Wheel of Women Entrepreneurship

Oleh Riskia Rafida (Ilmu Ekonomi Islam 2019), Staff Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2020

Referensi Jurnal: Gender, Financial Inclusion and the Third Sector: Framework for Promoting Home-Based Women’s Micro Entrepreneurship Through Awqaf in Kano, Nigeria

Penulis: Ibrahim Nuruddeen Muhammad

Latar belakang

Pergerakan wanita telah membuat banyak wanita berani untuk memperjuangkan hak mereka, khususnya dalam bidang ekonomi. Dewasa ini wanita sudah bisa menghasilkan pendapatannya sendiri, mandiri secara finansial, serta berpartisipasi dalam mengambil keputusan. Kewirausahaan mikro di sektor informal dan bisnis home-based menjadi salah satu andalan kelompok wanita, untuk mengangkat perekonomian mereka. Namun, menurut International Labour Organization (ILO) diskriminasi wanita masih terjadi dalam akses pelayanan finansial, khususnya untuk wanita dengan pendapatan rendah. Institusi keuangan seringkali menolak memberikan pinjaman modal kepada kelompok wanita karena dianggap tidak memberikan profit yang  menguntungkan.

Dengan latar penelitian di Kano, Nigeria. Penelitian ini menjelaskan bahwa kelompok wanita yang berpotensi untuk mengalami kemiskinan, adalah wanita bercerai, janda, dan juga anak- anak mereka.  Menurut Kavitha (2010), hilangnya pencari nafkah akan membuat individu yang hidup di sekitar garis kemiskinan kehilangan sumber pendapatan. Jika demikian, maka kematian seorang suami, hampir akan membawa seluruh keluarga pada ketidakmampuan permanen. Dan inilah yang hampir terjadi kepada para janda di Kano, di mana beberapa dari mereka berakhir dengan mengemis.

Menurut Competitiveness Support Fund (CSF, 2008), akses menuju layanan keuangan adalah jalan, di mana perempuan bisa mendapatkan dukungan dan dorongan untuk keterlibatan langsung dalam kegiatan ekonomi. Yang pada akhirnya hal ini akan memungkinkan mereka untuk mengelola kehidupan mereka sendiri dan keluarga mereka dengan lebih baik. Namun, dengan adanya tindakan diskriminasi, literasi keuangan wanita Kano yang masih rendah, serta terbatasnya layanan finansial di Kano menyebabkan wanita sulit untuk menggunakan akses keuangan formal untuk membuat atau mengembangkan usaha mikro mereka. Dalam mengatasi permasalahan tersebut maka dibutuhkan akses keuangan lain yang dapat membantu wanita dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.

Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas tentang wawasan dan pengalaman beberapa perempuan pengusaha mikro rumahan di Kano, Nigeria, dalam melibatkan  kerangka kerja sektor sukarela dan sektor komunitas dengan memanfaatkan lembaga filantropi Islam wakaf dalam memberikan inklusi keuangan untuk meningkatkan pengembangan kewirausahaan.

 

Tujuan

Riset ini bertujuan untuk membangkitkan minat pada kelangsungan filantropi Islam, melalui wakaf untuk mengatasi kemiskinan dan marginalisasi yang dirasakan perempuan. Studi ini juga diharapkan bermanfaat bagi pemerintah, sebagai pengatur lingkungan ekonomi makro, sebagai masukan kebijakan dalam merancang undang-undang dan program yang tepat untuk pengembangan kewirausahaan mikro perempuan.

Metode penelitian

studi ini bersifat non-empiris dan didasarkan pada sumber-sumber sekunder, serta sumber primer. Metodologi yang terlibat adalah peninjauan literatur yang relevan dengan topik serta mengandalkan wawancara pribadi untuk bahan tambahan. Dengan cara ini, informasi terkait gender dapat dianalisis secara mendalam. Pada dasarnya penelitian ini adalah eksplorasi, yang bertujuan untuk menjadikan topik bahasan lebih dikenal oleh masyarakat luas, memberikan gambaran dasar mengenai topik bahasan, menggeneralisasi gagasan dan mengembangkan teori yang masih bersifat tentatif. Penelitian ini juga membuka kemungkinan akan diadakannya penelitian lanjutan terhadap topik yang dibahas, serta menentukan teknik dan arah yang akan digunakan dalam penelitian berikutnya.

 

Pembahasan

Menurut United Nations Development Programme (UNDP) tenaga kerja wanita di Sub-Sahara Afrika berjumlah 73 juta dan ini mewakili 34% karyawan di sektor formal. Walaupun begitu, mereka hanya berpenghasilan 10% dari pendapatan total, hanya memiliki 1% aset dan tidak menikmati akses ke layanan dasar keuangan. Statistik menunjukkan bahwa dari 140 juta orang di Nigeria, sekitar 32% (45,4 juta) adalah wanita yang menghadapi eksklusi keuangan (Juma, 2007; IFAD, 2007). Eksklusi ini berupa terbatasnya akses wanita khususnya mereka yang berpendapatan rendah dalam meminjam modal untuk membuka atau mengembangkan usaha mikro mereka. Wanita dengan pendapatan rendah dianggap memiliki jumlah ekuitas dan pengalaman yang lebih sedikit, tidak memiliki jaminan ataupun rekam jejak kredit, sehingga tidak ada bank konvensional yang merasa diuntungkan untuk melakukan pembiayaan kepada wanita-wanita ini. Bahkan ada beberapa institusi keuangan yang membutuhkan penjamin pria untuk mengambil pinjaman dan penghindaran risiko. Sehingga sulit untuk wanita memulai usahanya sendiri, mereka harus menggunakan tabungan pribadi sebagai modal awal usaha bisnis mereka namun modal yang mereka miliki relatif kecil.

Pengembangan kewirausahaan melalui usaha mikro merupakan salah satu andalan kelompok wanita untuk memenuhi kebutuhan tambahan mereka. Di Amerika kelompok wanita menjadi kelompok tercepat dalam pertumbuhan wirausaha, dengan lebih dari 33% pengusaha adalah perempuan, pertumbuhan perusahaan milik perempuan lebih cepat dua kali lipat dari seluruh perusahaan AS, 23% melawan 9% (Handschiegel, 2008a). Angka tersebut menjadi bukti bahwa wanita mampu dalam mengelola bisnis dengan baik. Di Nigeria, wanita yang mampu memiliki usaha mikro sering kali mengalokasikan penghasilannya untuk penyaluran amal sosial bagi anak-anak dan orang-orang yang kurang mampu. Namun, bentuk amal ini hanya dapat dirasakan dalam jangka waktu yang pendek. Kegiatan amal yang dilakukan masih tidak dapat mengubah tingkat kemiskinan dan tidak membuat masyarakat menjadi mandiri secara finansial. Sehingga masih diperlukan solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan tersebut. 

Bentuk kegiatan filantropi di Kano banyak dilakukan dalam kalangan perempuan, seperti wanita Kano yang mampu memberikan sumbangan terhadap anak-anak, makanan untuk orang tua serta kalangan fakir miskin. Kegiatan ini dilakukan secara rutin tetapi tidak dikelola dengan organisasi yang kuat sehingga ketidakhadiran sumbangan yang terus mengalir akan mengakibatkan kegiatan filantropi ini berhenti. Kegiatan filantropi ini seharusnya dibangun sebuah yayasan, seperti institusi wakaf, untuk mengelola aktivitas secara permanen dan terorganisir.

Contoh kegiatan filantropi lainnya, beberapa wanita di Kano yang telah berhasil dalam usaha mikronya membuat penyaluran amal yang berkelanjutan dan dapat dirasakan dalam jangka waktu yang panjang, seperti properti, tanah, rumah, toko, dan mendirikan sekolah untuk perempuan lain yang masih berjuang dalam garis kemiskinan. Contoh tersebut menunjukkan bahwa kehadiran pengusaha perempuan yang juga sebagai pelaku filantropis di Kano, dapat membantu keberhasilan perempuan lainnya.

Wakaf sendiri masuk kedalam sektor ketiga dari lembaga masyarakat sipil, yang terdiri dari asosiasi, organisasi, klub, serikat pekerja dan kelompok sosial lainnya di luar sektor publik dan swasta. Pentingnya peran wakaf dalam sektor ketiga ini adalah meningkatkan status sosial ekonomi orang-orang yang kurang beruntung di kalangan masyarakat, membantu  mereka dalam memerangi kemiskinan, serta membawa pembangunan sosial. Sektor ketiga di Kano ini telah bekerja sama dengan lebih dari 2000 asosiasi yang kuat. Namun, kegiatan wakaf yang dikelola lembaga wakaf di Kano masih banyak dalam bidang keagamaan saja seperti membangun masjid, pemakaman dan madrasah. Masih sedikit bentuk wakaf untuk kebutuhan publik. Alasan yang dikaitkan dengan situasi itu termasuk kurangnya pemahaman yang tepat tentang institusi wakaf dan peran yang tepat dalam mempromosikan kesejahteraan masyarakat.

Dalam penelitian ini, perempuan dianggap tidak hanya sebagai penerima wakaf tetapi juga sebagai pendiri dari wakaf itu sendiri, sehingga pembangunan wakaf dapat berguna bagi kepentingan perempuan yang kurang mampu dan juga untuk kesejahteraan umum umat Islam. Selain itu wakaf juga dapat digunakan sebagai penyedia inklusi keuangan bagi perempuan pengusaha mikro. Kerangka kerja dari penyaluran dana wakaf untuk usaha mikro yang dikelola wanita tercermin dalam proyek percobaan di bawah naungan Rahma Markaz, salah satu pusat kewirausahaan di Kano. Proyek ini dibiayai oleh wakaf tunai yang akan didirikan oleh Pusat melalui mobilisasi dana dari kegiatan filantropis yang tertarik untuk mempromosikan kewirausahaan mikro di antara para janda dan perempuan bercerai yang tinggal di lingkungan Pusat.

Produksi akan dilakukan oleh sekelompok pengusaha mikro wanita rumahan yang telah mapan dalam bisnis. Semua fungsi lainnya, dari pembiayaan dan pengadaan bahan baku dan mesin hingga kontrol kualitas dan koordinasi hingga pengemasan, pemasaran dan penjualan akan ditangani oleh pusat. Ditambah lagi dengan pelatihan peningkatan keterampilan, pengembangan kapasitas dan kelas literasi keuangan untuk semua peserta dalam proyek. Di samping itu proyek ini juga mengajarkan dasar-dasar ibadah (ibadat), interaksi sosial (mua’malat) dan aturan umum transaksi bisnis (ahkamul buyu’u) dalam Islam (Nuruddeen and Tudun Wada, 2009).

Manfaat yang diharapkan dari proyek ini adalah peningkatan taraf hidup untuk kelompok wanita menengah ke bawah melalui akses kesempatan kerja dan penghasilan, peningkatan wawasan, memperoleh kapasitas baru, kemandirian, inklusi sosial dan keuangan serta partisipasi warga dalam kegiatan ekonomi dan sosial melalui wakaf. Terlepas dari itu, program ini akan menjalankan program penitipan anak dan pendidikan anak usia dini untuk anak-anak mereka. Selain itu, program ini juga mendorong sesama wanita untuk membentuk asosiasi dan mengoperasikan rekening bank, mereka akan diperkenalkan pada kebutuhan untuk kolaborasi melalui dukungan timbal balik (ta’wun) yang kemungkinan akan membuka jalan bagi jejaring sosial dan ekonomi.

 

Kesimpulan

Setelah meninjau kegiatan kewirausahaan dan filantropis perempuan di Kano, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Terlibat sebagian besar di sektor informal, perempuan memiliki akses terbatas ke mekanisme keuangan formal. Untuk memulai atau memperluas bisnis mereka, wanita umumnya menggunakan sumber-sumber pribadi seperti tabungan, hasil dari pembuangan barang-barang pribadi atau warisan. Selain itu, menjadi jelas bahwa wanita di Kano memang memberikan amal tetapi, tampaknya bersifat jangka pendek. Semua ini menunjuk pada relevansi wakaf sebagai instrumen yang layak untuk meningkatkan kondisi kehidupan perempuan di Kano.

Rekomendasi yang didapatkan berdasarkan penelitian ini :

  • Para pelaku kegiatan filantropis perempuan harus mengubah pola pemberian mereka dari pemberian bantuan jangka pendek menjadi dampak jangka panjang dengan membangun dana abadi (wakaf).
  • Wakaf Islam adalah instrumen yang tepat dan perlu dimanfaatkan untuk memungkinkan perempuan pengusaha mikro mengatasi ekslusi keuangan.
  • Menetapkan wakaf dan menyerahkannya kepada pemerintah untuk dikelola.
  • Pemerintah seharusnya tidak khawatir dengan administrasi wakaf sehari-hari. Melainkan dengan kebijakan dan masalah dukungan lainnya. Negara harus menyediakan legislasi dan insentif yang memungkinkan bagi para dermawan untuk membangun lebih banyak wakaf.
  • Dalam memanfaatkan wakaf, penelitian ini mengusulkan kerangka kerja eksperimental untuk proyek yang akan diimplementasikan dan kemudian dievaluasi. Diharapkan keberhasilan proyek ini akan layak ditiru.

 

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (Q.S. Ali Imran (3): 92)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *