Perbandingan Saham Syariah dengan Saham Konvensional

Perbandingan Saham Syariah dengan Saham Konvensional

Agnez Triekusuma Dewi

Staff Departemen PSDM IBEC

         Istilah saham sudah bukan menjadi istilah yang asing di telinga masyarakat. Apabila kita mendengar kata “saham” maka yang kita bayangkan adalah surat berharga yang dijual oleh perusahaan dalam bentuk kepemilikan. Surat-surat ini dapat dibeli oleh siapa pun dengan pembelian minimal 1 lot atau 100 lembar. Dengan tren baru ini, jual beli saham merupakan salah satu kegiatan yang populer di kalangan para millennials. Jika zaman dahulu kita didorong untuk menabung uang di bank, sekarang kita didorong untuk menabung dalam bentuk saham dengan kampanye yang didorong oleh BEI yaitu “Yuk Nabung Saham’. Kampanye ini mengajak para millennials untuk mengalokasikan uangnya untuk menabung/investasi dalam bentuk surat berharga perusahaan. Sebagai generasi yang ingin sukses cepat, metode ini merupakan hal yang cocok bagi mereka. Ada banyak sekali motif yang mendasari keinginan seseorang menabung saham. Mulai dari ingin menabung untuk masa depan, untuk menikah, untuk haji, untuk beli mobil, bahkan untuk gengsi. Menabung saham merupakan salah satu kegiatan yang dianggap oleh para millennials seru dan menantang

Layaknya bank yang mendorong nasabah untuk menabung, saham pun memiliki intermediariesnya dalam bentuk sekuritas. Ada banyak sekali sekuritas di Indonesia yang menawarkan jual beli saham. Dan layaknya perbankan, saham ada pula dalam bentuk konvensional dan Syariah. Lho saham ada syariahnya juga? Oh iya, jelas. Lantas, apa itu saham Syariah? Dan apa yang membedakan saham Syariah dengan saham konvensional?

Saham syariah pada dasarnya memiliki pengertian yang sama dengan saham konvensional yakni surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan. Perbedaannya adalah saham syariah berbasis pada prinsip syariah, maka setiap hal yang berkaitan dengan saham itu tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. Tidak ada perbedaan antara mekanisme perdagangan dan pencatatan saham syariah dan saham konvensional. Sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No.80 Tahun 2011, mekanisme perdagangan saham di BEI sudah sesuai dengan prinsip syariah yakni Bai Al Musawammah. Hanya saja tidak semua saham yang terdaftar di BEI dapat dikategorikan sebagai saham syariah. Sebuah saham akan masuk dalam kategori syariah jika telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Sebuah saham bisa dikatakan syariah apabila perusahaan tersebut tidak melanggar prinsip syariah dalam praktek bisnisnya. Dalam kata lain, ada beberapa perusahaan yang sahamnya telah masuk di Bursa Efek atau istilah keuangannya adalah IPO (Initial Public Offering) namun tidak dikatakan sebagai saham syariah. Contoh saham tersebut adalah HMSP atau PT Sampoerna, GGRM atau PT Gudang Garam, dan lainnya. Kenapa saham ini dikatakan tidak syariah? Karena saham ini menjual produk rokok yang aturannya sudah jelas bertentangan dengan syariat islam.

Sebuah saham bisa dikatakan juga sebagai saham syariah apabila total utang berbasis bunga lebih kecil daripada total aset. Dan juga bersaran utang berbasis bunga tidak boleh lebih dari 45%. Dan juga sebuah saham bisa dikatakan sebagai saham syariah apabila perusahaan tersebut telah terdaftar di DES atau Daftar Efek Syariah. Index syariah di Bursa Efek ada 2 yaitu Jakarta Islamic Index (JII) dan ISSI. ISSI sendiri merupakan index yang memperhitungkan kinerja saham dari DES dan index ini dikeluarkan oleh Bapepam LK.

Bagi Investor yang ingin melakukan transaksi saham syariah pun telah disediakan platform berbeda oleh beberapa sekuritas. Perusahaan sekuritas yang ingin melakukan transaksi saham syariah secara online harus memiliki SOTS atau System Online Trading Syariah. Platform ini harus berbeda dari platform transaksi saham konvensional. Contoh perusahaan yang memiliki SOTS adalah:

  1. PT Indo Premier Securities, Nama SOTS: IPOT Syariah
  1. PT E-Trading Securities, Nama SOTS: HOTS Syariah
  1. PT BNI Securities, Nama SOTS: e-smart Syariah
  1. PT Trimegah Securities, Nama SOTS: iTrimegah Syariah
  1. PT Mandiri Sekuritas, Nama SOTS: MOST Syariah
  1. PT Panin Sekuritas Tbk. Nama SOTS: POST Syariah
  1. PT Phintraco Securities. Nama SOTS: PROFITS Syariah

Sekuritas tersebut adalah perusahaan yang bisa melakukan trading saham syariah berbasis online.

Sebagai penutup, saham syariah dan saham konvensional tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam konteks mekanisme. Cara kerja jual dan belinya tidak berbeda, hanya saja ada beberapa persyaratan yang membedakan. Sebuah saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika telah memenuhi syarat yang menyelaraskan kinerja saham tersebut dengan prinsip syariah. Dengan demikian, berinvestasi di saham syariah dapat membuat Anda merasa lebih aman dan yakin bahwa transaksi Anda adalah transaksi yang halal.

Wallahu a’lam Bisshawab