Challenges Facing Islamic Banking

CHALLENGES FACING ISLAMIC BANKING

By: Untung Handayani Ramli

Pada masa awal sejarah Islam, para muslim telah mendirikan sistem tanpa bunga untuk memobilisasi sumber daya agar dapat membiayai aktivitas produktif dan kebutuhan masyarakat.[1] Kemudian, sistem tersebut berjalan efektif dalam kemajuan peradaban Islam. Menurut S. D. Goitein, partnership dan profit-sharing lebih baik dibandingkan dengan pinjaman dan pendanaan berbasis bunga yang menjadi basis perdagangan dan industri pada abad ke-12 dan 13 di wilayah Mediterania.[2] Kemudian, berkembang praktik keuangan yang berbasis bunga di barat hingga merajahi sistem keuangan modern saat ini.

Untuk mengimbanginya maka para ulama muslim berusaha untuk kembali mengembangkan keuangan Islam. Sejarah awal keuangan Islam modern dimulai dengan pengaplikasian prinsip Islam dalam Bank Mit Ghamar di Mesir pada tahun 1963 hingga 1967. Atas inisiasi tersebut maka berbagai upaya terus dilakukan seperti bermunculannya berbagai macam bank Islam yang di antaranya ialah Dubai Islamic Bank pada tahun 1975 di Dubai, UEA. Salah satu sejarah penting dalam perkembangan keuangan Islam di dunia ialah dengan didirikannya Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1975 yang telah diwacanakan sejak konferensi oleh negara Islam di Arab Saudi, pada Desember 1973. Kemudian, tren perkembangan perbankan Islam terus meningkat dan menjalar ke seluruh dunia termaksud Indonesia.

Sistem perbankan Islam dapat dilihat sebagai realitas yang terus berkembang. Atas hal tersebut maka perlu adanya evaluasi yang objektif atas permasalahan yang dihadapi. Dalam buku yang berjudul “Thirty Years of Islamic Banking: History, Performance, and Prospects” oleh Munawar Iqbal dan Philip Molyneux, setidaknya terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh sistem perbankan Islam saat ini dan perlu untuk diwaspadai. Secara garis besar terbagi atas dua, yaitu tantangan secara teoritikal dan secara praktikal.

Theoritical Challenges

Seluruh perbankan Islam (tanpa pengecualian) memiliki aspek tambahan yang membedakannya dengan perbankan konvensional, yaitu tidak adanya produk yang diluncurkan sebelum mendapatkan persetujuan dari ulama syariah. Kondisi tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, walaupun praktik Bank Islam telah berjalan kurang lebih 30 tahun. Akibatnya, perkembangan industri keuangan Islam menjadi lambat dan memunculkan berbagai tantangan isu sebagai berikut.

a. Partisipasi dalam pasar modal

Perkembangan pasar modal kini menuntut keuangan Islam dapat terlibat dalam mengarahkan masyarakat berinvestasi secara syariah. Namun, kondisi saat ini masih sering kali terhambat akibat masalah pemenuhan unsur kesyariahannya sehingga orang-orang masih cenderung untuk memilih berinvestasi secara konvensional.

b. Kelalaian peminjam dan isu terkait denda

Akad murabahah menciptakan kewajiban bagi nasabah pembeli dalam perbankan untuk membayar lunas. Perjanjian dalam murabahah menghendaki pembeli untuk membayar dalam jumlah yang tetap (fixed liability). Ketika nasabah pembeli default, maka bank tidak dapat menambahkan tambahan pembayaran kepada nasabah karena terdapat riba sehingga nasabah pembeli yang kurang bermoral akan terinsentif melakukan default. Di sisi lain, penetapan denda masih menjadi perdebatan dalam aspek syariah.

c. Indeksasi

Permasalahan terkait indeksasi berangkat karena adanya tingkat inflasi yang tinggi secara terus menerus. Oleh karena itu, indeksasi masih menjadi pertimbangan para fuqoha, khususnya OIC Fiqh Academy. Namun, sejauh ini indeksasi terhadap upah dan kontrak lain dapat dipenuhi secara syariah, tetapi tidak demikian untuk utang moneter.

d. Financial Engineering

Inovasi merupakan kondisi yang wajib dilakukan oleh industri dalam bersaing satu sama lainnya, termasuk untuk perbankan Islam. Kondisi saat ini memperlihatkan bahwa bank syariah lebih banyak melakukan mirroring terhadap produk konvensional. Oleh karena itu, perlu kesepakatan ulama/ijtihad  yang lebih dalam menciptakan produk berdasarkan need approach. Salah satu contoh dalam Islam ialah penerapan bay salam yang sangat penting. Kondisi saat ini telah bergeser dimana dalam penciptaan produk didasarkan pada kebutuhan individual dan bisnis, kurang memperhatikan substansi syariah yang dikandung. Teknisi dalam keuangan modern telah mendesain instrumen seperti options, hedging, insurance pension plans, serta instrumen derivatives lainnya. Dengan demikian, bank Islam perlu mengidentifikasi kebutuhan apa yang dapat dipenuhi dari instrumen tersebut. Jika secara substansi diperlukan dalam Islam, maka perlu diadaptasi. Oleh karena itu peran dari dewan pengawas syariah sangatlah penting dalam menjamin kesesuaian setiap produk sejalan dengan Islam.

Practical Challenges: Masalah Operasional

Secara umum, bank Islam beroperasi di bawah kerangka hukum dan susunan institusi konvensional. Hal tersebut pun terlihat dengan perkembangan dual banking system yang masih mendominasi. Di banyak kasus, praktik perbankan Islam tersebut belum sesuai dengan operasi yang seharusnya. Hal tersebut membuat perbankan Islam menderita akibat kerangka hukum yang ada karena tidak sesuai dengan kebutuhan perbankan Islam. Berikut beberapa isu terkait tantangan dalam hal praktik di perbankan Islam.

a. Kerangka hukum dan kebijakan pendukung

Hukum perdagangan, perbankan, dan perusahaan di hampir semua negara Islam masih banyak mengikuti pola Barat. Hukum tersebut berisi ketentuan yang menyempitkan cakupan aktivitas perbankan Islam dalam batasan perbankan konvensional. Untuk dapat menstrukturisasi perjanjian berdasarkan syariah maka dibutuhkan usaha ekstra dan juga tambahan biaya. Oleh karena itu maka kerangka hukum perbankan dan keuangan Islam haruslah meliputi hukum perbankan Islam dan hukum yang terkait institusi keuangan.

b. Regulasi dan supervisi

Regulasi dan supervisi sangat dibutuhkan dalam perbankan dikarenakan memiliki beberapa manfaat, yaitu meningkatkan transparansi ke investor, menjamin kesehatan sistem keuangan, dan meningkatkan kontrol dari kebijakan moneter. Dalam kasus perbankan syariah, terdapat tambahan dimensi supervisi yang terkait dengan supervisi syariah. Oleh sebab itu, sangat penting dalam penyediaannya. Hambatan yang mungkin dapat dirasakan ialah karena treatment yang sama antara perbankan konvensional dan Islam. Tetapi pada praktiknya perlu treatment khusus untuk perbankan Islam.

c. Perkembangan pasar uang

Banyak perbankan Islam hadir sebagai entitas tunggal, sedangkan bank konvensional telah hadir dengan jumlah yang lebih banyak. Hal tersebut berpengaruh terhadap transaksi antar-bank secara harian. Perbankan konvensional di era telekomunikasi saat ini memungkinkan terjadinya transfer jutaan dollar dari satu benua ke yang lain dalam waktu yang singkat sehingga perbankan konvensional dapat dengan mudah memperoleh dana dalam jangka pendek. Sementara kondisi perbankan Islam menunjukkan hal yang sebaliknya. Transaksi keuangan antar-bank dalam jangka pendek belum dapat tersedia dengan baik.

d. Pembentukan sumber daya manusia

Tiga aspek yang perlu mendapatkan perhatian khusus terkait sumber daya manusia ialah sebagai berikut.

  1. Kurangnya ulama yang dapat memiliki kapasitas dalam ilmu pengetahuan fiqh Islam, dan juga keuangan dan ekonomi modern.
  2. Kebanyakan manajer dalam perbankan islam tidak terlatih secara baik dalam transaksi keuangan islam. Kebanyakan hanya mengikuti pelatihan yang singkat, tetapi jarang diadakan program training secara formal yang secara penuh mempersiapkan pekerja dalam bekerja di perbankan islam.
  3. Pekerja dan manajemen dari bank Islam juga perlu untuk dilatih dalam teknik manajemen keuangan modern, khususnya terkait manajemen resiko maupun teknologi informasi.

Refrensi:

Iqbal, M., and Philip Molyneux. (2005). Thirty Years of Islamic Banking: History, Performance, and Prospects. New York: Palgrave Macmillan.

[1] Iqbal, M. and Philip Molyneux. (2005). Thirty Years of Islamic Banking. New York: Palgrave Macmillan

[2] Goitein (1971).