Coffee Consuming Vs Stock Investing: Millennial Lifestyle Trade-offs

Oleh: Ferdi Reynaldi R (Ilmu Ekonomi Islam 2018), Staf Departemen Kajian IBEC FEB UI 2019

Sering nggak sih kalian mendengar sebutan “anak indie” di lingkungan kalian? Baik itu di lingkungan kampus, kerja, bermain, sampai masyarakat sendiri. “Anak indie” sering banget digambarkan dengan pakaian yang menampakkan “seni”, sneakers yang paling trend, pemuja senja, penikmat hujan, dan penikmat kopi. Anak Indie sering ke tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai estetika tinggi untuk sekadar bercengkrama bersama teman-temannya sambal ditemani kopi yang hangat pada waktu senja ataupun malam hari. Tempat tersebut biasanya adalah kafe.

Kafe yang biasa dijadikan tempat berkumpul generasi Z adalah kafe yang memiliki desain interior yang menarik, pemandangan yang indah, serta memiliki kualitas kopi yang baik. Kopi yang biasa diminati oleh generasi Z adalah kopi yang memiliki cita rasa yang tinggi, variasi kopi yang banyak, “privilege” yang dimiliki oleh kopi tersebut dalam suatu “brand” yang ada, dan sebagainya. Maka dari itu, banyak kafe yang menjual kopinya dalam harga yang cukup tinggi dimulai dari Rp 25.000,00 bahkan mendekati harga Rp 50.000,00. Namun, sebagian generasi Z yang paham akan ilmu ekonomi dan ingin mengaplikasikannya dalam bentuk finansial, dihadapi pilihan dengan melakukan investasi.

Investasi merupakan kegiatan penanaman modal terhadap aset yang dimiliki oleh suatu individu. Bentuk investasi dapat bermacam-macam instrument seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain sebagainya. Salah satu instrumen investasi yang memiliki return of investment (ROI) yang cukup tinggi adalah saham. Sebagian generasi Z memiliki trade-off antara lifestyle membeli kopi untuk sekadar “privilege” dengan keuntungan dalam membeli saham agar mendapatkan return of investment yang cukup tinggi. Apa yang harus lebih didahulukan? Mengonsumsi kopi atau membeli saham?

Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal istilah trade-off. Trade-off merupakan kondisi di mana individu dihadapi dua pilihan untuk menentukan manakah yang harus dipilih atau didahulukan. Setelah salah satu pilihan tersebut dipilih, maka pilihan yang tidak dipilih menjadi opportunity cost. Dalam hal tersebut, keinginan yang tinggi pada generasi Z  hanya untuk mengonsumsi kopi dapat dipatahkan dengan keinginan untuk membeli saham yang memiliki return of investment tinggi. Mengapa demikian? Generasi Z harus memiliki visi yang jauh ke depan karena semua biaya kehidupan akan terus meningkat naik bersamaan dengan taraf hidup masyarakat yang terus meningkat. Karena dengan membeli saham, artinya generasi Z berani untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Keadaan seperti ini dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Dalam Al Qur’an, Allah berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

(Q.S. Al Hasyr : 18)

Dalam kandungan ayat tersebut, manusia harus memperhatikan tindakan yang dilakukukan sekarang karena bisa berdampak masa depan. Misalnya, seorang pemuda ingin menurunkan berat badan. Tindakan yang dilakukan oleh pemuda tersebut adalah melakukan diet karbohidrat, berolahraga, memakan buah dan sayur, dan lain-lain. Jika tindakan itu selalu dilakukan secara rutin, maka berat badan pemuda itu akan turun. Sebaliknya, jika seorang pemuda ingin menaikkan berat badan, maka tindakan yang dapat dilakukan oleh pemuda tersebut adalah dengan makan dengan porsi yang banyak dan intensitas yang cukup tinggi. Dari kedua contoh tersebut, dapat dikaitkan dengan kandungan ayat di atas bahwa tindakan sekarang akan memengaruhi masa depan.

Dalam kasus yang lain, tidak menutup kemungkinan bagi generasi Z untuk memaksimalkan utilitasnya dalam Leisure Economy. Leisure Economy adalah kegiatan memaksimalkan utilitas dalam hal experience daripada sandang, pangan, dan papan. Artinya adalah, sebagian generasi Z memilih untuk membeli kopi untuk meningkatkan Leisure Economy-nya dibandingkan dengan menabung untuk membeli saham yang mana dapat meningkatkan kepastian di masa depan. Bukanlah hal yang salah jika sebagian generasi Z lebih memilih membeli kopi dibandingkan membeli saham. Mereka lebih mempunyai preferensi lebih kepada kopi daripada saham. Namun, Leisure Economy yang berlebihan mengakibatkan seorang individu tidak dapat mengendalikan dirinya dalam mengontrol perencanaan keuangan (financial planning). Akibatnya, beberapa dari generasi Z tersebut memiliki sifat boros yang tidak disukai di dalam Al Quran.

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Artinya : “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”

(Q.S. Al Isra : 26-27)

Berikut ini merupakan data transaksi saham di 5 negara Asia.

Stocks Traded, total value in Asia Country with current US$

No

Country

Value in Billion

1

Indonesia

 $                     104,65

2

Singapore

 $                     219,53

3

Thailand

 $                     386,54

4

Philippines

 $                        29,21

5

Malaysia

 $                     135,34

Sumber : https://data.worldbank.org/indicator/CM.MKT.TRAD.CD?locations=MY

Dari data tersebut, nilai transaksi saham negara Indonesia dari lima negara di benua Asia, unggul dari negara Filipina. Walaupun nilai transaksi saham Indonesia masih rendah dibandingkan negara Singapura, Thailand dan Malaysia, Indikasi nilai transaksi saham Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Maka dari itu, hal ini merupakan kesempatan yang besar bagi generasi Z untuk mulai berinvestasi melalui instrument saham di dalam pasar modal melalui berbagai sekuritas yang ada.

Berikut ini adalah asumsi bagi seseorang individu dalam setiap minggunya menyisihkan uang Rp 50.000 dengan mengalokasikan Rp 30.000 untuk mengonsumsi kopi dan Rp 20.000 untuk menginvestasi saham. Diasumsikan Rp 20.000 diakumulasikan di awal tahun untuk menginvestasi saham.

 

Y1

Y2

Y3

Y4

Y5

Nominal Awal Tahun

 IDR      960.000

 IDR  2.112.000

 IDR     3.494.400

 IDR     5.153.280

 IDR 7.143.936

Return of Investment

 IDR      192.000

 IDR     422.400

 IDR        698.880

 IDR     1.030.656

 IDR 1.428.787

Nominal Akhir Tahun

 IDR    1.152.000

 IDR  2.534.400

 IDR     4.193.280

 IDR     6.183.936

 IDR 8.572.723

Proyeksi tersebut adalah proyeksi yang digambarkan oleh seorang individu jika ia mengalokasikan uangnya tersebut untuk mengonsumsi kopi dan berinvestasi. Proyeksi ini digambarkan bahwa seorang individu masih mendapatkan return yang tinggi akibat dia berinvestasi selama 5 tahun serta masih dapat menikmati mengonsumsi kopi di kafe-kafe yang memiliki privilege yang cukup tinggi. Hal ini memungkinkan kita sebagai generasi Z menikmati Leisure Economy yang setara dengan berinvestasi untuk masa depan.

Investasi dan mengonsumsi kopi merupakan dua hal yang memiliki persamaan dalam hal maksimisasi utilitas. Perbedaannya terletak pada tujuan maksimisasi utilitas tersebut. Investasi merupakan maksimisasi utilitas dalam segi perencanaan keuangan masa depan yang mana tujuannya adalah profit. Dan mengonsumi kopi merupakan maksimisasi utilitas dalam segi kepuasan individu itu sendiri yang mana individu dapat menikmati kopi tersebut hingga habis. Alangkah baiknya, kita sebagai generasi muda dapat menyikapi hal tersebut dengan baik dan bijak. Berinvestasi lah sedini mungkin namun jangan lupa untuk menyempatkan memuaskan diri sendiri dengan bersantai sembari ditemani kopi pada waktu senja.

Wallahoualam bi showab.

Referensi

Ananda, C. F. (n.d.). No Title. Bersiap Leisure Economy. Retrieved from http://feb.ub.ac.id/id/bersiap-leisure-economy.html

Garland, T. (1995). Quick guides: Trade-offs. Current Biology, 24(2), R60–R61. https://doi.org/10.1016/j.cub.2013.11.036

No Title. (n.d.). Retrieved from https://data.worldbank.org/indicator/CM.MKT.TRAD.CD?locations=MY

Rowe, D., & Lynch, R. (2012). Work and play in the city: Some reflections on the night-time leisure economy of Sydney. Annals of Leisure Research, 15(2), 132–147. https://doi.org/10.1080/11745398.2012.659716

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *