,

PRESS RELEASE I-STUDIES #2

PRESS RELEASE I-STUDIES #2

Bismillahirahmanirrahiim
Pada hari Senin, 6 April 2017, telah dilaksanakan I-Studies ke-2 yang berbentuk FGD (Focus Group Discussion) bertemakan Finding The Best Islamic Microfinance Institution. Peserta diskusi dibagi ke dalam empat Focus Group (FG) yang memiliki bahasan masing-masing seperti BMT (Baitul Maal wa Tamwil), KJKS (Koperasi Jasa Keuangan Syariah), Grameen Bank, dan BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah). Setelah itu, peserta diskusi di setiap FG berpencar ke dalam HG (Home Group) untuk membahas mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing lembaga serta mendiskusikan model Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang paling ideal untuk diterapkan.
Pada dasarnya, LKMS diperlukan karena jangkauannya yang lebih luas. Masalah yang terjadi bagi pihak yang ingin memulai usaha namun terkendala modal adalah sulitnya mencari dana untuk memulai usaha tersebut. Di sisi lain, pihak bank sebagai penyalur kredit masyarakat menuntut adanya suatu jaminan atau agunan dari sang peminjam. Padahal, pihak yang meminjam tidak memiliki daya dukung yang cukup dalam memenuhi persyaratan tersebut. Oleh karena itu, lembaga keuangan mikro muncul untuk menjawab permasalahan yang dialami oleh kalangan menengah dan menengah ke bawah. Lebih lanjut, LKMS hadir untuk memberikan solusi dalam menyediakan pembiayaan bagi masyarakat kecil yang sesuai dengan akad dan nilai-nilai islam. Ibarat sebuah kendaraan yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan mobil atau bus yang beroperasi di jalan besar, kendaraan ini mampu masuk ke wilayah-wilayah sempit dan memenuhi kebutuhan penggunanya.
Empat LKMS yang terdapat dalam pembahasan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pertama, BMT yang memiliki keunggulan dekat dengan stakeholder dan di dukung oleh bagian dana Maal-nya. Namun, masih kesulitan dalam menentukan target pembiayaan dan mengalami kekurangan modal. Kedua, KJKS yang telah memiliki payung hukum yang jelas dan branding luas karena model koperasinya. Namun, masih memiliki ketidakjelasan pembagian peran dengan UJKS (Unit Jasa Keuangan Syariah). Ketiga, BPRS yang memiliki outreach secara jelas serta pengelolaan lebih profesional dan tidak rigid tetapi masih belum menjangkau kalangan nano-mikro dan lebih bersifat kedaerahan. Keempat, Grameen Bank yang mampu memberdayakan masyarakat kecil dan mengentaskan kemiskinan lewat model tanggung-rentengnya tetapi masih memakai benchmark bunga dalam pengembalian kreditnya.
Dengan segala keunggulan dan kelemahan dari setiap lembaga di atas, solusi terbaik adalah dengan mensinergikan fungsi dari keempat institusi tersebut sesuai dengan perannya masing-masing. Keempat institusi ini dapat saling mengisi kebutuhan yang ada di dalam masyarakat sesuai dengan model, keunggulan, dan jangkauan yang dimiliki. Misalnya, dalam pemberdayaan suatu kota, BPRS-lah yang menjadi lembaga sentral dalam membiayai kebutuhan masyarakat untuk pengelolaan dana kalangan menengah hingga menengah ke bawah dan dilengkapi dengan KJKS dan/ BMT untuk memenuhi kebutuhan kalangan mikro ke bawah. Kemudian, pengoptimalan fungsi tiap lembaga juga dapat dibagi sesuai dengan jangkauan konsumen seperti BPRS untuk kalangan menengah, KJKS dan BMT untuk kalangan kecil, dan Grameen Bank untuk kalangan nano-mikro. Keempat lembaga ini juga dapat berperan aktif dalam pemberdayaan suatu daerah secara bersama-sema melalui pendekatan yang berbeda untuk pembiayaan usaha masyarakat.
Wallahu a’lam bi shawab.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *