Potensi Besar Financial Technology Syariah di Indonesia

POTENSI BESAR FINANCIAL TECHNOLOGY SYARIAH DI INDONESIA

Damanggi Pratama Aryansyah

Staff Biro Internal IBEC FEB UI 2018

Penggunaan teknologi sudah mulai merambah pada bidang keuangan, hal ini terbukti dengan munculnya sebuah inovasi yang dikenal dengan istilah Financial Technology (FinTech). Tidak hanya FinTech biasa, Financial Technology Syariah juga secara perlahan mulai bermunculan untuk ikut berperan dalam menciptakan kemaslahatan bagi para penggunanya. Oleh karena itu, pada ARISE kali ini penulis akan mencoba untuk menjelaskan potensi perkembangan FinTech Syariah di Indonesia berdasarkan kondisi masyarakat serta aspek-aspek lainnya, hal ini tidak lain dikarenakan Indonesia merupakan negara tempat penulis tinggal dan merupakan negara dengan jumlah populasi penduduk Muslim terbesar di dunia.

Financial Technology Syariah in Indonesia

Di Indonesia, perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan Fintech baru mulai bermuncukan beberapa tahun terkahir, apalagi FinTech Syariah yang bisa dibilang usianya masih sangat belia. Financial Technology di Indonesia memiliki banyak jenis, fintech-fintech tersebut terdiri dari startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, dan riset keuangan. Sebagai ranah yang baru berkembang, Financial Technology memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi ranah yang berguna dan sangat menguntungkan bagi semua pihak yang menggunakannya, terelebih lagi peluang untuk FinTech Syariah yang menawarkan lebih sedikit risiko bagi para penggunanya.

Jika ditinjau dari kondisi masyarakat Indonesia, 132 juta orang aktif menggunakan internet, 371 juta orang menggunakan telepon genggam, 106 juta orang adalah pengguna aktif media sosial, dan rata-rata mengakses internet 9 jam per hari menjadi peluang yang amat besar bagi perkembangan FinTech di Indonesia. Selain itu, Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bisa dibilang sangat banyak. Berdasarkan informasi yang dimuat www.kominfo.go.id pada tahun 2017, di Indonesia terdapat sejumlah 59,2 juta UMKM dan 8 persen dari jumlah total UMKM tersebut atau sekitar 3,79 juta UMKM telah aktif menggunakan platform online dalam menunjang keberlangsungan usahanya. Oleh karena itu, kehadiran FinTech seakan membawa angin segar bagi para pemilik UMKM, tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai sumber pendanaan yang dapat dimanfaatkan oleh para pemilik UMKM tersebut. Jika ditelisik lebih dalam lagi, ini merupakan peluang yang sangat besar bagi fintech-fintech Syariah untuk merentangkan sayapnya. Bagi pihak perorangan atau pemilik usaha berskala kecil, mereka akan cenderung mencari pihak yang mampu menyediakan dana dengan cepat dan dengan risiko yang kecil, sangat tepat dengan apa yang ditawarkan oleh FinTech Syariah. FinTech Syariah hadir bagi pelaku Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah yang membutuhkan dana dalam jumlah yang tidak terlalu besar namun dalam waktu yang relatif cepat, waktu pencairan terpangkas 40 persen namun credit scoring yang dihasilkan dapat setara dengan Bank, bisa dibilang sangat menguntungkan bagi perusahaan FinTech dan juga bagi para pemilik UMKM.

Namun, saat ini jumlah FinTech Syariah yang ada di Indonesia jumlahnya masih sangat sedikit. Tercatat hanya PT. Ammana Fintek Syariah dan PT. Investree Radhika Jaya yang sudah resmi terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Padahal, sebagai ranah yang belum lama hadir FinTech tidak membutuhkan proses yang berbelit-belit dalam pengembangannya. Melihat penjelasan diatas, sudah jelas bahwa kondisi masyarakat yang ada di Indonesia sangat mendukung perkembangan FinTech Syariah, hanya saja masih sedikit perusahaan yang memutuskan untuk terjun ke dalam bidang ini. Di samping itu, melihat perusahaan yang terjun di bidang FinTech Syariah masih sangat sedikit, CEO PT. Investree Radhika Jaya, Adrian Gunadi memutuskan untuk “mencuri start” terlebih dahulu dengan meluncurkan produk invoice financing Syariahnya dan menargetkan penyaluran biaya sebesar Rp. 1 triliun di tahun 2018 mengingat masih sedikitnya jumlah pesaing. Bisa jadi setelah target yang ditetapkan Investree tercapai, baru lah FinTech Syariah mulai tumbuh setelah perusahaan-perusahaan lain tertarik untuk terjun di bidang FinTech Syariah. Kondisi Indonesia lain yang juga menjadi potensi untuk mendukung FinTech Syariah adalah keberadaan pariwisata halal dengan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, bukan tidak mungkin jika pariwisata halal lebih ditingkatkan FinTech Syariah juga akan ikut berkembang secara bersamaan dalam hubungannya untuk membiayai atau proses keuangan lainnya untuk pariwisata halal tersebut.

Final Thought

Financial Technology Syariah memiliki potensi yang amat sangat besar untuk berkembang dan menjadi ranah utama yang menunjang kehidupan masyarakat Indonesia, hal ini dikarenakan kondisi Indonesia yang sangat mendukung, seperti halnya Indonesia merupakan negara dengan jumlah populasi pemeluk agama Islam terbesar di dunia dimana sebagian besar masyarakatnya aktif memanfaatkan berbagai macam perangkat teknologi yang terhubung dengan jaringan internet. Penggunaan FinTech Syariah di Indonesia juga sangat berguna bagi masyarakat, seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah yang luas dan terpisah-pisah oleh lautan, pemanfaatan teknologi seperti halnya dalam bidang keuangan juga akan membantu menunjang kegiatan masyarakat agar lebih efektif dan efisien dari sebelumnya.

Sudah tidak bisa dipungkiri, bahwa Indonesia memiliki alam yang sangat indah dan beragam, pengembangan pariwisata halal dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan FinTech Syariah jika saja pihak pengembang mampu memanfaatkan keadaan yang bisa membuat kedua bidang ini berjalan secara beriringan dan mampu menghasilkan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan, bukan tidak mungkin FinTech Syariah akan berkembang dengan pesat di Indonesia. Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan jumlah UMKM yang sangat banyak. UMKM merupakan jenis usaha yang masih kecil dan membutuhkan gelontoran dana namun dengan risiko yang kecil, ini sangat tepat dengan apa yang ditawarkan oleh sistem FinTech Syariah yang memiliki risiko yang kecil untuk hal-hal yang tidak diinginkan dibanding FinTech konvensional. Tidak hanya itu, UMKM juga merupakan jenis usaha yang membutuhkan gelontoran dana dengan cepat untuk mengembangkan usahanya, FinTech Syariah hadir dengan menawarkan solusi sebagai media yang mampu memberikan dana cair 40 persen lebih cepat dibandingkan FinTech konvensional, hanya saja dalam jumlah yang tidak begitu besar. Dengan penjelasan ini sudah dapat terbayangkan oleh kita besarnya potensi FinTech Syariah untuk berkembang dengan pesat di Indonesia, hanya saja perlu sedikit pengenalan dan penjelasan secara mendetail kepada masyarakat agar masyarakat tahu dan tertarik untuk memanfaatkan FinTech Syariah.

Referensi:

Nindya Aldila (2018). [online] Available at: http://m.bisnis.com/kalimantan/read/20180205/445/734200/teknologi-finansial-menaksir-potensi-fintech-syariah [Accessed 17 Juli 2018].

Kumparan News (2017). [online] Available at: https://www.google.co.id/amp/s/m.kumparan.com/@kumparannews/bi-potensi-fintech-syariah-di-indonesia-sangat-besar.amp [Accessed 17 Juli 2018]

Ayu Yuliani (2017). [online] Available at: https://www.kominfo.go.id/content/detail/11526/kemenkop-ukm-379-juta-umkm-sudah-go-online/0/sorotan_media [Accessed 17 Juli.2018]