Model Ideal Lembaga Keuangan Syariah

MODEL IDEAL LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

Oleh: Mutiara Sakinah

            Sudah lebih dari dua dekade lembaga keuangan syariah telah berkembang di Indonesia. Perkembangannya dimulai dari industri perbankan syariah, yaitu dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1991. Kemudian disusul oleh PT Syarikat Takaful Indonesia sebagai lembaga asuransi syariah pada tahun 1994. Selain itu, perkembangan pasar modal syariah sudah dimulai dengan diterbitkannya produk reksa dana syariah pertama oleh PT Danareksa Investment Management pada tahun 1997. Di kancah global, Global Islamic Finance Report menempatkan Indonesia pada peringkat ke-6 Islamic Finance Country Index pada tahun 2016. Perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia sudah cukup signifikan. Namun, pertanyaannya adalah, bagaimana sesungguhnya model ideal lembaga keuangan syariah tersebut?

Sistem Lembaga Keuangan Syariah

Sistem keuangan merupakan tatanan perekonomian dalam suatu negara yang berperan dalam melakukan suatu aktivitas dalam berbagai jasa keuangan yang diselenggarakan oleh lembaga keuangan. Lembaga keuangan ini merupakan suatu intermediasi keuangan yang terbagi menjadi lembaga keuangan konvensional dan lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah adalah lembaga yang berperan dalam menjembatani antara pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang memiliki kelebihan dana berbasis pada prinsip dan aturan syariah. Sistem yang ada pada Lembaga keuangan syariah tersebut harus mampu memformulasikan dua kombinasi prinsip yang utama, yaitu prinsip syar’i dan tabi’i.

Prinsip syar’i pada hakikatnya merupakan prinsip yang berlandaskan pada Al-Qur;an dan Sunnah, serta sejalan dengan maqashid syariah. Prinsip syariah yang diterapkan pada lembaga keuangan syariah harus berlandaskan oleh adanya fatwa dari lembaga yang berwenang. Prinsip-prinsip syar’i tersebut diantaranya adalah kebebasan bertransaksi, namun didasari atas dasar suka sama suka; bebas dari maysir (spekulasi), riba, gharar (ketidakpastian), dan bathil; bebas dari upaya mengendalikan harga; bersifat transparan; transaksi berlandaskan pada kerja sama yang saling menguntungkan dan solidaritas; mengimplementasikan zakat; dan tentunya transaksi yang dilaksanakan berorientasi kepada kemashlahatan umat. Prinsip tabi’i dihasilkan dari pendekatan yang berbeda, yaitu melalui interpretasi akal dan ilmu pengetahuan dalam bisnis, seperti manajemen permodalan, dasar dan analisis teknis, manajemen cash flow, manajemen risiko, dan yang lainnya.

Jika ditinjau sistemnya, lembaga keuangan syariah harus memiliki instrumen-instrumen yang menunjang berbagai tujuan. Tujuan tersebut di antaranya adalah mampu memelihara keadilan dan keseimbangan (‘adl wa tawazun) yang mampu mengalokasikan dan mendistribusikan sumber daya sesuai ajaran agama Islam, mampu meningkatkan efisiensi sumber daya dengan adanya mekanisme harga, dan intermediasi keuangan yang didasari oleh prinsip bagi hasil dan risiko (profit and loss sharing). Prinsip profit dan loss sharing inilah salah satu prinsip yang mampu membuat lembaga keuangan syariah tahan terhadap krisis ekonomi silam karena tingkat pengembaliannya tidak berdasarkan pada tingkat suku bunga (interest spread based). Lembaga keuangan syariah yang ideal juga merupakan lembaga yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan para nasabahnya yaitu dengan memberikan kemudahan dalam pengaksesan produk, kualitas pelayanan, dan peningkatan infrastruktur di lembaga keuangan syariah tersebut

Lembaga Keuangan syariah dalam pelaksanaannya di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu Lembaga Keungan Bank (LKB) dan Lembaga Keuangan Non-Bank (LKNB). LKB tersebut meliputi Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Sedangkan LKNB syariah terdiri dari pasar modal, pasar uang. perusahaan asuransi, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga keuangan syariah mikro seperti lembaga pengelola zakat, wakaf, dan BMT. Persentase dari jenis lembaga keuangan syariah yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia yaitu sukuk negara dan sukuk korporasi sebesar 47,59%, sektor perbankan sebesar 41,12%, Reksa dana syariah sebesar 1,68%, dan sektor Lembaga Keuangan Non-Bank (LKNB) syariah lainnya sebesar 9,61%.

Pangsa pasar keuangan syariah masih 5,3 persen pada tahun 2016. Walaupun belum terbilang besar, lembaga keuangan syariah memiliki peluang dalam berkontribusi terhadap masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan menjadi lembaga yang inklusif dimana pergerakannya tak hanya tertuju pada perusahaan berskala besar, namun juga berperan penting dalam membuka akses usaha mikro kecil dan menengah serta menjangkau kalangan bawah di daerah terpencil.

Tak Hanya Mengandalkan Sistem Semata

Apakah dengan hanya mengandalkan sistem yang baik tersebut sudah cukup? Jawabannya adalah tidak. Pemegang kendali dan orang-orang yang terlibat dalam lembaga keuangan syariah tersebut harus memahami dan mendalami esensi dan urgensi dari adanya lembaga keuangan syariah tersebut. Menurut Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), salah satu faktor yang menjadi kendala dalam pengembangan lembaga keuangan syariah adalah rendahnya kualitas dari SDM syariah, karena sesungguhnya sumber daya manusia merupakan salah satu aset terpenting dalam sebuah organisasi. Sumber daya manusia di lembaga keuangan syariah selain harus berkompeten dalam manajemen keuangan dan perbankan, namun juga harus mengerti akan hukum-hukum Islam. Selain itu, sumber daya manusia atau pelaku ekonomi di dalamnya harus memiliki semangat dan keinginan dalam menyiarkan ekonomi syariah.

Untuk kedepannya, lembaga keuangan syariah juga diharapkan mampu mengubah paradigma nasabahnya. Metode yang dapat digunakan salah satunya yaitu dakwah first business follows dimana dakwah sebagai sebuah prinsip sedangkan bisnis merupakan sarana untuk mencapainya. Hal ini dikarenakan pada hakikatnya kedudukan lembaga keuangan syariah bukan sebagai sebuah produk, namun merupakan sebuah risalah. Risalah dalam penyampaiannya melalui dakwah, tak hanya melalui marketing mix semata karena pada dasarnya keuangan syariah adalah suatu konsep, gagasan, dan paradigma yang merupakan bagian dari Islamic worldview. Kuncinya adalah tidak hanya mengandalkan marketing mix seperti product, price, place, dan promotion, namun juga dengan memperdalam ilmu, akhlak, teladan, dan ikhlas yang diterapkan oleh individu-individu yang terlibat di dalamnya. Selain itu, pegawai-pegawai yang terlibat di dalam lembaga keuangan syariah tersebut juga diharapkan mampu menyiarkan bahwa setiap transaksi yang dilakukan oleh para nasabahnya itu pada hakikatnya mampu mendekatkan diri mereka kepada Sang Pencipta.

Final Thought

Untuk menjadi lembaga keuangan syariah yang ideal, dibutuhkan sistem yang didukung oleh SDM syariah yang berkompeten di bidangnya. Sistem ini memiliki prinsip-prinsip yang dapat diibaratkan seperti rule of the game dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh pelaku-pelaku ekonomi di dalamnya. Pemahaman akan hukum-hukum Islam, urgensi, dan juga esensi adanya lembaga keuangan syariah itu sangat patut untuk dimiliki. Pada dasarnya, lembaga keuangan syariah memiliki potensi yang kuat untuk berkembang dan semakin berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Untuk mencapainya tersebut, tentunya harus mempertahankan prinsip yang telah dipegang, meningkatkan jumlah SDM syariah yang mendukung, dan juga perlu adanya sinergi dengan berbagai pihak.

Sebagai seorang muslim, tugas kita tentunya masih sangat banyak. Masih banyak produk-produk yang telah dijelaskan di dalam ayat-ayat-Nya yang belum direalisasikan secara optimal, bahkan bisa saja produk yang telah ada saat ini bukanlah produk yang benar-benar dibutuhkan oleh umat. Oleh karena itu, pelaku-pelaku ekonomi yang telah berkecimpung di lembaga keuangan syariah sangat perlu untu menghidupkan Al-Qur’an dan sunnah dalam menjalani setiap kegiatan di dalamnya.

Bagaimana parameter untuk mengukur kesuksesan lembaga keuangan syariah? Mungkin dalam realisasinya bisa kita lihat dari persentase market share, kelengkapan kerangka hukum, peningkatan jumlah pelaku ekonomi di lembaga keuangan syariah, peningkatan aset keuangan, dan regulasi yang semakin komprehensif. Namun, pada hakikatnya semua itu semu jika lembaga keuangan syariah tersebut tidak benar-benar menjalankan prinsip syariah murni berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Kesuksesan lembaga keuangan syariah tersebut juga harus mampu meningkatkan pemahaman para nasabah dan masyarakat terkait dengan keuangan syariah. Dalam jangka panjangnya, kesuksesan lembaga keuangan syariah juga diharapkan mampu beriringan dengan kontribusinya dalam menyejahterakan umat dan mengentaskan kemiskinan, karena pada hakikatnya kemiskinan itu tidak terjadi dengan sendirinya. Jika itu terjadi, kemungkinan besar ada yang salah dengan sistem perekonomian yang ada. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi “Poverty is not an accident like slavery and apharteid, it is man made and can be removed by the actions of human being”.

 

Referensi:

  • Ayub, Muhammad. 2009. Understanding Islamic Finance. Jakarta : PT Gramedia
  • http://republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/17/12/05/p0ht9j415-asr-apresiasi-kontribusi-keuangan-syariah-terhadap-ekonomi-nasional, diakses pada 22 April 2018, pukul 22.53
  • https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Roadmap-Pengembangan-Keuangan-Syariah-Indonesia-2017-2019.aspx, diakses pada 21 April 2018, pukul 14.35
  • Huda, Nurul dan Heykal, Mohamad. 2010. Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teori dan Praktis. Jakarta: Prenadamedia Group
  • Saptono, Imam Teguh. 2017. Mungkin Saya Radical. Jakarta: Thaha Institute
  • Sholihin, Ahmad Ifham. 2010. Pedoman Umum Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: PT Gramedia
  • Soemitra, Andri. 2009. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Prenadamedia group
  • Yusuf, Burhanuddin. 2015. Manajemen Sumber Daya Manusia di Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada