The Pandonomics of Ramadhan

Oleh: Natasya Nisaul Alfani (Ilmu Ekonomi Islam 2019), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2020

 

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung bulan Ramadan. Umat Islam telah melakukan ibadah puasa selama 20 hari lebih dan menyisihkan sebagian hartanya untuk membayar zakat fitrah. Berkah yang melimpah di bulan ini membuat seluruh umat Islam berbondong-bondong melakukan kebaikan, menggali pahala, dan memohon ampunan dengan melakukan berbagai ibadah sunnah yang menjadi ciri khas di bulan ini, seperti shalat tarawih, tadarus, i’tikaf di masjid, bersedekah, dan lain-lain.

Secara logika dan teori, diwajibkannya puasa satu bulan penuh mengartikan bahwa kita harus mengurangi frekuensi makan menjadi sehari dua kali yaitu saat sahur dan berbuka. Namun kenyataannya tingkat konsumsi masyarakat di Indonesia pada bulan ini justru lebih tinggi daripada bulan lainnya. Sehingga sering kita mendengar berita di televisi atau media online bahwa di bulan Ramadan ini inflasi justru meningkat. Hal ini yang menyebabkan bulan Ramadan tidak hanya ditunggu oleh umat Islam saja namun dinantikan juga oleh para pebisnis. Mengapa demikian? Lalu, bagaimana dengan kondisi saat ini? Ramadan di tengah pandemi Covid-19 dengan berbagai kebijakan pemerintah untuk menghentikan rantai penularan virus Corona, seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang menghalangi masyarakat untuk berbelanja segala kebutuhannya. Apakah tetap mengalami inflasi atau justru deflasi?

Sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia. Hal ini menyebabkan seluruh perilaku konsumsi masyarakat islami cukup mempengaruhi perekonomian Indonesia, khususnya di bulan suci ini. Kebanyakan masyarakat Indonesia menyambut bulan Ramadan dengan berbagai budaya, seperti sahur dan berbuka di hari pertama Ramadan harus dengan menu makanan yang istimewa, membeli takjil beraneka macam, masak besar-besaran menjelang Idul Fitri, membuat kue lebaran, membeli pakaian baru untuk shalat Ied, mudik ke kampung halaman, membagikan uang tunai THR (Tunjangan Hari Raya) ke sanak-saudara dan masih banyak lagi.

Perilaku konsumsi merupakan kebutuhan mendasar pada manusia, sesuai dengan tujuan maqashid syariah yang termasuk dalam perkara dharuriyah yang harus terpenuhi.  Budaya konsumsi yang berlebihan di bulan Ramadan terbentuk oleh beberapa mitos yaitu kekhawatiran mengenai kesehatan. Kekhawatiran ini terkait dengan nutrisi, gizi, dan tenaga yang berkurang karena harus menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal ini menyebabkan excess demand atau kelebihan permintaan akan bahan makanan, khususnya pada beras, daging-dagingan dan aneka bumbu masak. Sebagaimana diungkapkan oleh sebuah studi dari AC Nielsen, di bulan Ramadan penjualan barang konsumsi di Indonesia, termasuk makanan, meningkat sebesar 9,2%, angka ini merepresentasikan adanya peningkatan konsumsi masyarakat. Begitu pula dengan tradisi mudik ke kampung halaman yang menyebabkan harga tiket transportasi juga meningkat.

Oleh karena itu, salah satu faktor penyebab inflasi yang terjadi pada bulan Ramadan adalah meningkatnya permintaan agregat. Meningkatnya permintaan agregat menyebabkan kenaikan harga, termasuk harga sembako. Kenaikan harga sembako menjadikan masyarakat Indonesia merasa kesulitan dalam mengatasinya. Bagaimanapun, tubuh tetap menuntut kesehatan, sehingga konsumsi sembako tetap dibutuhkan. Selain itu, terdapat tradisi menjamu tamu dan mengkonsumsi dalam jumlah yang besar pada hari raya Idul Fitri yang juga harus dilakukan. Selain kebiasaan konsumsi sembako yang meningkat, masyarakat juga berbondong-bondong mengambil uang tabungannya di bank, sehingga uang yang beredar di masyarakat semakin meningkat dan akan terjadi peningkatan pengeluaran untuk barang dan jasa.

Mengutip dari sebuah Hadist Riwayat Bukhari no. 1094, 5927 dan Muslim no. 1151, bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang berlimpah pahala, segala tindakan baik akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT kecuali amalan puasa. Hal ini menjadi pemicu umat Islam untuk saling memberi ke sesama manusia, seperti membagikan takjil kepada musafir, memberi sembako kepada fakir dan miskin, bersedekah dan sebagainya. Secara otomatis, kondisi ini memicu seseorang untuk meningkatkan konsumsi belanjanya. Contoh tersebut menandakan bahwa pengeluaran pendapatan seseorang tidak hanya untuk konsumsi pribadi namun digunakan juga untuk sesama atau disebut dengan wealth transfer. Maka MPC (Marginal Propensity to Consume) masyarakat menengah ke bawah lebih tinggi daripada orang kaya dalam kasus ini, transfer pendapatan dari orang kaya ke orang biasa dengan demikian dapat meningkatkan permintaan agregat.

Selain permintaan agregat, peningkatan penawaran agregat juga dapat menyebabkan inflasi. Hal ini terbukti melalui riset yang dilakukan oleh Filipe Campante dan David Yanagizawa, guru besar Universitas Harvard, membahas mengenai “Does Religion Affect Economic Growth and Happiness”, dengan menggunakan data berbagai negara Muslim memiliki kesimpulan menarik yaitu bulan Ramadan menurunkan produktivitas kerja. Kelelahan para pekerja dikarenakan jam tidur yang kurang dimana ia harus bangun lebih awal untuk sahur dan harus menahan lapar menyebabkan para pekerja cenderung kurang fit dari biasanya. Oleh karena itu, tidak sedikit pula pekerja yang dipotong jam kerjanya. Penurunan produktivitas juga terjadi karena seseorang memilih kesejahteraan subjektif dari kegiatan keagamaan yaitu menghabiskan waktu di bulan Ramadan dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Hal ini yang menyebabkan para pemimpin perusahaan merespon fenomena ini dengan mentransfer kenaikan upah ke dalam harga sehingga harga barang semakin meningkat. fenomena ini yang dimaksud dengan peningkatan penawaran agregat akan menyebabkan inflasi.

Inflasi yang terjadi di bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya bukan sebuah anomali untuk pemerintah. Kasus ini memang selalu terjadi setiap tahunnya. Seperti contoh keadaan bulan Ramadan tahun lalu yang jatuh di bulan Mei 2019, inflasi umum mengalami peningkatan yang tajam sampai ke level 2,83% (YoY). Kenaikan inflasi ini disumbang sebagian besar oleh harga bahan makanan, yang meningkat 1,45% dari bulan Maret akibat meningkatnya permintaan musiman bahan-bahan makanan selama Ramadan hingga Idul Fitri.

Di sisi lain, tidak banyak terjadi perubahan pada fundamental inflasi, yang terlihat dari inflasi inti yang stabil di level 3,05% yang menunjukan bahwa kenaikan inflasi bersifat temporer. Harga bahan makanan secara agregat tercatat turun di bulan Februari dan Maret akibat musim panen, kenaikan yang tajam terlihat selama bulan April lebih banyak didorong permintaan bahan makanan yang meningkat selama periode Ramadan dan Idul Fitri. Secara year-on-year, inflasi bahan bergejolak masih sangat rendah 2,05% (YoY), meskipun inflasi bahan makanan meningkat 1,45% selama bulan April. Hal yang menarik pada saat itu meskipun harga bahan makanan meningkat signifikan di bulan April, harga makanan menjadi terpantau relatif stabil selama bulan April, meskipun konsumsi makanan jadi umumnya juga meningkat tajam selama musim Ramadan dan Idul Fitri. Jadi untuk tahun 2019 lalu, inflasi barang bergejolak tinggi selama bulan Mei hingga awal Juni dan  turun setelah bulan Juli.

Selain itu, dari sisi moneter, data dari Bank Indonesia (BI), Ramadan tahun 2019 yang lalu, perputaran uang di masyarakat sebesar 160 triliun rupiah dan terpusat di pulau Jawa sebanyak 84 triliun rupiah. Untuk Jabodetabek, Bank Indonesia menyiapkan 41 triliun rupiah, sementara untuk pulau Sumatera 56,6 triliun rupiah, dan sisanya beredar di Indonesia timur. Puncak peredaran uang terjadi pada minggu terakhir bulan Ramadan 50-60% pada saat itu. Fenomena-fenomena inilah yang justru memicu pertumbuhan ekonomi di tahun 2019, karena menurut Badan Pusat Statistik tingginya konsumsi rumah tangga menciptakan pertumbuhan ekonomi.

Lalu bagaimana dengan keadaan Ramadan di tengah pandemi Covid-19 seperti ini? Setelah WHO menetapkan bahwa Covid-19 sebagai pandemi, hampir seluruh negara di dunia khususnya Indonesia menetapkan berbagai macam kebijakan guna menghentikan penularan virus Corona ini seperti physical distancing, hingga kebijakan baru yaitu PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada tanggal 10 April 2020 yang dilakukan pertama kali di Jakarta dan larangan mudik. Situasi seperti ini pasti akan memperlambat kegiatan ekonomi secara drastis. Akibat produksi dan laba perusahaan yang terus berkurang, banyak karyawan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena perusahaan tidak mampu lagi untuk menggajinya. Tradisi yang biasa terjadi di bulan Ramadan otomatis akan berkurang, kemungkinan masyarakat tidak lagi membeli pakaian baru atau membeli bahan makanan secara berlebihan untuk menjamu tamu saat lebaran. Adanya larangan mudik pun sangat berpengaruh, karena tingkat konsumsi transportasi umum juga otomatis akan berkurang.

Berdasarkan data dari Lembaga Penelitian Ekonomi Manajemen (LPEM) Universitas Indonesia, Inflasi umum (YoY) pada bulan April 2020 mengalami perlambatan dibanding dua bulan sebelumnya. Diprediksikan tingkat inflasi bulan Mei mengalami penurunan yang cukup signifikan dibanding bulan Maret, yaitu sebesar 0,3 bps sama halnya terjadi di bulan April. Tingkat permintaan agregat mengalami penurunan, terutama pada kebutuhan sekunder dan tersier. Hal ini tercermin pada penurunan tingkat inflasi inti menjadi 2,85% (YoY).

Data Inflasi sektoral menunjukan bahwa terdapat banyak sektor yang mengalami penurunan tingkat inflasi, bahkan mencapai deflasi. Untuk deflasi terbesar terjadi pada sektor transportasi yang tidak lain karena faktor kebijakan PSBB oleh pemerintah. Selain itu, terjadi juga pada sektor bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 0,13%. Hal ini menunjukan bahwa adanya penurunan permintaan agregat yang disebabkan karena pergeseran pola konsumsi dan juga didorong penurunan tingkat pendapatan. Oleh karena itu, perkiraan ekonom inflasi di bulan Mei 2020 akan berada pada rentang 2,70% – 2,90%. Rendahnya inflasi jelang puasa ke lebaran di era pandemi Covid-19 memang belum pernah terjadi sebelumnya.

Inflasi yang terlalu tinggi memang tidak baik, namun terjadinya deflasi justru semakin memperburuk perekonomian. Pemerintah selalu berupaya untuk menjaga stabilitas perekonomian khususnya di saat bulan Ramadan karena kenaikan inflasi yang selalu signifikan. Melakukan operasi pasar menjelang bulan Ramadan akan selalu menjadi rutinitas pemerintah guna memastikan jumlah pasokan makanan selalu tersedia dan mengontrol harga agar selalu berada di garis keseimbangan pasar. Ditambah lagi dengan adanya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan kelengkapan data statistik harga pangan strategis yang dapat memudahkan pemerintah daerah dalam merespon dan mengatasi tingkat inflasi yang terjadi.

Di saat kondisi seperti ini, kebijakan pemerintah dalam hal larangan mudik akan berdampak positif, ini juga dapat dikatakan upaya pemerintah dalam menangani rendahnya inflasi di bulan Ramadan. Selama bertahun-tahun, ongkos transportasi selama mudik telah menggerus pendapatan masyarakat, Sedangkan tahun ini, dana yang seharusnya dikeluarkan untuk perjalanan pulang kampung dapat dialihkan untuk konsumsi. Mengingat rendahnya aktivitas konsumsi saat ini, maka dengan adanya pergeseran konsumsi diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal II. Terlepas dari kebijakan fiskal, terdapat pula instrumen Islam yang berpotensi mengurangi dampak inflasi dan menurunkan kesenjangan yaitu zakat. Zakat menimbulkan wealth transfer effect dari orang kaya ke 8 golongan atau yang disebut dengan mustahik yang telah di tetapkan Allah di dalam Al-Quran.  Hal ini dapat mengubah perekonomian sebuah negara menjadi seimbang.

Berbagai macam tradisi di bulan Ramadan begitu berpengaruh pada perekonomian Indonesia, meskipun tidak seluruh masyarakat melakukannya. Dari berbagai hasil penelitian yang tersebar dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia cukup konsumtif. Perilaku konsumtif memang bagus untuk pertumbuhan ekonomi, namun jika terlalu melonjak berlebihan akan menaikan tingkat inflasi yang mana harga barang akan naik.

Perilaku konsumsi oleh kebanyakan masyarakat di bulan Ramadan dapat dikatakan israf atau mengonsumsi sesuatu secara berlebih-lebihan dan tentu saja dikategorikan sebagai perilaku negatif yang dilarang dalam Islam.

Sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat Al-Maidah ayat 77 :

قُلْ  يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا  تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا  كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ السَّبِيلِ

Artinya : “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”

Selain untuk mendapatkan berkah dan pahala yang berlimpah, tujuan lain puasa adalah merasakan penderitaan kaum papa yang kelaparan namun nyatanya berbanding terbalik. Menu sahur atau berbuka rata rata jauh lebih meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Perilaku seperti ini sungguh berbeda dengan pola konsumsi Rasulullah SAW. ketika berbuka dan sahur, beliau hanya minum air dan beberapa kurma saja dan langsung melaksanakan sholat. Jadi alangkah baiknya membeli segala kebutuhan dengan secukupnya dan kalaupun terjadi konsumsi yang berlebihan, lebih baik ditujukan untuk memberi kepada yang lebih membutuhkan bukan hanya untuk pribadi.

 

Wallahua’lam bisshowaab

 

Referensi

Alin Halimatussadiah, The Conversation. (2015, July 1). Why Ramadhan is a special economicseasoninIndonesia,p.1.https://theconversation.com/why-ramadan-is-a-special-economic-season-in-indonesia-43399 

Anto Kurniawan, Sindonews.com. (2020, April 30). Merespons Tantangan Ekonomi Ramadhan,p.1.https://ekbis.sindonews.com/read/12999/33/merespons-tantangan-ekonomi-ramadhan-1588244681

Arif Hidayat, IAIN Purwokerto. (n.d.). Budaya Konsumen Bulan Ramadhan Bagi Masyarakat Modern Di Indonesia. Jurnal Kebudayaan Islam, 1-12. http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/ibda/article/view/684/628

Elba Damhuri, Republika.co.id. (2018, Mei 21). Ekonomi Ramadhan, hal. 1-2.https://republika.co.id/berita/p91934440/ekonomi-ramadhan-part1

Eva Muzlifah, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (2013). MAQASHID SYARIAH SEBAGAI PARADIGMA DASAR EKONOMI ISLAM. Economic: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Vol. 3, No. 2, 1-21. https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/40894619/Eva_Muzlifah.pdf?response-content-disposition=inline%3B%20filename%3DMAQASHID_SYARIAH_SEBAGAI_PARADIGMA_DASAR.pdf

Dr.Nurhidayat, monitor.co.id. (2020, April 24). Ekonomi Ramadhan Di tengah Wabah Covid-19,p.1.https://monitor.co.id/2020/04/24/ekonomi-ramadhan-ditengah-wabah-covid-19/

Habriyanto, Journal IAIN Samarinda. (2019, Juni 2). Analisis Perbandingan Pola Konsumsi Masyarakat Kota Jambi Sebelum, Sesaat dan Sesudah Bulan Ramadhan,p.1.https://journal.iain-samarinda.ac.id/index.php/altijary/article/view/1453

LPEM FEB Universitas Indonesia. (2019). SERI ANALISIS MAKROEKONOMI. InflasiBulananMei2019,1-2.https://www.lpem.org/wp-content/uploads/2019/05/Inflation-Report-May-2019.pdf

LPEM FEB Universitas Indonesia. (2020). SERI ANALISIS MAKROEKONOMI. InflasiBulananMei2020,1-3.https://www.lpem.org/wp-content/uploads/2020/05/Inflasi-Mei-2020.pdf

Samsubar Saleh, Dyah Titis Kusuma Wardani, Madha Adi Ivantri, UMY Universitas. (2019, Oktober 2). RAMADHAN, EID UL FITR, AND INFLATION: LESSON FROMINDONESIANSUBNATIONALDATA,p.1.https://journal.umy.ac.id/index.php/esp/article/view/6576

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *