Work Hard – Pray Hard

Oleh Harris Rizki Ananda (Ilmu Ekonomi Islam 2017), Kepala Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2019

Pendahuluan

Zaman ini sering kali kita melihat berita banyak para pejabat tinggi dan pengusaha, yang sudah bekerja keras mencapai pada posisi tersebut, tersandung kasus yang tidak beretika, seperti korupsi, skandal, penipuan, eksploitasi pekerja, dan lainnya. Semua tergiur bila berhadapan dengan uang yang disebabkan tidak ada fondasi yang kuat untuk bisa melawan nafsu akan hal duniawi tersebut. Di dunia yang penuh godaan ini, memang susah untuk mempertahankan iman kita agar tetap berjalan di jalan Allah SWT.

Namun, Islam sebagai agama yang memiliki pedoman hidup yang komprehensif dan lengkap, selalu memiliki solusi atas semua permasalahan duniawi tersebut. Akar dari permasalahan tersebut ialah buruknya akhlak yang ada dalam diri manusia. Akhlak merujuk pada kumpulan ciri-ciri karakter yang berbeda dan diterjemahkan sebagai etika atau ilmu moral (Ba`labaki, 1990: 521). Semua cara berperilaku dan sifat karakter diperoleh dari Al-Quran dan perkataan dan praktik Nabi Muhammad SAW yang mana dirinya telah digambarkan sebagai model perilaku yang terbaik.

Work Hard=Pray Hard

Banyak sekali hadist yang berisi bahwa bekerja keras sama halnya dengan beribadah kepada Allah SWT, salah satunya sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR. Ahmad)

Sehingga, bekerja dalam Islam tidak hanya penting tetapi juga diperlukan. Islam memberikan pedoman dalam bekerja yang disalurkan melalui Sunnah Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan manusia yang seimbang antara bekerja keras (work hard) dan banyak beribadah (pray hard). Gaya hidup Rasulullah tersebut harus kita tiru sehingga dapat memberikan kesejahteraan bersama (maslahah) serta menghindarkan semua pekerjaan kita dari keburukan. Terdapat beberapa sikap yang  menjadi pusat dari Etika Kerja Islam (Islamic Work Ethics) dari Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sikap-sikap ini adalah sikap terhadap kekayaan (attitude to wealth), sikap terhadap penghidupan (attitude to livelihood), sikap terhadap waktu (attitude to time), dan sikap terhadap waktu luang/liburan (attitude to leisure) (Ahmad, 2012).

Sikap terhadap Kekayaan

Tidak ada yang salah menjadi orang kaya raya dari sudut pandang Islam. Asalkan orang tersebut memanfaatkan kekayaannya dengan bijak. Terdapat beberapa cerita mengenai Rasul dengan orang kaya raya pada zaman nya, salah satu yang terkenal yakni Utsman bin Affan. Beliau saking kaya rayanya, mendonasikan unta mencapai 950 ekor saat perang Tabuk. Selain itu, Rasul mengajarkan bahwa kita harus beretika ketika memiliki banyak kekayaan dan tidak serakah atas hal tersebut dengn membayar zakat untuk memurnikan kekayaan kita. Kita juga harus mengingat bahwa kekayaan yang kita miliki hanya titipan Allah SWT saja, maka dari itu kita harus memanfaatkannya dengan baik.

Sikap terhadap Penghidupan

Terdapat sebuah hadist Rasul yang berisi sebagai berikut:

“Allah mencintai hamba yang memiliki pekerjaan. Dia berkata: Allah membenci hamba yang sehat yang tidak bekerja: dan dia berkata: Barangsiapa memperoleh makanan dan tidak memohon dari manusia, Allah tidak akan menghukumnya pada hari kebangkitan …” (Abu Dawud).

Dari penggalan hadist tersebut kita sebagai kaum muslim harus mencari nafkah dan tidak menganggur. Dengan bekerja kita dapat memberikan kontribusi pengembangan negara, menciptakan kesejahteraan, bukan kerusakan. Lalu Rasul juga mengajarkan bahwa kita harus beretika yang baik selama menjalankan suatu pekerjaan, yakni ikhlas, tekun, jujur, rajin, dan serius, karena setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia ini akan ada konsekuensinya pada kehidupan di akhirat.

Sikap terhadap Waktu

Nabi Muhammad SAW ingin umat Islam berinvestasi atau menggunakan waktu mereka dengan bijak dan melarang mereka untuk membuang-buang waktunya. Pekerja Muslim harus menggunakan seluruh jam kerja dengan hati-hati dan bijaksana dalam membagikan semua tugas dan tanggung jawab mereka. Tugas-tugas pekerja Muslim harus sebagai berikut: mereka harus melapor untuk bekerja tepat waktu, rajin bekerja, tidak pernah bermain-main atau terlibat dalam obrolan yang sia-sia atau dalam panggilan telepon yang panjang.

Sikap terhadap Waktu Luang/Liburan

Konsep keseimbangan antara waktu luang dan pekerjaan dengan jelas disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW, yakni:

“Manusia yang rasional, selama pikirannya sehat, harus membagi waktunya menjadi empat: waktu untuk berhubungan dengan Tuhan mereka, waktu untuk memperhitungkan diri mereka sendiri, waktu untuk memperhitungkan diri mereka sendiri, waktu untuk pikirkan tentang penciptaan Allah, dan waktu untuk memenuhi kebutuhan mereka seperti makan dan minum”.

Shahih Ibnu Hibban

Sehingga, Islamic Work Ethics sangat mendukung dengan tradisi Nabi Muhammad SAW yakni seimbang antara bekerja keras dengan waktu liburannya dan sikap kita harus menyelesaikan tanggung jawab kita sesegera mungkin.

Kesimpulan

Di zaman yang penuh godaan ini, sepatutnya muslim yang baik dan beriman harus memiliki fondasi iman, setidaknya beretika yang baik. Karena dari etika yang tidak baik pun dapat menyebabkan keburukan yang sangat besar. Dengan begitu, kita harus mencoba bersikap apa yang Rasulullah ajarkan melalui Sunnahnya, seperti memanfaatkan kekayaan sebaik mungkin, bekerja dengan ikhlas & jujur, tidak membuang-buang waktu, dan membagi-bagi waktu antara bekerja keras, beribadah, dan liburan.

Referensi

  • Ahmad, Shukri. (2012). The Concept of Islamic Work Ethic: An Analysis of Some Salient Points in the Prophetic Tradition. Malaysia.
  • Ba‘labaki, Rohi. (1990). Al-Maurid. Beirut: Daral-Ilm Li-al-Malayin.
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *