PARIWISATA HALAL DI INDONESIA

Pariwisata Halal di Indonesia

oleh : Muhammad Salman Arrifqy

 

Indonesia, negara dengan potensi pariwisata yang besar, memiliki kekayaan alam dan keberagaman budaya yang dapat menjadi modal utama untuk menarik wisatawan domestik maupun Internasional. Secara demografis, Indonesia merupakan negara ke-4 dengan populasi terbanyak di dunia yaitu, sekitar 237 juta orang dan negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia (13,1% dari total jumlah penduduk muslim dunia ). Hal ini menjadi modal dasar bagi Indonesia dalam menjadi destinasi utama para wisatawan muslim. Kondisi ini menggambarkan Indonesia sebagai negara yang memiliki kultur budaya Islam yang kental dan negara yang kondusif dalam menyambut wisatawan muslim.

 

Menanggapi potensi yang dimiliki Indonesia, berkembanglah sektor pariwisata yang berlandaskan nilai-nilai Islam atau yang biasa dikenal dengan istilah Halal Tourism. Halal Tourism atau Pariwisata halal adalah bagian dari industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan Muslim. Pelayanan dalam pariwisata halal merujuk pada aturan-aturan Islam. Ada yang mengartikan sebagai penyajian makanan dari bahan-bahan yang halal atau aturan perwisataan yang mengikuti tata cara dalam syari’at Islam (Salehudin dan Luthfi, 2010 dalam Awalia, 2017). Halal Tourism mencakup pemahaman makna halal di segala aspek kegiatan wisata mulai dari hotel, sarana transportasi, sarana makanan dan minuman. Kesadaran umat muslim untuk menjalankan syariat agama memerlukan dukungan fasilitas serta pelayanan yang sesuai syariat pula.

 

Halal Tourism merupakan sektor yang sangat potensial. Jumlah kunjungan wisatawan muslim mencapai 1.434.041 orang atau 18,24% dari total jumlah wisatawan tahun 2012 dan ditargetkan akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Wisatawan Muslim merupakan jumlah wisatawan terbesar di Indonesia yang notabene merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, konsep wisata Syariah merupakan jawaban akan besarnya untapped market yang belum tersentuh dengan maksimal(Widagdyo & Jakarta, 2015).

 

Sebagai landasan, Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an Q.S. Al-Mulk ayat 15 Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Selanjutnya dalam Q.S. Al-Ankabut ayat 20 yang Artinya: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

Dalam dua ayat di atas, terdapat pesan agar manusia selalu mengambil hikmah dari setiap perjalanan yang dilakukan dan agar manusia sadar bahwa seluruh dunia dan seisinya merupakan Allah SWT. yang menciptakan serta hanya kepada-Nya lah manusia akan kembali.

Mengenai pariwisata halal, para ulama Al-Lajnah Ad-Daimah juga berkata: “Kalau wisata tersebut mengandung unsur memudahkan melakukan kemaksiatan dan kemunkaran serta mengajak kesana, maka tidak boleh bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir membantu untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah dan menyalahi perintahNya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik dari itu. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/224)

 

Terdapat empat aspek penting yang harus diperhatikan untuk menunjang suatu pariwisata syariah (Chukaew, 2015):

 

  1. Lokasi

Lokasi dari destinasi wisata haruslah lokasi yang sesuai dengan syariat Islam, bukan merupakan tempat maksiat dan haruslah jauh dari keharoman-keharoman yang telah di tetapkan.

 

2.Transportasi

Dalam aspek ini, dapat diimplementasikan beberapa hal yang berkaitan dengan masalah kemahraman, misalnya pemisahan tempat duduk bagi wisatawan yang tidak mempunyai hubungan mahram. Penerapan ini sesuai dengan aturan Islam yang melarang para pemeluk agamanya berikhtilat yaitu, berdekatannya dua orang yang berlawanan jenis, sedangkan mereka tidak mempunyai hubungan mahram.

 

 

3.Konsumsi

Makanan dan minuman yang disediakan haruslah memiliki sifat halal dari segi zat maupun dari cara pengolahannya. Sebagaimana tertuang dalam Surat Al-Maidah Ayat 3 tentang makanan dan minuman yang di haramkan. Sebagai contoh, daging yang disajikan wajib berasal dari hewan yang disembelih dengan nama Allah SWT agar menjadi daging yang halal.

 

4.Hotel

Dalam aspek ini, dapat pula diimplementasikan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah seperti pengadaan tempat ibadah baik itu masjid atau musholla yang nyaman dan terjaga kesuciannya. Hal ini dimaksudkan agar wisatawan dapat melakukan ibadah dengan nyaman. Dalam aspek ini, dapat pula penyediaan fasilitas memperhatikan unsur aurat, seperti pemisahan kolam renang serta fasilitas spa dan gym yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana ketentuan islam, aurat hanya boleh diperlihatkan kepada lawan jenis yang mempunyai hubungan mahram.

 

Indonesia, negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar serta memiliki budaya keislaman yang kuat, telah memiliki beberapa daerah yang memiliki potensi besar dalam sektor Pariswisata Halal seperti Kota Banda Aceh. Kota ini terkenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam secara tegas. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Terlebih lagi, aspek aksesibilitas yang mudah dan fasilitas penunjang yang mayoritas sudah tersertifikasi halal, turut mendukung Kota Banda Aceh sebagai destinasi Pariwisata Halal unggulan. Potensi yang ada ini tentu saja membuat perekonomian di Kota Banda Aceh meningkat, di mana banyak lapangan kerja yang bermunculan dan kemudian menggerakan perekonomian serta meningkatkan Pendapatan Domestik Regional.

 

Dalam pelaksanaannya, Industri Pariwisata Halal (Halal Tourism Industry) haruslah memiliki orientasi yang sesuai dengan apa yang disyariatkan dalam agama, orientasi yang mengedepankan Ibadah, semata-mata menjalankan perintah Agama dan menjauhi segala larangan yang ada. Adapun hasilnya, ketika semua itu dapat dilaksanakan dengan orientasi yang sesuai, maka kebaikan akan datang dengan sendirinya.

Referensi

Awalia, H. (2017). Komodifikasi Pariwisata Halal NTB dalam Promosi Destinasi Wisata Islami di Indonesia, 1(1), 19–30.

Widagdyo, K. G., & Jakarta, U. S. (2015). Analisis pasar pariwisata halal indonesia, 1(1), 73–80.

Chookaew, S., chanin, O., Charatarawat, J., Sriprasert, P., & Nimpaya, S. (2015). Increasing Halal Tourism Potential at Andaman Gulf in. Journal of Economics, Business and Management, 3 (7), 277-279.