Altruisme: Pembangkit Filantropis Islam di Indonesia

Oleh: Fandi Fadillah (Bisnis Islam 2019), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2020

 

Sudah lebih dari 7 bulan lamanya, Indonesia dihantui oleh Pandemi Covid-19. Terhitung sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada Senin tanggal 2 Maret 2020 inilah wabah pandemi dimulai. Berdasarkan kompas.com, total kasus Covid-19 di Indonesia ini pada tanggal 6 Oktober 2020 sudah mencapai 310 ribu orang dengan rincian total pasien sembuh mencapai 230 ribu orang dan rincian total pasien meninggal sebanyak 11 ribu orang. Penyebaran virus ini terbilang cukup mudah dan cepat yakni melalui cairan yang dikeluarkan oleh penderita Covid-19 dan melalui udara yang sudah tercemar oleh Covid-19. Hal ini diungkapkan oleh WHO beberapa waktu lalu sehingga masyarakat harus membatasi interaksi mereka dengan orang banyak demi mengurangi kesempatan Covid-19 ini semakin menyebar.

Kemudian Pandemi Covid-19 ini tidak hanya berdampak pada kesehatan namun juga pada perekonomian banyak orang. Pandemi ini menyebabkan Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan dan anjuran yang intinya untuk mengurangi kontak dengan orang lain sebisa mungkin dan tidak berpergian bila tidak ada hal yang mendesak. Hal ini dilakukan oleh pemerintah demi mengurangi penyebaran Covid-19 ini. Berbagai kebijakan dan anjuran ini terbukti mempengaruhi pendapatan bagi masyarakat. Bila dianalogikan secara sederhana maka, seorang penjual barang ingin menjajakan barang dagangannya namun pembelinya berkurang bahkan tidak ada karena pembeli memutuskan untuk mengurangi kontak dengan orang lain dan hanya membeli barang-barang yang benar-benar pembeli butuhkan. Analogi lainnya adalah, penyedia jasa di tempat wisata di daerah tidak bisa mendapatkan keuntungan seperti biasanya karena pengunjung di tempat wisata tersebut berkurang drastic akibat adanya larangan dan anjuran untuk berpergian bila tidak benar-benar mendesak.

Kedua analogi tersebut hanyalah sebagian kecil dari semua yang terjadi secara riil di lapangan. Secara lebih luas maka kita perlu mengetahui adanya pertambahan jumlah penduduk miskin yang terjadi selama Pandemi Covid-19 ini.

 

Berdasarkan data dari BPS, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada semester kedua tahun 2019 adalah 24,7 juta jiwa. Kemudian meningkat menjadi 26,4 juta jiwa pada semester pertama tahun 2020 dan kemungkinan besar akan kembali meningkat pada semester kedua tahun 2020 ini. Terjadinya peningkatan penduduk miskin sebanyak 1,6 juta jiwa tentu saja bukan merupakan peristiwa yang baik. Dengan penduduk miskin yang sekarang bertambah menjadi 26,4 juta jiwa ini, beban negara tentulah semakin berat. Kemudian perlu ditekankan juga angka 26,4 juta ini bukanlah angka biasa namun mewakilkan nyawa manusia. Maka dari itu kita tidak boleh menganggap remeh permasalahan ini.

Besar kemungkinan penambahan orang miskin yang terwakilkan oleh angka 1,6 juta ini awalnya tidak miskin namun setelah pandemi Covid-19 menjadi miskin karena desakan kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat. Hal ini sejalan dengan perkataan dari Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang mengakui adanya peningkatan jumlah warga miskin hingga 1,63 juta orang seiring dengan terjadinya pandemi Covid-19. Tentu saja kita tidak boleh melupakan 24,7 juta jiwa yang sebelumnya sudah berada di tahap kemiskinan. Besar kemungkinan juga bahwa kehidupan mereka yang sudah miskin menjadi semakin miskin karena ketidakmampuan mereka untuk bangkit di situasi yang luar biasa ini. Oleh karena itu, mereka perlu dibantu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, membantu mencarikan usaha lain, ataupun membantu membiayai usaha mereka agar memenuhi syarat untuk bisa beroperasi di masa pandemi ini.

Siapa kah yang harus membantu orang-orang miskin ini untuk bertahan dalam situasi Pandemi Covid-19 ini dan bahkan bisa bangkit dari keterpurukan yang menimpa mereka?. Apakah mereka semua adalah tanggungan pemerintah karena dalam UUD 1945 pasal 34 ayat 1 yang berbunnyi “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”?. Tentunya tidak, mereka semua merupakan tanggungan kita bersama sebagai sesama manusia. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui dan mengembangkan konsep altruisme dan filantropi islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Altruisme adalah tindakan sosial perorangan atau sekelompok manusia untuk menolong sesamanya tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Sementara itu, filantropi adalah memberikan bantuan sosial langsung kepada masyarakat miskin yang membutuhkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Sementara itu filantropi islam terfokus kepada empat aspek yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW yakni zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Hal ini menjadikan filantropi islam sudah ada jauh sebelum konsep filantropi itu ada.

Seiring berkembangnya zaman dan keadaan pandemi yang mendesak ini. Aspek filantropi islam yakni zakat, infak, sedekah, dan wakaf mengalami berbagai penyesuaian seperti dikeluarkan solusi dana ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) berbasis wilayah dan wakaf tunai. Dana ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) berbasis wilayah ini memiliki rukun-rukun pelaksanaanya sama seperti ZIS pada umumnya, namun yang membedakannya adalah wilayah pelaksanaanya. Sang pemberi harta (Muzaki) diutamakan untuk memberikan hartanya kepada sang penerima harta (Mustahik) yang berada di wilayah yang sama dengan dirinya. Hal ini akan memberikan dampak positif seperti mempererat hubungan muzaki dan mustahik dalam wilayah tersebut, penyaluran dana ZIS yang lebih cepat, dan mempermudah kontrol terhadap penyaluran tersebut. Sementara itu, wakaf tunai adalah wakaf yang berupa uang tunai bukan asset tidak bergerak serta dikelola dalam program produktif dimana nilai manfaat akan disalurkan bagi masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk program-program sosial termasuk penyaluran dana bantuan kepada masyarakat miskin. Wakaf tunai/wakaf uang ini sudah diakui, bahkan sudah diatur dalam undang-undang.

Kemudian yang menjadi catatan adalah di dalam dan ZIS berbasis wilayah. Walaupun zakat sejatinya memang hanya wajib dikeluarkan satu kali dalam setahun namun infak dan sedekah dapat dikeluarkan kapanpun sehingga semakin memudahkan penyaluran dana. Wakaf juga dapat dikeluarkan kapanpun sehingga Kedua solusi ini bisa mempercepat perpindahan harta dari yang kaya ke yang miskin dengan mekanisme yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Memang bila kita lihat bahwa perkembangan filantropi islam di Indonesia sudah terlihat baik namun apakah dari segi altruismenya juga sudah baik?     Hal ini masih harus ditelusuri lagi. Walaupun pada tahun 2018, Negara Indonesia menjadi negara paling dermawan menurut Charities Aid Foundation (CAF). Namun, di situasi pandemi ini tentunya dapat terjadi perubahan. Penurunan pendapatan yang terjadi bisa saja menyebabkan seseorang untuk lebih memedulikan dirinya sendiri ataupun menyebabkan seseorang menjadi semakin tergerak untuk membantu sesamanya. Tentunya kita ingin perilaku altruisme lah yang berkembang di masa Pandemi Covid-19 ini. Oleh karena itu pemahaman terhadap konsep altruisme ini perlu dikaji lagi ke depannya

 

CONCLUSION

Situasi pandemi yang terjadi ini memang meneror kehidupan di segala lini kehidupan manusia walaupun dampak yang mereka terima tentu berbeda-beda sesuai dengan takdir yang mereka terima. Namun, situasi pandemi ini banyak memberikan pelajaran untuk kita semua yakni sesama manusia haruslah saling tolong menolong dalam hal apapun. Terutama dalam masalah perekonomian yang begitu terguncang karena kebijakan dari pemerintah dan rasa takut dari pribadi masing-masing terhadap pandemi Covid-19 ini.

Islam sejak zaman dahulu telah memiliki konsep untuk mengentaskan kemiskinan dengan berbagai metode seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Terlebih di era sekarang, solusi-solusi ini sudah semakin dimodifikasi agar sesuai dengan perkembangan zaman namun tetap sejalan dengan rukun-rukun yang ada. Solusi-solusi filantropis islam ini memang sudah baik namun bila hanya segelintir orang yang menjalankan metode-metode ini maka dampak yang diberikan tentulah juga sedikit dan terkesan tidak berasa.

Oleh karenanya masyarakat perlu lebih memahami konsep altruisme agar solusi-solusi filantropis islam bisa membawakan dampak baik bagi masyarakat. Terlebih bagi saudara-saudara kita yang perekonomiannya terdampak karena Pandemi Covid-19 ini.

 

 


REFERENCE

KOMPAS.com. 2020. DATA COVID-19 DI INDONESIA. [online] Available at: <https://www.kompas.com/covid-19> [Accessed 6 Oktober 2020].

Putri, G., 2020. Pernyataan Resmi WHO, Virus Corona Menyebar Di Udara Dan Menular. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/sains/read/2020/07/10/091406523/pernyataan-resmi-who-virus-corona-menyebar-di-udara-dan-menular> [Accessed 29 September 2020].

Bps.go.id. 2020. Badan Pusat Statistik. [online] Available at: <https://www.bps.go.id/indicator/23/183/1/jumlah-penduduk-miskin-menurut-wilayah.html> [Accessed 2 September 2020].

Ansyari, :. and Fajri, R., 2020. Ma’ruf Amin: Jumlah Warga Miskin Meningkat Sejak Pandemi COVID-19. [online] Viva.co.id. Available at: <https://www.viva.co.id/berita/nasional/1298198-ma-ruf-amin-jumlah-warga-miskin-meningkat-sejak-pandemi-covid-19> [Accessed 3 September 2020].

Proceedings.kopertais4.or.id. 2020. View Of Pengenalan Investasi Akhirat Melalui Gerakan Nabung Wakaf Untuk Generasi Milenial. [online] Available at: <http://proceedings.kopertais4.or.id/index.php/ancoms/article/view/228/231> [Accessed 29 September 2020].

Hidayati, F., 2020. KONSEP ALTRUISME DALAM PERSPEKTIF AJARAN AGAMA ISLAM (ITSAR). Jurnal Psikoislamika, 13(1), pp.59-60.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *