PRESS RELEASE : Mentoring Ekonomi Syariah 2020

Oleh : Departemen Kajian IBEC FEB UI 2020

Pada tanggal 25 November 2020 telah dilaksanakan salah satu program kerja Departemen Kajian yaitu Mentoring Ekonomi Syariah (MES). MES tahun ini mengangkat tema Muslimpeneurs in Crisis. MES dilaksanakan secara daring (online) dengan menggunakan platform Zoom Meeting. MES dihadiri oleh tiga pembicara yaitu Bapak Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, selaku Muslimpreneur dan politikus Indonesia, Bapak Dr. Taufik Hidayat, M. Ec., selaku Direktur Jasa Keuangan Syariah KNEKS, dan Bapak Reza Arief Budy Artha S.Sos., M.B.A., selaku Ketua Umum dan CEO Bank Infaq. MES dipandu dengan seorang Master of Ceremony (MC) yaitu Evelyn Fairuz Wibowo selaku staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2020 dan mahasiswa Ilmu Ekonomi Islam 2019. MES dihadiri kurang lebih sebanyak 325 peserta yang telah mendaftarkan diri terlebih dahulu.

MES berlangsung pada pukul 13.30 – 16.00 WIB. Acara ini dimulai dengan pembukaan oleh MC dilanjutkan dengan pemutaran lagu Indonesia Raya, kemudian pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh saudara Nuruddin Asyifa dan M. Dzaky Archard, lalu dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Umum IBEC FEB UI 2020, Galih Damar Dwiatmaka. Sambutan dilanjutkan dengan Dekan FEB UI yang diwakilkan oleh Ibu Dr. Irfani Fithria Ummul Muzayanah, SE., MSE., selaku Kepala Pusat Kegiatan Mahasiswa FEB UI.

Pemaparan Materi dari Bapak Taufik Hidayat

Indonesia merupakan negara mayoritas Islam. Industri halal juga diminati oleh beberapa negara yang mayoritas bukan beragama Islam seperti; Brazil, Thailand, Jepang. Potensi industri halal ke PDB 3.8B USD sedangkan total pengeluaran 218.8B USD sesuai prediksi pada 2025. Akhirnya dibentuk KNKS menjadi KNEKS karena potensi tersebut. Lalu

membuat MASTER PLAN sejak 2015. Tahun ini Indonesia dalam Global Islamic Economy Report mendapat peringkat 4 sebagai negara yang memiliki potensi halal terbesar di dunia. Pada 2019 Indonesia mendapat peringkat 1 di keuangan syariah oleh Cambridge.

Tugas pokok KNEKS adalah mempercepat, memperluas, dan mengembangkan ekonomi Islam yaitu Industri produk, keuangan, sosial, dan usaha syariah. Untuk itu KNEKS melakukan pelaksanaan koordinasi, pemberian saran, dan evaluasi. KNEKS langsung diketuai Presiden RI dan melibatkan beberapa lembaga kementerian. Selain itu KNEKS memiliki tugas pokok tambahan mengenai pengembangan SDM (literasi, promosi, dll). Dari tugas pokok ini disusun ekosistem untuk melakukan mapping dari supply dan demand, riset, pengembangan, branding, teknologi, dll.

Potensi pasar halal 2020 mengalami pertumbuhan penduduk muslim sampai 2,2M. Minat terhadap produk halal sangat besar. Struktur usaha di Indonesia sebagian besar merupakan industri mikro, kecil, dan menengah. KNEKS fokus terhadap usaha mikro dan kecil dalam kontribusi UMKM yang berdampak cukup besar bagi perekonomian Indonesia, mulai dari total lapangan kerja, tenaga kerja, PDB, investasi, dan impor. Kondisi UMKM saat ini perlu banyak pengembangan, seperti menurunnya permintaan, SDM, pemasaran, dll. Strategi pengembangan industri halal seperti pengembangan infrastruktur, berkembangnya standar halal, peningkatan kontribusi halal di neraca perdagangan. Pengembangan bisnis halal dilakukan dengan cara harus ikut dalam halal supply chain global sebagai kunci, digitalisasi, penciptaan dan penguatan industri usaha.

Indonesia masih berstatus negara berkembang dan negara lain sudah berstatus negara

maju dikarenakan negara maju asetnya tidak ada yang menganggur dan bekerja secara optimal. Pengembangan industri halal bagi muslimpreneur meliputi pengembangan kawasan halal, pengembangan sertifikasi (halal traceability), pengembangan kawasan pariwisata halal, program pembinaan nasional menuju UMKM bersertifikasi halal, program pengembangan dan peningkatan UMKM, dan melakukan penerbitan sukuk syariah dan IPO.

Pemaparan Materi dari Bapak Sandiaga Salahuddin Uno

Di tengah pandemi Covid-19, kesehatan dan kemanusiaan bisa diperlihatkan secara langsung. Sebagai muslimpreneur harus bersatu dan jangan terpecah belah untuk saling merangkul satu dengan yang lainnya untuk menghadapi terpaan pandemi Covid-19. Beliau mengatakan bahwa 90% pengusaha UMKM merupakan muslimpreneur yaitu berjumlah 4 juta UMKM. Kemudian, 60% GDP Indonesia disumbang dari muslimpreneur. Namun, sangat disayangkan bahwa hanya 14% muslimpreneur yang dapat melakukan ekspor dikarenakan kurangnya pembiayaan dan pendanaan usaha.

Peluang di tengah krisis membuat Pak Sandiaga dapat bangkit dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi 30.000 pekerja. Biasanya sektor yang dapat bangkit di tengah pandemi atau krisis adalah sektor kebutuhan dasar seperti makanan, pertanian, dan lainnya. Di tengah pandemi, muslimpreneur harus tahan terhadap guncangan ekonomi. Selain bank, fintech syariah memiliki peluang besar untuk pendanaan usaha muslimpreneur. Meneladani pembelajaran dari negara Mesir, mereka dapat bertahan sampai saat ini karena bisa beradaptasi dengan peradaban dan teknologi. Untuk itu, sebagai mahasiswa atau muslimpreneur harus bisa beradaptasi sehingga dapat menyusul pengusaha yang sudah ada sejak lama.

Pinjaman online membuat masyarakat terjerat dengan bunga yang berlipat dan dapat menyengsarakan masyarakat yang ingin berusaha. Fintech Syariah (Bank Infaq) hadir untuk membiayai tanpa adanya riba bagi masyarakat yang ingin berusaha. Pemerintah telah menyiapkan 400 triliun rupiah untuk menanggulangi pandemi Covid-19. Kini gerakan Bank Infaq telah ada di 52 titik dan 14 provinsi dengan 1000 pekerja dan memiliki modal pembiayaan sebesar 1,4 M untuk diberikan kepada masyarakat khususnya muslimpreneur.

Pemaparan Materi dari Bapak Reza Arief Budy Artha

Sebesar 99% muslimpreneur Indonesia berada di usaha mikro dan kecil. Selain itu, hanya 22% UMKM yang mendapatkan akses permodalan dari lembaga keuangan (Bank, Finance, dll). Mayoritas masyarakat kita berpenghasilan, tetapi tidak bankable sehingga terjerat pinjaman dengan bunga yang tinggi. Akibatnya banyak masyarakat terlilitnya hutang dan bunga menggunung, perekonomian mereka sulit berkembang, dan banyak kesulitan lain yang datang menghampiri.

Potensi Islamic Social Funds Indonesia sangat besar. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana cara mentransformasikan potensi menjadi solusi bagi permasalahan yang ada. Bank Infaq mengelola dana infaq secara profesional yang disalurkan untuk pinjaman 0% yang terfokus untuk pemberdayaan usaha mikro dan kecil. Bank Infaq merupakan Baitul Maal yang berbadan hukum Yayasan dan berbentuk majelis taklim atau kelompok pengajian.

Mereka melakukan pemberdayaan dalam aspek spiritual, sosial, dan ekonomi. Bank Infaq menggunakan asas tolong menolong atau akad qardhul hasan.

Sesi Tanya Jawab

  • Ridwansyah _ UIN AR Raniri _ Banda Aceh : “Contoh struktur usaha besar yang dikembangkan di Indonesia?”

Jawaban:

Pak Taufik : Industri halal berskala besar perlu didata ulang agar mendapat record yang baik seperti barang-barang industri dan kebutuhan pokok lainnya.

 

  • Nuruddin Assyifa_ UI_Jakarta : ” Potensi ekonomi syariah cukup besar karena populasi muslim yang besar. Bagaimana implementasi halal supply chain? Apa strategi utama untuk menjangkau daerah daerah pelosok?”

Jawaban:

Pak Taufik : Memerlukan edukasi secara meluas mulai dari sekarang belajar menjadi muslimpreneur. Literasi masih dibawah 10% maka dari itu mendorong percepatan literasi (OJK), dari BI mengenai keuangan masih 16%. Modal bukan satu-satunya faktor penting bagi dunia usaha, akan tetapi ide usaha lah yang harus ditingkatkan.

 

  • Hanifa Ramadhani_UI_Jakarta : “Bagaimana cara meningkatkan konsumsi di tengah Pandemi untuk meningkatkan perputaran yang terjadi di masyarakat selain dengan pembiayaan modal?”

Jawaban :

Pak taufik : Mengeluarkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) bagi masyarakat dan untuk UMKM banyak dana pinjaman yang bisa digunakan. Maka dari itu supply dan demand bisa teratasi.

Pak Reza : Bank infaq merupakan inisiatif dari masyarakat itu sendiri. Dengan dasar peningkatan ketahanan ekonomi dari diri mereka sendiri, membuat aplikasi untuk menekan pembiayaan dan tidak ribet yang bisa didata dari perkumpulan RT/RW dan tingkat yang menjadi ke lebih luas lagi.

 

  • Dhea Ayuni Fauziah : “izin bertanya, kepada kedua pembicara mohon maaf sebelumnya sedikit melenceng dari pembahasan. Bagaimana pendapat bapak mengenai kasus boikot produk dari perancis terutama akibatnya kepada perusahaan danone yang notabene perusahaan prancis terbesar yang ada di Indonesia? Lalu bagaimana langkah yang seharusnya diambil oleh perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan yang menyangkut SARA ini?”

Jawaban:

Pak Taufik : Harusnya bisa memilah dan memilih dalam melakukan segala sesuatu. Harus tahu marahnya ke siapa dan dampak ini akan berpengaruh kepada siapa. Harusnya bisa menyalurkannya dengan jalan yang lebih pas dan secara komprehensif. Pak Reza : Boikot ini merupakan spontanitas dari banyak umat muslim, bahkan banyak dari pemimpin pemimpin dari non muslim turut melakukan protes. Efek dari boikot produk Prancis kalau di Indonesia itu french related bukan sepenuhnya produk Prancis. Bisa berdampak pada PHK dan masalah lainnya. Kasus ini juga bisa dipahami sebagai tamparan bagi dunia usaha kenapa kita tidak mengkonsumsi produk dalam negeri? pada prinsipnya baik itu impor ataupun investasi asing akan membuat dana keluar. Maka dari itu jadikanlah momentum : kurangi konsumsi impor dan peningkatan konsumsi dalam negeri.

  • Rizky Radhianityawan : “Bagaimana KNEKS berperan dalam halal supply chain? Dan bagaimana Bank Infaq mendorong budaya masyarakat untuk berinfaq?”

Jawaban :

Pak Taufik : Mengembangkan semua rantai industri halal, karena merupakan suatu yang fundamental. Kita banyak ekspor dari raw material. Lalu ada siklus misal harga suatu barang berfluktuasi secara ekstrim. Banyak anak-anak muda dan semoga ada potensi yang belum terjamah dan bisa dijamah oleh anak-anak muda.

Pak Reza : Justru itu mengapa bank infaq itu hadir, karena ada hal yang belum optimal yakni literasi keuangan karena infaq bukan hanya untuk infaq masjid tetapi juga bisa untuk pengembangan ekonomi syariah.

 

Setelah pemaparan materi dan sesi tanya jawab, acara penyampaian kesimpulan oleh MC, pemberian sertifikat, dan penutupan oleh MC. Secara keseluruhan, rangkaian acara membahas mengenai peran muslimpreneur dalam mengatasi perekonomian yang resesi akibat Covid-19, apa saja yang dapat dilakukan melalui muslimpreneur baik masyarakat maupun pemerintah dalam hal pengembangannya, dan sinergitas antara lembaga pemerintah dengan masyarakat dalam mengatasi resesi melalui muslimpreneur. Semoga MES dapat memberikan ilmu baru yang bermanfaat bagi seluruh peserta yang hadir dan turut berpartisipasi dalam menjadi muslimpreneur untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.