Study and Pray Dilemma

Sumber Jurnal: Does Education Secularize the Islamic Population? The Effect of Years of Schooling On Religiosity, Voting, and Pluralism In Indonesia

 

Penulis: Masuda, Kazuya; Yudhistira, Muhammad Halley

 

Tahun Terbit: 2020

 

Publisher: Center for Economic Institutions Working Paper Series 

 

Pendahuluan

 

Jumlah penduduk beragama pada negara berkembang diperkirakan akan mengalami kenaikan dalam waktu sepuluh dekade ke depan. Di sisi lain, pengembangan pada sistem pendidikan di negara berkembang juga sedang mengalami ekspansi besar-besaran. Alhasil, faktor agama dan juga pendidikan menjadi sangat berpengaruh terhadap tiap individu dan berujung kepada bagaimana sebuah masyarakat terbentuk. Kondisi kedua faktor ini bergerak secara progresif sehingga kita perlu mengetahui dampak-dampak apa saja yang sekiranya dapat ditimbulkan ketika agama dan juga pendidikan memengaruhi suatu individu dan masyarakat. Hal  ini juga penting untuk diketahui oleh pemerintah agar dapat menyikapi langkah politik serta arah pengembangan ekonomi kedepannya dengan tepat.

Penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan antara tingkat pencapaian pendidikan dengan religiusitas suatu individu, dalam hal ini agama Islam, di negara Indonesia. Sebelumnya belum ada suatu konsensus yang menentukan bagaimana tingkat edukasi dan kesadaran beragama saling berkorelasi. Penemuan pada penelitian ini akan menitik-beratkan pada efek pencapaian pendidikan terhadap reformasi pendidikan, efek pendidikan terhadap religiusitas seseorang dalam kepercayaan maupun praktik keagamaan, mekanisme potensial, pencapaian pendidikan dengan perilaku dalam Pemilu, dan hubungan antara pendidikan dengan hubungan sosial antar agama.

 

Data dan Identifikasi

 

Penelitian ini didasarkan dengan data dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) gelombang ke-4 dan ke-5 yang dilakukan pada 2007 dan 2014 oleh RAND Corporation. Data ini didapatkan berdasarkan hasil survey dari 30.000 responden dari 13 provinsi di Indonesia dimana mencakup 83% populasi Indonesia. Informasi yang berusaha untuk didapatkan dari survey ini adalah afiliasi keagamaan, tradisi dan kepercayaan, intensitas ibadah per hari, dan konsumsi makanan halal di Indonesia. Responden juga ditanya soal pendapat mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang bersinggungan dengan orang yang berbeda agama dan juga pengaruh agama dalam menentukan pilihan dalam Pemilu.

Berikut adalah model regresi pada penelitian ini,

Dimana Yijt adalah religious outcome, Sijt adalah tingkat pendidikan terakhir, Xijt adalah variabel kontrol yang memerhitungkan dumi urban-rural dan gender. F(yobj) adalah fungsi kubik dari tahun lahir responden, λt melambangkan survey fixed effect, dan terakhir ijt adalah eror. 

Untuk elemen Sijt sendiri perlu diperhitungkan lebih dalam mengingat ada pengaruh reformasi pendidikan tahun 1971 yang dapat memengaruhi hasil akhir. Berikut adalah persamaannya,

Dimana Dj1971 bernilai 1 jika responden lahir tahun 1971 atau sebelumnya, dan 0 jika sebaliknya. Reformasi pendidikan pada tahun 1971 menyebabkan bertambah lamanya tahun ajaran terhadap individu yang terpapar dampak dari reformasi ini.

 

Hasil dan Analisis

 

Tahap pertama: Efek reformasi dalam pencapaian pendidikan

Pada tahun 1978, menteri pendidikan di kala itu mengadakan reformasi pendidikan yang mana merubah pelaksanaan tahun ajaran dari yang sebelumnya dimulai di bulan Januari menjadi bulan Juni. Alhasil, pelajar angkatan 1978 yang terkena dampak reformasi ini terpaksa harus merenggangkan masa belajarnya sampai enam bulan kedepan. Tambahan enam bulan masa belajar ini yang menjadi perhatian peneliti. Bisa jadi situasi ini mempengaruhi tingkat pencapaian pendidikan. Pada tahun 2000-an sebetulnya juga terjadi reformasi pendidikan sebanyak dua kali, namun reformasi ini tidak mempengaruhi penelitian kali ini. 

Ketika permasalahan ini diolah menggunakan skema OLS, ternyata penambahan masa belajar akibat dari reformasi ini menambah tingkat pencapaian pendidikan pelajar terdampak. Paparan dari tahun ajaran yang lebih panjang menambah pencapaian pendidikan sekitar 0,6-0,7 tahun.[tabel 1]

Efek pendidikan pada religiusitas dan praktik keagamaan subjektif

 

Sekarang mari kita cari tahu apakah pencapaian pendidikan dapat memengaruhi tingkat religiusitas seseorang. Pada tahap pertama, peneliti menggunakan teknik OLS untuk melihat hubungan ini. Pada [tabel 2] kolom 1 dan 3 menyatakan bahwa tambahan masa pendidikan berhubungan negatif dengan kondisi keislaman seseorang dan non-religiusitas subjektif. Meningkat ke tahap kedua, peneliti menggunakan teknik TSLS untuk mencari tahu hubungan antara kedua hal ini. Dilihat dari [tabel 2], hasilnya adalah tingkat pencapaian pendidikan berhubungan negatif dengan keislaman seseorang, namun tidak sampai menyebabkan orang tersebut berpindah keyakinan. Sehingga dari sini, pendidikan tidak memengaruhi kecenderungan seseorang untuk menjadi seorang muslim. 

[tabel 3] menyatakan hubungan antara pencapaian pendidikan dengan praktik keagamaan seseorang. Praktik agama disini mencakup salat lima waktu, konsumsi makanan halal, dan keikutsertaan pada kegiatan keagamaan dalam 12 bulan terakhir. Peneliti menemukan bahwa orang yang teredukasi mempunyai kecenderungan untuk meninggalkan salat harian dan mengonsumsi makanan non-halal lebih tinggi masing-masing sebesar 4,4 dan 2,2 persen. Namun begitu, peneliti tidak menemukan hubungan antara pendidikan dengan partisipasi seseorang terhadap kegiatan keagamaan. Jika kita interpretasi lebih dalam maka kesimpulannya adalah orang yang berpendidikan tidak akan sampai meninggalkan salat lima waktu sepenuhnya, melainkan hanya mengurangi jumlah salat hariannya. Selanjutnya, orang yang berpendidikan bisa jadi kadang-kadang mengonsumsi makanan non halal. Lebih jauh lagi, ditemukan bahwa sekularisasi yang terjadi kebanyakan ditemukan pada masyarakat perkotaan dibanding pedesaan [tabel 4]

 

Mekanisme potensial

 

Kira-kira, apa rasionalisasi hubungan negatif tingkat pencapaian pendidikan dengan religiusitas seseorang? Teori klasik rational consumer model menyatakan bahwa pendidikan cenderung meningkatkan produktivitas dan kemampuan seseorang mendapatkan gaji, sehingga meningkatkan opportunity cost (biaya peluang). Karena banyak kegiatan yang lebih terasosiasi dengan materi, maka ini menyebabkan individu tersebut mengurangi praktik keagamaan, terutama yang banyak memakan waktu. Perlu dicatat bahwa mekanisme ini kurang relevan di area pedesaan karena kurangnya alternatif pilihan kegiatan materialistik untuk disandingkan dengan praktik keagamaan [tabel 5].

Pertimbangan selanjutnya adalah mengenai presensi club goods. Club goods adalah suatu barang yang jika dikonsumsi tidak mengorbankan ketersediaan barang tersebut untuk konsumsi orang lain (non-rivalry) namun eksklusif pada satu kelompok tertentu (excludable). Dalam kasus ini, konsep club goods dapat terjadi kepada orang yang terafiliasi dengan organisasi keagamaan tertentu. Peneliti berhipotesa bahwa ketergantungan seseorang terhadap presensi club goods dapat berkurang jika individu tersebut mendapatkan akses yang baik terhadap kredit. Namun hasil dari perhitungan kasus ini kurang dapat diandalkan karena terlalu kecilnya ruang sampel dan rendahnya F-Statistics tahap pertama.

 

Pendidikan dan perilaku dalam pemilu

 

[tabel 8] menunjukan pengaruh agama terhadap perilaku dalam Pemilu (voting). Hasilnya menunjukan relasi negatif antara pendidikan dengan kecenderungan untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Selain itu, hasil yang lain menunjukan hubungan terbalik antara tingkat pendidikan dengan pengaruh sentimen agama terhadap pilihan seseorang dalam pemilu. Sekali lagi, hasil dari penelitian ini lebih kentara efeknya di daerah kota dibanding daerah desa. Semakin lamanya masa pendidikan yang ditempuh, maka akan mengurangi kecenderungan pemilih dalam menjadikan agama sebagai acuan terpenting atau kedua terpenting dalam pemilu. 

Jika ditinjau menggunakan rational consumer model, tingkat pencapaian pendidikan yang tinggi menyebabkan seseorang mendapatkan gaji yang lebih tinggi, yang mana ini menyebabkan lebih tingginya opportunity cost dalam partisipasi pemilu. Biasanya, di Indonesia menerapkan hari libur khusus untuk menyediakan waktu orang-orang untuk nyoblos. Tapi hasil dari penelitian ini menunjukan, para pekerja yang teredukasi ini akan lebih memilih untuk memanfaatkan satu hari libur tersebut sebagai leisure time dibanding pergi ke TPS untuk nyoblos. Selain itu orang yang terdidik akan memiliki tingkat literasi yang tinggi sehingga, pada akhirnya, tidak menjadikan agama sebagai faktor dominan untuk menentukan pilihan dalam Pemilu.

 

Pendidikan dan kepercayaan antar umat beragama

 

Lebih jauh lagi, penelitian ini juga mencari tahu hubungan antara tingkat pencapaian pendidikan dengan hubungan kepercayaan antar umat beragama. Pada [tabel 10] terlihat bahwa ternyata pendidikan tidak terlalu berpengaruh terhadap sikap antar umat beragama satu sama lain. Sikap dan tingkat kepercayaan antar umat beragama yang rendah lebih terpengaruh akibat paparan lingkungan dan komunitas tertentu. Suatu individu tidak terdorong untuk mengurangi kepercayaan antar umat beragama karena mereka tetap mau mendapatkan lingkungan sosial yang luas terlepas dari agama yang dianut satu sama lain.

 

Kesimpulan

 

Dari penelitian ini penulis bisa menyimpulkan bahwasannya pendidikan mempunyai pengaruh yang cenderung negatif terhadap religiusitas seseorang dalam berbagai aspek. Agama juga menjadi faktor seseorang kehilangan objektivitas dalam menentukan pilihan dalam pemilu. Namun begitu, pendidikan dan religiusitas tidaklah menjadi penghambat dalam bersosial, terutama bersosial dengan orang yang berbeda keyakinan. Pengaruh pendidikan terhadap religiusitas ini lebih kentara pada penduduk perkotaan dibanding pedesaan dikarenakan lingkungan kota menyediakan lebih banyak alternatif untuk melakukan kegiatan produktif dibanding di desa, sehingga membuat agama semakin terkesampingkan oleh masyarakat kota.

Catatan pribadi dari penulis: penelitian ini perlu dikembangkan lagi, terutama untuk mendalami pengertian pendidikan seperti apa yang menjadikan agama semakin terlupakan, mengingat setiap individu mencerna proses pendidikan dengan berbeda-beda. Selain itu, perlu diperdalam pula cara beragama seperti apa yang membuat seseorang menjadi kurang objektif dan mengenyampingkan pertimbangan keilmuan rasional yang diajarkan di dalam pendidikan formal. Seharusnya semakin religius seseorang maka akan bisa menyeimbangkan dunia dan akhirat dengan sikap yang tepat karena pada dasarnya Islam adalah agama yang rasional dan terbuka terhadap pemikiran-pemikiran luar dengan batasan yang sudah ditentukan di dalam Alquran dan hadis, . Wallahu a’lam bishawab.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *