Skin Care, Memang Butuh atau Sebatas Keinginan?

Oleh: Reisha Adanna K (Bisnis Islam 2018), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2019

Dalam beberapa tahun ke belakang, produk kecantikan menjadi sangat beragam, baik jenis produknya maupun brand yang beredar.  Peningkatan permintaan oleh para kaum wanita, khususnya dalam kategori produk skin care menjadi salah satu faktor besar yang menyebabkan perluasan pasar industri kecantikan tersebut. Kesadaran untuk menjaga penampilan dan kesehatan kulit ini dipengaruhi oleh tren para beauty blogger di media sosial. Permintaan skin care tidak lagi terbatas pada masyarakat kelas ekonomi tertentu bahkan produknya tidak hanya dijual di kota-kota besar. Generasi millenial dan generasi Z menjadi penyumbang angka konsumen paling besar terhadap produk ini.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan serangkaian produk skin care bukanlah suatu hal yang sulit karena produknya telah tersedia secara massal diberbagai retail store. Berkembangnya industri lokal juga menjadi sesuatu yang semakin menguntungkan baik bagi konsumen maupun produsen karena harga yang diperoleh menjadi lebih terjangkau, dengan uang kurang dari Rp 100.000 pun seseorang sudah dapat memperoleh sebuah produk. Selain itu, perkembangan teknologi turut andil dengan kehadiran online store yang memudahkan konsumen untuk dapat berbelanja produk dari berbagai belahan dunia. Skin care yang tersedia pada retail dan online store memiliki peminat paling banyak karena tingkat immediacy masyarakat yang cukup tinggi akan hal ini, aksesibilitas yang lebih mudah, serta harganya yang lebih pas di kantong.

Bagi sebagian besar wanita, pembelian produk skin care telah menjadi pengeluaran rutin setiap bulannya. Sehingga, hal tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu kebutuhan. Menurut ilmu ekonomi islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga jenis, kebutuhan dharuriyat, yang dikenal juga sebagai kebutuhan primer, merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi apabila tidak dipenuhi akan mengancam kelangsungan hidup seseorang, seperti sandang, pangan, dan papan. Kemudian, kebutuhan hajiyat atau sekunder adalah kebutuhan yang menjadi pelengkap setelah kebutuhan dharuriyat terpenuhi dan terdapat unsur keinginan dalam pemenuhannya, seperti kendaraan pribadi, telepon seluler, dsb. Yang terakhir adalah kebutuhan tahsiniyat yaitu kebutuhan tersier yang dipenuhi setelah kedua kebutuhan sebelumnya terpenuhi dan bersifat barang mewah, contohnya adalah barang elektronik dan melakukan travelling. Jika melihat perilaku konsumen saat ini, mayoritas wanita menganggap skin care sebagai kebutuhan hajiyat karena telah menjadi suatu kebutuhan yang rutin dipenuhi setelah kebutuhan dharuriyat terpenuhi.

Keperluan setiap individu tidaklah sama, oleh karena itu skin care tidak selalu menjadi kebutuhan seseorang. Hal ini kembali lagi kepada kondisi seseorang, jika sebetulnya kulitnya tidak memiliki masalah apapun, maka skin care akan hanya menjadi sebuah pemenuhan keinginan bagi orang tersebut untuk sekedar mempercantik diri. Keinginan menurut ilmu ekonomi islam adalah sesuatu yang berasal dari hasrat (nafsu) dan pemenuhan suatu keinginan akan menghasilkan sebuah kepuasan.

Jumlah uang yang dialokasikan para perempuan Indonesia pun rata-rata paling sedikit 20 persen dari total uang yang dimiliki untuk kebutuhan skin care, yaitu sekitar Rp 200.000 hingga Rp 400.000 per bulan. Bukan jumlah yang dapat dibilang sedikit dan mereka rela untuk mengeluarkan sejumlah uang tersebut karena merawat kulit dianggap sebagai upaya untuk menghargai diri sendiri juga sebagai investasi terhadap kulit, sehingga akan tetap sehat dalam jangka waktu panjang walaupun tanpa penggunaan makeup. Otomatis, mereka akan merasa lebih percaya diri. Namun sebagai seorang muslim, kita pun harus menyadari kondisi ekonomi masing-masing dan tidak melakukan permintaan terhadap suatu barang sama banyak atau bahkan melebihi pendapatan (berhutang), apalagi jika harus mengesampingkan kebutuhan dharuriyat demi pemenuhan kebutuhan skin care ini. Akan menjadi suatu nilai plus ketika seseorang dapat menyisihkan sebagian alokasi budget skin care-nya, sehingga uangnya tidak akan habis begitu saja, terlebih jika ia melakukan kegiatan investasi, maka jumlah kepemilikan uangnya di masa depan akan lebih banyak.

Dalam berinvestasi, lazimnya diterapkan prinsip 50/30/20. Prinsip tersebut mengandung arti 50 persen dari uang yang dimilikinya digunakan untuk keperluan sehari-hari (kebutuhan dharuriyat), sedangkan 30 persen uang yang dimilikinya digunakan untuk kebutuhan hajiyat dan tahsiniyat. Yang terakhir, 20 persen dari uangnya akan digunakan untuk berinvestasi. Misalkan, apabila seseorang menghabiskan Rp 400.000 setiap bulannya untuk kebutuhan skin care sebagai kebutuhan hajiyat/tahsiniyat-nya dan ingin melakukan kegiatan investasi, ia hanya perlu menyisihkan Rp 160.000. Dengan menggunakan metode lump sum, ketika ia menginvestasikan Rp 160.000 tersebut setiap bulannya selama satu tahun, ia akan mendapat tambahan uang sejumlah Rp 384.000 pada akhir tahun, sehingga jumlah keseluruhan uangnya akan mencapai Rp 2.304.000. Di tahun berikutnya, jumlah keuntungan yang ia peroleh akan bertambah menjadi Rp 844.800 dalam satu tahun dan total uangnya menjadi Rp 5.068.800. Jumlah keuntungannya akan terus meningkat seiring dengan semakin banyak jumlah tahun yang dilewati.  Dan di tahun-tahun berikutnya, jumlah pertambahan uangnya akan semakin besar. Opportunity cost jika uang yang disisihkan hanya untuk disimpan secara pribadi saja, maka dalam lima tahun jumlahnya hanya akan mencapai Rp 9.600.000 dan jika diinvestasikan akan mencapai jumlah Rp 15.132.672. Tentu saja, jika semua wanita telah menyadari hal ini, secara tidak langsung akan berdampak pula pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia? Hal ini perlu lebih disosialisasikan kepada masyarakat, mengingat kesadaran wanita Indonesia terhadap aktivitas investasi masih rendah yang menurut data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Oktober 2018, investor pria di Indonesia memiliki jumlah 59,4 persen sedangkan untuk investor wanita jumlahnya hanya 40,6 persen.

Jadi, sah-sah saja jika sebagian orang menganggap bahwa skin care merupakan sebuah kebutuhan dalam hidupnya karena terdapat sebuah maslahah yang akan diperoleh, yaitu kesehatan kulit dalam jangka panjang. Tujuan konsumsi menurut ekonomi islam sendiri adalah untuk mencapai suatu maslahah (kesejahteraan).  Namun perlu dicatat, selama produk yang dibeli memang benar dibutuhkan dan sesuai dengan kondisi ekonomi orang tersebut. Seperti yang telah dijelaskan dalam surat Al-Maidah ayat 87, bahwa konsumsi pada hakikatnya adalah mengeluarkan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan yang meliputi keperluan, kesenangan, dan kemewahan. Kesenangan atau keindahan tersebut diperbolehkan selama tidak berlebihan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. “

QS. Al-Ma’idah: 87

Dengan adanya investasi, uang yang dimiliki seseorang akan terus berputar dan bertambah jumlahnya dalam beberapa kurun waktu sehingga selain terpenuhinya kebutuhan serta kepuasan batin, tercapai pula sebuah keuntungan finansial.

Referensi

Anna, L.K. (2018, July 27). Karena Skincare adalah Investasi. Retrieved September 21, 2019, from https://lifestyle.kompas.com/jeo/karena-skincare-adalah-investasi

Engelhardt, L. M. (2011, August 11). Personal finance principles: A guide principles of microeconomics students. Retrieved October 2nd 2019 from https://www.lucasmengelhardt.com

Medias, F. (2018, Mei). Ekonomi Mikro Islam. Magelang: Unimma Press

Salam, F. & Adam, A. (2018, September 24). Berapa Rupiah Pengeluaran Bulanan Kita agar  Tampil “Cantik”? Retrieved September 21, 2019, from https://tirto.id/berapa-rupiah-pengeluaran-bulanan-kita-agar-tampil-cantik-c186.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *