Worldview : Driver of Consumer Behavior

Worldview: Driver of Consumer Behavior

Pandemi COVID-19 tidak hanya memengaruhi aktivitas masyarakat sehari-hari, namun juga memengaruhi consumer behavior pada masyarakat. Perilaku konsumen yang berubah selama pandemi dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang tidak menentu. Seperti yang kita ketahui bersama, pandemi menyebabkan banyak industri mengalami kesulitan keuangan. Bahkan, tidak sedikit yang harus menutup usahanya karena sudah tidak ada lagi pemasukan atau penjualan yang dapat dihasilkan. Dikarenakan kondisi tersebut, sebagian masyarakat menahan pengeluarannya dalam mengonsumsi kebutuhannya baik itu yang bergantung kepada kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. Oleh karena itu, masyarakat menjadi lebih memperdulikan dirinya sendiri dalam membelanjakan uangnya untuk menjaga proporsi kebutuhannya terjaga walaupun secara jumlah maupun nominal tidak sebaik sebelum masa pandemi.

Kebijakan lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat aktivitas masyarakat terbatas. Aktivitas ekonomi tidak bisa dilakukan secara normal dikala PSBB berlangsung. Berdasarkan Badan Pusat Statistik dalam laporan Tinjauan BIG DATA Terhadap Dampak COVID-19, menyatakan mobilitas pekerja di DKI Jakarta bulan April 2020 untuk datang ke tempat kerja turun sebesar 73%. Hal ini mengindikasikan banyak pekerja di DKI Jakarta yang bekerja secara Work From Home (WFH) atau bahkan dirumahkan. Untuk sebagian masyarakat yang memang mendapatkan pendapatan tinggi atau masyarakat yang kaya, masih bisa dilakukan secara daring. Namun, bagi sebagian masyarakat yang memiliki pendapatan rendah, hal ini tidak bisa dilakukan. Sektor yang paling berdampak karena adanya kebijakan PSBB ini adalah sektor informal yang mayoritas terdiri dari masyarakat miskin. Dari sini, dapat terlihat bahwa ada perbedaan pendapatan yang didapatkan oleh masyarakat kaya dengan masyarakat miskin yang mengakibatkan pola konsumsi yang berbeda pula.

Bagi masyarakat yang pendapatannya tinggi, mereka mampu untuk membeli dan mengonsumsi lebih banyak barang dari masyarakat yang pendapatannya rendah. Masyarakat yang pendapatannya tinggi dapat dengan mudah membeli barang-barang yang sifatnya sekunder bahkan tersier, ketika masyarakat miskin saja kesulitan untuk membeli barang yang sifatnya primer. Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, terlihat sebuah perbedaan dalam consumer behavior masyarakat yang pendapatannya tergolong tinggi. Sejumlah masyarakat yang pendapatannya tinggi ini cenderung membelanjakan uangnya untuk kepentingan dirinya saja atau bisa disebut self-interest. Namun, sebagian lainnya tetap memikirkan orang lain walaupun dalam situasi sulit seperti saat ini. Tipe masyarakat seperti itu tidak hanya menghabiskan uangnya untuk kepentingan pribadi yang sifatnya duniawi, namun juga memikirkan untuk kehidupan akhiratnya. Sehingga, mereka akan cenderung menggunakan uangnya untuk tabungan di akhirat, seperti bersedekah kepada yang membutuhkan.. Lalu, mengapa terdapat perbedaan tingkah laku pada konsumen?

Adanya perubahan tingkah laku pada konsumen diakibatkan oleh perbedaan worldview yang dianut antar individu. Secara sederhana, worldview merupakan persepsi atau paradigma seorang individu tentang kehidupan di dunia yaitu bagaimana seseorang melihat dunia? Kemudian dengan proses pikir tersebut akan membentuk nilai yang terinternalisasi ke dalam dirinya. Nilai tersebut yang pada akhirnya akan memengaruhi bagaimana seseorang itu berperilaku nantinya. Worldview memengaruhi perilaku seseorang terhadap cara dia bermasyarakat, salah satunya adalah cara mereka melakukan aktivitas ekonomi. Contohnya, seorang anak yang terbiasa dimanjakan dengan harta orang tuanya, maka saat dia beranjak dewasa besar kemungkinan bahwa anak tersebut akan berperilaku konsumtif. Namun sebaliknya, ketika seseorang sudah diajarkan untuk menabung dan tidak menghambur-hamburkan uang, maka kemungkinan besar dia tidak akan memiliki perilaku yang konsumtif saat besar nanti.

Secara umum, worldview terbagi menjadi dua jenis yaitu Islamic worldview dan secular worldview. Worldview yang berbeda ini nantinya akan membentuk individu yang berbeda juga. Yang membedakan antara kedua worldview tersebut adalah peran kepercayaan atau agama di dalamnya. Dalam secular worldview, faktor agama akan dikesampingkan. Secular worldview lebih berfokus pada aspek material dari kesejahteraan manusia dan lebih bersifat self-interest. Namun, pada Islamic worldview faktor agama justru menjadi fokus utamanya. Akal pikiran manusia tetap digunakan namun dibatasi oleh nilai-nilai yang berasal dari ajaran Islam.

Islamic worldview dapat didefinisikan sebagai sebuah gambaran yang komprehensif atau absolut tentang Islam yang tujuannya adalah untuk menjelaskan secara holistik prinsip-prinsip Islam sedemikian rupa sehingga menjadi dasar untuk pandangan hidup yang mengakar dalam diri seseorang (Soleh Nurzaman, 2019). Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa walaupun berfokus pada aspek agama tetapi Islamic worldview tetap menggunakan akal manusia walaupun penggunaannya dibatasi. Melalui Islamic worldview ini, manusia diberikan sebuah pedoman mengenai perilaku dalam menjalani kegiatan sehari-hari dan kegiatan muamalahnya.

Dalam Islamic worldview, manusia yang mempelajari Islamic worldview memiliki karakteristik yaitu Islamic Man. Islamic Man dalam konsep Islamic Worldview lahir pada konsep manusia yang huquq. Huquq adalah dimensi dinamis dan resiprokal dari manusia yang memiliki konsep ini. Huquq mendorong manusianya tidak hanya mementingkan dirinya sendiri tapi juga mementingkan Tuhan, alam, dan sosialnya. Konsep ini dinamakan dengan self-interest, social-interest, environment-interest, dan god-interest. Sehingga, dalam berperilaku, manusia yang memiliki konsep huquq, tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk kepentingan sosial, alam, dan Allah SWT.

Al-Qur’an sendiri sudah menjelaskan konsep Islamic worldview sendiri. Islamic worldview dijelaskan pada dua surat yaitu Ali-Imran ayat 6 dan Al-A’raf ayat 11. Ali-Imran ayat 6 berbunyi,

هُوَ الَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِى الْاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاۤءُ ۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Artinya : “ Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha perkasa, Maha Bijaksana.”

Pada surat Al-A’raf ayat 11 berbunyi,

وَلَقَدْ خَلَقْنٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ لَمْ يَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ

Artinya : “Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.

Implementasi dalam aktivitas konsumsi dengan menerapkan konsep Islamic worldview adalah konsumsi berbasis kepedulian terhadap sesama. Pada masa seperti ini, banyak permasalahan yang timbul akibat mobilitas masyarakat terganggu khususnya dalam bekerja. Dengan bekerja, masyarakat dapat memenuhi konsumsinya melalui pendapatannya. Namun, karena adanya pembatasan mobilisasi dalam berinteraksi, hal ini berdampak kepada sektor-sektor pekerjaan khususnya sektor informal. Akibatnya, muncul permasalahan baru di dalam masyarakat yaitu penurunan pendapatan dan pemutusan hubungan kerja yang meningkat signifikan pada tahun 2020. Bagi masyarakat kaya yang menerapkan konsep Islamic worldview, konsumsi yang dikeluarkan pada tahun ini tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk sesama. Kepedulian terhadap sesama dapat dilakukan dengan berbagai instrumen dalam ekonomi Islam yaitu ziswaf (zakat, infak, sedekah, dan wakaf). Melalui ziswaf, transfer kekayaan dari masyarakat kaya kepada masyarakat miskin terealisasi. Akibatnya, tingkat konsumsi masyarakat miskin dapat meningkat atau pada tingkat stabil yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. Masyarakat kaya dalam aktivitas konsumsinya akibat dari Islamic worldview akan menerapkan konsumsinya berbasis tidak hanya pada dirinya sendiri namun juga pada sosial melalui instrumen seperti ziswaf dalam ekonomi Islam.

Selain masyarakat, pemerintah juga dapat mengimplementasikan Islamic worldview dalam setiap penerapan kebijakan. Kebijakan yang mengacu pada Islamic worldview, akan menciptakan kebermanfaatan yang berkelanjutan. Pada masa pandemi COVID-19, dalam memulihkan ekonomi pemerintah melakukan aktivitas belanja pemerintah (government expenditure) untuk meningkatkan konsumsi masyarakat. Secara teori makro ekonomi, dengan adanya aktivitas belanja pemerintah dapat meningkatkan konsumsi masyarakat secara agregat. Target pemerintah dalam aktivitas belanja pemerintah yaitu bantuan kepada masyarakat miskin yang terkena dampak cukup besar. Selama awal bulan pada tahun 2020, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan stimulus 3 tahap yang berfungsi untuk meningkatkan konsumsi masyarakat. Hal ini melihatkan bahwa pemerintah melakukan kebijakan untuk menjaga manusia (menjaga masyarakat) agar tidak mengalami parahnya kemiskinan. sehingga, kebijakan ini merefleksikan perilaku Islamic worldview dalam konsumsi atau belanja pemerintah yang bertujuan untuk membantu masyarakat khususnya masyarakat miskin.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *