Population, Lifestyle, and Literacy for Islamic Economic

Oleh Nur Azmi Karimah (Bisnis Islam 2019), Staff Penelitian IBEC FEB UI 2020

Sumber Jurnal : Demography, demand and devotion: driving the Islamic economy

Penulis : Kasim Randeree

Latar Belakang

Pada akhir abad 20, pemahaman tentang kebutuhan konsumen Muslim masih terbatas, kaum Muslim yang menjadi minoritas di lingkungannya harus bisa memilah produk sesuai persyaratan Syariah secara individu. Bahkan mereka membangun bisnis dan membuat industri rumahan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun di masa kini, pertumbuhan ekonomi Islam telah berkembang di berbagai sektor, beroperasi secara profesional, serta mampu bersaing di ranah Internasional, di tengah maraknya ekonomi konvensional.

Lalu, apa yang menghantarkan ekonomi Islam yang pada awalnya tidak dilihat oleh dunia hingga mampu bersaing secara global seperti sekarang? Apakah kita, sebagai umat Islam, berperan dalam pertumbuhannya?

Tujuan

Studi ini bertujuan untuk menganalisis tiga pendorong perkembangan ekonomi Islam, yaitu pertumbuhan demografi umat Islam, sektor operasional dan permintaan halal product, serta seberapa besar pengaruh literasi agama terhadap konsumerisme.

Metode

Faktor-faktor yang mempengaruhi ekonomi Islam dieksplorasi melalui studi konstruktivis, menggunakan analisis dokumenter sebagai pendekatan penelitian kualitatif. Kerangka kerja yang dikembangkan digunakan untuk mengelompokkan ekonomi Islam berdasarkan sektor. Sehingga memungkinkan eksplorasi yang lebih dalam tentang perbedaan pilihan konsumen berbasis agama Islam. Hal ini bertujuan untuk menetapkan implikasi dan mengusulkan pengembangan lebih lanjut terkait berbagai bidang di ekonomi Islam.

Pembahasan

Demografi

Penganut agama Islam di seluruh dunia terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017, jumlah populasi di dunia yang menganut agama Islam mencapai 1,8 miliar dan diperkirakan mencapai 2,2 miliar di tahun 2030. Demografi yang terus meningkat ini berpengaruh terhadap jumlah konsumsi barang dan jasa di halal market. Namun, sebenarnya konsumen Muslim memiliki seperangkat persyaratan khusus yang menuntut barang dan jasa memenuhi kebutuhan mereka. Maka dari itu, kunci penilaian pasar Muslim tidak hanya pada ukuran populasi secara global atau nasional, tetapi juga daya beli umat Islam.

Daya beli sendiri dipengaruhi oleh tingkat kesejahteraan seseorang. Sedangkan statistik negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim seperti Indonesia, Pakistan, dan India, menunjukkan bahwa negara-negara tersebut memiliki peringkat ekonomi rata-rata hanya 118 dari 188 negara di seluruh dunia. Hal tersebut dapat diartikan daya beli Muslim disana lebih rendah jika dibandingkan dengan penduduk non-Muslim di negara-negara kaya. Meskipun mereka tergolong negara miskin di dunia, ternyata potensi ekonomi Islam cukup signifikan mengingat jumlah populasi Muslim mereka.

Lain halnya jika kita melihat negara-negara di kawasan Middle East New Agency (MENA) dan Gulf Cooperation Council (GCC), dimana Negara-negara di kawasan GCC memiliki populasi Muslim relatif lebih kecil dari negara-negara di kawasan MENA. Tetapi  negara-negara di GCC memiliki peluang yang lebih baik bagi ekonomi Islam. Hal ini disebabkan negara-negara di kawasan GCC lebih kaya dan penduduknya memiliki daya beli yang lebih besar.

Sedangkan di benua Eropa, meskipun Muslim masih menjadi minoritas, bukan berarti ekonomi Islam tidak bisa berkembang. Jerman, Prancis, dan Inggris adalah bukti bahwa para pemasar halal mendapat keuntungan perkapita disana. Ketiga negara ini berada di urutan ke-21, 22, dan 23 berdasarkan PDB perkapita terbesar di dunia, dimana bisa diartikan secara individual Muslim di sana memiliki daya beli yang lebih besar daripada Muslim yang menjadi mayoritas.

Dilihat dari perspektif makro dan disaggregated population data, demografi atau daya beli, terlebih jika keduanya meningkat bersama,  berdampak signifikan pada perubahan pola kesejahteraan Muslim dunia. Oleh karena itu, peningkatan populasi Muslim global dan interaksi intra-agama yang tinggi berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Islam.

Demand (Sektor konvensional yang sedang berkembang dalam ekonomi Islam).

Dalam hal pengukuran belanja konsumen Muslim, konsensus sulit dicapai karena adanya perbedaan anggapan. Di sektor makanan halal, misalnya, pengeluaran konsumen Muslim global tahun 2015 sebesar $1.17 triliun. Namun, data untuk makanan bersertifikat halal menghasilkan pendapatan global hanya $415 miliar di tahun yang sama. Hal ini menimbulkan ambiguitas, apakah belanja konsumen Muslim diukur secara keseluruhan atau hanya produk dan layanan yang telah bersertifikat halal saja.

Di sisi konsumsi sendiri, kaum Muslim dikenal identik dengan label halal product oleh sebagian besar masyarakat dunia. Namun bagi umat Islam, mengkonsumsi produk halal bukan hanya untuk melabelkan diri bahwa mereka bagian dari agama tersebut. Halal product sudah menjadi gaya hidup bagi kaum Muslim.

Gaya hidup khusus yang dimiliki umat Islam disebabkan kepatuhan mereka terhadap perintah Tuhan (Allah) dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Untuk mengaitkan berbagai sektor ekonomi Islam dengan gaya hidup Muslim, perhatikan skema di bawah ini :

Tingkat pertama ditempati oleh islamic finance, dimana dapat dikatakan sebagai penopang sektor lain di tingkat berikutnya. Level dua merupakan sektor inti, yakni didasarkan terhadap kepatuhan terhadap produk dan jasa yang mematuhi Syariah, diantaranya, makanan, farmasi, kosmetik, dan fashion. Level ketiga adalah kombinasi sektor inti dan persyaratan gaya hidup, seperti sektor kesehatan, pendidikan dan pariwisata, yang sebenarnya hal-hal ini bisa dipenuhi oleh layanan konvensional. Namun sekali lagi, persyaratan khusus dalam Islam menimbulkan permintaan khusus pula. Sedangkan di level terakhir adalah kombinasi dari dua atau lebih sektor diatasnya, seperti medical tourism dan participation in sport.

Berikut tiga sektor di level inti yang dieksplorasi lebih dalam terkait perkembangannya :

Halal Food

Kunci utama industri makanan halal adalah pengadaan bahan makanan halal. Dimana bahan makanan non-halal seperti gelatin, pepsin, dan carmine sedang memiliki peluang yang besar di pasar global saat ini. Maka dari itu, pasar Muslim harus mencari alternatif pengganti beberapa bahan makanan yang tergolong non halal.

Salah satu kelompok yang mengembangkan kemampuan produksi bahan makanan halal adalah negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Di negara-negara ini layanan modern seperti pesanan online dan aplikasi reservasi restoran sudah diterapkan. Bahkan beberapa restoran menyediakan scan barcode untuk memastikan status halal produk yang bisa diakses setiap individu.

Halal Cosmetics

Sektor kosmetik terdiri dari produk perawatan kulit, perawatan rambut, make-up, parfum dan beberapa perawatan lain yang bersifat individual. Pasar kosmetik Muslim, lagi-lagi sebagian besar (60%) dikuasai oleh negara-negara OKI, tetapi dengan prancis sebagai pengekspor terbesar.

Inovasi produk perawatan halal didorong oleh permintaan khusus dari kelompok konsumen tertentu. Perawatan pria, misalnya, fokus terbatas pada minyak penata rambut jenggot. parfum non-alkohol, dan produk kebersihan mulut. Lain halnya pada sektor kosmetik wanita atau anak-anak atau kelompok berdasarkan umur yang memiliki fokus yang lain.

Islamic Fashion

Sedangkan di industri Fashion, pengeluaran konsumen Muslim tahunan untuk pakaian mencapai $250 miliar, mewakili lebih dari 10 % pasar global. Seperlima dari jumlah tersebut dikuasai oleh wanita dan gadis remaja dengan angka lebih dari $45 miliar. Meskipun abaya dan hijab yang paling sering dikaitkan dengan Islamic Fashion, inovasi dalam pakaian olahraga, pakaian kerja, pakaian formal dan gaun-gaun mewah juga menjadi sorot utama dan cukup diminati publik.

Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi Islam dalam sektor operasi dan permintaan konsumen diamati melalui peningkatan permintaan untuk keragaman produk dan layanan yang sesuai dengan prinsip Syariah. Selain itu, kemajuan status sosial ekonomi penduduk Muslim juga mendukung pertumbuhan ekonomi Islam.

Devotion (Dampak kesetiaan agama pada konsumerisme)

Bagi banyak Muslim, terutama yang memiliki literasi agama yang baik, Islam tidak hanya sekadar agama untuk ibadah, namun telah menjadi gaya hidup dan kerangka kerja yang menentukan eksistensi seseorang. Kesadaran akan rasa identitas ini telah meningkat belakangan ini dan meluas ke pengambilan keputusan konsumen. Dengan demikian munculah kebutuhan khusus dari cara hidup berbasis agama ini.

Peningkatan keinginan Muslim atas layanan keuangan dan produk yang lebih sesuai dengan Syariah membuktikan meningkatnya minat Muslim pada agama mereka. Hal ini menunjukkan adanya peluang berkembangnya keberlangsungan ekonomi Islam. Namun, keberhasilan membawa suatu produk atau jasa ke dalam ekonomi Islam serta layak untuk konsumsi Muslim, aspek-aspek terkait produk atau jasa tersebut harus sesuai standar yang berlaku pada hukum Islam. Maka dari itu, literasi Islam sangat penting dikuasai konsumen maupun produsen.

Singkatnya, konsumerisme umat Islam dipengaruhi oleh interpretasi doktrin agama, dimana fiqh atau hukum Islam adalah yang paling signifikan. Hal ini jelas dipengaruhi oleh literasi agama yang semakin meningkat di antara komunitas Muslim. Dengan implikasi hubungan positif terhadap konsumerisme berbasis agama.

Kesimpulan

Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa peluang ekonomi islam terbukti di pasar mayoritas muslim maupun minoritas muslim. Sedangkan berdasarkan data yang diamati, empat faktor yang berdampak pada kemajuan ekonomi Islam adalah meningkatnya populasi muslim global secara terus-menerus, meningkatnya permintaan berbagai macam produk dan layanan yang sesuai dengan prinsip Syariah Islam, meningkatnya kesejahteraan ekonomi umat Islam di negara maju dan berkembang, serta meningkatnya minat Muslim dalam menjalani gaya hidup berdasarkan keyakinan beragama.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *