Mengenal Asuransi Syariah

Mengenal Asuransi Syariah

Oleh : Sumayyah Amalina Nasr, BI 2016 – Staff Biro Internal, IBEC 2017

Produk asuransi syariah memang belum terasa akrab di telinga masyarakat. Padahal produk ini menawarkan beberapa kelebihan dibandingkan dengan produk asuransi konvensional yang sudah ada.

Asuransi berbasis syariah disebut dengan takaful. Secara bahasa, takaful berasal dari akar kata kafala yang artinya menolong, memberi nafkah dan mengambil alih perkara seseorang. Kata takaful merupakan bentuk mashdar (infinitf) dari kata : “takaafala” – “yatakaafala” – “takaafulan”. Dalam Kamus Al-Munawir dijelaskan bahwa arti kata kafala  yang merupakan kata dasar dari takaful  adalah : pertanggungan yang berbalasan, hal saling menanggung. Istilah kata takaful sendiri adalah istilah yang relatif baru, jika dilihat tidak satupun ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan istilah takaful  ini. Bahkan dalam hadits pun, juga tidak dijumpai kata yang menggunakan istilah takaful. Walaupun memang benar tidak ada satu ayat pun yang menjelaskan mengenai takaful, ada beberapa kata yang memakai kata kafala yang memiliki makna serupa dengan takaful dalam al-qur’an. Salah satunya adalah Q.S. Al-Qashas (28) ayat 12. Dalam ayat ini, kafala bermakna memelihara.

Kemudian, sebenarnya apa yang membedakan Asuransi konvensional dan syariah / takaful ini?

Asuransi Konvensional VS Takaful

Dua produk ini sebenarnya terbilang mirip. Hanya saja, ada faktor-faktor yang membuatnya berbeda. Takaful memiliki konsep share of risk, yang artinya ada pembagian risiko antar perusahaan asuransi dengan nasabah. Berbeda dengan halnya asuransi konvensional, asuransi konvensional memusatkan risiko pada perusahaan asuransi. Dalam hal ini, disebut transfer of risk dari nasabah ke perusahaan asuransi secara keseluruhan. Selain itu, Takaful memiliki prinsip akad “Tabarru” yang mana dana terkumpul diikhlaskan untuk saling membantu sesama nasabah. Sedangkan dalam asuransi biasa lebih mengarah seperti akad kegiatan jual-beli.

Transaksi yang terjadi dalam Takaful bebas dari riba/bunga, gharar/tidak jelas/penipuan, dan juga maysir/spekulasi karena berada dibawah pengawasan Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang diberi arahan oleh Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Dalam asuransi konvensional, riba/bunga masih digunakan sebagai landasan perhitungan Investasi yang dilakukan nasabah.

Perusahaan asuransi konvensional memiliki kekuatan penuh atas dana yang terkumpul (premi) dari nasabah, yang mana perusahaan asuransi tersebut bebas atas alokasi investasinya. Jika dibandingkan dengan Takaful, asuransi berbasis syariah ini hanya sebagai tempat pemegang amanah, yang mana pengelolaannya harus berdasarkan sistem syariah, yaitu yang halal dan sah secara agama islam dan diridhoi oleh Allah SWT.

Karena Takaful hanya sebagai tempat pemegang amanah, maka keuntungan yang dihasilkan sesuai dengan proporsi yang telah ditentukan sebelumnya (mudhorobah) oleh perusahaan asuransi dan nasabah. Sedangkan bagi perusahaan asuransi konvensional, keuntungan menjadi hak mutlak yang dimiliki oleh perusahaan asuransi, dan nasabah tidak memiliki kewenangan atas uang tersebut, kecuali memang adanya musibah yang terjadi pada nasabah. Sehingga dalam hal ini terjadi tukar menukar, setor uang untuk mendapatkan uang. Oleh karena itu, transaksi yang terjadi mengandung jahalah atau ketidakjelasan. Poin plus yang dimiliki Takaful adalah membebankan zakat dari keuntungan yang diperoleh, yang mana dalam hal ini Takaful mengajarkan bahwa apabila memiliki keuntungan yang berlebih, harus disisihkan untuk mereka yang berhak, yakni dalam 8 golongan mustahiq.

Dalam Perkembangannya, Takaful masih dapat dikatakan “kalah saing” dengan pendahulunya. Mayoritas penyebabnya dikarenakan banyak yang belum tau hal-hal yang mengenai asuransi berbasis syariah. walaupun dari uraian diatas terlihat bahwa ternyata asuransi berbasis syariah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan asuransi konvensional

Referensi :

  1. Mankiw, N. Gregory (2015), Principles of Economics, 7nd edition CENGAGE Learning.
  2. http://www.bumn.go.id/
  3. http://www.ojk.go.id/
  4. https://www.takafulumum.co.id/
  5. http://dosenekonomi.com/bisnis/asuransi/dasar-hukum-asuransi
  6. https://www.greateasternlife.com/id/in/asuransi-individu/mengenal-asuransi/mengapa-saya-perlu-asuransi.html
  7. http://www.asuransisyariah.asia/Perbedaan-Asuransi-Syariah-dengan-Konvensional.html

Kamus :

  1. Nasabah (klien) : Nasabah adalah individu atau kelompok yang menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan asuransi. Nasabah dapat berupa calon pemegang polis (prospek), pemegang polis, maupun mantan pemegang polis atau keluarga/perwakilannya.
  2. Premi : Sejumlah uang yang tercantum dalam polis  yang disetujui oleh pemegang polis, untuk dibayarkan kepada  perusahaan asuransi sesuai yang diperjanjikan agar polis tetap aktif. Yang termasuk dalam Premi adalah Premi Pertama, Premi Lanjutan, Premi Perpanjangan dan Premi Perubahan Polis.
  3. Akad: Istilah dalam polis asuransi syariah yang berasal dari bahasa Arab al ‘aqd yang berarti perikatan, perjanjian atau permufakatan. Dalam fikih, akad didefinisikan sebagai “pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada obyek perikatan.