Sistem Bisnis Rasulullah SAW

Sistem Bisnis Rasulullah SAW

Nurjannah
Staff Biro Bisnis dan Proyek IBEC

Rasulullah SAW merupakan utusan Allah SWT yang terakhir sebagai pembawa kebaikan dan kemashlahatan bagi seluruh umat manusia. Dalam buku yang ditulis oleh Michael Hart, ia menempatkan Rasulullah sebagai orang nomor satu dalam daftar seratus orang yang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sejarah. Kesuksesan yang dituai oleh Rasulullah salah satunya dapat dilihat dari kiprahnya sebagai seorang pedagang (wirausahawan). Nabi Muhammad telah menghabiskan waktunya dengan menjadi seorang pebisnis selama 25 tahun hidupnya. Ia memulai karirnya sebagai seorang pebisnis pada saat ia berumur 12 tahun. Kala itu ia sering diajak oleh pamannya, Abu Thalib untuk pergi berdagang ke negeri Syam. Menginjak usia 25 tahun, Rasulullah mulai berdagang secara mandiri tanpa bantuan Abu Thalib. Rasulullah kerap bepergian ke Syam (sebagian wilayahnya mencakup Suriah) untuk menjual barang dagangan yang dikulak dari Mekah.

Selama beliau berbisnis, tidak pernah sekalipun ia merugi. Hal ini dikarenakan pribadi mulia yang diterapkan oleh Rasulullah selama berdagang. Seperti berpendirian teguh, memiliki semangat kerja yang tinggi, jujur, menjunjung tinggi amanah yang diberikan orang lain, menghadapi semua rintangan dalam perjalanan, menyamakan pelayanan kepada pembeli, percaya diri, serta bersikap ramah dan sopan. Dan hal yang perlu digarisbawahi bahwa Rasulullah melakukan bisnis tidak untuk memupuk untuk kepentingan pribadinya. Akan tetapi beliau, mambagikan dan memberikan hasil yang didapatkannya untuk kepentingan seluruh umat.

Berikut adalah sistem atau strategi bisnis yang diterapkan oleh Rasulullah :

  1. Diniatkan karena Allah SWT (Lillahi Ta’ala)

Dasar utama Rasulullah melakukan bisnis yakni atas niat karena Allah, lillahi Ta’ala. Bukan semata-mata untuk memupuk keuntungan sebesar-besarnya untuk dimanfaatkan secara pribadi. Dan pada akhirnya kecakapan Rasulullah dalam berdagang mendapar perhatian dari seorang wanita yang kaya raya lagi baik akhalaknya bernama Khadijah. Setelah menikahi Khadijah, bisnis Rasulullah menjadi semakin sukses. Dan hal itu merupakan buah dari niat yang tulus.

  1. Bersikap jujur

Selama hidupnya, Rasulullah dikenal sebagai seorang yang sangat jujur, termasuk ketika ia sedang melakukan perdagangan. Beliau tidak pernah mengurangi takaran timbangan sedikitpun, bahkan tak jarang beliau melebihkan timbangannya demi untuk menyenangkan pembelinya. Dan juga beliau selalu mengatakan kondisi barang yang dijualnya baik itu kelebihannya maupun kekurangannya. Karena hal inilah, Rasulullah mendapat julukan Al-Amin (dapat dipercaya)

  1. Menjual barang berkualitas bagus

Prinsip lain yang digunakan oleh Rasulullah ketika berbisnis adalah menjual barang yang memiliki kualitas bagus dan tidak cacat sedikitpun. Sebab itu akan merugikan pembeli dan bisa menjadi dosa bagi si penjual.

  1. Mengambil keuntungan sewajarnya

Dalam berbisnis, Rasulullah selalu mengambil keuntungan sewajarnya, dengan cara tidak menjual barang jualannya dengan harga yang sangat mahal. Bahkan ketika ditanyai oleh pembeli tentang modalnya, beliau akan memberitahukan sejujur-jujurnya.

  1. Saling menguntungkan kedua belah pihak

Cara berdagang rasulullah selanjutnya dengan mengutamakan prinsip saling menguntungkan serta suka sama suka antar pembeli dan penjual.

  1. Tidak melakukan penipuan

Dalam berdagang Rasulullah SAW juga tidak pernah melakukan penipuan. Perlu diketahui bahwa tindakan menipu pembeli, sekecil apapun dan dalam bentuk apa saja itu tentu dilarang oleh agama.

  1. Bersikap ramah dengan pembeli

Bersikap ramah, santun dan selalu tersenyum kepada pembeli juga merupakan cara berdagang Rasulullah SAW.

  1. Tidak menjual barang haram

Menjual barang-barang haram jelas tidak diperbolehkan dalam Islam dan Nabi juga tidak pernah melakukan hal tersebut. Maka itu, jauhilah berdagang barang-barang yang tidak jelas kehalalannya, semisal minuman keras, rokok, patung dan sebagainya.

  1. Memberikan upah kepada karyawan tepat waktu

Rasulullah selalu memberikan hak karyawannya berupa upah secara tepat waktu dan tidak menunda-nundanya. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Tidak mudah putus asa

Jika ingin sukses, seorang pebisnis tidak boleh mudah berputus asa karena segala sesuatu perlu proses agar dapat mencapai kesuksesan yang diinginkan. Begitu pula dalam berbisnis, jika pada saat nya kita berada di titik paling bawah, kita tidak boleh langsung berputus asa, tetapi kita diharuskan untuk sabar, qana’ah, tabah serta selalu berdoa kepada Allah SWT

  1. Tidak melupakan ibadah

Kunci utama keberhasilan Rasul SAW dalam berdagang yakni tidak melupakan ibadah.

 

Referensi:

http://www.bacaanmadani.com/2017/09/8-kunci-keberhasilan-usaha-dagang-nabi.html

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/06/15/orktr7313-jejak-bisnis-rasulullah

https://infopeluangusaha.org/berikut-ini-rahasia-sukses-berbisnis-ala-rasulullah-saw/

https://pengusahamuslim.com/184-manajemen-bisnis-rasulullah.html