Pencapaian Tujuan Perdagangan Internasional Menurut Pandangan Islam

 

Seiring berkembangnya zaman dan bertumbuhnya ekonomi dunia, pada abad ke-21 perdagangan internasional telah menjadi sesuatu yang penting bagi perekonomian sebuah negara. Pentingnya perdagangan internasional menjadikan negara-negara saling membentuk blok-blok ekonomi. Beberapa waktu yang lalu, blok-blok ekonomi regional seperti Uni Eropa (European Union—EU), Association of South East Asia Nations (ASEAN), dan Trans-Pacific Partnership (TPP) menjadi perhatian masyarakat dunia. Blok-blok ekonomi masih memunculkan beragam pendapat mengenai keuntungan dan kerugian dari adanya perjanjian perdagangan internasional. Hal ini disebabkan karena perdagangan internasional yang dilakukan oleh negara-negara tentunya memiliki motif untuk dapat meningkatkan volume perdagangan ekspornya dan mendapat keringanan dalam impor barang-barang di mana motif ini dapat menyebabkan timbulnya perbedaan kepentingan di antara negara-negara tersebut. Negara yang mendapatkan keuntungan paling besar dari perjanjian perdagangan internasional adalah negara yang dapat memanfaatkan hasil dari perjanjian itu dan menyesuaikan dengan kondisi dalam negerinya. Sehingga muncul pertanyaan mengenai apa tujuan dari diadakannya perjanjian perdagangan antarnegara melalui blok ekonomi dan bagaimana blok ekonomi pada akhirnya benar-benar dapat memuaskan kepentingan negara-negara anggotanya.

Praktik perdagangan internasional yang telah berjalan selama ini pada umumnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam. Menurut Siddiqi (1992), tujuan dari perdagangan internasional antara lain (1) menjaga dan mendukung kepentingan ekonomi masyarakatnya sendiri dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan, (2) memastikan keadilan dan pemerataan dari transaksi ekonomi yang sesuai dengan aturan syariah, dan (3) menguatkan umat dan melayani tujuan komunitas Islam untuk bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan di tingkat global.

Dari ketiga tujuan tersebut, tujuan perdagangan internasional yang berkaitan langsung dengan pembentukan blok ekonomi adalah pencapaian kesejahteraan di tingkat global dengan melakukan kerja sama antarmuslim. Negara-negara muslim melakukan kerja sama untuk saling membantu dan mengembangkan pemikiran dan nilai-nilai Islam demi mencapai tujuan tersebut.  Dalam hal ini, negara muslim perlu menjadi lebih independen agar mereka mampu memberi bantuan, bukan menerima bantuan. Sehingga, masing-masing negara mampu berperan dalam perbaikan ekonomi dunia dari kemiskinan atau membantu poor developing countries, baik secara individu maupun kolektif melalui institusi seperti OKI dan Islamic Development Bank.

Blok ekonomi atau integrase ekonomi merupakan perjanjian untuk menghilangkan hambatan dalam melakukan transaksi ekonomi antarnegara. Biasanya blok ekonomi memberikan kemudahan berupa pengurangan atau penghapusan tarif maupun hambatan non-tarif, dan pada tingkat yang lebih tinggi seperti di Uni Eropa, membentuk sebuah pasar tunggal dengan pembebasan dari batas-batas antarnegara dan penyatuan mata uang dalam Euro. Saat ini, berbagai perjanjian bilateral, blok ekonomi regional dan World Trade Organization (WTO) bertujuan untuk meningkatkan perdagangan antarnegara di dunia yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat negaranya.

Sesuai dengan tujuan perdagangan internasional dalam Islam, pembentukan blok ekonomi ini sudah cukup sesuai. Namun demikian, blok ekonomi regional yang sudah semakin berkembang dapat menimbulkan permasalahan berupa persaingan antara masing-masing blok ekonomi dengan tujuan melindungi negara-negara anggotanya. Oleh karena itu, blok ekonomi yang paling ideal adalah blok ekonomi yang bersifat multilateral. Saat ini, WTO merupakan satu-satunya organisasi internasional yang mengatur tentang perdagangan internasional dan bertujuan untuk membantu produsen barang dan jasa, eksportir dan importir dalam melakukan kegiatannya.

Sebagai organisasi perdagangan multilateral, WTO menjadi first-best choice karena tujuan inklusivitas yang ingin dicapai. Sejalan dengan hal tersebut, prinsip yang dibawa oleh WTO adalah terbukanya batas wilayah, menjamin prinsip Most-Favored-Nation (MFN) dan non-diskriminasi antaranggota, dan transaparansi kegiatan. Menurut pandangan Islam, blok ekonomi seharusnya dapat mencapai dua sasaran, yaitu globalisasi dan meningkatkan daya tawar-menawar antarnegara. Kedua hal ini harus dapat diwujudkan oleh WTO agar pembentukannya dapat sejalan dengan ekonomi Islam. Globalisasi dibutuhkan untuk mengurangi benturan kepentingan antara integrasi ekonomi regional. Sedangkan peningkatan saya tawar-menawar bertujuan untuk mempermudah dan memperkecil biaya dari perdagangan internasional.

Pada akhirnya, semua orang menginginkan kesejahteraan dan salah satu sumbernya dapat berasal dari perdagangan internasional. Sehingga perdagangan internasional harus bisa saling memberi keuntungan bagi negara-negara yang terlibat. Untuk itu, diperlukan organisasi yang menyatukan kepentingan semua pihak dan berusaha untuk memuaskan kepentingan tersebut tanpa menimbulkan kerugian bagi pihak lainnya sesuai dengan prinsip maslahah al-mursalah dan sesuai dengan prinsip serta tujuan ekonomi Islam.

References

Siddiqi, M. N. (1992). Principles of International Economic Relations in Islam. International Economic Relations from Islamic Perspectives (pp. 9-34). Jeddah: Islamic Research and Training Institute.

World Trade Organization (WTO). (2014, Januari 8). Retrieved from Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia: http://www.kemlu.go.id/id/kebijakan/kerjasama-multilateral/Pages/World-Trade-Organization-(WTO).aspx

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *