Ramadhan: Month of Confidence

Oleh Nur Azmi Karimah (Bisnis Islam 2019), Staff Departemen Penelitian IBEC FEB UI 2020

Referensi Jurnal : Ramadan’s Impact on the Optimism of Analysts’ Recommendation

Penulis : Harit Satt and Sarah, M. Kabir Hassan, Selma Izadi

Latar Belakang

Dalam melakukan transaksi di pasar saham, seorang investor mempertimbangkan beberapa faktor dalam menetapkan keputusan. Biasanya, investor memanfaatkan jasa para analis yang berfungsi sebagai pemberi rekomendasi untuk meyakinkan keputusan berinvestasi. Rekomendasi ini adalah hasil analisis yang dilakukan oleh para profesional pasar modal menggunakan penelitian mereka untuk memberikan pendapat yang profesional kepada klien dalam mendukung keputusan investasi mereka.

Penelitian sebelumnya menemukan pola yang menarik terkait hari-hari tertentu dalam seminggu, hari-hari tertentu dalam setahun, seperti liburan, dan periode tertentu selama sebulan. Demikian pula, Lakonishok dan Smidt di 1988 menemukan pola positive return sekitar periode Natal dan downward trend of return pada hari Senin. Salah satu alasan paling umum yang diungkapkan oleh para peneliti sebagai penyebab adanya efek liburan di pasar saham adalah kecenderungan investor untuk menjadi “high spirited” serta optimis selama periode ini (Marrett dan Worthington, 2009).

Tidak hanya liburan, agama juga diteliti sebagai sumber pengaruh pandangan investor (Jamaludin, 2013; Mansour dan Jlassi, 2014). Termasuk datangnya bulan Ramadhan, yang dikenal sebagai bulan suci umat Islam dan diakhiri Idul Fitri sebagai hari rayanya. Seperangkat literatur meneliti efek Ramadhan menunjukkan abnormal return pada perilaku investor dan return pasar saham, sering positif secara signifikan terkait bulan suci ini (Al-Ississ, 2015; Białkowski et al., 2012; Seyyed et al., 2005). Hal ini diasosiasikan dengan perasaan solidaritas, keyakinan dan optimisme umat Islam selama Bulan Ramadhan.

Namun, ada klaim yang menyatakan dalam rekomendasi seorang analis terdapat ketidakmampuan menghasilkan rekomendasi yang dapat diandalkan, karena tampaknya ada beberapa bias. Dikatakan pula, meskipun rekomendasi analis dianggap sebagai komponen penting di pasar modal, telah banyak dikritik oleh publik karena kecenderungannya menghasilkan rekomendasi optimis yang tidak mencerminkan kenyataan bisnis (Mokoaleli-Mokoteli  et al., 2009). Para analis mengatakan bias ini disebabkan adanya compensation structure of the investment research industry

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui optimisme analis dalam mengeluarkan rekomendasi kepada para investor saat bulan suci Ramadhan. Sementara itu telah  ditemukan pula adanya dampak lebaran pada optimisme rekomendasi analis (Satt, 2017). dalam  penelitian ini peneliti juga akan menganalisis dampak ketika periode diperpanjang hingga satu bulan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perilaku tidak normal tidak hanya terkait investor tetapi juga investment research industry. Serta membuktikan adanya keyakinan umum menahan diri dari makan dan minum hampir sepanjang hari menciptakan suasana hati yang negatif dalam perdagangan ekonomi adalah tidak terbukti.

Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitiannya, para peneliti menggunakan regresi multivariat untuk menyoroti keberadaan efek Ramadhan pada optimisme analis. Sampel yang diambil adalah perusahaan di 10 negara Kawasan Middle East and North Africa (MENA) selama periode 2004-2015, yang diketahui bahwa populasi mereka sebagian besar Muslim.

         Tabel diatas menyajikan statistik deskriptif per negara dan per jenis rekomendasi di kawasan MENA. Data berikut dikumpulkan tiga minggu sebelum Ramadhan, saat Ramadhan dan tiga minggu setelah Ramadhan. Berdasarkan penyajiannya, diketahui sekitar 52% dari keseluruhan rekomendasi adalah strongly buy dan buy, hanya 25% yang underperform dan  sell. Oman, Kuwait dan Arab Saudi adalah negara dengan jumlah rekomendasi tertinggi melebihi 60%. Sedangkan, Tunisia mengeluarkan paling banyak rekomendasi hold.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 7 variabel kontrol, dimana faktor yang akan dipertahankan dalam penelitian tersebut.

    • Size ukuran perusahaan sebagai log of capitalization market. Perusahaan besar sering dianggap lebih baik dibandingkan perusahaan kecil.
    • Leverage rasio utang perusahaan terhadap aset.
    • EPS (Earnings per share) atau pendapatan per saham. EPS tinggi biasanya menarik investor.
    • Growth ukuran pertumbuhan aset perusahaan.
    • Analyst jumlah analis yang mengikuti perusahaan tertentu selama tahun tersebut.
    • Experience seberapa lama (berapa tahun) analis memiliki pengalaman

 

  • STD variabel yang menunjukkan ketidakpastian informasi.

 

Temuan

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah OPT. OPT sendiri didefinisikan sebagai perbedaan antara rekomendasi analis hari ini dan konsensus rekomendasi bulan sebelumnya. Selain enam variabel kontrol, peneliti juga mempertimbangkan industry dummies, country dummies, dan year dummies digunakan dalam persamaan OPT sebagai berikut.

Dari tiga persamaan tersebut, disajikan hasil pada tabel dibawah ini

Tabel berikut menunjukkan bahwa ada optimisme yang lebih tinggi setelah Ramadhan. Bahkan, koefisiennya minggu kedua dan ketiga setelah bulan suci Ramadhan secara signifikan berdampak pada optimism variabel. Di sisi lain, koefisien yang mewakili periode pra Ramadhan memiliki signifikan dampak negatif pada optimisme. Maka, rekomendasi yang dikeluarkan sebelum Ramadhan kurang optimis dibandingkan setelah Ramadhan dalam tiga model diatas. Rekomendasi dengan optimisme yang lebih tinggi setelah bulan keagamaan ini sebagai cara menciptakan positive trend dalam pasar.

Ketidakpastian informasi dan efek Ramadhan

Penelitian menunjukkan bahwa ketidakpastian informasi yang lebih besar mengarah pada rekomendasi yang bias dan optimisme yang lebih tinggi dalam rekomendasi analis (Zhang, 2006a). Ketidakpastian informasi didefinisikan sebagai efek dari informasi baru pada nilai suatu perusahaan yang dapat berasal dari buruknya kualitas informasi yang disampaikan (Zhang, 2006b).

Dengan menggunakan kembali persamaan ketiga, sampel penelitian dibagi dua sub-kategori. Perusahaan-perusahaan yang mengalami ketidakpastian informasi yang tinggi dan kelompok perusahaan dengan ketidakpastian informasi yang rendah karena penyebaran informasi dibawah rata-rata.

Tabel diatas menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki high information uncertainty tidak mengalami penurunan atau peningkatan yang signifikan pada optimismenya. Sedangkan, perusahaan yang memiliki low information uncertainty mengalami dampak pada optimisme mereka. Terjadi penurunan drastis pada minggu-minggu sebelum Ramadhan dan minggu pertama setelahnya seperti tabel diatas.

Pengalaman analis dan dampak Ramadhan

Tidak hanya information uncertainty yang mempengaruhi rekomendasi, konflik kepentingan yang timbul di perusahaan pialang memberi dampak lebih besar pada analis yang ber- pengalaman rendah. Rekomendasi yang mereka keluarkan mengarah pada bias optimism. Untuk menyelidiki masalah ini sampel dibagi menjadi dua sub-kategori, analis pengalaman tinggi dan analis kurang pengalaman. Dengan menggunakan persamaan ketiga dalam model terlengkap untuk mempertimbangkan elemen yang telah disebutkan.

Tabel diatas menyajikan hasil bahwa analis berpengalaman tinggi tidak terlihat perubahan dalam optimisme rekomendasi mereka. Sementara analis dengan pengalaman rendah, pada periode pra Ramadhan mengalami signifikan dampak negatif dan perubahan positif saat pasca Ramadhan. Analis berpengalaman tinggi juga cenderung mengeluarkan rekomendasi optimis pada pasca Ramadhan. Optimisme ini cenderung untuk meningkatkan pasar setelah stagnasi selama liburan. 

Kesimpulan

Secara keseluruhan tingkat optimisme pada periode pasca Ramadhan lebih tinggi dibandingkan periode pra Ramadhan. Hal ini membuktikan keyakinan umum bahwa menahan diri dari makan dan minum hampir sepanjang hari akan menciptakan suasana hati yang negatif dan berdampak buruk terhadap perdagangan ekonomi adalah tidak terbukti

Para peneliti juga mendokumentasikan bahwa rendahnya ketidakpastian informasi cenderung melemahkan optimisme dalam rekomendasi disebabkan kurangnya penyebaran informasi pasar. Terakhir, disimpulkan analis yang memiliki pengalaman lebih lama cenderung menurunkan optimisme dikarenakan lebih banyak masalah dan faktor yang mereka pertimbangkan. Keberadaan musiman ini menentang gagasan “tidak ada yang bisa mengalahkan pasar” dan harga memiliki pergerakan acak sebagai refleksi dari informasi yang tersedia di pasar.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *