Takaful: Sebuah Substitusi dari Asuransi Konvensional

Oleh: Nuky Presiari

 

Pendahuluan

Sifat dasar manusia ialah tidak pernah merasa puas. Setelah memenuhi kebutuhannya, keinginan untuk memperoleh lebih di masa mendatang akan selalu ada. Selain memperoleh lebih di masa mendatang, terkadang kita sebagai manusia ingin melindungi apa yang telah kita dapatkan. Salah satu cara untuk melindungi hal tersebut dapat dengan menggunakan produk asuransi.

Asuransi itu sendiri merupakan sebuah kontrak kerja sama dimana salah satu pihak mendapatkan proteksi secara finansial dengan penanggungan kerugian apabila terjadi. Dalam praktik asuransi konvensional, hal yang dijadikan objek adalah pentransferan risiko kerugian yang akan terjadi dimana hal tersebut belum tentu terjadi. Oleh karena itu, asuransi konvensional dianggap menjadi sesuatu yang haram karena mengandung tiga unsur yaitu maysir (spekulatif), riba, dan gharar (ketidakjelasan)

Nilai maysir yang terkandung pada asuransi konvensional ialah dimana pada saat kita membayar sejumlah premi, namun kita tidak dapat memastikan kapan risiko itu terjadi kepada kita. Kemudian asuransi konvensional dianggap mengandung gharar karena ketidakjelasan skema pengklaiman premi. Pada saat kita tidak mengalami kerugian, premi yang kita bayarkan masih penuh menjadi milik perusahaan asuransi dan kita tidak dapat mengelola dana tersebut. Sedangkan ketika kita mengalami kerugian, jumlah yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi dapat berkali lipat dibandingkan dari premi yang kita bayarkan. Selain mengandung maysir dan gharar, asuransi konvensional juga dinilai mengandung riba. Terdapat dua jenis riba dalam praktik asuransi konvensional, yaitu riba secara langsung yang terkandung pada ketidakseimbangan nilai dan riba secara tidak langsung yang terkandung pada interest earned on interest based investment.

Takaful berasal dari kosa kata Arab yaitu kafala yang artinya jaminan. Secara istilah, takaful artinya saling melindungi dan menjamin bersama. Dalam takaful atau asuransi syariah, penghimpunan dana didasarkan pada perlindungan dan menjadi bentuk kompensasi untuk para nasabah yang mengalami kerugian. Takaful memegang prinsip

“yang lebih beruntung menolong yang kekurangan” dimana prinsip tersebut dibenarkan dalam ajaran agama Islam.

Fiqh Takaful

Hukum asal mu’amalah adalah halal dan diperbolehkan hingga ada dalil (yang mengharamkannya) Sesuai dengan dalil di atas, maka hukum takaful ialah diperbolehkan dengan menghilangkan unsur-unsur haram dalam asuransi konvensional.

Takaful atau asuransi syariah dapat menjadi bentuk praktik asuransi yang halal apabila mentaati seluruh hukum dan ketentuan syariah. Kemudian, perusahaan takaful berperan sebagai operator yang menghimpun dana dan menyalurkan dana tersebut untuk investasi dan membawa kemaslahatan. Selanjutnya, dalam menindaklanjuti unsur haram asuransi konvensional dalam kategori gharar, takaful harus menyertakan kontrak tabarru (non- commercial contract) yang bertujuan untuk menyisihkan dana sosial dalam kontribusi (premi) takafulnya.

Takaful sebagai asuransi syariah diperkuat menjadi suatu transaksi yang halal melalui seruan dalam sejumlah firman Allah dan Hadist yang menganjurkan kita untuk mempersiapkan diri untuk masa mendatang seperti dalam Q.S Al-Hasyr ayat 18: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan ‘bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Selain itu, pada dasarnya takaful juga turut hadir untuk menjadi solusi dari tolong-menolong sehingga takaful dikategorikan menjadi suatu transaksi yang halal diperkuat dalam anjuran untuk tolong-menolong dalam kebaikan yang tercantum dalam Q.S Al-Maidah ayat 2: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Praktik Takaful di Zaman Rasulullah SAW

ا ْ لأ َ ْص ُل ِف ي ا ل ُّش ُر ْو ِط ِف ي ا ْل ُم ع ا م لا َ ِت ا ْل ِح ُّل و ا ْلإ ب َ ا ح ة ُ إ لا َّ ب د َ ِل ْی ٍل ‘ ََ ََِِِ

Pada zaman Rasulullah, asuransi Syariah sudah ada namun mempunyai nama Aqilah dimana seseorang yang merupakan saudara terdekat dari pembunuh diminta untuk membayarkan uang darah (diyat) sebagai pengganti dari kematian dari suatu pihak dan kemudian keluarganya akan mendapatkan diyat tersebut. Terdapat hadits rasul yang mengatakan penerapan hal ini yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah yang mengatakan: pernah dua wanita dari suku Huzail bertikai ketika seorang dari mereka memukul yang lain dengan batu yang mengakibatkan kematian wanita itu dan jabang bayi dalam rahimnya. Pewaris korban membawa kejadian itu ke pengadilan Nabi Muhammad SAW yang memberikan keputusan bahwa kompensasi bagi pembunuh anak bayi adalah membebaskan seorang budak laki-laki atau perempuan sedangkan kompensasi atas membunuh wanita adalah uang darah (diyat) yang harus dibayar oleh Aqilah (saudara pihak ayah) dari yang tertuduh.” Namun penerapan pada zaman rasulullah tidak hanya melalui diyat namun, terjadi juga sistem tabungan himpunan bersama untuk membantu yang terkena musibah, dan tabungan ini bernama kunz. Tabungan ini bertujuan untuk membebaskan kaum sahaya dan membantu keluarga yang keluarganya terbunuh secara tidak sengaja. Praktek ini, diterapkan pada kaum Muhajjirin dan Anshar.

Praktik Takaful di Zaman Sekarang

Segala hal yang berhubungan dengan praktik takaful pada zaman sekarang, berbasis pada FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 21/DSN-MUI/X/2001 yang berisi bahwa seharusnya Takaful dilakukan untuk saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan Syariah, yang berarti jauh dari gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat. Akad yang digunakan dalam praktik bisa akad Tijjari yaitu dengan mudharabah dan Tabarru dengan hibah, dan harus dijelaskan cara dan waktu pembayaran, hak dan kewajiban, serta penentuan akad pada awal perjanjian kerjasama.

Dalam akad Tijarah (mudharabah), perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai shahibul mal (pemegang polis), Dalam akad Tabarru’ (hibah), peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain

yang terkena musibah. Sedangkan perusahaan bertindak sebagai pengelola dana hibah. Namun dalam kedua akad, perusahaan wajib mengelola dana untuk diinvestasikan dan diinvestasikan dengan Syariah. Terdapat dua jenis asuransi yang tercatat yaitu asuransi kerugian dengan akad tijjarah dan asuransi jiwa dengan akad tabbaru. Perusahaan asuransi mendapatkan keuntungannya melalui bagi hasil dalam akad mudharabah dan dari fee dari hibah atau akad wakalah. Terdapat proses reasuransi yang dapat dilakukan, namun hanya dapat dilakukan satu kali dan dengan perusahaan asuransi atau takaful yang berbasis Syariah. Terdapat 3 Skema dalam penerapan takaful yaitu skema dengan akad mudharabah, wakalah, dan hybrid yang merupakan campuran dari keduanya. Contoh nyata dari penerapannya adalah perusahaan-perusahaan asuransi Syariah dan takaful yang sedang marak di Indonesia yang diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.

Perbandingan Takaful dengan Asuransi Konvensional

Perbedaan dari Takaful dan Asuransi konvensional dapat dilihat dari 10 kategori. Yang pertama adalah dari cara kerja dalam pengambilan keuntungan, keuntungan dalam investasi dalam konvensional, difokuskan untuk shareholders, namun dalam takaful dibagi kepada perusahaan, nasabah, dan shareholders. Kedua dari segi penanggungan resiko, untuk konvensional, resiko diberikan kepada perusahaan secara penuh, namun dalam takaful, resiko di tanggung bersama. Dalam konvensional, semua hal yang dilakukan adalah berdasarkan keuntungan maksimal dan peraturan sekuler serta

kepemilikan dipegang oleh shareholders. Tetapi dalam takaful, semua berdasarkan peraturan Syariah dan bertujuan untuk kemakmuran bersama serta kepemilikan dipegang oleh semua partisipan. Yang mengatur operasional dalam konvensional adalah manajer perusahaan, namun dalam takaful adalah operator, dan kesepakatan yang dibuat juga berbeda, kalau konvensional berdasarkan kontrak tertulis, namun takaful berdasarkan kesepakatan bersama. Penambahan dana juga berbeda, kalau konvensional berdasarkan bunga dan keuntungannya diberikan pada shareholders, namun dalam takaful, keuntungan didapat dari murni keuntungan investasi dan dibagi kepada semua partisipan.

Keuntungan dari Takaful

Dari penerapan Takaful, sebenarnya ada beberapa keuntungan yang hanya bisa didapatkan pada Takaful ini sendiri. Yang pertama adalah, dana yang diinvestasikan terjamin dan dapat dipastikan akan digunakan untuk investasi di produk Syariah dan tidak mengandung unsur haram, riba, gharar, dan ketidakjelasan lainnya. Selain itu dalam takaful tidak adanya dana hangus, yang berarti dana yang ada bisa dicairkan kapanpun dan tidak akan hangus jika tidak diambil. Lalu bagi hasil yang diterapkan dalam takaful ini sendiri relative menguntungkan karena ada beberapa perusahaan yang sampai memberikan bagi hasil 30 % untuk perusahaan dan 70 % untuk nasabah, dan hal ini menjadi salah satu daya tarik untuk asuransi syariah itu sendiri. Kemudian Takaful ini sendiri, saat nasabah tidak sanggup membayar tepat waktu atau terlambat membayar, dana yang mereka miliki tidak akan berubah dalam hal keamanannya dan dalam kuantitasnya, karena takaful ini sendiri berbasis pada amanah dan tolong menolong, sehingga hal ini dapat terjadi dalam asuransi Syariah, dan selalu diawasi oleh Lembaga Badan Pengawas Syariah. Hal yang terbaru dan menurut kami paling menarik adalah Terdapat fitur double claim, yang berarti bahwa satu polis dapat berlaku bagi satu keluarga, jadi bisa mengklaim asuransi tidak hanya untuk diri sendiri, namun bagi keluarga yang tercatat dalam polis itu juga, sehingga sangat memudahkan jika ada musibah.

Kemunduran Takaful di Indonesia

Walaupun konsep dan peraturan yang tertera begitu matang, di Indonesia asuransi Syariah atau takaful, mempunyai beberapa cabang atau penerapan yang belum berhasil untuk

bertahan di Indonesia, seperti Asuransi Takaful Umum yang baru tutup pada tahun 2017 kemarin. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab kurang berkembangnya takaful dan asuransi Syariah dalam Indonesia. Yang pertama adalah karena kurangnya SDM yang ada di Indonesia dengan pengetahuan yang baik tentang Takaful itu sendiri, dan juga perilaku yang masih menyeleweng dalam penerapan Takaful itu sendiri akibat kekeliruan. Hal ini dapat diselesaikan dengan melakukan sosialisasi dan literasi yang membuat takaful ini sendiri marak di Indonesia, selain untuk menaikkan penyediaan sumber daya manusianya itu sendiri, hal ini juga dapat membuat takaful dan asuransi Syariah lebih dikenal di masyarakat Indonesia. Yang kedua adalah banyaknya partisipan yang tidak dapat membayar dana kontribusi dari polis mereka. Memang tidak dapat dipungkiri karena fleksibilitas yang tinggi dalam pembayaran dana kontribusi polis dalam asuransi Syariah itu tinggi, namun seharusnya ada beberapa rencana mitigasi yang dapat dilakukan agar perusahaan tetap memiliki dana untuk menutupi kekurangan sehingga tidak terjadi kehabisan dana yang menyebabkan bangkrut. Yang ketiga adalah kadang Lembaga asuransi Syariah sendiri tidak mematuhi aturan Syariah seperti penyelewengan dalam praktek akad dan juga tidak mengkonsiderasikan bahwa regulasi dari negara merupakan acuan yang harus selalu dituruti sehingga kadang ada peraturan yang tidak dianggap penting sehingga menyebabkan tidak tercapainya potensi maksimal dari perusahaan sendiri, seperti missal target negara yang mewajibkan perusahaan asuransi Syariah mempunyai dana modal yang tersedia sebesar 900 juta namun perusahaan tidak terlalu memperhatikannya, karena masalah keempat yaitu terlalu ideal dalam menjalankan operasional. Idealisme walaupun perlu dalam hal prinsip seperti landasan Syariah, namun dalam landasan operasional, seharusnya sebuah perusahaan dapat melakukan penyesuaian dengan kondisi yang terjadi, karena dalam masa kesulitan seharusnya perusahaan dapat menyesuaikan diri agar tidak terjadi masa bangkrut, seperti misal penyesuaian rasio bagi hasil dengan kesepakatan seluruh pihak.

Skema Takaful

Takaful memiliki beberapa skema yang bergantung pada jenis akadnya. Ada tiga jenis akad yang biasa digunakan yaitu takaful dengan akad wakalah, takaful dengan akad mudharabah, dan takaful dengan penggabungan akad. Walaupun begitu, pada praktiknya takaful dengan penggabungan akad masih belum banyak dipergunakan.

Skema Takaful dengan Akad Wakalah

Pada skema takaful dengan akad wakalah, perusahaan takaful berhak mendapatkan ujrah (upah) untuk jasanya sebagai wakil. Meskipun begitu, perusahaan takaful tidak menanggung untung maupun rugi karena hal tersebut sepenuhnya merupakan hak nasabah. Dalam takaful dengan menggunakan akad wakalah ini, perusahaan takaful berhak untuk meminta ujrah sebagai insentif dari jasanya.

Dalam Skema ini dana yang di beri oleh nasabah dibagi menjadi dana takaful yang akan diinvestasikan agar saat untung, menambah dana takaful dan fee yang akan dibagikan ke shareholders serta perusahaan.

Skema Takaful dengan Akad Mudharabah

Dalam skema ini, dana Takaful di kelola oleh pengelola dana dan keuntungannya dibagi antara semua pihak. Pembagian keuntungan tersebut bisa hampir mencapai 50% per pihak atau lebih, dan disesuaikan sesuai persetujuan awal. Pada umumnya pembagian persetujuan pembagian resiko ini membuat pengelola dana takaful untuk berbagi hasil dari operasional dan juga hasil dari keuntungan premi yang diinvestasikan.

Dalam skema ini, nasabah membuat perjanjian dengan perusahaan takaful, kemudian uang yang diberi nasabah akan di investasikan. Keuntungannya akan diberikan kepada dana takaful nasabah, namun akan dipotong perjanjian bagi hasil, potongan tersebut akan digunakan unuk biaya operasional, untuk perusahaan, dan untuk shareholders

Hybrid Model

Hybrid Model merupakan takaful dengan akad yang merupakan dari gabungan akad wakalah dan mudharabah. Dengan akad ini, pengelola dana tidak hanya memberikan biaya operasional naun juga membagikan keuntungannya.

Dalam skema ini, dalam awalnya sama seperti pembagian dalam skema wakalah, namun saat mendapatkan keuntungan, akan dibagi hasil kepada perusahaan dan nasabah itu sendiri.

Kesimpulan

Jadi untuk menyimpulkan, Takaful adalah sebuah sumber yang memberikan kompensasi finansial atas kerugian dari suatu pihak namun dengan basis Syariah. Takaful juga bergerak pada basis tolong menolong dan bertujuan untuk memberi kesejahteraan untuk semua pihak. Semua Fiqh tentang takaful menjelaskan agar kita saling tolong menolong, berbuat baik terhadap sesame dan menghindari sifat bathil dalam hal apapun yang kita lakukan sehingga takaful sangat dianjurkan untuk diterapkan. Takaful sendiri berbasis pada akad Tijjarah dengan Mudharabah dan juga dengan Tabbaru’ melalui hibah dengan keuntungan yang didapat dari bagi hasil dan juga fee untuk perusahaan. Selain itu terdapat tiga skema takaful yaitu dengan akad wakalah, mudharabah, dan juga campuran dari keduanya. Takaful sendiri telah dilakukan berdasarkan fatwa DSN MUI dan diawasi oleh Badan Pengawas Syariah sehingg prakteknya seharusnya lancar, namun ada beberapa hal yang perlu dibenahi agar Takaful dapat menyebar dan memberikan potensi maksimalnya di manapun.

Sumber

  • Mugiyati, (2014) “Kajian Hukum Islam terhadap Aplikasi Kafalah pada Asuransi Takaful”
  • Hairul Suhaimi Nahar, (2015) “Insurance vs Takaful: identical sides of a coin?”, Journal of Financial Reporting and Accounting, Vol. 13 Issue: 2, pp.247-266, https://doi.org/10.1108/JFRA-02-2015-0029
  • http://lib.vcomsats.edu.pk/library/FNC721/COURSE%20CONTENTS/HANDO UTS/Chapter%2018.docx
  • Fatwa DSN MUI 21/DSN-MUI/X/2001 Pedoman Umum Asuransi Syari’ah. https://drive.google.com/file/d/0BxTl-lNihFyzSGNSNmYtZVFXRjg/view
  • http://takafuleexam.com/e-content/TBE- A/content/29175407IBFIM_Part_A/chapter_A5/A5_page_04.html
  • https://klinikasuransi.com/2017/04/04/asuransi-takaful-umum-tutup-ini-yang- harus-diperhatikan-asuransi-syariah-lainnya/
  • https://www.kompasiana.com/endiaryoko/takaful-asuransi- syariah_55816eb8137f61f91b3e7e02
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *