Trust, in Economy for Economy

Oleh Rayhan Ali (Ilmu Ekonomi Islam 2019), Staf fDepartemen Penelitian IBEC FEB UI 2020

Referensi Jurnal: Social Capital and Economic Performance of the Muslim World: Islamic perspective and empirical evidence

Penulis: Muhammad Tariq Majeed

Riset tentang performa ekonomi, saat ini berfokus pada pengembangan ekonomi, berdasarkan indikator makroekonomi yang sudah ada. Padahal indikator makroekonomi saja, tidak cukup untuk menjaga performa ekonomi yang berkelanjutan. Aspek-aspek sosio moral seringkali dikesampingkan dalam upaya pengembangan performa ekonomi ini, padahal aspek sosio moral ini merupakan sebuah modal sosial yang penting dalam menjaga keberlanjutan dari performa ekonomi. Salah satu modal sosial ini berupa kepercayaan antar manusia.

 

Peraih nobel ekonomi Arrow (1972) beranggapan bahwa kepercayaan akan mengurangi biaya transaksi yang terjadi. Hal ini didasari oleh argumen bahwa, jika kepercayaan terbangun dengan kuat di masyarakat, maka biaya pengawasan atas kecurangan yang dapat terjadi, akan berkurang maupun tiada. Knack dan Keefer (1997) juga menyatakan bahwa kepercayaan mendorong ide inovasi dan investasi yang lebih baik. Pernyataan ini dikeluarkan, dengan argumen bahwa kepercayaan akan melindungi kontrak dan hak cipta, sehingga aset yang biasa digunakan dalam mengurus kontrak dan hak cipta ini dapat dialihkan untuk pengembangan inovasi lainnya. Zak dan Knack (2001) dan juga Bjonskov (2009) dalam studi semi-endogen yang dilakukan juga menemukan hubungan yang berlawanan antara kepercayaan dan biaya transaksi. Secara umum, modal sosial berupa kepercayaan yang terbangun ini akan mengurangi keberadaan hidden action dan hidden attribute yang menjadi dasar munculnya masalah moral hazard dan adverse selection, kedua masalah inilah yang dapat menimbulkan adanya biaya transaksi.

 

Dalam kajian ekonomi mainstream, peran agama seringkali diabaikan dalam membentuk modal sosial, seperti kepercayaan. Padahal agama berperan penting dalam menentukan perilaku masyarakat beragama, yang nantinya berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi. Barro dan McCleary (2003,2006) menyatakan pendapat, bahwa kepercayaan terhadap agama ikut berpengaruh terhadap perilaku ekonomi, seperti halnya kepercayaan. Berbagai disiplin ilmu pun menyadari, bahwa agama, membangun komitmen dan aksi kolektif dalam suatu kelompok. Antropolog evolusi (Cronk,1994;Irons, 2004, Sosis dan Alcorta,2003), ilmuwan perilaku kognitif (Atran, 2002; Bulbulia, 2004) dan ekonom (Berman, 2000; Iannaccone, 1994) menjelaskan perilaku tersebut melalui signaling theory yang terjadi antar umat beragama. Berikut tabel yang menggambarkan proses yang terjadi.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan dan performa ekonomi di suatu negara, yang penduduknya mayoritas beragama islam, sehingga pembahasan tentang agama ini difokuskan pada agama Islam saja.

Ajaran islam menaruh perhatian besar pada pencapaian solidaritas sosial dan kesatuan umat beragama. Perhatian terhadap dampak sosial ini sangatlah besar hingga setiap ketaatan memiliki dampak sosial. Menurut sejarah islam, kesepakatan umum tentang kontrak yang didasari oleh Al-Quran dan hadist telah terbentuk sejak dahulu. Kesepakatan umum ini meliputi semua kontrak yang terjadi, baik itu formal maupun non formal. Sehingga semua kontrak yang terjadi bersifat sah dan saling mengikat antar pihak yang melakukan kontrak. Aturan tentang kegiatan ekonomi dalam islam pun bertujuan untuk mengurangi biaya transaksi. Nabi Muhammad SAW menerapkan aturan tentang pasar di Madinah untuk memastikan adanya alur informasi yang baik terkait dengan kualitas, kuantitas, dan harga. Aturan yang sering didengar untuk mencapai tujuan ini seperti halnya larangan membeli barang sebelum pedagang memasuki pasar dan pengadaan pengawas pasar yang bertugas untuk memastikan tidak ada kecurangan dalam pasar.

Riset yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan dan performa ekonomi ini, dilakukan menggunakan sampel 38 negara anggota Organisation of islamic cooperation (OIC) yang memenuhi syarat dalam ketersediaan data. Persamaan umum yang dipakai adalah sebagai berikut

Tabel diatas menerangkan data dan sumber data yang digunakan untuk analisis data panel.

Tabel diatas merupakan rangkuman statistik data berbagai variabel dari negara OIC. Nilai minimum dari log GDP riil per kapita adalah 6,16, yang dimiliki oleh Mozambique, hal ini menandakan performa ekonomi terendah di negara OIC ada di Mozambique. Sedangkan performa ekonomi tertinggi dimiliki oleh Qatar dengan nilai log GDP riil per kapita yang mencapai 11,05. Rata-rata indeks kepercayaan paling kecil bernilai 0,27 yang dimiliki oleh Cameroon sedangkan yang paling tinggi dimiliki oleh Qatar dengan nilai 0,68.

Tabel berikut menjelaskan matriks korelasi antar variabel yang ada di 38 negara OIC. Terlihat dalam tabel bahwa angka korelasi RGDP dengan Trust (indeks kepercayaan) hampir mencapai 0,7.

Berikut grafik yang menggambarkan hubungan pertumbuhan ekonomi dan modal sosial.

Agar data regresi yang didapat tidak bias, peneliti juga melakukan tes diagnostik data, berupa model specification test menggunakan Ramsey regression equation specification test (RESET), Multicollinearity test dengan memasukkan variance inflation factor (VIF), normality test menggunakan Shappiro-Wilk test of nomality, dan Hausman test. Tabel tes diagnostik adalah sebagai berikut, sesuai urutan disebutkannya.

Berikut merupakan tabel regresi lintas variabel dari pertumbuhan ekonomi dan indeks kepercayaan menggunakan metode 2SLS, yang menunjukan kuatnya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan indeks kepercayaan.

Riset ini menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara modal sosial berupa kepercayaan dengan performa ekonomi suatu negara. Dari hasil statistik, didapatkan bahwa setiap naiknya angka indeks kepercayaan sebesar 1% maka pertumbuhan ekonomi meningkat sebesar 0,7%. Sehingga dapat dikatakan keberadaan modal sosial ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap performa ekonomi.

Riset ini menunjukkan hubungan empiris antara kepercayaan dengan pertumbuhan ekonomi menggunakan data dari 38 negara anggota OIC. Dengan menggunakan metode 2SLS dan penerapan fixed effects, random effects, dan SGMM. Riset ini membuktikan, bahwa kepercayaan memiliki hubungan yang positif dengan pertumbuhan ekonomi. Dari temuan ini, pemerintah perlu meningkatkan kepercayaan dan rasa aman antar sesama yang ada di masyarakat. Selain itu, pemerintah juga perlu berinvestasi di sumber daya manusia, seiring hal ini berkontribusi secara signifikan terhadap performa ekonomi.

Riset ini tentunya memiliki keterbatasan. Keterbatasan ini meliputi ketidaktersediaan data dari negara anggota OIC, penggunaan panel data tidak dapat menunjukkan informasi spesifik tiap negara, dan analisis data time series tidak dapat dilakukan karena keterbatasan data. 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *