This Is How Muslims Consume


Oleh M Rayhan Rakananda (Ilmu Ekonomi Islam 2019), Staff Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2020

Referensi Jurnal: Towards an integrative framework for understanding Muslim consumption behaviour

Penulis: Salman Ahmad Syaikh, Mohd Abid Ismail, Shahida Shahimi

 

Latar belakang

Secara umum, perilaku konsumsi adalah perilaku yang dimiliki konsumen tentang insentif mereka dalam membeli dan menggunakan suatu barang, seperti mengapa, kapan, dan seberapa sering dalam mengkonsumsi barang. Perilaku ini dapat digunakan oleh para pemasar untuk menganalisis keinginan dan ketidakinginan konsumen dalam pasar sehingga dapat menyusun strategi pemasaran yang tepat.

Dewasa ini, paham ekonomi Islam semakin berkembang. Begitu juga dengan semakin banyaknya pelayanan akad ekonomi Islam di sekitar kita. Misalnya penyajian akad mudharabah di bank syariah sekaligus pelayanan zakat di aplikasi fintech konvensional. Hal ini juga tidak luput dari analisis perilaku konsumen tentang motif orang berzakat, berinvestasi, dan ziswaf. Dari transaksi islami tersebut mengarah pada satu pertanyaan, apa yang disebut dengan perilaku konsumsi islami? Dapatkah kita menyimpulkannya dengan menganalisis perilaku konsumen saat melakukan transaksi tersebut?

 

Tujuan

Sebuah penelitian kolaborasi yang dilakukan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia dan Islamic Development Bank menggunakan framework gabungan antara konvensional dan syariah untuk meneliti tentang perilaku konsumsi muslim. Penelitian ini juga bertujuan untuk membawa risalah Islam ke arah yang lebih realistis dengan menambahkan framework ekonomi konvensional

 

Isi

Untuk itu, perlu kita ketahui bersama apa yang dimaksud dengan islamic framework. Islamic framework adalah sebuah metode yang mengatur relasi & interaksi sosial-ekonomi sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk kasus ini, framework-nya lebih difokuskan di bagian konsumsi. Beberapa dalil yang menggambarkan sifat dasar manusia diantaranya adalah : Manusia adalah makhluk yang terburu-buru (Al-Isra:11), merugi (Al-Isra:100), dan menyukai kekayaan secara berlebih (Al-Adiyat:8). Oleh karena itu, Islam mengajarkan pentingnya redistribusi harta yang seimbang (Al-Hasyr:8) dengan melarang riba (usury), judi, dan monetisasi agar manusia terhindar dari sifat negatif tersebut.

 

Dalam mempelajari islamic framework, ada poin yang tidak kalah penting yaitu menyingkirkan barang yang haram (dilarang) dari daftar barang yang dikonsumsi (Al-Baqarah:168) karena seorang muslim tidak boleh mengonsumsi barang haram.

 

Setelah mengidentifikasi poin-poin konsumsi dari islamic framework, kita dapat mengidentifikasi beberapa perbedaan dasar di antara kedua bingkai ini. Pertama, aspek insentif kegiatan ekonomi dimana bingkai konvensional mengutamakan utilitas maksimum, sedangkan bingkai syariah mengutamakan aksi altruisme murni dalam kegiatan ekonomi. Lalu, bingkai ekonomi konvensional lebih skeptis terhadap intervensi kebijakan dikarenakan kemungkinan adanya Pareto principle yang terjadi di pasar kompetitif. Sedangkan bingkai syariah lebih fleksibel akan kebijakan, hanya saja lebih mempromosikan kebijakan yang berorientasi maslahah.

 

Para ahli secara umum berpendapat ada tiga metode untuk menyatukan kedua bingkai tsb. Pertama, menggunakan framework konvensional yang sesungguhnya untuk meneliti variabel syariah. Kedua, framework konvensional disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Ketiga, menggunakan metode baru untuk meneliti variabel syariah. Sejatinya, baik bingkai konvensional maupun bingkai syariah, tujuan aslinya adalah untuk mengetahui perilaku permintaan & penawaran di pasar. Jika menilik kedua bingkai tersebut, kita bisa melihat bahwa self-intrest dapat dibarengi dengan perilaku simpati & toleransi (Hasan, 2002), sehingga self-intrest bukan berarti non-islami sepenuhnya. Dalam bingkai syariah, disarankan juga menambah variabel nilai moral & sosial Islam (Hasan:2002). Namun, model ekonomi Islam saat ini banyak yang tidak relevan karena hanya memasukkan variabel Islam saja tanpa variabel konvensionalnya (Khan:1987). (Khan:2013) berpendapat bahwa untuk mengintegrasikan kedua bingkai tsb, harus menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda karena bingkai konvensional hanya cocok untuk meneliti keinginan manusia yang serakah dan tidak pernah puas. Selain itu, variabel yang tidak berhubungan baik dengan bingkai konvensional maupun bingkai syariah hendaknya tidak dimasukkan dalam penyatuan bingkai.

 

Dalam meneliti perilaku islami, juga penting untuk mengakomodasi variabel yaitu menyingkirkan barang haram dari model, anggaran dialokasikan untuk konsumsi diri sekaligus memberi kepada orang lain, dan tidak terlalu mengharapkan adanya nilai-nilai ideal Islam dari masyarakat yang diteliti.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode ZA-OLG (Zakat Augmented Overlapping Generations), dimana menggunakan model matematika ditambah variabel syariah untuk meneliti perilaku Islami. Dalam metode ZA-OLG, peneliti menggabungkan unsur zakat dengan metode OLG, metode model matematika yang digunakan untuk meneliti perilaku ekonomi yang direpresentasikan oleh masyarakat yang memiliki heterogenitas generasi. Dalam ZA-OLG, peneliti memasukkan variabel islam seperti zakat yang dibayar per periode, warisan, serta asumsi bahwa semua barang-barang yang dikonsumsi merupakan barang halal, barang haram disingkirkan, dengan menggunakan model matematika di bawah ini.

Model matematika di atas menghasilkan sebuah persamaan turunan parsial dari variabel ‘r’, tetapi variabel penentu di sini adalah theta, dimana variabel ini merupakan respon seorang muslim terhadap perubahan gaji mereka. Saat variabel ‘r’ naik, (variabel r adalah gaji) akan terjadi dua efek. Pertama, biaya peluang untuk konsumsi saat ini menurun, sehingga akan lebih memilih menyimpan uangnya untuk konsumsi masa depan. Kedua, anggaran akan naik secara efektif, sehingga akan lebih memfokuskan kepada konsumsi saat ini.

Jika theta >1, maka IE > SE (Income Effect > Substitution effect). Sedangkan jika theta < 1, maka SE > IE (Substitution effect > Income Effect). Income Effect adalah ketika seorang muslim menaikkan konsumsi masa kini saat mendapat gaji. Substitution Effect adalah ketika seorang muslim rela mensubstitusi keinginan konsumsi saat ini dengan menabung untuk konsumsi masa depan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang muslim dapat mempertimbangkan konsumsi masa kini & masa depan saat menerima pemasukan.

 

Temuan

Dari model matematika di atas, terbukti bahwa seorang muslim akan mengalokasikan sumber dayanya untuk mempertimbangkan konsumsi masa kini dan masa depan. Lalu, muslim yang berhak membayar zakat akan mengalami scaled down resource, yaitu berkurangnya sumber daya yang dapat digunakan di masa sekarang dan di masa depan, karena mereka wajib membayar zakat & akan membeli konsumsi secara halal, serta akan memberi warisan di akhir hayatnya. Sebaliknya, muslim yang berhak menerima zakat akan mengalami scaled up resource, yaitu bertambahnya sumber daya yang dapat digunakan di masa sekarang dan di masa depan, karena mereka wajib menerima zakat & mendapat harta secara halal dengan sumber lainnya, dan juga berhak menerima harta warisan. Sehingga, orang yang mengalami scaled down resource akan memilih berinvestasi dengan investasi syariah, dimana akan memilih investasi yang memiliki return lebih tinggi. Selain itu, mereka juga akan mengonsumsi barang halal, dan akan mengonsumsi yang lebih murah.

 

Kesimpulan

 Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata ekonomi konvensional dan ekonomi Islam dapat disatukan dan metodologinya dapat digunakan untuk sebuah penelitian. Tidak semua aspek ilmu ekonomi konvensional dapat dikategorikan non-islami. Model ZA-OLG di atas adalah hasil dari gabungan metode ekonomi konvensional dan ekonomi islam. Penelitian di atas memberikan hasil berupa sebuah perilaku islami dengan menyortir barang yang akan dikonsumsi sehingga berinvestasi & mengonsumsi barang secara syariah, tetapi tetap mempertahankan sifat-sifat rasionalitas yaitu memilih yang lebih menguntungkan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *