-time-value-of-money-dengan-economic-value-of-time/.

Khoir, M. (2016). “Time Rate of Money in Islamic Economic Perspective”. Journal of Sharia Economics, Vol. 42, No. 2, pp. 71–84.

Muda, I. (2017). “The Effect of Allocation of Dividend of the Regional Government-Owned Enterprises and the Empowerment Efforts on the Revenue of Regional Government: The Case of Indonesia”. European Research Studies Journal, Vol. XX, No. 3A, pp. 223–246.

Muda, I., Weldi, M., Siregar, H.S. and Indra, N. (2018). “The Analysis of Effects of Good Corporate Governance on Earnings Management in Indonesia with Panel Data Approach”. Iranian Economic Review, Vol. 22, No. 2, pp. 657–669.

Muda, I. and Hasibuan, A.N. (2018), “Public Discovery of the Concept of Time Value of Money with Economic Value of Time”, Proceedings of MICoMS 2017 (Emerald Reach Proceedings Series, Vol. 1), Emerald Publishing Limited, Bingley, pp. 251-257. https://doi.org/10.1108/978-1-78756-793-1-00050

Mukhtar, M.M., Nihal, H.M.S., Rauf, H.A., Wasti, W. and Qureshi, M.S. (2014). “Socio-Economic Philosophy of Conventional and Islamic Economics: Articulating Hayat-e-Tayyaba Index (HTI) on the Basis of Maqāṣid al-Sharī’ah”. Islamic Economic Studies, Vol. 22, No. 2, pp. 65–98.

Paolo Surico and Andrea Galeotti, “The economics of a pandemic: The Case of Covid-19”, Working Paper. London Business School (2020): p. 69-73.

Richard Baldwin and Beatrice Weder di Mauro, “Economics in the Time of Covid-19”, New E-Book. The Graduate Institute Geneva (April 2020): p. 1-10. 5Azwar. Solusi Ekonomi dan Keuangan Islam di Masa Pandemi Covid-19. https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel-dan-opini/solusi-ekonomi-dan-keuangan-islam-saat-pandemi-covid-19/ Diakses pada tanggal 4 Mei 2020.

Ulfah, N. (2020). Economic Value Of Time. 1–8. https://www.academia.edu/17207205/Economic_Value_Of_Time.

World Bank, “World Bank Group and COVID-19 (coronavirus)”. https://www.worldbank.org/en/who-we-are/news/coronavirus-covid19. Diakses pada tanggal 4 Mei 2020.