Maqasid Syariah Based Index

Maqasid Syariah Based Index

(Arya Prana Hutama, Kepala Biro Eksternal IBEC 2017)

Dalam menjalankan pemerintahan, sangat dibutuhkan perhitungan-perhitungan yang dapat mengukur keberhasilan sebuah pemerintah dan negara menjalankan perannya. Perhitungan ini digunakan untuk melihat apakah pemerintah telah mencapai tujuannya atau belum, dan juga digunakan untuk evaluasi kebijakan dan perencanaan kebijakan di masa mendatang. Hal terpenting yang ingin dihitung adalah tingkat kesejahteraan masyarakat, karena memang itu tujuan negara didirikan. Banyak ahli merumuskan cara untuk mengukur kesejahteraan masyarakat, dan seiring berjalannya waktu ditemukan kekurangan dari perhitungan yang sudah ada dan muncul juga perhitungan baru yang menyempurnakannya.

Pehitungan yang sangat popular adalah GDP (Gross Domestic Product).  Namun, perhitungan GDP ini memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya ialah tidak memerhatikan laju inflasi atau kenaikan tingkat harga. Kekurangan ini pun segera bisa diatasi dengan menggunakan perhitungan Real GDP. Kekurangan-kekuranngan GDP lainnya ialah tidak memerhitungkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. GDP tidak menangkap adanya faktor-faktor lain yang memengaruhi kesejahteraan seperti pendidikan, keamanan, dan sebagainya. Lalu bermunculanlah formula-formula perhitungan kesejahteraan seperti perhitungan daya beli masyarakat dan Indeks Pembangunan Manusia. Setiap perhitungan tersebut memiliki indikator perhitungannya masing-masing yang dianggap dan juga terbukti tentunya dapat memengaruhi kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya, muncul pertanyaan bagaimana mengukur kesejahteraan masyarakat dengan cakupan yang lebih luas lagi, yaitu kesejahteraan di dunia tanpa menghiraukan kebahagiaan di akhirat?

Islam sebagai sebuah agama yang berorientasi tidak kepada dunia memiliki aturan tersendiri yang disebut Syariah. Para ahli agama Islam kemudian memetakan lima hal esensial yang dijadikan tujuan dari syariah yang disebut Maqasid syariah yang terdiri dari;

  1. Menjaga agama
  2. Menjaga jiwa
  3. Menjaga akal
  4. Menjaga kehormatan/keturunan
  5. Menjaga harta

Penjagaan yang disebutkan di atas dimaksudkan untuk penjagaan dengan keberlanjutan. Dalam praktiknya juga melingkupi daf al-mafasid (menghindari kerusakan) dan jalb al masaleh (memperoleh manfaat).

Kemerosotan moral dan sosial ekonomi yang terjadi di sebagian besar negara berpenduduk muslim dan negara berkembang menciptakan tantangan yang tidak mudah. Penjagaan terhadap lima komponen Maqasid syariah dianggap sangat penting dijadikan pedoman bagi pengambil kebijakan. Hal ini Maqasid syariah tidak hanya mencakup dimensi sosial dan ekonomi, seperti pembangunan manusia, tetapi juga mencakup nilai, moralitas, keluarga, dan kepercayaan dan dengan demikian memberikan kerangka kerja yang mencakup pembangunan di negara-negara Muslim. Umar Chapra adalah salah satu cendikiawan yang mengusulkan digunakan indeks MS untuk pembangunan negara muslim.

Tujuan syari’ah dapat dicapai dalam tingkat tertinggi hanya jika syari’ah diimplementasikan dalam surat dan semangat yang sebenarnya. Maka perlu menggambarkan sifat yang diinginkan dari indeks MS dengan tujuan utama untuk mencapai keadilan di masyarakat. Sifat-sifat yang diinginkan ini disebut sebagai aksioma. Aksioma ini berasal dari Syari’ah Alquran dan Hadis. Salah satu hadits ini adalah tentang pertanyaan yang harus ditanyakan dari setiap orang oleh Allah pada hari kiamat. “Anak Adam tidak akan meninggal dari Allah sampai dia ditanya tentang lima hal: bagaimana dia menjalani hidupnya, dan bagaimana dia memanfaatkannya. masa mudanya, dengan cara apa dia bisa mendapatkan kekayaannya, bagaimana dia menghabiskan kekayaannya, dan apa yang dia lakukan dengan sepengetahuannya”

  1. Aksioma Penjagaan Agama

Indeks MS akan meningkat seiring peningkatan kemudahan akses ke masjid, keterjangkauan umrah dan haji, kenyamanan puasa Ramadhan, kemudahan membayar zakat, kemudahan pendidikan Islami, dan alokasi waktu untuk kegiatan religius atau pendidikan islami.

  1. Aksioma Penjagaan Jiwa

Indeks MS akan meningkat seiring peningkatan keamanan, kemudahan akses fasilitas kesehatan, waktu untuk kegiatan yang sesuai syariah, dan kemudahan akses olahraga serta kebugaran.

  1. Aksioma Penjagaan Akal

Indeks MS akan meningkat sejalan dengan peningkatan inklusivitas pendidikan, praktik ilmu agama, tingkat pendidikan, dan penelitian yang bermanfaat serta penerapannya. Sedangkan, indeks MS akan menurun bila ada peningkatan kemudahan untuk melakukan aktivitas yang merusak akal.

  1. Aksioma Penjagaan Kehormatan/ Keturunan

Indeks MS akan meningkat sejalam dengan peningkatan kemudahan akses pernikahan, kebahagiaan keluarga, waktu anak bersama orang tua, kemudahan akses untuk aktivtas bermoral, waktu yang digunakan ibu di rumah untuk membesarkan anaknya, waktu yang digunakan anak untuk aktivitas yang sesuai syariah, ayat alquran yang dihafal anak, waktu anak ke masjid dan rasa hormat kepada orang tua. Sedangkan indeks MS akan menurun saat mortalitas anak meningkat.

  1. Aksioma Penjagaan Harta

Indeks MS akan meningkat seiring dengan adanya zakat dan sedekah yang disalurkan, harta warisan diberikan kepada ahli waris sesuai syariah, pendapatan halal yang meningkat, transaksi pendapatan yang adil, da transaksi pinjaman bebas riba. Sedangkan indeks MS akan menurun bila ada transaksi israf dan tabzir, risiko kehilangan harta, dan pendapatan haram.

Untuk mengukur indeks MS, idealnya menggunakan data dari kuisioner yang bisa mewakili lima aspek Maqasid syariah tersebut. Namun kenyataannya data tersebut tidak ada, sehingga digunakan data pengganti. Data survei yang bisa digunakan adalah World Values Survey (WVS). Metode yang dilakukan untuk mengukur indeks MS.

Referensi

Ali, Salman Syed and Hamid Hasan (2014), Maqasid al-Shariah-based Index for the Measurement of SocioEconomic Development

Ali, Salman Syed and Hamid Hasan (2014), Towards a Maqasid al-Shariah based Development Index

Muslim, Sahhi Muslim. http://sunnah.com/urn/271380

Chapra, Umer (2008), The Islamic Vision of Development in the Light of the Maqasid al-Shariah, Jeddah: Islamic Research and Training Institute.