Negative Interest Rates Policy: Sesuaikah dengan Konsep Ekonomi Islam?

Negative Interest Rates Policy: Sesuaikah dengan Konsep Ekonomi Islam?

Oleh : Azzahra Sakinah N (Bisnis Islam 2015) – Wakil Kepala Departemen Penelitian dan Kajian IBEC 2017

Negative interest rate (tingkat suku bunga negatif) muncul sebagai hasil pemikiran para ekonom karena uang terus tertimbun pada sektor keuangan, sementara sektor riil (yang langsung berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi) semakin tertinggal pertumbuhannya. Esensi Negative Interest Rates adalah mengenakan biaya atas penimbunan uang (hoarding) sehingga uang bisa mengalir ke sektor riil.

Di tengah perekonomian global yang berbasis bunga, ide ini awalnya dianggap mustahil. Mengingat dewasa ini bunga tidak hanya dianggap sebagai “biaya” atas balas jasa, melainkan sebuah insentif menggiurkan yang membuat orang rela menukar kesempatan membelanjakan uang yang dimiliki untuk “diberikan” kepada sektor keuangan. Tapi pertumbuhan ekonomi yang tidak kunjung membaik dengan sistem ekonomi berbasis bunga justru melahirkan kebijakan Negative Interest Rate (yang memiliki aturan main berkebalikan dengan sistem bunga) sebagai solusi yang dipilih ekonom atas mandeknya ekonomi. Benarkah konsep ini sesuai dengan konsep dasar Ekonomi Islam?

Pengaruh Suku Bunga pada Perilaku Investasi

Pada dasarnya suku bunga (atau rate bagi hasil pada bank syariah) akan mempengaruhi keputusan seseorang untuk menyimpan uang di bank atau menginvestasikan uang mereka. Ketika suku bunga tinggi, maka masyarakat akan cenderung ingin mengendapkan uangnya di bank demi mendapatkan return dari bunga. Sebaliknya, jika suku bunga rendah maka masyarakat akan terdisinsentif untuk menyimpan uangnya di bank.

Ilustrasi sederhana seperti ini, jika kita memiliki kekayaan sebesar 1 milyar rupiah, dengan suku bunga 10% kita bisa mendapatkan return 100 juta rupiah hanya dengan menyimpan uang tersebut di bank, tanpa melakukan usaha tertentu. Namun jika suku bunga rendah, mencapai 0% atau bahkan negatif, maka kita jadi lebih diuntungkan jika membelanjakan uang tersebut. Karena uang kita tidak akan bertambah jika diendapkan atau bahkan malah berkurang jika kita simpan di bank. Dalam keadaan seperti ini, kita akan merasa lebih untung jika menginvestasikan uang kita ke sektor riil seperti perumahan, teknologi, pangan, dan sebagainya. Investasi atau dana yang kita suntikan pada sektor tersebut tentunya dapat menstimulus pertumbuhan usaha yang akan menstimulus pertumbuhan ekonomi.

Suku bunga yang rendah juga akan menginsentif orang untuk meminjam uang di bank sebagai modal untuk membuka usaha tertentu. Apalagi jika suku bunga 0% atau bahkan negatif, uang yang harus dikembalikan pada bank bisa jadi sama dengan atau lebih sedikit dari nilai yang kita pinjam. Usaha baru berarti lapangan pekerjaan baru, daya beli yang meningkat, dan lagi-lagi dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi.

Implementasi Kebijakan Negative Interest Rate di Berbagai Negara

Skenario kebijakan suku bunga 0% atau bahkan negatif mungkin tidak dapat langsung mengakselerasi pertumbuhan ekonomi sesederhana penjelasan penulis pada poin di atas. Banyak sisi lain yang dapat terjadi dari kebijakan pemerintah menetapkan suku bunga 0% atau bahkan negatif. Banyak ekonom yang mengkritisi kebijakan ini justru akan menaikan harga aset yang akan menuntun pada currency war. Namun jika kebijakan ini belum terjadi di Indonesia bukan berarti hal ini adalah sesuatu yang mustahil. Kenyataannya sejak 2014, banyak bank sentral di Eropa yang memotong suku bunga sampai dibawah 0% untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, sebut saja Uni Eropa (0.0%), Inggris (0.50%), dan Swiss (-0.75%).

Selain negara di Eropa, Jepang juga menjadi negara yang akhirnya mengikuti kebijakan ini (-0.10%). Secara sederhana, dalam kebijakan ini berarti bank mengenakan biaya bagi depositor dan justru memberi insentif pada borrowers. Menurut ekonom BCA David Sumual, hal yang melatar belakangi negara-negara maju mengeluarkan kebijakan ini adalah resesi berkepanjangan, inflasi jauh lebih rendah, bahkan deflasi, yang berarti ekonomi tidak bergerak. Di Jepang sendiri, masalah kependudukan juga menjadi alasan. Penduduk Jepang yang mulai didominasi oleh usia tidak produktif perlu mendapat dorongan untuk memproduktifkan uang mereka disamping sekedar mengendapkan uangnya di bank.

Meskipun banyak diterapkan di negara maju, sejauh ini kebijakan tersebut dinilai baru sebatas eksperimen. Belum ada bukti yang menjelaskan melesatnya ekonomi suatu negara setelah menerapkan kebijakan ini. Beberapa ekonom justru mengkhawatirkan kebijakan ini dalam jangka panjang dapat melemahkan industri lain seperti perbankan. Maka hanya waktu yang dapat membuktikan ini semua.

Kesesuaiannya dengan Konsep Ekonomi Islam

 

Kesesuaian kebijakan Negative Interest Rates dengan konsep ekonomi Islam dijelaskan secara singkat dalam beberapa poin dibawah ini :

  1. Tidak ada insentif depositor menyimpan uang di bank (depositor justru “membayar” untuk bisa menyimpan uang di bank) : Hal ini sesuai dengan praktik kontrak (akad) Wadiah Yad Amanah pada bank syariah, dimana nasabah hanya “menitipkan” uang di bank dan membayar “biaya penitipan”.
  2. Negative Interest Rates mempromosikan modal dengan “biaya rendah” yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi : Hal ini sesuai dengan tujuan adanya institusi keuangan Islam yaitu memberikan akses yang inklusif dan adil untuk seluruh lapisan masyarakat.
  3. Meningkatnya aliran uang ke investasi produktif seperti modal dan venture financing: Masyarakat beralih dari interest based financing menjadi project based financing : Hal ini sesuai dengan konsep “No Risk, No Gain” (Alghunmu bil ghurmi; tidak ada keuntungan yang diperoleh tanpa risiko). Aplikasi yang tepat ada pada kontrak profit-loss Sharing seperti yang ada dalam akad musharakah dan mudharabah dalam ekonomi Islam.
  4. Tidak berlakunya konsep time value of money : Dengan ditetapkannya zero or negative rates berarti uang yang dipinjamkan tidak memiliki nilai sebagai komoditas. Ekonomi Islam mengakui uang sebagai alat tukar, bukan komoditas. Hal inilah yang menjadi dasar dari konsep pelarangan riba di dalam ekonomi Islam.

Selain itu, jauh sebelum adanya kebijakan Negative Interest Rates, pemberian sanksi terhadap aset yang mengendap dan tidak produktif sudah diatur oleh Islam dalam banyak ayat di Al-Quran melalui perintah mengeluarkan zakat harta. Zakat adalah instrumen keuangan islam yang berfungsi untuk mendistribusikan harta kepada mustahik zakat (8 golongan penerima zakat). Zakat wajib dikeluarkan sebesar 2,5%, untuk harta senilai 85 gram emas, yang sudah mengendap selama 1 tahun. Meskipun efektivitas kebijakan Negative Interest Rates belum terbukti, yang jelas Islam sudah mengatur hal ini sejak ribuan tahun lalu berupa perintah mengeluarkan Zakat, yang salah satu hikmahnya adalah dorongan agar manusia berperilaku produktif.

Dapat disimpulkan bahwa konsep pelarangan bunga dalam ekonomi Islam memiliki kesamaan tujuan dengan kebijakan Negative Interest Rates, yaitu mewujudkan perekonomian yang produktif.  Seperti halnya Negative Interest Rates yang dulu dianggap mustahil, bukan tidak mungkin jika suatu saat akan ada negara yang menetapkan suku bunga sebesar -2,5%. Lalu akankah negara tersebut mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat? Apakah angka -2,5% merupakan titik equilibrium untuk mendorong investasi yang paling optimal? Kita tidak pernah tahu. Lagi-lagi, hanya waktu yang akan menjawab.

Satu halang pasti, penulis meyakini bahwa konsep yang ditawarkan dalam sistem ekonomi Islam adalah yang terbaik untuk kemajuan ekonomi. Sedangkan sistem ekonomi lain, misalnya kapitalis, akan menyadari kesalahannya dan terus memperbaiki konsep yang dimilikinya. Pada akhirnya akan menuju seperti sistem ekonomi Islam, sistem ekonomi yang patuh kepada syariat Allah SWT.

Disunting oleh Amrial – Ilmu Ekonomi Islam 2014.

Sumber :

 

Ahmad Mikail Zaini dalam Kuliah Makroekonomi Islam Rabu, 7 November 2017.
Central Bank Interest Rates https://www.investing.com/central-banks/

Gupta, Lokesh & Alam, Nafis 2016, Negative Interest Rates and Islamic Finance : Where Ideology Meets Reality Islamicbanker, dilihat 9 November 2017 https://islamicbanker.com/publications/negative-interest-rates-and-islamic-finance-where-ideology-meets-reality

Halim, Ibrahim Abdul 2015, Mengenal     Interest Rate, sebuah Proses Pengakuan Dosa Kapitalisme Dakwatuna, dilihat 9 November 2017 https://www.dakwatuna.com/2015/10/07/75498/mengenal-negative-interest-rate-sebuah-proses-pengakuan-dosa-kapitalisme/#ixzz4yEkXzQHN

Kusuma, Dewi Rachmat 2016, Fenomena Suku Bunga Negatif di Negara Maju, Apa Artinya? Detik finance, dilihat 9 November 2017 https://finance.detik.com/moneter/3144460/fenomena-suku-bunga-negatif-di-negara-maju-apa-artinya

Rubino, John 2016, Japan’s Negative Interest Rates Are Even Crazier Than They Sound Investing, dilihat 9 November 2017 https://www.investing.com/analysis/japan%E2%80%99s-negative-interest-rates-are-even-crazier-than-they-sound-200120070

Timms, Matt 2015, Everyone likes negative interest rates now World Finance, dilihat 9 November 2017 https://www.worldfinance.com/banking/negative-interest-rates-become-the-new-norm