Rasionalitas dalam Ekonomi Islam

Bagaimana Rasionalitas dalam Ekonomi Islam?

Setiap orang dalam kehidupan ini memiliki pilihan yang belum tentu sama. Standar dan pereferensi yang berbeda kerap kita jumpai dalam kehidupan masyarakat. Orang yang memiliki uang yang terbatas, kemudian mendonasikan uangnya kepada orang lain terkadang dianggap tidak rasional. Ilmu ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari tentang pilihan atas keterbatasan, memiliki aksioma dalam berpikir sehingga membentuk rasionalitas dalam ekonomi itu sendiri.

Ekonomi konvensional memandang rasionalitas sebagai suatu eksistensi aksioma dalam memilih suatu pilihan. Beberpa poin rasionalitas dalam ekonomi konvensional dalam level mikro ialah (1) individu selalu membuat pilihan yang memberikan utilitas tertinggi; dan (2) individu memiliki rational set of preference yang konsisten yang dapat memenuhi 3 aksioma yaitu transitivity, completeness, dan continuity. Dengan kata lain individu berusaha untuk memaksimumkan utilitas dengan biaya seminim mungkin. Salah seorang tokoh ekonomi, Edgeworth menyatakan dalam bukunya Mathematical Psychics (1881) bahwa “the first principle of economics is that every agent is actuated only by self interest,”[1]. Sehingga dalam konteks mikro, ekonomi konvensional memiliki concern terhadap pemenuhan utilitas secara individu. Lantas bagaimana rasionalitas dalam ekonomi islam?

Salah satu konsep dasar dalam ekonomi islam ialah adanya prinsip huquq yaitu kerangka berpikir yang bersifat multidimensi dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Konsep huquq memiliki cakupan yang luas yang meliputi hak terhadap diri sendiri (self-interest), orang lain (society), lingkungan (environment), dan terhadap tuhan (god interest). Selain itu, ekonomi islam pun memiliki concern terhadap generasi masa depan, sehingga sumber daya dimanfaatkan dalam waktu yang lama.Oleh karenanya, konsep huquq dalam ekonomi islam pun mengambil peranan penting dalam membentuk rasionalitas dalam ekonomi islam.

Rasionalitas dalam ekonomi islam menghendaki setiap manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan maslahah yang terbaik. Ukuran maslahah ialah dengan melihat berbagai aspek (multi-interest), tidak hanya diri sendiri (self-interest). Selain itu, pemenuhan kebutuhan haruslah mendahulukan yang daruriyyat (necessity) dan juga dengan melihat kadar halal dari pilihan tersebut.Dengan kata lain kebutuhan memiliki pengertian yang berbeda dengan keinginan, dimana kebutuhan merupakan hal yang mendesak yang harus dipenuhi sementara keinginan bersifat tidak terbatas.

Oleh karena itu, rasionalitas dalam ekonomi islam memiliki standar yang tetap namun dalam pemilihannya tergantung pada individu masing-masing dengan melihat maslahah yang ditimbulkan dari setiap pilihan yang ada. Pada akhirnya, rasionalitas dalam level individu sejalan dengan tujuan dari makroekonomi yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. Tujuan tersebut telah dibangun di level individu sehingga akan sejalan dengan tujuan makroekonomi yang dihendaki.

 

Untung Handayani Ramli, Kepala Departemen Pendidikan dan Kajian IBEC 2016

 

[1] Sen, Choice, Welfare, and Measurement (Oxford: University Press, 1982) hal. 89

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *